BACK TO BACK: Into The Dark Destiny

BACK TO BACK: Into The Dark Destiny
Butterfly Effects


__ADS_3

“Loh??? Kamu nggak tahu soal kemampuan khusus yang dimiliki oleh Ivan?” Ujar Litch merasa kaget dengan Jeanna yang tidak mengetahui tentang kemampuan khusus Ivan.


“Ivan punya kemampuan khusus??? Selama ini aku tidak pernah tahu akan hal itu. Aku tidak melihat ada aura energi yang berbeda darinya. Selain itu, dari masa lalu dan masa depan yang aku lihat darinya juga tidak ada yang aneh. Sama seperti anak lainnya, normal-normal saja.” Ujar Jeanna sambil terus berjalan bersama Litch di jalanan yang cukup sepi.


“Memangnya sampai berapa jauh kau bisa melihat masa depan dari seseorang?” Ujar Litch yang bertanya kepada Jeanna.


“Sejauh ini sih, secara normal aku bisa melihat masa depan seseorang sampai dengan satu bulan. Tetapi kalau aku lebih serius dan berkonsenstrasi penuh, aku bisa melihat kejadian tersebut sampai dengan mencapai satu tahun lebih. Memangnya kenapa?” Ujar Jeanna menjelaskan tentang daya lihat kemampuan khususnya.


“Kalau begitu masuk akal. Mungkin alasan kenapa kau tidak mengetahui dan melihat aura energi dari Ivan. Itu karena memang sekarang kemampuan khususnya masih belum muncul di dirinya. Walaupun aku lihat instingnya sudah mulai menajam, tetapi sepertinya itu masih baru tanda-tanda awal dari kemampuan yang sebenarnya. Mungkin juga aura energi dan kemampuan khususnya masih terlalu dini untuk bisa dideteksi olehmu.” Ujar Ivan berasumsi tentang hal tersebut dengan cukup yakin.


“Memangnya kemampuan khusus miliknya itu, kemampuan yang seperti apa sih?” Ujar Jeanna yang bertanya kepada Litch.


“Dua tahun lagi dari sekarang, ia akan mendapatkan indra keenamnya. Kemampuan khusus yang bisa melihat suatu benda ataupun mahluk hidup tak kasat mata. Indra keenamnya itu sangat sensitif dengan sesuatu yang berada disekitarnya, termasuk juga dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Orang-orang biasa menyebutnya dengan hantu, setan, jin, atau apapaun itu namanya.” Ujar Litch menjelaskan kemampuan khusus atau indra keenam yang akan dimiliki Ivan dua tahun lagi dari sekarang.


“Dari sekarang juga kemampuannya itu perlahan sudah mulai memberikan sedikit tanda-tanda kesensitifannya. Makanya aku pikir tadi kau mengetahui dan melihat adanya aura energi darinya.” Ujar Litch yang menyadari adanya tanda-tanda awal dari kemampuan khusus Ivan.


“Dua tahun lagi yah? Sebab itulah aku tidak bisa melihat adanya kemampuan khusus di masa depannya. Lagipula, masa depan yang aku lihat dari anak-anak dikelas juga cuma kilas-kilas kejadian pendek saja, bahkan tidak sampai satu minggu. Mungkin karena dikelas juga sudah terlalu banyak orang. Makanya aku tidak pernah melihat masa depan Ivan secara mendalam.” Ujar Jeanna sambil terus berjalan di jalan yang nampak cukup sepi.


“Memangnya kau sering melihat masa depan dari anak-anak yang di kelas?” Ujar Litch betanya dengan santai kepada Jeanna sambi berjalan disampingnya.


“Kadang-kadang aku melihatnya, tetapi ya cuma sekilas-sekilas saja sih. Aku juga sebenarnya tidak mau untuk melihat masa depan atau masa lalu dari seseorang, tetapi terkadang kemampuan itu muncul dengan sendirinya. Ketika aku sedang memperhatikan seseorang, tiba-tiba telihat begitu saja. Makanya aku jarang bergaul dan bersosialisasi sama anak-anak yang lain.” Ujar Jeanna dengan ekspresi wajah sedikit sedih.


“Tetapi secara tidak langsung, Kamu juga bisa melihat masa depan kan? lebih tepatnya mengetahui apa yang akan terjadi nanti. Soalnya, kamu kan sudah pernah mangalami masa ini.” Ujar Jeanna yang mencoba untuk tidak terlihat bersedih.


