BACK TO BACK: Into The Dark Destiny

BACK TO BACK: Into The Dark Destiny
Hard To Move


__ADS_3

“Dia ini, Jake!!! Seorang pembunuh bayaran. Seharusnya takdirku untuk bertemu dengannya masih cukup lama.” Ujar Litch di dalam hatinya.


“Oh ya, perkenalkan nama aku Jake.” Ujar pria berambut putih abu-abu tersebut sambil memperkenalkan dirinya.


“Namaku Litch.” Ujar Litch kepada Jake.


“Jake, orang ini yang memperkenalkanku pada dunia pembunuh bayaran. Cihh, sepertinya aku tidak bisa menghindar dari takdir memuakan itu.” Ujar Litch di dalam hatinya.


“Ohhh Litch, nama yang cukup bagus, anak orang kaya pasti ini hahaha...... Ngomong-ngomong kenapa kenapa kau bisa mengalami kejadian seperti kemarin? Pingsan di pinggir jalan dengan tubuh yang dipenuhi luka. Apa yang telah kau lakukan wahai anak muda!?” Ujar Jake sambil mengeluarkan senyuman yang terlihat tidak tulus.


“Dan sekarang juga kenapa luka-luka itu sudah hilang tanpa bekas? Seharusnya orang normal tidak akan bisa pulih dari luka seperti itu dalam waktu yang sangat singkat. Jadi, siapa sebenarnya kau ini, Litch?” Ujar Jake yang mencurigai Litch sambil terlihat sedikit tersenyum ke arah Litch.


Dengan senyuman tipis yang terlihat penuh kecurigaan, Jake menanyakan tentang kejadian yang dialami Litch kemarin. Ia juga penasaran dengan pemulihan Litch yang terbilang terjadi sangat cepat dan tidak normal. Oleh karena hal tersebut, Jake pun merasa curiga dengan keanehan-keanehan yang terjadi kepada pemuda bernama Litch. Akan tetapi, Jake masih mencoba untuk masih bersikap baik dan tetap tersenyum lebar. Walaupun senyuman tersebut terlihat palsu dan seakan-akan memaksa Litch untuk segera memberitahu semua insiden aneh yang terjadi kepada Litch. 


“Aku rasa itu bukan urusanmu. Aku berterima kasih atas pertolongannya, tetapi kau tidak mempunyai hak untuk mengetahui hal tersebut. Ini adalah privasi saya.” Ujar Litch dengan nada dan muka yang mulai terlihat serius.


“Aku harus berhati-hati dengan pembunuh sialan ini. Walaupun sekarang masih belum sepenuhnya menjadi pembunuh yang ahli, namun naluri alami seorang pembunuh memang tidak bisa diremehkan. Akan menjadi bahaya jika orang ini mengetahui semua hal yang berkaitan tentang kejadian itu.” Ujar Litch di dalam hatinya.


Mendapat pertanyaan menekan dari Jake, Litch pun menolak untuk memberikan jawaban yang dinginkan oleh laki-laki yang sedang merokok tersebut. Litch mengatakan jawaban penolakannya tersebut dengan penuh kehati-hatian dan raut wajah yang mulai serius. Litch merasa akan berbahaya jika orang seperti jake mengetahui tentang rahasianya. Mengingat bahwa Litch mengetahui tentang jati diri dan identitas sebenarnya dari Jake. Litch mengetahui identitas Jake yang seorang pembunuh bayaran dari masa lalu dulu yang pernah ia jalani sebelum akhirnya mengalami kejadian kembalinya ke masa lalu sekarang.


“Eeekh.... Tidak punya hak yahh!? Apakah ada hak semacam itu dalam dunia ini?” Ujar Jake yang masih menghisap rokok dan mengeluarkan asap rokoknya dari lubang hidung.


“Aku ini orang yang telah menyelamatkan nyawamu loh!?” Ujar Jake yang tiba-tiba mengubah raut wajah dan nada bicaranya menjadi sangat serius.


