
“Teng....Teng....Teneng....Neng....Teneneng....Teng....Teneneneneng.... Teng.....” Suara bel pulang sekolah yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar di SMAN 01 Gondwana telah selesai.
Setelah beberapa jam melaksanakan kegiatan belajar di sekolah, akhirnya siswa-siswi dari SMAN 01 Gondwana pun kini sudah bisa pulang kerumahnya masing-masing. Kegiatan belajar mengajar pada hari senin ini telah sepenuhnya selesai. Nampak para siswa maupun siswi perlahan sudah mulai bergegas untuk pergi meninggalkan sekolah tersebut. Terkecuali bagi mereka yang masih mempunyai kegiatan ekstrakulikuler. Siswa-siswi tersebut masih harus tetap berada di area sekolah untuk melaksanakan kegiatan ekstrakulikulernya mereka.
Ketika sebagian besar murid SMAN 01 Gondwana sudah mulai pergi pulang kerumah, nampak dari kejauhan dua orang yang sedang berada di atap sekolah tersebut. Setelah terlihat dari dekat, ternyata mereka berdua adalah Litch dan Jeanna yang waktu istirahat pertama tadi sudah berjanji untuk bertemu sepulang sekolah nanti. Kini setelah waktu pulang sekolah, mereka pun sudah memutuskan untuk bertemu di atap sekolah. Menurut mereka, atap sekolah merupakan tempat yang cukup tepat untuk melanjutkan obrolan waktu istirahat pertama tadi.
“Mengenai masa lalu dan masa depan yang kau lihat dariku, apa yang sebenarnya kau lihat, Jeanna?’ Ujar Litch bertanya kepada Jeanna sambil duduk dikursi yang berada di atap sekolah.
“Pertama kali melihatnya, aku merasa heran dan kebingungan. Yang aku lihat hanyalah kilas kejadian acak yang cukup membingungkan.” Ujar Jeanna yang mulai menjelaskan apa yang ia lihat dari masa lalu dan masa depan Litch.
“Apa yang maksudmu dengan membinggungkan?” Ujar Litch dengan nada tanya yang terdengar cukup serius.
“Awalnya aku benar tidak mengerti sama sekali. Kilas kejadian masa depan yang kulihat darimu itu berbeda dengan kilas kejadian yang selama ini aku lihat sebelumnya. Biasanya aku bisa melihat dengan jelas alur cerita dari sebuah kilas kejadian dari masa depan seseorang. Tetapi ketika melihat masa depanmu, aku benar-benar tidak mengerti sama sekali dengan alur ceritanya. Semuanya terjadi secara acak dan sangat tidak jelas.” Ujar Jeanna menjelaskan dirinya ketika melihat masa depan Litch.
“Lalu, kenapa bisa tadi kau bilang kalau aku mempunyai dua masa depan dan masa lalu yang berbeda.” Ujar Litch yang kembali bertanya kepada Jeanna.
“Seperti yang aku bilang tadi, awalnya aku memang tidak mengerti. Ketika melihat masa lalumu juga, aku hanya bisa melihat kilas kejadian acak yang sama-sama membingungkannya.” Ujar Jeanna yang mulai kembali mencoba menjawab dan menjelaskan pertanyaan Litch secara lebih rinci lagi.
“Akan tetapi saat aku melihat kilas-kilas kejadian acak dari kedua masa tersebut, ada beberapa kilas kejadian dari masa lalumu yang memiliki kesamaan dengan kilas-kilas kejadian yang aku lihat juga di masa depanmu.” Ujar Jeanna dengan penjelasannya yang cukup rumit.
“Apa maksudmu!?” Ujar Litch dengan ekspresi muka yang masih nampak cukup serius.