“Yaa, bisa dibilang begitu sih. Walaupun sekarang jalan takdirnya perlahan sudah mulai berubah. Ada beberapa kejadian yang sejarusnya di masa depan tidak terjadi, tetapi tiba-tiba saja muncul entah darimana.” Ujar Litch menanggapi ucapan Jeaanna.


“Mungkin ini juga karena efek dari perjalan waktu yang sudah kau lewati.” Ujar Jeanna dengan pendapatnya.


“Maksudmu?” Ujar Litch bertanya kepada Jeanna.


“Aku pernah membaca buku tentang mesin waktu, ada istilah yang namanya Butterfly Effect. Yang artinya suatu perubahan kecil yang dilakukan oleh seseorang di masa lalunya, akan berdampak juga dengan masa depan dari orang itu. Mungkin dari perjalan waktu yang kau alami itu, sudah ada masa lalumu yang sedikit berubah. Makanya ada kejadian-kejadian yang seharusnya tidak terjadi. Kejadian-kejadian tersebut dinamakan Butterfly Effect.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang Butterfly Effect.


“Butterfly Effect.... Aku juga pernah mendengar istilah itu.” Ujar Litch dengan eksprsi wajah yang nampak sedang berpikir.


Setelah beberapa lama Litch dan Jeanna mengobrol sambil berjalan pulang bersama, kini mereka berdua pun melewati sebuah taman umum yang cukup luas tempat bermain bagi anak-anak. Kondisi taman tersebut nampak sangat sepi dan tidak ada orang ataupun anak-anak yang sekedar hanya bermain. Mungkin karena hari juga sudah mulai sore dan beberapa jam lagi matahari akan mulai terbenam.


“Kalau memang Butterfly Effect itu benar, mungkin saja nanti akan ada lagi kejadian-kejadian yang tak terduga lainnya.” Ujar Litch sambil terus berjalan pulang bersama Jeanna di pinggir taman umum tersebut.


“Iya, bisa saja. Tergantung berapa banyak masa lalumu itu yang sudah diubah.” Ujar Jeanna yang ikut berjalan pulang disamping Litch.


Ketika Litch dan Jeanna berjalan di jalan pinggir taman umum tersebut, tiba-tiba dari depan muncul mobil sedan besar berwarna hitam yang berjalan tidak jauh dari mereka. Mereka berdua nampak tidak merasa curiga dan tidak peduli dengan mobil hitam tersebut. Mereka berdua pikir kalau mobil itu hanya akan lewat di jalan yang tidak terlalu luas itu saja. Litch dan Jeanna pun tetap berjalan santai sambil masih terus mengobrol.


Sampai tidak lama setelah itu, mobil sedan hitam itu pun tiba-tiba mulai menambah kecepatannya. Mobil sedan hitam itu nampak terus melaju dengan semakin cepat menuju ke arah Litch dan Jeanna. Sepertinya mobil hitam itu sedang berniat untuk menabrak mereka berdua.


Sesaat sebelum mobil hitam itu menabrak Litch dan Jeanna dengan kecepatan yang cukup tinggi, Litch pun menyadari akan hal bahaya tersebut. Seketika, Litch langsung menarik tubuh Jeanna dan menjatuhkan diri mereka ke taman untuk menghindari mobil yang entah bagaimana mau menabraknya.


“Jeanna, awas!!!” Ujar Litch menarik tubuh Jeanna untuk menghindari mobil sedan hitam tersebut.


Dengan reflek Litch yang tidak kalah cepat dari laju mobil, mereka berdua pun untungnya bisa terhindar dari laju mobil van hitam tersebut. Walapun mereka berdua harus menjatuhkan diri ke area taman bermain umum tersebut, tetapi kini Litch dan Jeanna bisa selamat dari maut yang tiba-tiba menghampirinya.


“Sialan!!! Apa-apaan mobil bangsat itu!?” Ujar Litch yang emosi dengan mobil yang tiba-tiba mau menabraknya.


“Adu-duh.....” Ujar Jeanna sambil perlahan bangun setalah ditarik dan diselamatkan oleh Litch.


“Kau nggak apa-apa?” Ujar Litch sedikit mengkhawatirkan tentang Jeanna.