“Aku tidak meminta bantuan kepadamu. Kau sendiri yang memutuskan untuk menolongku.” Ujar Litch yang tidak akal serius.


“Hmm...... Sepertinya kau ini tipe orang yang tidak tahu berterima kasih yah!? Apakah kau yakin mau bersikap seperti itu.” Ujar Jake dengan muka serius dan nada yang sedikit mengancam.


“Memangnya kenapa??? Apakah kau tidak menyukainya? Apakah kau menyesal telah menolongku? Apakah kau ingin aku mengembalikan rasa kepedulianmu?” Ujar Litch menanggapi Jake dengan nada yang serius juga.


Bersamaan dengan ucapan tersebut, Jake pun terlihat mulai mengeluarkan aura keseriusannya. Litch menunjukan intimidasi yang menjadi balasan atas tekanan dan sedikit ancaman yang dilakukan oleh Jake. Mereka berdua pun saling tatap-menatap antara satu dengan yang lainnya. Jake yang berusaha untuk menekan dengan raut wajah yang terlihat serius, sementara Litch yang membalasnya dengan mencoba untuk mengeluarkan gestur tubuh dan raut wajah serius sebagai tanda perlindungan serta perlawanannya.


“Cihh, orang ini benar-benar merepotkan. Apakah aku harus menghadapinya sekarang. Walaupun baru saja pulih, sepertinya kalau pembunuh gila ini aku masih bisa mengatasinya.” Ujat Litch di dalam hatinya.


“Wooaah.... untuk ukuran anak muda sepertimu, tingkat keberanianmu cukup tinggi juga yah!?” Ujar Jake yang tersenyum dan melihat ke arah Litch sambil masih memegangi sebatang rokok di kedua jarinya.


“Aku suka kepribadianmu!!! Litch kan namamu? Benar-benar anak muda yang penuh dengan keberanian.” Ujar Jake sambil kembali menghisap sebatang rokok yang perlahan sudah mulai habis.


“Iyaa.” Ujar Litch menanggapi ucapan dari Jake.


“Baiklah, kalau memang tidak mau memberi tahu tentang hal tersebut kepadaku, Oke-oke saja. Lagipula palingan masalah anak muda ya kan? Rebutan cewek pasti ini, hahahaha.... Ukhh, Ukhh, Ukhh!!!” Ujar Jake sambil tertawa dan batuk.


“I-iyaa...” Ujar Litch yang merasa tidak nyaman dengan ketawa Jake.


“Aku tidak percaya kalau suatu saat aku akan menjadi partner dari orang seperti ini. Cihhh, benar-benar merepotkan.” Ujar Litch di dalam hatinya.


 “Ngomong-ngomong sekarang jam berapa yah?” Ujar Litch menanyakan jam kepada Jake.


“Jam 12:23 siang. Kenapa, sudah mau pulang kah? Masih siang ini, disini dulu juga nggak apa-apa. Lagipula aku Cuma sendiri di rumah ini.” Ujar Jake sambil melihat jam tangannya.


“Terima kasih, tapi sepertinya aku harus segara pulang ke rumah. Aku cemas dengan ibuku, dia tidak tahu dengan kondisiku sekarang. Mungkin sekarang dia sedang cemas memikirkanku.” Ujar Litch yang ingin segara pulang ke rumah.


“Ohhh ya sudahlah, sepertinya keadaanmu juga sudah baik-baik saja.” Ujar Jake yang melihat Litch mulai berdiri dan pergi meninggalkan tenpat tersebut.


“Sepertinya ini belum saatnya. Masih terlalu dini untuk bertemu denganmu Jake. Entah kenapa takdir menemukan kita lebih awal. Tapi, aku harap takdir yang akan kita lalui sekarang, bukanlah takdir yang sudah pernah kita lalui pada masa itu, Jake!!!” Ujar Litch didalam hatinya sambil perlahan mulai bergegas pergi keluar dari rumah Jake.


