
Disuatu tempat yang nampak gersang dan kering. Awan gelap membumbung tinggi di seluruh langit yang menyelimuti tempat tersebut. Semua tanaman yang ada hanya tersisa batang dan ranting-ranting keringnya saja. Sejauh mata memandang tidak ada satu pun pepohonan atau jenis tanaman lainnya yang hidup dan tumbuh subur di tempat tersebut.
Disisi lain, terlihat seekor hewan yang sangat kurus sedang meminum air di sebuah kubangan kecil dan kotor. Ketika hewan tersebut tengah asyik meminum air di kubangan tersebut, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sesuatu yang jatuh dari atas langit. Seketika hewan itu pun langsung lari ketakutan menjauhi sesuatu yang jatuh didekatnya tersebut.
“Apakah kau menyesal dengan apa yang telah kau perbuat. Apa yang kau lakukan itu telah mempermalukan bangsa kita sendiri, kau tahu itu Jack!!! Dasar iblis sialan!!!” Ujar mahluk iblis berwujud menyeramkan dengan dua tanduk besar di kepalanya sambil mendatangi sesuatu yang jatuh di tanah kering tersersebut.
“Hehe!!! Dari awal kita sudah dipermalukan, menderita di neraka ini. Apakah kau menikmati ini semua hah!!!” Ujar mahluk iblis lainnya yang jatuh dari langit tadi.
“Kita para iblis memang menderita di neraka ini, tidak ada satu iblis pun yang mau tinggal di tempat busuk seperti ini. Akan tetapi, Kita adalah bangsa iblis, ras terkuat di dunia ini!!! Kami semua mempunyai harga diri yang sangat tinggi dibandingkan dengan mahluk lainnya. Dan kau adalah satu-satunya iblis yang tidak mempunyai harga diri itu, kau menjualnya kepada sosok yang telah melemparkan kita ke neraka ini. Jack, sekarang kau bukan golongan dari bangsa iblis lagi.” Ujar iblis bertanduk besar sambil mengarahkan tombak kepada iblis lainnya yang bernama Jack.
“Aku melakukan semua ini demi untuk terbebas dari kehidupan neraka yang menyedihkan ini. Sementara kalian mementingkan tentang harga diri dan kesombongan, aku akan melakukan apa pun!!! Aku adalah mahluk yang penuh dengan kebebasan, sedangkan kalian semua adalah mahluk-mahluk yang tekurung. Harga diri yang kalian banggakan itu telah mengurung diri kalian dan akan membuat kalian terperangkap selamanya di tempat busuk ini.” Ujar iblis bernama Jack yang penuh emosi sambil mengepalkan tangannya.
“Tutup mulutmu!!! Jack, kau benar-benar aib bagi bangsa iblis. Enyahlah dari dunia ini!!!” Ujar iblis bertanduk besar melemparkan tombak tajam ke arah Jack.
Sebuah tombak yang besar dan tajam pun melesat dengan cepat ke arah iblis bernama Jack. Terlihat di sekeliling tombak yang sedang melesat itu muncul kobaran api merah yang menyelimutinya. Akan tetapi, sesaat sebelum tombak tersebut mendekat dan mengenainya, Jack pun berhasil menghindar dengan menyampingkan badannya ke arah kanan. Alhasil, tombak itu pun meleset dari target dan akhirnya tertancap di batang pohon kering yang berada tidak jauh di belakang Jack.
“Huhhh.... sepertinya kau benar-benar berniat ingin melenyapkanku. Apakah tidak apa-apa menghabisi bangsamu sendiri, bukannya musuhmu adalah mahluk tanah sialan itu. Pangeran iblis Satan!!!!” Ujar Jack sambil tersenyum ke arah iblis bertanduk besar bernama Satan.
“Tutup mulut busukmu itu iblis gagal!!! Sekarang kau adalah bagian dari mereka. Kau adalah musuh bangsa iblis yang terhormat. Dan bangsa iblis tidak akan pernah memberikan rasa belas kasih terhadap musuh kami. Terima ini, Red Ball Of Blaze!!!” Ujar pangeran iblis Satan sambil mengangkat dan melemparkan bola api besar berwarna merah menyala ke arah Jack.
“Sialan!!! Ini gawat!!!” Ujar Jack melihat bola api besar itu datang ke arahnya.