Sementara itu, mobil sedan hitam yang tadi ingin menabrak Litch dan Jeanna pun perlahan mulai menurunkan kecepatannya. Sampai pada akhirnya laju dari mobil sedan itu pun benar-benar berhenti. Tidak lama setelah mobil sedan hitam tersebut berhenti, tiba-tiba pintu sampingnya pun terbuka. Dari dalam mobil tersebut, muncul dua orang berbadan besar dengan mengenakan setelan jas hitam. Lengkap dengan kemeja putih, kacamata hitam, dan dasi yang berwarna hitam juga.


Setelah keluar dari dalam mobil, dua orang berbadan besar itu pun perlahan mulai berjalan mandatangi Litch dan Jeanna. Dua orang berpakaian jas hitam tersebut terlihat memiliki muka yang sangat sangar dan garang. Melihat dua orang tersebut mulai mendekat ke arahnya, Litch juga terlihat memasang eskpresi wajah yang sangat serius. Sepertinya Litch sudah mengetahui akan maksud dari dua orang tersebut mendatanginya.

__ADS_1


“Jeanna, apakah kau mengenal dia? Coba kau lihat masa lalu mereka, siapa sebenarnya dua orang itu!?” Ujar Litch menyuruh Jeanna untuk melihat masa lalu dari dua orang yang mendatangi mereka.


“Baiklah, akan kucoba melihatnya.” Ujar Jeanna yang mulai melihat masa lalu dari dua orang bermuka sangar tersebut.


Dengan memfokuskan pandangan kepada salah satu orang yang sedang mendatanginya, Jeanna pun berusaha untuk melihat masa lalu orang tersebut untuk mengetahui identitas dan tujuannya. Dalam pandangan Jeanna, telihat beberapa kilas kejadian yang terjadi di masa lalu dari orang berpakaian jas hitam tersebut. Nampak dari kilas-kilas kejadian masa lalu yang dilihat oleh Jeanna, terlihat Victor sedang berbicara dengan kedua orang tersebut.


“Aku perintahkan kalian nanti untuk menghajar anak yang bernama Litch ini. Pokoknya jangan dikasih ampun sedikit pun. Soalnya dia telah berani menghina dan berbuat macam-macam kepadaku. Ingat, hajar dia dengan sungguh-sungguh, beri dia pelajaran. Biar dia tahu, kalau dia telah berhadapan dengan orang yang salah.” Ujar Litch di dalam kilas kejadian yang dilihat oleh Jeanna.


“Litch, mereka adalah orang suruhan Victor. Sepertinya ia tidak terima dengan apa yang telah kau lakukan padanya waktu pagi tadi. Dia menyuruh mereka untuk menghajarmu.” Ujar Jeanna memberi tahu Litch tentang apa yang ia lihat di masa lalu salah satu orang suruhan Victor.


“Cihhh, anak sialan itu!!!” Ujar Litch yang merasa kesal dengan Victor.


“Awas Litch, mereka ingin menyerangmu!!!” Ujar Jeanna melihat dua orang suruhan Victor tersebut mulai berlari medekat kearah dirinya dan Litch.


“Aku tahu itu!” Ujar Litch yang juga mulai bergerak dan berlari mendatangi kedua orang berbadan besar tersebut.


Sesaat setelah Litch bergerak mendekat ke dua orang suruhan Victor tersebut, salah satu orang suruhan itu pun melancarkan sebuah pukulan kearah tubuh Litch. Pukulan tersebut nampak memiliki tenaga yang sangat besar dan kuat.


“Whoosshh!!!!” Satu pukulan tangan kanan dilesatkan dengan sangat bertenaga.


Meskipun demikian, Litch mampu untuk menghindari pukulan tersebut dengan pergerakan yang sangat lincah. Dengan refleknya, Litch menggerakan tubuhnya ke arah sisi kanan. Tidak hanya bergerak untuk menghindari pukulan tersebut, namun Litch juga nampak sedang merencanakan sesuatu.


Sambil masih bergerak dengan lincah, tiba-tiba Litch melompat keatas yang kemudian langsung melesatkan sebuah pukulan balasan kepada salah satu orang suruhan Victor tersebut. Pukulan dari tangan kanan Litch meluncur dengan sangat cepat dan tepat menuju ke arah wajah orang sangar tersebut.