“Litch!!! Hehh, nama yang aneh. Tetapi sepertinya dia adalah anak yang berbahaya. Kemampuan penyembuhan lukanya benar-benar di luar nalar manusia normal. Benar-benar anak yang mencurigakan. Aku harus lebih berhati-hati dengannya.” Ujar Jake sambil melihat Litch yang berjalan pergi keluar dari rumahnya.

__ADS_1


Setelah ditolong dan menginap semalam di rumah Jake, Litch pun akhirnya memutuskan untuk pulang kerumahnya. Ia mengkhawatirkan tentang keadaan ibunya yang mungkin sekarang sedang cemas karena anaknya semalam tidak pulang kerumah. Sementara itu, kondisi fisik dari tubuh Litch pun kini terlihat sudah sangat membaik dan kembali seperti keadaan normalnya, bahkan nampak lebih bugar. Tidak ada satu bekas luka pun yang tertinggal dari tubuhnya, termasuk juga dengan luka yang ada di tangan kirinya kemarin. Luka gigitan manusia purba tersebut kini sudah sepenuhnya lenyap tak berbekas sama sekali.


“Aku tidak menyangka kalau lukanya akan pulih dalam waktu sesingkat ini. Apakah aku benar-benar mendapatkan kekuatan itu?” Ujar Litch sambil memperhatikan tangan kirinya.


“Seingatku dulu, orang itu tidak mendapatkan kekuatan pemulihan seperti ini. Dia hanya mempunyai kekuatan dan ketahanan tubuh yang luar biasa saja. Apakah memang reaksi dan akibat dari gigitan manusia purba itu ke setiap orang akan berbeda-beda?” Ujar Litch sambil mengepalkan kedua tanggannya.


“Ting neng neng..... Ting neng nang neng.....” Bunyi suara panggilan masuk dari ponsel Litch.


Ketika sedang berjalan pulang menuju ke rumahnya, tiba-tiba ponsel yang ada di saku celana Litch pun berdering. Sepertinnya ada seseorang yang memanggil Litch melalui ponselnya. Mendengar bunyi yang keluar dari ponselnya, Litch langsung memeriksa dan mengambil ponsel dari saku celananya. Litch pun segera mengangakat panggilan yang masuk kepadanya.


“Halo Van, ada apa?” Ujar Litch mengangkat panggilan masuk dari teman kelasnya, Ivan.


“Halo Litch, sekarang kamu ada dimana? Tadi aku kerumah kamu, tapi kamunya gak ada.” Ujar Ivan dalam panggilan tersebut sambil bertanya keberadaan Litch.


“Kenapa Ivan mencariku? Apa yang sedang terjadi!?” Ujar Litch di dalam hatinya sambil diam berdiri.


“Aku habis nginep dari rumah teman, ini juga lagi mau pulang. Emang ada apa sih Van?” Ujar Litch menjelaskan situasi kepada Ivan dengan membohonginya.


“Emang kamu belum tahu ya? Teman sekelas kita Clarissa dan Vega, mereka meninggal dunia kemarin. Sekarang teman-teman sekelas berniat untuk melayat ke rumahnya.” Ujar Ivan menjelaskan tentang kejadian yang mengejutkan.


“Apa??? Meninggal dunia, Clarissa......” Ujar Litch yang kaget.


“Iya, aku juga sangat kaget mendengar kabar itu. Aku sempat tidak percaya, tapi berita ini memang benar adanya. Keluarga mereka sendiri yang menyampaikannya pada teman-teman.” Ujar Ivan yang dengan nada yang sedih.


“Apa yang sebenarnya terjadi, bukannya kemarin mereka aku selamatkan dari manusia purba itu. Seharusnya mereka masih hidup di dunia ini. Kalau laki-laki itu memang sudah terkena pukulannya, sama seperti pada masa yang itu. Tetapi kalau Clarissa dan Vega, takdir mereka berdua seharusnya sudah berbeda dengan masa yang itu.” Ujar Litch di dalam hatinya.


“Halo, Litch... Halo... Kamu mau ikut melayat enggak? Sebentar lagi kami sudah mau ke rumahnya Clarissa.” Ujar Ivan yang tidak mendengar respon dari Litch.