“Maksudku, dari masa lalumu yang sudah terjadi dan masa depanmu yang akan terjadi, ada beberapa kilas kejadian atau peristiwa yang sama persis. Setelah benar-benar memperhatikan secara teliti, aku bisa melihat dan menyadari adanya kesamaan dari masa lalu dan masa depanmu itu.” Ujar Jeanna yang selama ini menyadari adanya kesamaan antara masa lalu dan masa depan Litch.
“Terus memangnya kenapa? Itu masih tidak menjelaskan pertanyaan awalku tadi.” Ujar Litch yang mencoba untuk bertindak logis.
“Ini belum seselai, masih ada penjelasan lebih lanjutnya. Jadi menurut kesimpulanku, hanya ada satu kemungkinan kenapa semua itu bisa terjadi. Yatiu, kau telah melewati atau mejalani masa depanmu, lalu kau kembali lagi ke masa lalumu sekarang. Atau bisa disebut juga dengan perjalanan waktu. Aku tidak tahu tentang detailnya, tetapi menurutku kau telah melakukan perjalanan waktu.” Ujar Jeanna yang meyakini bahwa Litch telah melakukan perjalanan waktu.
Ketika Jeanna sedang mejelaskan dan merasa curiga kalau teman laki-lakinya itu melakukan perjalanan waktu, Litch nampak hanya duduk terdiam dan mencoba untuk tidak bertindak gegabah. Sepertinya Litch sudah tahu arah pembicaraan ini akan berjalan kemana. Oleh karena itu ia lebih memilih untuk diam dan mendengarkannya saja.
“Akan menjadi logis kenapa kilas kejadian masa depanmu itu alurnya tidak terstruktur. Karena memang ada dua masa depan yang terjadi di dalam kehidupanmu. Dan kedua masa depanmu itu saling tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya. Hingga mengakibatkan keidakjelasan alur cerita dari kilas-kilas kejadian tersebut. Begitu juga dengan apa yang terjadi dengan masa lalumu.” Ujar Jeanna kepada Litch yang terlihat hanya terdiam sambil duduk di kursi atap sekolah.
“Oleh karena itu makanya aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depanmu dengan jelas. Hanya terlihat kilas-kilas acak yang mungkin kau juga tidak mau mendengarnya. Itu adalah kemungkinan yang sudah hampir seratus persen benar. Tidak ada penjelasan logis lain selain yang aku katakan tadi itu. Bukankah begitu, Wonder Litch!!!” Ujar Jeanna kepada Litch yang masih duduk terdiam.
“Jeanna, Olivia Jeanna. Siapa sebenarnya kau ini. Kenapa selama ini aku tidak mengetahui tentang kemampuan yang kau miliki itu. Kau benar-benar gadis yang pintar dalam menyembunyikan rahasiamu. Tetapi yang menjadi pertanyaanku selanjutnya, kenapa kau memberanikan diri untuk mengatakan semua ini kepadaku?” Ujar Litch yang mencoba untuk tetap tenang dan menguasai suasana.
“Seperti yang sudah aku katakan di kelas tadi, aku hanya mau tahu tentang kemampuan khusus yang kumiliki ini. Aku benar-benar dibuat penasaran akan hal ini. Kenapa aku mendapatkannya, kenapa aku harus melihat kejadian-kejadian yang tidak mau aku lihat. Kesedihan, pengalaman-pengalaman yang menyesakkan, kejadian-kejadian yang tragis, aku sudah sering sekali melihatnya. Melihat masa lalu dan masa depan seseorang bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang sisi lain dari kemampuan khusus yang ia miliki.
“Baiklah, aku juga tidak mau menjadikanmu sebagai pihak musuhku. Itu akan sangat merepotkan. Selain itu, aku sangat menghargai keberanianmu mengatakan semua ini langsung dihadapan. Dan soal masa depan dan masa laluku yang tadi, aku memang telah mengalami perjalanan waktu. Aku adalah orang dari masa yang akan datang, tepatnya 7 tahun dari sekarang.” Ujar Litch memberitahu Jeanna tentang perjalanan waktu yang dialaminya.
