
“Terima kasih bu. Perkenalkan nama saya Vinyzius Azra, teman-teman bisa panggil Azra saja. Mulai sekarang saya akan belajar di bersama kailan di sekolah ini. Mohon kerja samanya teman-teman. Semoga kita bisa saling akrab satu sama lain.” Ujar siswa laki-laki bernama Azra, memperkenalkan dirinya sambil tersenyum tipis ke arah tempat duduk Litch.
“Baiklah, silahkan Azra duduk di bangku kosong yang ada di belakang itu.” Ujar ibu guru cantik mempersilahkan Azra untuk duduk di tempat duduk yang kosong.
Setelah memperkenalkan dirinya, murid baru yang bernama Azra itu pun langsung berjalan menuju ke tempat duduk yang berada di belakang. Badannya yang tinggi dan wajahnya yang tampan membuat para murid cewek memperhatikan Azra ketika ia sedang berjalan. Menyadari hal tersebut, Azra nampak bersikap cuek dan dingin dengan keadaan yang ada disekitarnya. Tidak lama setelah ia berjalan sambil diperhatikan oleh semua murid cewek, Azra pun sampai dan langsung duduk di tempat duduknya tersebut.
Sesaat setelah Azra duduk di bangku kelas, terlihat Litch sedang duduk di bangku yang berada persis di sampingnya tersebut. Ternyata tempat duduk murid baru tersebut bersampingan langsung dengan tempat duduk yang ditempati oleh Litch. Melihat ada anak baru yang duduk tidak jauh disampingnya, Litch pun nampak memasang ekspresi wajah yang sangat serius. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu yang rumit dan mengganggu pikirannya.
“Hey kau, siapa namamu? Perkenalkan namaku Azra. Mulai sekarang aku akan menjadi temanmu yah!?” Ujar Azra sambil mengulurkan tangannya kepada Litch.
“Namaku Litch.” Ujar Litch dengan nada datar sambil menengokan kepalanya ke arah Azra yang mengulurkan tangannya.
“Litch, semoga kedapannya kita bisa akrab.” Ujar Azra sambil tersenyum dan masih mengulurkan tangannya kepada Litch.
“I-iya.” Ujar Litch dengan tatapan penuh curiga kepada murid baru tersebut.
“Apa-apaan ini!? Siapa dia??? Aku tidak mengingat kalau kelas ini mempunyai murid baru. Ini sangat berbeda dengan masa lalu yang dulu. Hal seperti ini seharusnya tidak pernah ada di kehidupanku. Murid baru, ini tidak mungkin!!! Apa yang sebenarnya terjadi!?” Ujar Litch di dalam hatinya dengan perasaan yang penuh tanda tanya.
“Baiklah, senang berkenalan denganmu. Litch.” Ujar Azra sambil menarik kembali uluran tangannya.
“Azra??? Aku tidak pernah mendengar nama itu. Aju juga tidak mengenal anak ini. Di masa laluku yang dulu, aku tidak pernah bertemu dengan anak ini. Tetapi, kenapa tiba-tiba dia muncul di kehidupanku? Aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi ini!!!” Ujar Litch di dalam hatinya yang masih penuh dengan tanda tanya.
“Apakah sesuatu telah mengubah jalan takdir di dunia ini? Apakah ini akibat dari aku yang mencoba untuk memanipulasi takdir? Ataukah karena efek dari kembalinya aku ke masa lalu membuatnya menjadi seperti ini.” Ujar Litch masih didalam hatinya.
“Terlepas dari itu semua, sebaiknya aku harus berhati-hati dengan anak ini. Aku benar-benar tidak mengetahui sedkit pun tentang identitas anak ini. Mungkin saja dia adalah orang yang membahayakanku. Sebaiknya untuk saat ini aku tidak mau berurusan dengan anak baru ini dulu. Sebelum aku mengetahui betul siapa identitas sebenarnya dari anak ini.” Ujar Litch di dalam hatinya sambil terus berpikir dan menganalisa kedaan dan situasi yang sedang terjadi sekarang.