“Ngomong-ngomong kenapa mereka berdua bisa meninggal dunia?” Ujar Litch bertanya kepada Ivan.


“Kemarin mereka mengalami kecelakan mobil. Ketika mereka sedang mengantar salah satu teman laki-lakinya ke rumah sakit. Mobil ambulan yang mereka gunakan mengalami kecelakaan lalu lintas. Dan sayangnya, semua penumpang yang ada di dalam mobil tersebut meninggal dunia. Termasuk Clarissa, Vega, dan teman laki-lakinya.” Ujar Ivan menjelaskan kronologis kejadian penyebab Clarissa dan Vega meninggal dunia.


Sementara itu, bulan purnama bulat sempurna pun mulai terlihat muncul dilangit malam yang sedikit berawan. Cahaya bulan tersebut jatuh tepat menyinari tempat-tempat di sekitar kota Gondwana tersbut. Termasuk juga dengan jalan raya yang menjadi jalur dari laju mobil ambulan tersebut. Selain itu, angin malam yang dingin dan sejuk pun perlahan mulai berhembus menerpa pepohonan di pinggir jalan raya. Terlihat burung yang aktif pada waktu malam hari juga mulai terbang tinggi ke atas langit.


“Clar, apakah Anton akan baik-baik saja?” Ujar Vega menangis sambil duduk dihadapan Anton yang sedang terbaring di dalam mobil ambulan tersebut.


“Sebentar lagi kita akan segara sampai ke rumah sakit. Kita harus yakin ga, Anton pasti selamat.” Ujar Clarissa yang berada di dalam mobil ambulan itu juga.


“Anakku.....anakku..... kenapa bisa sampai seperti ini. Bangun nak! Ini ibu, bangun....” Ujar ibu dari Anton sambil memeluk anaknya yang terbaring di dalam mobil ambulan tersebut.


 “Tante.....” Ujar Vega sambil menangis dan memeluk ibunda Anton yang sedang histeris melihat anaknya terluka parah.


“Menjauh dariku!!! Gara-gara kalian berdua anak aku jadi seperti ini. Kalau tidak mengikuti tindakan bodoh kalian, pasti Anton akan baik-baik saja.” Ujar ibunya Anton yang marah dengan Clarissa dan Vega. 


“Nggghhhh..... Anton...... Anakku......” Ujar ibunya Anton sambil menangisi kondisi anaknya.


“Maafkan kami tante. Kami juga tidak tahu akan terjadi kejadian seperti ini. Kami sangat menyesalinya.” Ujar Clarissa dengan nada sedih.


“Iya tante, kami juga tidak percaya dan tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi.” Ujar Vega sambil menangis sesenggukan.


Ketika mobil ambulan tersebut sedang melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, ban belakang dari mobil ambulan itu pun tiba-tiba meledak hingga mengeluarkan suara yang sangat keras. 


“Daaaaarrr!!!!” Suara ban mobil yang meledak.


Seketika mobil ambulan itu pun langsung melaju tak terkendali dengan kecepatan yang masih terbilang cukup tinggi. Percikan bunga api pun keluar dari velg ban belakang yang bergesekan langsung dengan kerasnya aspal jalan. Para penumpang yang ada di dalam mobil itu pun nampak sangat panik dengan kejadian yang sedang mereka alami. Mereka pun tidak bisa menjaga keseimbangan dalam posisi duduknya. Mereka juga terlempar dan terdorong mengikuti pergerakan mobil ambulan yang tak terkendali.


“Ga!!! pegang tanganku. Cepat pegangan pada batang besi itu.” Ujar Clarissa yang mencoba meraih Vega.

__ADS_1


“Claarr.....” Ujar Vega yang ketakutan.


“Tante, cepat pegangan pada batang besi ini! Disitu tempat yang berbahaya.” Ujar Clarissa menyuruh ibunya Anton untuk segara berpegangan ke batang besi yang melintang di bagian jendela pada mobil Ambulan tersebut.