“Buuukkk!!!” Pukulan yang cepat dan keras dari tangan kanan mendarat tepat di wajah dari salah satu orang suruhan Victor tersebut.


Seketika itu juga, orang yang terkena pukulan Litch itu pun langsung terdorong dan tersungkur ke belakang. Melihat temannya terkena pukulan dari Litch hingga terkapar di jalan, orang suruhan Victor yang lainnya itu pun terlihat kesal dan marah.


Satu pukulan bertenaga dari orang suruhan Victor yang lainnya pun kembali melesat ke arah tubuh Litch. Namun kali ini Litch juga mampu untuk menghindari pukulan tersebut. Dengan mudahnya Litch bergerak ke arah kiri untuk menghindari dari pukulan tersebut.


Akan tetapi, orang yang berkaca mata hitam suruhan Victor kali ini tidak pantang menyerah dan terus melancarkan pukulan demi pukulan ke arah Litch. Ia terus mendorong mundur Litch dengan pukulan-pukulannya yang tiada henti. Walaupun semua pukulannya tersebut dapat dihindari dengan mudah oleh Litch yang bergerak sangat lincah.


Setelah terus menghindar dari pukulan-pukulan tersebut dengan bergerak ke belakang, Litch pun nampak bersiap untuk melakukan serangan balik. Dicelah-celah saat orang berkacamata hitam itu melancarkan beberapa pulukan ke arahnya, Litch akhirnya berhasil melesatkan pukulan balasan yang sangat keras.


Pukulan keras dari tangan kanan Litch itu pun tepat mendarat pada bagian perut dari orang berbadan besar tersebut. Seketika tubuh orang berkacamata hitam itu pun langsung terdorong kebelakang menuju ke temannya tadi yang terkena pukulan keras diwajahnya. Walaupun sudah terkena pukulan yang cukup keras di bagian perut, orang suruhan Victor yang satu ini nampak masih bisa berdiri dengan mengunakan kedua kakinya.


“Sepertinya kau bukan anak SMA biasa. Kekauatanmu itu sudah seperti orang dewasa.” Ujar orang suruhan Victor tersebut yang nampak kesakitan sambil memegangi bagian perutnya.


Meskipun masih kuat untuk berdiri, tetapi sepertinya pukulan dari Litch tadi cukup memberikan dampak yang lumayan serius bagi orang berkacamata tersebut. Khususnya pada tubuh bagian perut.


Sementara itu, salah satu orang suruhan Victor lainnya yang tadi terkapar karena terkena pukulan keras dari Litch itu pun kini perlahan sudah mulai bangkit kembali. Walaupun ia masih terlihat sempoyongan dan sulit untuk menjaga keseimbangan dalam berdiri.


“Apakah kau tidak apa-apa?” Ujar orang berkacamata hitam yang masih memegangi perutnya sambil melihat temannya berdiri sempoyongan di sampingnya


“Tidak apa-apa. Aku masih kuat.” Ujar salah orang suruhan Victor tersebut sesaat setelah mulai kembali berdiri sambil masih sedikit sempoyongan.


Ketika kedua orang berpakaian jas hitam tersebut sedang berdiri dengan sedikit sempoyongan serta yang satunya lagi memegangi bagian perutnya, Litch pun tiba-tiba melakukan pergerakan dan berencana untuk menyerang kedua orang suruhan Victor tersebut secara bersamaan. Namun baru saja Litch bergerak sedikit maju kedepan, kedua orang suruhan itu pun nampak kaget dan sedikit ketakutan hingga terhuyung-huyung mundur ke belakang.


“Eeergh.... Eeergh.... Ampun-ampun.” Ujar kedua orang suruhan Victor itu yang sedikit merasa ketakutan dengan Litch sambil terhuyung-huyung mundur ke belakang.


Seketika itu juga, kedua orang itu pun langsung lari kebelakang menuju mobil sedan hitam yang tidak jauh dari tempat mereka. Mereka lari kabur sambil masih memegangi bagian tubuh yang tadi terkena pukulan dari Litch. tepatnya pada bagian perut dan wajah dari kedua orang tersebut. Nampak mereka berdua merasa sedikit takut dengan kekuatan tak terduga yang dimiliki oleh Litch. Mereka berdua tidak menyangka kalau pemuda yang mereka hadapi, mampu untuk melawan dan membuat mereka mengalami luka yang cukup menyakitkan.