“Baiklah anak-anak kelas 2B yang ibu cintai. Sebelumnya, kemarin kita semua, Sekolah Negeri 01 Gondwana ini telah kehilangan 3 murid yang pintar, yang rajin, dan 3 anak murid yang sangat baik hati. Dua diantara mereka adalah teman sekelas dari kalian, murid kelas 2B ini. Kalian pasti sangat merasa kehilangan, merasa sedih akan kepergian teman kalian yang paling dicintai dan disayangi. Kita semua pastinya merasa sangat sedih dengan kejadian yang tidak di duga ini. Oleh karena itu, sebelum kita memulai pelajaran kita di pagi hari ini, marilah kita sejenak mendoakan kepergian dari 3 teman kita yang telah mendahului kita terlebih dahulu. Semoga mereka tenang dan ditempatkan di surga terbaik milik sang kuasa. Berdoa dimulai.” Ujar ibu guru tersebut dengan nada duka dan sedih.
Seluruh siswa maupun siswi kelas 2B pun menundukan kepalanya seraya mendoakan kepergian Clarissa, Anton, dan Vega. Mereka terlihat nampak bersedih amat memdalam terhadap meninggalnya ketiga murid SMAN 01 Gondwana tersebut. Mengingat bahwa dua dari tiga anak tersebut merupakan murid dan teman sekelas para siswa maupun siswi kelas 2B. Apalagi Clarissa, ia adalah siswi yang paling populer dan banyak di sukai oleh siswa maupun siswi kelas 2B tersebut. Mereka pun benar-benar merasa sangat kehilangan dengan kepergian Clarissa dan temannya, Vega.
“Berdoa selesai.” Ujar ibu guru sambil sedikit meneteskan air mata.
“Semoga doa dari kita, teman-teman dekat dari mereka bertiga, membuat jiwa mereka tenang dialam sana.” Ujar ibu guru tersebut sambil mengusap air matanya menggunakan sapu tangan.
“Amin.” Ujar para siswa maupun siswi kelas 2B mengamini kata-kata ibu guru mereka.
“Baiklah, sekarang kita akan langsung mulai saja pelajaran kita pagi hari ini. Anak-anak silahkan buka buku paket kalian. Kita lanjutkan materi minggu lalu.” Ujar ibu guru tersebut yang memulai pelajaran di pagi hari ini.
Setelah memanjatkan doa untuk Clarisa, Anton, dan Vega yang telah meninggal dunia kemarin, murid-muird dan ibu guru kelas 2B pun mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasanya. Terlihat walaupun masih ada rasa kesedihan, akan tetapi mereka tetap berusaha untuk fokus pada materi pelajaran yang disampaikan oleh ibu guru.
Ketika ibu guru berparas cantik itu sedang menyampaikan materi pelajarannya, Litch nampak memperhatikan bangku kosong di bagian tengah kelas yang merupakan bekas tempat duduk Clarissa sebelum dia meninggal. Ia terlihat masih sedikit memikirkan tentang kejadian waktu sabtu kemarin. Ketika Litch sedang memperhatikan tempat duduk Clarissa yang kosong, murid baru yang bernama Azra itu pun terlihat sedikit mengarahkan pandangannya kearah Litch.
“Wonder Litch, benar-benar anak yang menarik.” Ujar Azra dengan nada yang sangat kecil dan lirih.
Sementara itu, pelajaran di pagi hari ini pun terus berlangsung dengan sangat tenang. Ibu guru berparas cantik tersebut berusaha untuk menerangkan materi pelajaran kepada para anak didiknya dengan sebaik mungkin. Selain itu, para murid kelas 2B juga memperhatikan dan menyimak penjelasan dari ibu gurunya tersebut dengan seksama. Kegiatan belajar mengajar di pagi hari ini pun berlangsung secara intens dan khidmat. Satu, dua, hingga tiga jam waktu berjalan dengan singkat dan tak terasa. Para siswa maupun siswi di SMAN 01 Gondwana pun terus fokus melaksanakan kegiatan belajar mereka. Hingga pada akhirnya bel istirahat pertama pun berbunyi.