“Benarkah??? Apakah itu kemampuan khususmu, bisa melakukan perjalanan waktu? Wahh.... keren banget. Berarti kecurigaanku beberapa hari ini memang benar. Aku sungguh tidak percaya akan hal ini. Sepertinya memang aku tidak sendirian di dunia ini. Ada orang lain juga yang memiliki kemampuan sama sepertiku.” Ujar Jeanna yang sedikit antusias mendengar pengakuan Litch.
“Bukan-bukan, aku tidak mempunyai kemampuan khusus seperti itu. Aku memang kembali ke masa lalu, tetapi aku juga tidak tahu kenapa hal tersebut bisa terjadi kepadaku. Oleh karena itu lah aku menyebutnya mengalami perjalanan waktu, bukan melakukan perjalanan waktu.” Ujar Litch menyangkal kalau dia mempunyai kemampuan untuk melakukan perjalanan waktu.
“Hahh??? Maksudmu bagaimana?” Ujar Jeanna yang merasa heran.
“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mengalami kejadian ini. Tiba-tiba saja aku kembali ke masa sekarang, aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Baik secara tidak sadar oleh diriku sendiri, atau mungkin tanpa sepengetahunaku dilakukan oleh orang lain. Tetapi yang jelas, aku dilempar kembali ke masa lalu ini.” Ujar Litch menjelaskan tentang kejadian misterius yang membuatnya kembali ke masa lalu.
“Ehh.... Jadi bukankah itu memang kemampuan khususmu. Kalau begitu kemampuan khusus yang aku bilang tadi itu bagaimana? Apa kemampuan khusus yang kau miliki sebenarnya?” Ujar Jeanna yang mulai merasa binggung.
__ADS_1
“Dari sepengetahuanku, kemampuan khusus yang kau maksud itu adalah Gift. Benar yang kau katakan di kelas tadi, hanya beberapa orang saja yang mendapatkan Gift itu. Bahkan peluangnya sangat kecil, dari satu juta orang mungkin hanya ada 1 sampai 10 orang saja yang mendapatkan kemampuan khsusus tersebut. Kemampuan khusus ini memang bisa dibilang sebagai kemampuan yang sangat misterius.” Ujar Litch menjelaskan tentang kemampuan khusus yang dinamai Gift.
“Dari masa depan yang sudah aku jalani dulu, aku sempat bertemu dengan beberapa orang yang mempunyai Gift tersebut. Rata-rata dari mereka, ada yang bilang kalau mereka mendapatkannya sejak dari lahir. Tetapi ada juga yang tiba-tiba mendapatkan kemampuan tersebut setelah mereka dewasa, sama sepertimu. Aku tidak tahu detailnya bagaimana, tetapi banyak orang menyebut kemampuan khusus tersebut merupakan pemberian dari sesuatu yang kalian sebut dengan tuhan. Sesuai dengan namanya, Gift yang artinya pemberian. Walaupun aku juga masih sedikit meragukan akan teori itu.” Ujar Litch yang masih menjelaskan tentang Gift kepada Jeanna.
“Pemberian tuhan yah.... Sebenarnya aku juga sempat berpikir seperti itu sih. Tetapi aku masih ragu kenapa tuhan memberikan kemampuan seperti ini kepada ciptaannya. Aku rasa tidak ada tujuan yang jelas mengapa dia melakukan hal tersebut. Aku percaya dengan tuhan, tetapi kenapa dia memberikan kemampuan ini kepadaku. Hal tersebut masih mengganjal di pikiranku.” Ujar Jeanna dengan ekspresi wajah yang nampak sedang berpikir.
“Kalau kemampuan khususmu atau Gift yang tadi kau bilang itu bagaimana? Kau belum menjawab pertanyaanku soal itu tadi.” Ujar Jeanna yang bertanya kepada Litch.
“Kalau aku sedikit berbeda dengan konsep kemampuan khusus atau Gift itu sendiri.” Ujar Litch kepada Jeanna.