“Bos-bos, buka pintunya bos. Sepertinya kita tidak bisa melawannya, anak itu terlalu kuat bos.” Ujar salah satu orang suruhan Victor tersebut sambil masih memegangi perutnya.


“Iya bos.” Ujar orang suruhan Victor yang lain sambil memegangi bagian wajahnya.


Tidak lama setelah kedua orang tersebut menggedor-gedor mobil sedan hitam tersebut, pintu samping mobil itu pun terbuka. Saat itu juga, dari dalam mobil terlihat Victor sedang duduk sambil ditemani oleh anak laki-laki berkaca-mata dan satu anak perempuan yang selalu mengikutinya tersebut.


Setelah pintu mobil itu terbuka, kedua orang yang tadi dihajar oleh Litch itu pun langsung masuk ke dalam mobil. Litch yang berdiri tidak jauh dari mobil sedan hitam itu pun nampak menatap tajam kearah Victor dengan ekspresi wajah yang cukup serius. Melihat hal tersebut, Victor nampak berusaha untuk mengabaikan Litch dan segera menutup pintu mobilnya. Sesaat setelah pintunya ditutup, mobil hitam itu pun langsung melaju dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


“Sialan anak itu!!! Merepotkan saja.” Ujar Litch yang masih sedikit kesal dengan Victor sambil terus melihat mobil sedan hitam tersebut.


“Litch, apakah kau tidak apa-apa?” Ujar Jeanna mendatangi Litch karena merasa sudah aman.


“Tidak apa-apa. Anak itu memang dari dulu sungguh menyebalkan, sama seperti ayahnya. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ujar Litch sambil masih melihat laju dari mobil Victor yang sudah mulai menjauh.


“Iya!!! Padahal semua aset yang ia punya juga milik ayahnya semua. Mungkin jalan hidup dari orang kaya memang seperti itu, harus sombong dan menyebalkan.” Ujar Jeanna yang ikut merasa kesal dengan Victor.


“Sudahlah, kita tidak usah memikirkan tentang dia. Sampai kapan pun juga dia akan selalu menjadi orang yang seperti itu.” Ujar Litch yang mulai menurunkan emosinya.


Sementara itu, kondisi di dalam mobil sedan hitam yang melaju dengan cukup kencang. Nampak di dalam mobil tersebut, Victor sedang merasa tidak senang dengan hasil kerja dari dua orang suruhannya tersebut.


“Kalian berdua ini memang tidak berguna!!! Tidak becus sama sekali!!! Disuruh menghajar anak bajingan itu, malah kalian yang kena hajar. Tolol kalian ini!!!” Ujar Victor kepada dua orang suruhannya tersebut dengan nada yang kesal.


“Tapi bos, anak itu benar-benar kuat bos. Semua pukulanku bisa dihindarinya dengan mudah. Sepertinya dia punya ilmu bela diri yang cukup tinggi.” Ujar salah satu orang suruhan Victor tersebut yang mencoba untuk membela dirinya.


“Iya bos, pukulannya juga sangat keras. Seperti bukan pukulan dari anak-anak.” Ujar orang suruhan Victor yang lainnya sambil memegangi bagian wajahnya.


“Alahh!!! Alasan!!! Kalian saja yang lemah. Katanya pasukan khusus perusahaan milik ayah, tapi kalah sama anak ingusan itu. Pasukan khusus apaya!? Pasukan orang lemah!!!” Ujar Victor dengan keangkuhannya.


“Tapi bos....” Ujar orang suruhan Victor yang ternyata adalah pasukan khusus dari perusahaan milik ayahnya.


“Sudah-sudah!!! Aku tidak mau mendengar hal itu lagi. Sana silahkan balik ke perusahaan ayah lagi saja.” Ujar Victor yang masih kesal kepada kedua orang tersebut.


“Terlepas dari hal itu, anak itu memang mempunyai kekuatan yang di luar nalar. Dia itu terlalu tangguh untuk anak seusianya. Sepertinya memang ada yang aneh dari anak itu.” Ujar laki-laki berkacamata yang bernama David dengan kecurigaannya.


“Iya tuan Victor. Waktu kejadian tadi pagi juga seperti ada sesuatu yang msiterius dari diri anak itu.” Ujar anak perempuan yang duduk disamping Victor.


“Misterius bagaimana???” Ujar Victor bertanya kepada anak perempuan tersebut.