“Tidak!!! Aku tidak mau meinggalkan anakku. Aku harus tetap menjaganya.” Ujar ibunya Anton yang memengangi dan memeluk Anton dengan Erat.


Sementara itu, mobil ambulan tersebut terus melaju tak terarah dengan ban belakang yang hanya tersisa Velg. Sopir yang mengendarai mobil itu pun bersusah payah untuk mengendalikan laju mobilnya yang menuju ke segala arah. Baik melaju ke sisi samping kiri jalan, maupun ke sisi kanan jalan.


“Cepat injak pedal remnya. Vikri!!!” Ujar seorang lelaki paruh baya yang duduk di samping sopir mobil ambulan tersebut.


“Tidak bisa, remnya tidak berfungsi!?” Ujar sopir ambulan yang mencoba menginjak pedal rem.


“Apa!!!! Gawat kalau begitu.!?” Ujar seorang lelaki paruh baya tersebut dengan nada panik.


Karena melaju tak terkendali dengan kecepatan tinggi, apalagai sistem pengeremannya bermasalah. Mobil ambulan itu pun akhirnya menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan raya tersebut. Kerasnya tabrakan sampai membuat bagian depan pada mobil ambulan tersebut hancur dan ringsek. Para penumpang yang ada di dalam mobil itu juga ikut terkena dampak dari kecelakaan tersebut. Mereka terpelanting dari tempat duduk dan mengalami beberapa benturan yang cukup keras.


Sementara itu, tangki bensin yang ada di bagian belakang mobil ambulan itu pun mengalami kebocoran. Sehingga cairan bensin yang ada didalamnya pun akhirnya menetes keluar. Sialnya, tetesan bensin tersebut menuju ke arah velg ban belakang yang meledak tadi. Akibat dari panasnya gesekan dengan aspal jalan, velg ban itu pun masih terlihat mengeluarkan sedikit percikan-percikan bunga api. Alhasil, percikan bunga api itu pun langsung menyambar ke arah bensin yang menetes tersebut. Seketika mobil ambulan itu pun meledak dengan suara ledakan yang terdengar sangat keras.


“Daaarrrr!!!!!” Suara ledakan yang terjadi pada mobil ambulan tersebut.


“Aaaaa.....” Teriak para penumpang didalamnya.


Akibat dari ledakan yang disebabkan oleh bocornya tangki bemsin, mobil ambulan itu pun mulai terbakar dilahap si jago merah (api). Api perlahan mulai menjalar ke seluruh bagian mobil tersebut. Para penumpang yang ada di dalam mobil ambulan itu pun terjebak dalam kobaran api tersebut. Dengan segala daya upaya, mereka pun berusaha untuk keluar dari situasi bahaya yang sedang mengancam nyawanya


“Clar, cepat buka pintunya!!!” Ujar Vega yang merasa sangat kepanasan di dalam mobil ambulan yang sedang terbakar.


“Pintunya macet!? Pintunya tidak bisa dibuka!!!!” Ujar Clarissa yang mencoba membuka pintu belakang.


“Apa!!! Terus gimana ini!? Tante cepat tolong bantu kami bukain pintu ini.” Ujar Vega yang panik sambil mencoba membantu Clarissa membuka paksa pintu belakang mobil yang tidak bisa dibuka.


“Eeeeeee.....” Ujar Clarissa dan Vega yang mencoba membuka pintu dengan susah payah.


“Cepat lewat pintu depan saja!!! Sepertinya pintu ini macet, tidak bisa dibuka.” Ujar Clarissa yang dikelilingi api dan asap tebal.


“Ayo cepat tante keluar dari sini!!!” Ujar Clarissa yang mengajak ibunda Anton untuk keluar.


“Aku akan tetap bersama anakku apapun situasi~......” Ujar Tante yang tidak mau meninggalkan anaknya.


“Daaaaarrrr!!!!” Suara ledakan kedua yang keluar dari mobil ambulan tersebut.