“Teeet....Teeet...Teeet....” Bunyi bel istirahat pertama.
Setelah 3 jam berlangsung, kini untuk sementara kegiatan belajar mengajar pun dihentikan. Sekarang waktunya para murid sekaligus guru yang ada di SMAN 01 Gondwana untuk beristirahat selama 20 menit. Begitu juga dengan kelas 2B, pelajaran dari ibu guru cantik itu pun kini sudah berakhir. Sekarang waktunya mereka untuk beristirahat sejenak sebelum nanti pelajaran selanjutnya kembali dimulai.
“Hey Litch, tadi kamu keren banget berani melawan gengnya Victor. Nggak kaya biasannya kamu kaya gitu, kagak takut nanti ada apa-apa?” Ujar Ivan yang mendatangi tempat duduk Litch setelah pelajaran selesai.
“Tidak apa-apa, aku hanya tidak suka kalau dia bawa-bawa ibuku.” Ujar Litch kepada Ivan yang mendatanginya.
“Tapi kan dia itu anak dari salah satu orang yang terkaya di kota ini. Donatur terbanyak juga di sekolah ini. Pasti Victor akan bilang ke ayahnya soal ini. Bisa-bisa nanti kamu dipanggil pihak sekolah lagi.” Ujar Ivan yang khawatir tentang temannya tersebut.
“Aku tidak peduli dengan semua itu. Lagipula dia juga tidak terluka sedikit pun. Yang terpenting aku tidak melukainya secara fisik.” Ujar Litch dengan keyakinannya.
“Masih untung aku tidak membunuhnya.” Ujar Litch di dalam hatinya.
__ADS_1
“Eeeehhh, yaudahlah. Nanti kalau ada apa-apa bilang saja sama aku, oke.” Ujar Ivan dengan nada ceria.
“Oh ya Van, soal anak baru itu. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Kau tahu nggak dia itu siapa?” Ujar Litch bertanya kepada Ivan tentang anak baru tadi.
“Sama aku juga nggak tahu. Mungkin dia dari kota sebelah, makanya kita belum pernah lihat sebelumnya. Atau mungkin anak rumahan. Aku juga nggak tahu sih. Tapi namanya Azra kan?” Ujar Ivan menjawab pertanyaan dari Litch.
“Iya sih.... Vinyzius Azra namanya.” Ujar Litch dengan sedikit memasang ekspersi berpikir.
“Mana dia juga ganteng lagi. Udah tinggi, ganteng, makin banyak deh sainganku. Sialan.” Ujar Ivan mengeluh tentang anak baru tersebut.
“Oh ya Litch!!! Ngomong-ngomong, katanya mahluk misterius yang muncul di hutan belakang sekolah kemarin, yang pertama kali lihat itu mereka bertiga yah?” Ujar Ivan dengan nada yang sedikit mengecil.
“Aku nggak tahu, emang iya? Kau tahu dari mana Van?” Ujar Litch yang pura-pura tidak tahu di depan temannya, Ivan.
“Katanya sebelum mahluk itu dikalahkan oleh Gondman, Clarissa dan Vega lah yang pertama kali melihat mahluk misterius itu. Tapi ini juga masih katanya. Fakta sebenarnya bagaimana juga, masih belum pasti sih. Akan tetapi, biasanya kan Gondman setelah mengalahkan musuhnya ia selalu kasih keterangan atau penjelasan ke publik. Tapi kali ini ketemu media saja enggak sama sekali. Aku curiga sih kalau insiden ini itu ada apa-apanya?” Ujar Ivan yang merasa curiga dengan kejadian mahluk manusia purba yang terjadi kemarin.
“Memang ada apa Van?” Ujar Licth bertanya kepada Ivan.
“Aku harus berhati-hati berbicara dengannya mengenai kejadian kemarin. Instingnya memang mulai menajam.” Ujar Litch didalam hatinya.