Bola api besar yang dilempar sebagai serangan andalan pangeran iblis Satan itu pun bergerak menuju ke arah Jack. Melihat hal tersebut, Jack pun merasakan adanya tanda bahaya besar yang bisa mengancam nyawanya. Akan tetapi, Jack tidak tinggal diam dan menerima serangan tersebut secara cuma-cuma. Ia nampak berencana untuk membalas dan menerima serangan bola api besar itu dengan perlawanannya.
“Pangeran sialan itu!!!! Oke, lawan api dengan api yang lebih kuat.” Ujar Jack sambil mengepalkan tangan kanannya.
Sesaat setelah mengepalkan pukulannya dengan kuat, api hitam pun tiba-tiba muncul di sekeliling tangan kanan iblis Jack tersebut. Terlihat Jack sudah bersiap untuk menahan dan memberikan perlawanan kepada serangan bola api yang menuju kearahnya. Ketika bola api besar yang dilancarkan oleh Satan itu sudah mendekat dan berada di jangkauan serangannya, Jack pun langsung melompat dan menganyunkan pukukan api hitam ke arah bola api merah tersebut.
“Black Fire Heat Punch!!!!” Ujar Jack sambil melesatkan pukulan yang diselimuti oleh api berwarna hitam pekat.
Pukulan keras dari tangan kanan Jack mendarat di bola api besar tersebut. Api hitam yang menyelimuti pukulan Jack itu pun berusaha untuk melawan besarnya bola api merah dari serangan Satan. Akan tetapi, pukulan andalan dari Jack itu pun tidak mampu untuk menghancurkan bola api besar tesebut. Pukulan Jack hanya mampu untuk menghentikan dan menahan laju dari bola api merah tersebut. Untuk hanya sekedar menahan laju dari bola api itu saja, Jack pun terlihat sudah sangat bersusah payah dan kesulitan. Nampaknya pukulan api hitam milik Jack tidak seimbang dengan serangan bola api merah milik pangeran iblis Satan.
Akan tetapi, Jack tidak mudah untuk menyerah dan berputus asa. Ia terus mencoba untuk menahan dan melawan serangan bola api tersebut dengan cara mengeluarkan potensi kekuatan penuhnya. Selain itu, Jack juga berusaha untuk melampaui batas maximum kekuatan yang dimilikinya.
“Aaaaakhhhh, Aaaaaaa....... Ini masih belum seberapa, ayo keluarkan kekuatan maksimummu. Aaaakkkhhhh!!!!!” Ujar Jack sambil berusaha untuk mengeluarkan dan melampaui semua kekuatan yang dimilikinya.
Usaha Jack pun tidak berujung kepada kesia-siaan. Kekuatan Jack nampak mulai terus bertambah besar dan mampu sedikit mendorong mundur bola api tersebut. Api hitam yang menyelimuti pukulan tangan kanannya juga perlahan mulai membesar dan menyelimuti bola api merah milik Satan.
“Dasar iblis tak berguna!!!! Kau tidak akan mampu mengalahkan kekuatanku!!!!” Ujar satan sambil menambahkan kekuatan pada bola api besarnya.
“Aaaaaaaaa......Aaakkkkhhhh!!!! Lampaui kekuatnmu!!!” Ujar Jack yang juga terus menambah kekuatan di pukulan tangan kanannya.
“Duaaaarrrr!!!!!!” Suara ledakan dahsyat dari bola api besar milik satan yang terselimuti oleh api hitam milik Jack.
“Aaaa!!! Akhh....Khaa.....Akhh....Khaa....Akhh....” Teriak dan desah Litch, terbangun dari tempat tidur dengan tubuh yang dipenuhi oleh keringat.
“Uuuukkhhh...... Mimpi apa itu!?” Ujar Litch sambil menenangkan diri dengan menghela nafas yang cukup panjang.
“Belakangan ini aku sering sekali memimpikan hal-hal yang aneh seperti itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku!?” Ujar Litch mengepalkan kedua tangannya sambil menengok ke arah luar melalui jendela rumahnya.
Sementara itu keadaan di luar ruangan, matahari terlihat jelas sudah terbit dari ufuk timur. Sinar cerah dan hangat dari sang surya menyinari seluruh tempat di kota Gondwana yang hijau. Hal tersebut membuat pagi hari yang dingin dan sejuk kini berubah menjadi pagi yang penuh dengan kehangatan. Nampak sekawanan burung sedang mengepakan sayap indahnya menuju ke arah cahaya surya yang bersinar terang.