“Maksudmu berbeda???” Ujar Jeanne dengan nada tanya.
“Sebelum aku mengatakan hal tersebut lebih lanjut, aku ingin memastikan sesuatu hal terlebih dahulu.” Ujar Litch yang masih merasa curiga dan ragu-ragu untuk menaruh kepercayaannya kepada Jeanna.
“Dia sudah tahu tentang rahasiaku yang mengalami perjalanan waktu ke masa lalu. Sebenarnya aku masih ragu-ragu untuk membiarkan dia tahu akan hal tersebut. Mengingat dia adalah anak dari polisi sialan itu. Tetapi dari apa yang telah ia lihat, aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Dan sekarang apakah aku harus memberitahu dia tentang kekuatan yang aku miliki ini.” Ujar Litch didalam hatinya yang masih merasa ragu.
“Memastikan apa? Memangnya aku harus bagaimana? Aku sudah memberitahu semua tentang kekuatanku. Sudah kubilang juga dari awal tadi, aku tidak akan memberitahu tentang ini kepada orang-orang. Lagipula itu tidak akan menguntungkanku, tidak sedikit pun. Kalau aku bilang hal ini ke semua orang, mereka juga tidak akan percaya. Ujung-ujungnya, nanti aku yang di cap anak halu.” Ujar Jeanna dengan nada yang sedikit terbawa oleh suasana.
“Dari masa depan yang sudah kau lewati, kau tidak pernah mengetahui tentang kemampuan khusus atau Gift yang aku miliki ini kan?” Ujar Jeanna bertanya kepada Litch.
“Iya.” Ujar Litch dengan singkat menjawab pertanyaan Jeanna.
“Karena memang aku tidak pernah memberitahu tentang kemampuan khusus ini kepada siapapun. Aku tidak mau orang lain tahu akan hal ini, termasuk orang-orang terdekatku. Baik teman, keluarga, bahkan kedua orang tuaku saja mereka tidak mengetahuinya. Dan aku tahu sampai kapan pun aku tidak akan mau memberitahu semua ini ke orang-orang.” Ujar Jeanna yang bertkad untuk tidak mau orang lain mengetahui tentang kemampuan khususnya.
“Maka dari itu, aku juga tidak akan memberitahu ke semua orang tentang dirimu. Dengan memberitahu semua tentang dirimu, maka secara tidak langsung itu juga akan memberitahu tentang rahasia kemampuan khusus yang aku miliki.” Ujar Jeanna yang berusaha untuk meyakinkan Litch.
“Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya kepadamu. Tetapi apabila kau bermain-main denganku, kau akan menerima akibatnya.” Ujar Litch yang mencoba mempercayai sekaligus memberi peringatan pada Jeanna.
“Iya-iya.... kau sudah bilang itu dikelas tadi. Aku sudah tahu! Terlepas dari resiko-resiko yang akan terjadi, aku juga sudah mengerti betul kalau hal ini itu pasti akan terjadi. Makanya aku benar-benar sudah membulatkan tekad untuk membicarakan tentang ini kepadamu.” Ujar Jeanna kepada Litch.
“Oke, tentang hal yang kau tanyakan tadi. Ini juga mungkin akan menjelaskan kenapa kau bisa merasakan aura energiku tetapi aku tidak bisa merasakannya di dirimu. Karena memang kemampuan khusus punyamu dan kekuatan spesial punyaku adalah dua kekuatan yang berbeda.” Ujar Litch perlahan menjelaskan tentang kemampuan khusus Jeanna dan kekuatan spesialnya.
“Hah? Berbeda? Maksudnya dengan kekuatan spesial? Memang ada lagi jenis-jenis kemampuan yang lainnya?” Ujar Jeanna yang bertanya kepada Litch karena merasa bingung.