Tidak lama setelah ledakan pertama, mobil ambulan itu pun kembali meledak untuk kedua kalinya. Api pun menyambar masuk ke bagian dalam mobil dan membakar semua penumpang yang ada di dalamnya. Sementara itu, sosok misterius yang mengeluarkan cahaya terang, nampak sedang terbang melayang di atas area kecelakan mobil ambulan tersebut. Sosok tersebut terlihat mengepakan kedua sayapnya sambil memperhatikan mobil ambulan yang sedang terbakar. Tidak lama kemudian, sosok misterius itu pun tiba-tiba terbang pergi menuju ke atas langit malam yang nampak indah dengan bersinarnya bulan purnama.


Kembali ke masa sekarang, terlihat Litch dan teman-teman sekelasnya sedang berada di suatu tempat pemakaman. Raut wajah Litch nampak sangat seirus dan seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Pandangannya tertuju ke arah peti mati yang sedang diangkat untuk dikubur ke liang lahat. Sedangkan para teman sekelasnya pun terlihat sangat sedih sampai meneteskan air mata, khususnya para perempuan. Seketika itu juga, hujan pun turun dan membasahi semua orang yang berada di area pemakaman tersebut. Dengan turunnya hujan, membuat nuansa kesedihan di tempat pemakan tersebut semakin bertambah sendu. Khususnya bagi keluarga dan para sahabat yang ditinggal pergi oleh Clarissa, Anton, dan Vega.


“Seharusnya takdir telah berubah, mereka berhasil kabur dari mahluk purba itu. Tetapi kenapa mereka tetap berujung kepada kematian? Apakah jalan takdir itu memang tidak bisa dirubah ataupun dicurangi!?” Ujar Litch didalam hatinya sambil menyaksikan peti jenazah yang sedang di kubur dari kejauhan.


“Aku tidak menyangka kalau Clarissa akan berpulang secepat ini. Padahal dia adalah anak yang baik dan pintar. Memang kita tidak tahu kapan maut akan mendatangi kita.” Ujar Ivan yang ada disamping Litch.


“Iya.” Ujar Litch menanggapi ucapan Ivan sambil masih memperhtikan proses pemakaman temannya.


“Ngshh...Ngshh....Ngshh....” Tangis sedu orang-orang yang menyaksikan peti jenazah Clarisa di kubur.


“Apakah aku juga akan menjalani takdir yang sama seperti masa lalu itu lagi? Kalau begitu, semua ini akan menjadi sia-sia. Tidak!!! mau bagaimana pun sesuatu telah mengirimku ke masa ini lagi, aku harus memanfaatkannya dengan baik. Dengan cara apapun, akan kugunakan kesempatan kedua ini untuk mengubah semuanya. Aku harus mengendalikannya, jalan takdir dunia ini. Aku harus memperbaikinya!!!” Ujar Litch di dalam hatinya sambil terus memperhatikan proses pemakaman yang dilakukan ditengah hujan.


Setelah proses pemakaman ketiga anak remaja itu selesai, orang-orang pun perlahan mulai meninggalkan area pemakaman tersebut. Hujan yang turun di area pemakaman tersebut juga intensitasnya semakin bertambah deras. Ketika semua orang sudah mulai pergi meninggalkan tempat pemakaman tersebut, ada seorang pria berbadan tinggi besar yang sedang berdiri dan memandagi kuburan Clarissa. Ia terlihat sangat sedih dan berduka atas kepergian Clarissa. Sambil tertimpa butiran air hujan yang turun sangat deras, pria berbadan tinggi besar itu pun terus memperhatikan kuburan Clarissa dengan kepala yang tertunduk kebawah.


“Maafkan kakak Clarissa. Sebagai seorang pahlawan, kakak tidak bisa melindungimu. Kakak sungguh minta maaf.” Ujar pria berbadan besar yang ternyata adalah kakak dari Clarissa dan sekaligus nampak seperti Gondman.

__ADS_1


“JEDER!!!!!!” Bunyi suara sambaran petir yang terjadi di tengah derasnya hujan tersebut.


__ADS_2