“Aku juga nggak tahu sih. Tapi kaya ada yang aneh aja gitu. Meninggalnya kedua teman kita juga membuat minggu-minggu ini suasananya semakin tambah kelam aja. Entahlah, semuanya terjadi begitu saja, nggak ada yang tahu. Menurutku sih ada sesuatu yang aneh saja di kota ini.” Ujar Ivan yang merasa minggu-minggu ini suasana di kota Gondwana sedang kelam.
“Memang banyak kejadian aneh yang datang secara tiba-tiba belakangan ini. Aku juga tidak tahu Van, apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini.” Ujar Litch dengan tatapan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.
Ketika Litch dan Ivan sedang mengobrol di bagian belakang kelas, tiba-tiba datang seorang siswi perempuan yang berjalan menghampiri mereka berdua. Setelah mendatangi mereka berdua, ternyata siswi perempuan itu adalah anak yang sama dengan anak perempuan yang memperhatikan Litch tadi pagi. Bahkan ia juga merupakan anak perempuan yang memperhatikan Litch waktu kemarin dan juga kejadian tadi malam.
“Litch, boleh aku bicara denganmu sebentar.” Ujar siswi perempuan teman sekelas yang menghampiri Litch.
“Iya kenapa?” Ujar Litch kepada siswi perempuan tersebut tanpa menaruh rasa curiga.
“Aku ingin berbicara denganmu, berdua saja!” Ujar siswi perempuan yang ingin bicara empat mata dengan Litch.
“Cihhh, inilah hal yang membuatku tidak suka dengan anak satu ini.” Ujar Litch di dalam hatinya yang nampak merasa tidak nyaman.
“Kenapa kamu mau bicara berdua denganku. Kalau mau bicara tinggal bicara aja sekarang.” Ujar Litch yang mencoba untuk bersikap tenang dan logis.
“Ini penting!!! Aku hanya mau membicarakannya kalau nggak ada orang selain kita berdua. Percayalah, kau tidak mau orang lain tau tentang hal ini.” Ujar perempuan tersebut dengan nada yang serius.
“Ahh, kamu nggak peka Litch. Ya udah kalo gitu aku mau ke kantin dulu yah. Silahkan nikmati waktu berdua kalian.” Ujar Ivan sambil mengedipkan mata ke arah Litch sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
“Anak ini, Jeanna!!! Dia adalah anak pendiam yang jarang bergaul dengan anak perempuan lainnya. Jeanna ini adalah tipe anak SMA normal seperti biasanya. Tetapi kenapa dia ingin berbicara berdua denganku? Sepertinya dia juga terlihat sangat serius. Ada apa lagi ini?” Ujar Litch di dalam hati sambil memperhatikan siswi perempuan yang tiba-tiba datang dan mengajak bicara empat mata dengannya.
“Baik, sekarang apa yang mau kau bicarakan!? Jeanna!!!” Ujar Litch kepada siswi perempuan yang bernama Jeanna.
“Aku melihatmu tadi malam!” Ujar Jeanna kepada Litch.
“Hahh!!! Apa yang kau maksud dengan melihatku!?” Ujar Litch yang berubah ekspresi menjadi lebih serius.
“Aku melihat semua apa yang telah kau lakukan waktu tadi malam, Wonder Litch. Mahluk kecil misterius berwarna hitam yang menyerangmu tadi malam. Aku melihatnya dengan sangat jelas. Mahluk itu nampak cukup menyeramkan bagiku. Pada awalnya aku pikir mahluk itu sejenis hantu ataupun siluman. Akan tetapi, kau malah menghadapi mahluk itu dengan tanpa rasa takut sama sekali. Bahkan kau juga mampu untuk mengalahkannya!” Ujar Jeanna yang menyaksikan kejadian Litch dengan The History tadi malam.
“Sial!!! Aku tidak menyadari ada orang yang melihatku tadi malam. Apa aku lengah karena sedang menanggapi mahluk sialan itu!? Tidak!!! bagaimana pun keadaan yang sedang terjadi, seharusnya aku masih bisa merasakan hawa keberadaan manusia. Akan tetapi, tadi malam aku tidak merasakan hawa apapun selain The History itu. Aku tidak merasakan hawa keberadaan Jeanna!!! Siapa sebenarnya anak ini!?.” Ujar Litch di dalam hatinya.