“Kenapa aku bilang punyamu itu adalah kemampuan khusus dan punyaku adalah kekuatan spesial. Karena keduanya itu merupakan suatu hal yang berbeda. Seperti yang sudah aku bilang tadi, kemampuan khusus itu sumber atau asal-usulnya masih misterius dan belum jelas. Entah pemberian dari tuhan, potensi diri manusia itu sendiri, ataupun yang lainnya.” Ujar Litch yang mulai menjelaskan lebih detail tentang kemampuan ksusus dan kekuatan spesial.
“Sedangkan kekuatan spesial itu sumber atau asal usulnya berasal dari individu manusia itu sendiri. Dengan kata lain, hasil dari usaha keras, latihan, dan mempelajari sesuatu untuk mendapatkan kekuatan tersebut. Jadi perbedaan mendasarnya adalah dari sumber utama serta dari mana kekuatan itu diperoleh. Kemampuan khusus yang mungkin berasal dari tuhan, dan kekuatan spesial yang diperoleh dengan cara kerja keras manusianya itu sendiri.” Ujar Litch menjelaskan tentang perbedaan kemampuan khusus dan kekuatan spesial.
“Jadi tentang aura energi yang aku lihat selama ini itu adalah kekuatan spesial, bukan kemempuan khusus sama sepertiku?” Ujar Jeanna bertanya mengenai tentang aura energi yang ia lihat dari Litch selama ini.
“Aku sebelumnya juga belum tahu tentang orang yang mempunyai kemampuan khusus bisa melihat aura energi seseorang, atau mungkin itu hanya terjadi denganmu saja. Tetapi itu sudah cukup menjelaskan kenapa hanya kau saja yang melihat aura energiku, sementara aku tidak bisa melihat hal tersebut di dirimu. Karena memang jenis kemampuan atau kekuatan kita itu berbeda. Pada dasarnya, kekuatan spesial memang tidak memiliki kelebihan untuk melihat aura energi dari seseorang. Dan mungkin kemampuan khusus memiliki kelebihan itu.” Ujar Litch yang menjelaskan lebih detail tentang hal tersebut kepada Jeanna.
“Iya-iya.... aku mulai sedikit paham sekarang. Tetapi ini tidak menjelaskan lebih lanjut tentang kemampuan khusus yang akau miliki. Aku masih bertanya-tanya kenapa aku bisa memilkiki kemampuan khusus ini.” Ujar Jeanna dengan ekspresi muka yang nampak berpikir sambil sedikit protes dengan penjelasan Litch.
“Kan tadi sudah aku bilang! Kemampuan khusus itu memang sesuatu yang masih misterius, berbeda dengan kekuatan spesial. Asal-usul serta kenapa seseorang mempunyai kemampuan khusus itu masih sangat misterius. Tidak ada satu pun ilmu sains yang dapat menjelaskan secara ilmiah.” Ujar Litch yang kembali menjelaskan kepada Jeanna tentang kemampuan khusus.
Ketika Litch dan Jeanna sedang membicarakan tentang kemampuan khusus dan kekuatan spesial di atap sekolah, tiba-tiba seorang satpam sekolah mendatangi mereka berdua. Sepertinya satpam sekolah tersebut telah menyadari dan melihat ada 2 murid yang berada di atap sekolah. Karena waktu pulang sekolah sudah cukup lama terlewat dan area sekolah juga sudah mulai sepi, satpam sekolah itu pun akhirnya mendatangi Litch dan Jeanna yang sedang berada di atap sekolah tersebut.
“Hey kalian berdua!!! Ngapain kalian berduaan di atap gini. Kalau mau pacaran jangan disini, cari tempat lain yang lebih enak dong! Lagpula, ini sudah mulai sore. Anak-anak lain juga sudah pada pulang. Ayo kalian pulang juga, sudah sore ini!” Ujar bapak satpam sekolah menyuruh Litch dan Jeanna untuk pergi meninggalkan sekolah.