Selain itu, Hiruk pikuk kehidupan masyarakat perkotaan yang cukup sibuk juga kini perlahan mulai terlihat menggeliat. Orang dewasa yang mulai berurusan dengan pekerjaanya. Sementara itu, anak-anak juga perlahan sudah mulai bersiap untuk pergi belajar ke sekolah. Hal tersebut menandakan bahwa situasi dan kondisi kota Gondwana sekarang dalam keadaan yang sangat normal.
Kini pagi perlahan mulai beranjak menuju ke siang hari. Matahari juga sudah mulai menyingsing tinggi di atas langit. Dan sekarang waktu menunjukan tepat pukul 08:00 am. Sementara itu, di gedung sekolah SMA Negeri 01 Gondwana. Para murid terlihat sudah mulai datang ke sekolah tersebut untuk melakukan kegiatan belajar. Dengan mengendong tas di pundaknya, mereka berjalan memasuki gedung untuk menuju ke kelasnya masing-masing.
__ADS_1
“Hey-hey minggir kau anak miskin, jangan menghalangi jalanku!!!” Ujar murid laki-laki dengan nada sombong sambil diikuti oleh tiga anak lainnya yang berjalan di dibelakangnya.
“Kenapa sekolah ternama seperti ini isinya anak-anak kampungan semua. Seharusnya murid yang masuk kesini adalah anak-anak yang berkelas. Dasar tidak berguna!!!” Ujar murid laki-laki tersebut dengan nada dan ekspresi penuh kesombongan.
“Iya tuan Victor, sepertinya pihak sekolah terlalu mudah memberikan peluang bagi rakyat jelata untuk masuk ke sekolah ini.” Ujar salah satu anak perempuan yang mengikuti murid laki-laki yang bernama Victor di belakangnya.
“Hey Victor!!! bilang saja ke ayahmu, suruh dia bicara kepada pihak sekolah. Ayahmu kan orang yang paling banyak mendonasikan uangnya ke sekolah ini. Pasti pihak sekolah mau mendengarnya, hahaha!!!!” Ujar anak laki-laki yang juga ikut mengikuti Victor dari belakang.
“Cihh!!!! Ayahku adalah orang yang sibuk dia tidak ada waktu untuk mengurusi hal beginian.” Ujar Victor sambil terus berjalan di lorong sekolah yang cukup besar dan sangat bersih.
“Eeee..... kalau begitu tidak berguna dong!” Ujar anak laki-laki yang tadi.
“Hentikan itu Galang!!! Sebaiknya kau diam saja, dasar otak udang!!!” Ujar anak laki-laki berkaca mata yang juga mengikuti dan berjalan di belakang Victor.
“Apa kau yang kau bilang hah, dasar mata empat!!!” Ujar anak laki-laki bernama Galang dengan nada yang sedikit emosi.
“Ekhh!!! Kau ini benar-benar membuatku kesal.” Ujar anak laki-laki berkaca mata yang mulai terpancing emosi dengan sikap Galang.
“David!!! Tidak usah kau ladeni dia. Dia memang selalu begitu. Dan kau Galang!!! Sebaiknya sekarang kau mulai belajar untuk menjaga ucapan sembaranganmu itu.” Ujar anak perempuan tadi yang berada di samping kiri David dan Galang.
“Cihh!!!” Ujar Galang dan anak laki-laki berkacata mata yang bernama David.
“Cihh!!! Dasar sekumpulan anak tidak berguna!!!” Ujar Victor didalam hatinya.
Setelah berjalan beberapa saat, mereka berempat pun akhirnya sampai ke sebuah ruang kelas. Langkah kaki Victor dan ketiga temannya terlihat menuju ke arah kelas 2B, kelas yang sama dengan yang ditempati oleh Litch. Sementara itu, Ketika Victor ingin memasuki ruang kelas dengan melalui pintu yang sudah terbuka, tiba-tiba seorang siswi perempuan yang sedang membawa beberapa buku pun menabraknya dari depan.
“Aaa....” Ujar anak perempuan sambil terjatuh akibat menabrak Victor yang muncul dari luar ruang kelas secara tiba-tiba.
“Apa yang kau lakukan hei anak rendahan!!! Beraninya kau menabrakku. Apa kau tidak punya mata!? Sebegitu miskin kah kau ini, hingga penglihatan saja tidak punya!?” Ujar Victor yang terbawa emosi akibat di tabrak oleh siswi perempuan teman sekelasnya.