“Aku merasa ada aura-aura aneh yang muncul di sekelilingnya.” Ujar anak perempuan tersebut kepada Victor.


“Rena-Rena.... Kita ini hidup di tahun 2017. Zaman sudah modern, teknologi canggih dimana-mana. Orang-orang sudah berpikiran untuk menjelajahi luar angkasa. Kamu masih saja percaya sama begituan? Hal-hal seperti itu hanya pemikiran orang kuno saja. Dia itu hanya anak songong yang jago ilmu bela diri saja. Makanya dia berani sama kita.” Ujar Victor yang tidak percaya dengan hal-hal mistis dan supranatural seperti yang dikatakan anak perempuan bernama Rena.


“Tapi tuan....” Ujar anak perempuan yang bernama Rena.


“Sudahlah!!! Aku tidak mau lagi membahas anak songong itu lagi. Nggak ada untungnya, Cuma bikin kesal saja.” Ujar Victor yang tidak ingin lagi membahas tentang Litch.


Disisi lain, Jeanna kini sudah berpisah dengan Litch dan berjalan sendiri. Tanpa mampir kemana-mana terlebih dahulu, Jeanna nampak terus berjalan untuk pulang menuju ke rumahnya. Hingga tidak lama kemudian, Jeanna pun sampai dan langsung memasuki sebuah rumah yang menjadi tempat tinggalnya.


“Jam segini baru pulang nak. Biasanya kamu pulang lebih awal, memang habis dari mana?” Ujar seorang pria di dalam rumah yang melihat Jeanna memasuki rumah tersebut.


“Ada urusan sama teman yah.” Ujar Jeanna kepada pria yang ternyata adalah ayahnya.


“Ohh, ya sudah sini makan dulu. Waktu pulang tadi ayah beli makanan kesukaanmu. Ayo makan bareng sama ayah.” Ujar ayah Jeanna yang terlihat sedang makan di meja makan.


“Iya nanti Jeanna makan.” Ujar Jeanna yang berjalan menuju ke lantai atas.


Sementara itu, di luar rumah Jeanna tersebut. Nampak ada pandangan yang memperhatikan ke dalam rumah dari luar. Pandangan tersebut melihat secara sembunyi-sembunyi kearah ayah Jeanna yang sedang makan di meja makan. Ayah Jeanna terlihat jelas oleh pandangan tersebut melalui jendela rumah yang masih terbuka


Tidak beberapa lama kemudian, Jeanna pun terlihat turun dari lantai dua untuk menuju ke meja makan. Pandangan dari luar rumah itu pun masih terus memperhatikan Jeanna dan ayahnya yang sedang makan di meja makan. Sampai tidak lama setelah itu, pandangan itu melihat Jeanna menolehkan kepalanya ke arah dirinya. Seketika itu juga, pandangan itu pun langsung bersembunyi dan menghilangkan dirinya ke balik pohon.


Jeanna yang menolehkan kepalanya ke arah pandangan tadi itu pun sedikit merasa curiga dan menyadari kalau ada sesuatu yang sedang memperhatikannya dari tadi. Sambil makan di meja makan, ia pun mencoba untuk menyakinakan dirinya dengan terus melihat kondisi luar rumahnya. Namun diluar ruangan tersebut tidak terlihat siapa pun yang sedang berada disitu. Hanya ada pohon besar yang tumbuh dan berdiri di seberang jalan.


“Jean, Jeanna! Ada apa sih kamu lihat-lihat ke luar? ” Ujar ayah Jeanna melihat anaknya sedang memperhatikan sesutau ke luar rumah.


“Enggak ada apa-apa kok. Cuma lihat pemandangan luar saja.” Ujar Jeanna yang mencoba untuk berbohong kepada ayahnya.


“Ya sudah, fokus makan dulu saja. Jangan mikirin hal-hal yang lain.” Ujar ayah Jeanna kepada anaknya.

__ADS_1


“Baik ayah.” Ujar Jeanna menuruti perkataan dari ayahnya.


Sementara itu, kembali ke luar rumah Jeanna. Pandangan misterius itu pun kembali muncul dan memperhatikan Jeanna serta ayahnya. Namun tidak lama setelah pandangan misterius itu muncul dari balik pohon, ia pun tiba-tiba perlahan mulai pergi dan menghilang dari tempat tersebut. 


__ADS_2