__ADS_1
“Baik pak, ini juga sebnatar lagi mau pulang.” Ujar Jeanna kepada bapak satpam sekolah.
“Ya sudah, cepat pulang sana. Besok lagi saja, ini sudah mulai sore. Nanti kalau kelewatan ada setan yang muncul menemani kalian.” Ujar Satpam sekolah tersebut kepada Litch dan Jeanna.
Setelah didatangi oleh pak satpam sekolah dan disuruh pergi juga olehnya, Litch dan Jeanna akhirnya pergi meninggalkan atap sekolah tersebut. Menghentikan pembicaraan tadi, mereka berdua pun perlahan berjalan menuruni anak tangga sambil diikuti oleh bapak satpam dibelakangnya. Litch dan Jeanna nampak menuruti apa yang disuruh oleh satpam sekolah. Sepertinya mereka memilih untuk bermain aman agar pak satpam tidak mencurigai mereka berdua.
Setelah berjalan menuruni anak tangga, kini mereka sedang berjalan di lorong sekolah yang nampak cukup sepi. Tidak ada satupun orang yang berada di lorong tersebut, keculai mereka berdua. Bapak satpan sekolah tadi yang mengikuti dibelakang juga kini sudah tidak bersama mereka lagi. Sepertinya pak satpam sedang berkeliling ke area-area lain untuk memeriksa apakah masih ada murid lain selain murid yang sedang melaksanakan kegiatan ekstrakulikuler atau tidak.
“Kenapa tadi kau tidak mengetahui kedatangan pak satpam. Katanya kau bisa melihat masa depan.” Ujar Litch yang sedikit merasa curiga dengan Jeanna sambil berjalan di lorong sekolah.
“Aku hanya bisa melihat masa depan dari seseorang saja. Sesuatu yang bersifat personal, bukan secara universal ataupun umum. Aku harus memfokuskan kemampuanku kepada satu orang saja. Aku tidak bisa melihat suatu kejadian di masa depan yang terjadi secara umum. Misalnya gunung meletus, banjir, gempa bumi, atau bencana-bencana yang lain. Kalaupun mau, aku harus melihat kejadian tersebut dari orang-orang yang nanti akan mengalaminya.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang konsep dari kemampuan khususnya.
“Dan untuk kejadian satpam sekolah tadi, aku memang tidak tahu kalau akan ada satpam yang datang. Karena memang aku tidak melihat masa depan dari pak satpam itu sendiri. Itu juga mungkin kelemahan dari kemampuan khususku ini. Hanya bisa melihat dan berfokus pada masa depan satu orang saja.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang kejadian satpam sekolah tadi.
“Bagaimana kalau kau melihat masa depanmu sendiri. Apakah kau bisa melakukannya?” Ujar Litch yang bertanya dengan nada penasaran.
“Aku tidak bisa melihat masa depanku sendiri. Sepertinya kemampuan khusus ini tidak bisa digunakan untuk diriku sendiri. Aku sudah mencobanya beberapa kali, tetapi tetap saja aku tidak bisa melakukannya.” Ujar Jeanna menjelaskan lagi kelemahan dari kemamampuan khususnya.
“Memang dari beberapa orang berkemampuan khusus yang sudah aku temui, mereka juga tidak bisa menggunakan kemampuan tersebut untuk dirinya sendiri. Mungkin itu sudah konsep dasarnya.” Ujar Litch sambil terus berjalan perlahan di lorong sekolah tersebut.
“Oh ya Litch, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan kepadamu.” Ujar Jeanna sambil berjalan di samping kanan Litch.
“Apa itu?” Ujar Litch yang menanggapi ucapan dari Jeanna.
“Selain masa depan dan masa lalumu yang tidak bisa aku lihat secara jelas, ada satu orang lagi yang kali ini benar-benar aku tidak bisa melihat sedikit pun masa depan dan masa lalunya.” Ujar Jeanna dengan nada yang cukup serius.