“Maaf-maaf, lain kali jalan itu pakai mata!!! Jadi lecek gini kan pakaianku. Masih pagi sudah berurusan dengan anak-anak rendahan, benar-benar sialan!!! Apanya yang sekolah ternama!?” Ujar Victor yang emosi dan mengeluuh tentang kejadian tersebut.
Para siswa ataupun siswi yang berada di ruang kelas 2B itu nampak hanya diam dan menyaksikan kejadian tersebut. Dari sekian siswa maupun siswi yang ada di kelas 2B, tidak ada yang berani untuk membela atau hanya sekedar menolong siswi perempuan malang tersebut. Mereka nampak takut dengan keberadaan Victor. Mengingat bahwa Victor adalah anak dari salah satu orang terkaya yang paling banyak menyumbangkan dananya ke sekolah tersebut. Para murid di SMAN 01 Gondwana juga sudah mengetahui sikap serta perilaku Victor yang arogan, sombong, dan suka merendahkan murid-murid lainnya. Oleh karena itu, banyak dari siswa maupun siswi yang lebih memilih untuk diam dan berusaha agar tidak mempunyai apapun urusan dengannya.
“Sekali lagi maafkan aku. Aku benar-benar memang tidak mengetahui kalau ada kamu tadi. Maaf-maaf.” Ujar siswi perempuan tersebut sambil mengambil buku-bukunya yang terjatuh.
“Hey!!! Mata empat!!!” Ujar Galang ke arah siswi perempuan tersebut.
“Cihh!!!” Ujar David yang merasa jengkel dengan ucapan dari Galang.
“Jalan itu pakai mata!!! Lagian sudah pakai kaca mata juga masih nabrak orang, nggak sekalian pakai kaca mata kuda!?” Ujar Galang dengan nada yang belagu.
“Ehh, lihat deh anak itu! Mentang-mentang temannya Victor, tingkahnya belagu banget” Bisik para siswi yang menyaksikan di kelas tersebut.
“Iya, tidak tahu malu! Padahal dia adalah anak yang bodoh. Khem!!! Kepala sama ekor sama-sama arogannya. Tidak tahu diri.” Bisik siswi yang lainnya membicarakan geng Victor.
“Mereka ini memang sudah keterlaluan. Kita biarkan malah semakin menjadi-jadi.” Bisik siswi yang lainnya juga masih membicarakan kelakuuan Victor dan gengnya.
“Apa kalian lihat-lihat !? Tidak suka dengan kami hah!? Kalau tidak suka bilang sini dihadapan kami. Jangan beraninya ngomong di belakang doang. Dasar orang-orang miskin tidak berguna!!!” Ujar Galang menyadari dirinya di omongin dari belakang.
“Biarkan saja, sepertinya rasa solidaritas dari orang miskin memang cukup tinggi. Mereka hanya iri dengan kemampuan kita.” Ujar David sambil memegang kaca matanya.
“Cihh!!! Asal kalian tahu yah, kalian menikmati fasilitas sekolah yang nyaman serta bagus ini gara-gara ayah Victor yang menyumbangkan dananya ke pihak sekolah. Ingat itu baik-baik!!! Kalau kalian memang tidak suka akan hal itu, silahkan keluar dari sekolah ini, Mengerti!!!” Ujar Galang ke arah para siswa atau siswi dihadapannya dengan nada yang lantang.
Ketika geng Victor tersebut sedang berdiri di dekat pintu kelas sambil masih nampak emosi dengan kejadian yang tadi, tiba-tiba Litch pun muncul menyelonong masuk ke kelas dan melewati mereka berempat secara begitu saja. Litch tetap berjalan dengan sangat santai memasuki kelas tanpa memperdulikan keberadaan Victor dan ketiga temannya. Sambil menundukan kepalanya, Litch nampak tidak memperhatikan sedikitpun tentang geng Victor yang sedang kesal dan emosi. Melihat Litch yang masuk ke kelas dan melewati Victor begitu saja, Galang pun langsung menghentikan Litch dengan memegangi salah satu tangannya.
__ADS_1
“Heyy anak rendahan!!! Mau kemana kau!?” Ujar Galang sambil memegang lengan kanan Litch untuk mengehentikannya.
“Hei, anak miskin!! Apa kau tidak mempunyai sopan santun, hah!? Apakah orang tuamu tidak mengajari hal tersebut. Berani-beraninya kau lewat begitu saja dihadapanku. Sadar akan derajatmu, hei anak kurang ajar.” Ujar Victor kepada Litch dengan nada yang angkuh.
“Lepaskan....” Ujar Litch meminta agar tangganya dilepaskan dari genggaman Galang.
“Hahh!? Apa kau kata? Apakah kau mau diberi pelajaran hah?” Ujar Galang yang masih memegangi tangan begian lengan kanan Litch.
“Lepaskan tanganku!” Ujar Litch kepada Galang untuk kedua kalinya.
“Lepaskan??? Kau pikir kau ini siapa hah!!! Memerintahku seenak jidatmu. Anak kurang ajar sepertimu harus mendapat pelajaran khusus dari kami.” Ujar Galang yang semakin erat dan kuat memegangi lengan kanan Litch.
“Aku bilang lepaskan!!!!” Ujar Litch dengan dengan nada suara yang tinggi.
Seketika itu juga, Galang pun langsung melepaskan genggamannya terhadap tangan bagian lengan kanan Litch. Ia merasakan adanya suhu panas dari lengan Litch yang ia genggam dengan kuat. Sesaat setelah Galang melepaskan genggaman tangannya, bola mata Litch pun terlihat berubah menjadi berwarna merah. Selain itu, Aura yang cukup kuat juga perlahan mulai muncul di sekitar tubuh Litch. Nampaknya Litch mulai terpancing emosi dengan perkataan dan perbuatan yang dilakukan oleh Galang.
Dengan mata yang berwarna merah dan aura mengintimidasi yang cukup kuat, Litch pun menatap Galang dengan tatapan yang sangat tajam. Seisi kelas yang ikut menyaksikan dan memperhatikan kejadian tersebut pun langsung terdiam semua. Mereka hanya terpaku melihat keberanian Litch yang berteriak keras kepada salah satu teman Victor, Galang. Selain itu, Victor dan kedua teman lain yang berada dibelakangnya juga ikut terdiam melihat Litch yang nampak sangat mengintimidasi mereka.
“ka-kau ini.....” Ujar Galang yang merasa ketakutan sambil memagangi tangannya yang tadi menggenggam lengan kanan Litch.
“Aura ini!? Sepertinya memang benar, ada yang aneh dengan aura Litch belakangan ini. Sesuatu yang mengerikan terpancar darinya.” Ujar Ivan yang dari tadi sudah ada di kelas sambil menyadari dan merasakan aura berbeda dari temannya, Litch.
Ketika Litch sedang menatap Galang sambil mengeluarkan aura mengintimidasinya, ia pun melihat Ivan dan tersadar bahwa temannya itu adalah anak yang mempunyai kekuatan khusus atau indigo. Litch ingat kalau Ivan memiliki kekuatan khusus yang dapat melihat dan merasakan aura dari seseorang. Menyadari hal tersebut, Litch pun langsung menurunkan auranya dan berusaha untuk kembali terlihat normal. Warna mata yang terpancar darinya juga perlahan sudah mulai kembali seperti semula.
Setelah menurunkan aura intimidasinya, Litch pun langsung kembali berjalan untuk menuju ke tempat duduknya. Akan tetapi, Victor terlihat tidak senang dengan sikap Litch yang berani melawannya. Sambil memperhatikan Litch yang berjalan ke tempat duduknya, Victor nampak sangat kesal dan merasa tehina dengan apa yang baru saja Litch lakukan kepada salah satu temannya, Galang.
“Menurutmu kau ini anak yang hebat hah!? Berani melawan kami. Keberanianmu itulah yang akan menghancurkanmu. Kau benar-benar tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Awas saja nanti, orang-orangku pasti akan memberi pelajaran kepada semua orang yang berkaitan denganmu. Kau pasti akan menyesalinya, baik teman-temanmu, kelurgamu, serta ayah atau ibumu pasti akan menerima akibat dari perbuatanmu itu, Wonder Litch!!!!” Ujar Victor yang tidak terima dengan sikap Litch sambil mengancamnya.
Begitu mendengar perkataan dari Victor, Litch yang sedang berjalan perlahan menuju ke tempat duduknya itu pun tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Litch nampak diam berdiri membelakangi Victor yang telah mengancamnya tadi. Sambil memancarkan ekspresi yang sangat serius di wajahnya, Litch pun akhirnya membalikan badannya dan perlahan mulai bergerak serta berjalan menuju ke arah Victor berada.