“Hahh!? Siapa itu?” Ujar Litch dengan nada penasaran yang cukup serius juga.
“Dia adalah anak baru di kelas kita tadi, Vinyzius Azra kalau nggak salah namanya. Aku benar-benar tidak bisa melihat apa pun dari kehidupannya. Baik masa lalu, mapun masa depannya. Semuanya kosong, tidak ada apa-apapun.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang murid baru, Azra.
“Azra??? Apakah dia juga anak yang mempunyai kemapuan khusus sepertimu?” Ujar Litch yang kembali bertanya kepada Jeanna.
“Aku sempat berpikir kalau dia juga mungkin anak yang mempunyai kemampuan khusus. Tetapi ketika aku mencoba untuk melihat aura energinya, tidak ada aura energi sedikit pun yang berbeda dengan anak yang lain. Benar-benar normal seperti anak biasa pada umumnya. Aku merasa aneh dan heran dengannya. Kenapa aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depan dari anak normal.” Ujar Jeanna merasa aneh dan curiga dengan Azra.
“Hmm.... dari awal juga aku sudah sangat merasa curiga dengan anak itu. Soalnya dari masa depan yang sudah aku lewati sebelumnya, kelas kita tidak pernah mendapatkan murid baru. Aku cukup terkejut dan heran dengan kemunculannya yang datang secara tiba-tiba entah dari mana.” Ujar Litch sambil keluar pintu gedung atau bangunan sekolah tersebut.
“Hahh!? Bagaimana??? Di masa depan kelas kita tidak ada murid baru. Tetapi dia.... kenapa dia tiba-tiba muncul.” Ujar Jeanna yang merasa bingung.
“Iya, seharusnya dia tidak muncul di dunia atau masa ini. Ini menjadi sangat aneh dan mencurigakan. Aku tidak tahu akan identitas dan asal-usul anak itu. Aku juga tidak pernah ingat kalau ada anak itu ada di dalam lingkungan kehidupan sekolahku.” Ujar Litch sambil berjalan di area luar sekolah.
“Apakah kita harus menemui dan bicara kepadanya? Mungkin dia mempunyai kemampuan khusus lainnya, atau juga kekuatan spesial yang kau bicarakan tadi. Hanya saja dia menyembunyikannya secara rapat-rapat.” Ujar Jeanna yang juga berjalan di area luar sekolah.
“Jangan dulu!!! Dari firasatku sih, aku merasakan ada sesuatu yang cukup misterius dari anak itu. Kemunculannya di masa yang seharusnya tidak ada dia, sangat mencurigakan bagiku. Sebaiknya kita harus selidiki terlebih dahulu, sebelum kita mengambil keputusan. Akan berbahaya jika kita bertindak gegabah. Kita tidak tahu dia itu anak yang seperti apa. Di pihak kita atau justru berada di pihak musuh kita.” Ujar Litch keluar dari gerbang sekolah bersama Jeanna.
“Iya juga sih. Ada baiknya kalau kita selidiki dia terlebih dahulu. Aku juga cukup merasa curiga dengan anak itu. Apalagi tadi kau bilang seharusnya dia tidak pernah muncul di kehidupan atau masa ini. Aku jadi semakin merasa curiga dengannya.” Ujar Jeanna yang pergi meninggalkan Sekolah Menengah Atas Negeri 01 kota Gondwana.
"Ngomong-ngomong soal aura energi tadi, bagaimana menurutmu soal aura energi dari Ivan?" Ujar Litch bertanya kepada Jeanna.
"Hahh!? Ivan? Memangnya kenapa dengan dia?" Ujar Jeanna yang binggung dengan pertanyaan Litch.
__ADS_1
"Loh??? Kamu nggak tahu soal kemampuan khusus yang dimiliki boleh Ivan?" Ujar Litch merasa kaget dengan Jeanna yang tidak mengetahui tentang kemampuan khusus Ivan.