“Mau ngapain kau, hey!!! Jangan coba-coba mendekatiku, atau kau akan merasakan akibatnya. Aku adalah anak dari orang terkaya di kota ini. Jangan macam-macam denganku!!!” Ujar Victor sedikit panik melihat Litch yang semakin mendekat ke arahnya.
“Aku tidak peduli siapa kau ini, anak dari orang kaya ataupun anak presiden sekalian. Mau kau punya pengaruh di sekolah ini, bahkan dikota ini, atau mau kau mempunyai pengaruh di dunia ini sekali pun. Aku tidak peduli dengan itu semua. Tetapi kalau kau berbuat macam-macam dengan keluargaku, sekali lagi membawa-bawa ibuku, ataupun hanya sekedar menyebut tentang ibuku. Mau siapapun yang melindungimu, pasti akan kulenyapkan semuanya dari dunia ini. Mengerti kau!!!” Ujar Litch yang tiba-tiba sudah berada di depan Victor dan mencengram kerah baju seragamnya dengan sorot mata tajam berwarna merah menyala.
“Lepaskan tanganmu dari tuan Victor!!!” Ujar anak atau siswi perempuan tadi yang berada di belakang Victor sambil menatap Litch dengan serius.
“Hahh!?” Ujar Litch kepada anak perempuan tersebut sambil menatapnya kembali dengan penuh intimidasi.
“Teng neng-neng.... neng-neng.... teneng teng neng-neng.... neng-neng......” Suara bel masuk tanda pelajaran akan segara dimulai.
Karena bell masuk kelas sudah berbunyi, dan para murid lain juga nampak sedang menunggu untuk masuk ke kelas 2B. Litch pun akhirnya melepaskan cengkraman tangannya tersebut. Litch langsung berbalik badan dan kembali berjalan menuju ke tempat duduknya lagi. Ketika Litch sedang berjalan menuju ke tempat duduknya di pojok kiri belakang, dari pojok kanan belakang kelas terlihat siswi perempuan yang sedang memperhatikan Litch dengan tatapan penuh kecurigaan. Siswi tersebut memperhatikan Litch berjalan tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun.
“Tuan Victor, apakah tuan baik-baik saja?” Ujar siswi perempuan yang selalu mengikuti Victor di belakangnya.
“Aku baik-baik saja!!” Ujar Victor dengan muka yang terlihat syok sambil membenarkan kerah baju seragamnya.
Sesaat setelah itu, siswa-siswi yang dari tadi menunggu di depan kelas pun perlahan mulai berani untuk memasuki kelas. Para siswa ataupun siswi lainnya juga nampak sudah mulai duduk di tempat duduknya masing-masing. Begitu juga dengan Victor beserta ketiga temannya, mereka pun akhirnya terdiam dan berjalan menuju ke tempat duduk mereka masing-masing. Setelah kejadian tersebut, kini para murid kelas 2B nampak sudah bersiap untuk melaksanakan kegiatan belajar mereka.
Tidak lama setelah selesainya kejadian tersebut, seorang guru perempuan muda pun datang dan memasuki ruang kelas 2B. Guru perempuan muda tersebut nampak memiliki paras yang sangat cantik dan bentuk tubuh yang cukup sexy. Namun, guru cantik tersebut masuk ke ruang kelas 2B tidak dengan sendirian. Dibelakangnya nampak seorang siswa laki-laki yang ikut memasuki ruang kelas 2B tersebut.
“Selamat pagi anak-anak.” Ujar ibu guru cantik menyapa anak muridnya.
“Selamat pagi bu.” Ujar para murid kelas 2B menjawab sapaan ibu guru cantik tersebut.
“Oke anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran di pagi hari ini. Ibu mau ngasih tahu dulu kalau pagi ini kalian kedatangan teman baru. Dia adalah siswa pindahan dari sekolah lain. Silahkan kamu perkenalkan diri dulu ke teman-teman barumu.” Ujar ibu guru cantik yang memberi tahu kalau kelas 2B kedatangan murid pindahan dari sekolah lain.
__ADS_1
“Terima kasih bu. Perkenalkan nama saya Vinyzius Azra, teman-teman bisa panggil Azra saja. Mulai sekarang saya akan belajar di bersama kailan di sekolah ini. Mohon kerja samanya teman-teman. Semoga kita bisa saling akrab satu sama lain.” Ujar siswa laki-laki bernama Azra, memperkenalkan dirinya sambil tersenyum tipis ke arah tempat duduk Litch.