“Setiap orang mempunyai rahasia dan urusannya masing-masing. Dan apa yang kau lihat tadi malam, itu bukan urusan kamu. Kalau kau mau selamat, sebaiknya kau jangan ikut campur denganku. Atau kau akan menyesali akibatnya!” Ujar Litch dengan ekspresi muka dan nada bicara yang nampak serius.
“Tenang saja. Aku tidak mempunyai niatan untuk memberi tahu semua kejadian tersebut kepada siapapun kok, tidak ada untungnya bagiku. Oleh karena itulah tadi aku memintamu untuk berbicara empat mata, agar tidak ada yang tahu selain hanya kita berdua.” Ujar Jeanna kepada Litch sambil duduk di kursi kosong dekat tempat duduk Litch.
“Apa maksudmu? Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan padaku!?” Ujar Litch yang merasa curiga dengan Jeanna.
“Sebenarnya aku telah memperhatikanmu beberapa hari ini, dari dua hari yang lalu, waktu kemarin malam, dan juga pagi tadi. Aku merasakan ada sesuatu yang anak lain tidak punya dan kau mempunyainya.” Ujar Jeanna kepada Litch.
__ADS_1
“Tunggu dulu, beberapa hari yang lalu kau mengawasiku??? Lalu apa Sesuatu yang kau maksud tadi!?” Ujar Litch yang masih berhati-hati dalam percakapan tersebut.
“Tenang saja, memang ini terdengar seperti stalker. Tetapi aku nggak memperhatikanmu setiap saat kok. Hanya apabila ada waktu yang tepat dan pas saja. Kalaau yang tadi malam, aku secara tidak sengaja melihatmu ketika aku sedang pergi ke minimarket. Mungkin ini yang dinamakan dengan takdir.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang dirinya yang beberapa hari ini memperhatikan Litch dari kejauhan.
“Siapa sebenarnya anak ini? Aku tidak menyadari sedikit pun kalau ada orang yang memperhatikanku beberapa hari ini.” Ujar Litch didalam hatinya.
“Tentang ada sesuatu yang aku rasakan darimu tadi. Aku tidak mau menyebutnya indigo, tetapi ini lebih ke tentang kelebihan khusus yang hanya dimiliki oleh beberapa orang saja. Aku tidak tahu detail lebihnya, tetapi sebagai salah satu anak yang memiliki kelebihan itu, aku juga dapat merasakan aura energi atau kekuatan khusus dari orang-orang yang mempunyai kelebihan tersebut. Termasuk kau Litch, belakangan ini aku merasakan adanya aura energi yang cukup besar dari dirimu.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang dirinya yang bisa merasakan aura energi dari Litch.
“Kau adalah anak yang memiliki kemampuan khusus? Kenapa kau mau mendatangiku dan mengatakan semua ini kepadaku?” Ujar Litch bertanya kepada Jeanna.
“Kemampuan khusus??? Dari masa laluku dulu, aku tidak mengingat kalau anak ini mempunyai kemampuan khusus. Dia seharusnya adalah anak normal seperti biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masa ini?” Ujar Litch didalam hatinya sambil merasa bingung.
“Menurutmu jika aku menceritakan tentang semua ini anak-anak bakal percaya padaku?” Ujar Jeanna dengan ekpresi muka bertanya.
“Aku rasa tidak.” Ujar Litch menjawab pertanyaan Jeanna.
“Makanya aku selama ini diam dan memendam rahasia pribadiku ini. Tetapi sekarang berbeda!!! Setelah aku melihat aura energimu yang berbeda dengan orang lain, aku berpikir bahwa kau adalah anak yang sama denganku. Anak yang memiliki kemampuan khusus. Mungkin sebagai sesama anak yang mempunyai kemampuan khusus, seharusnya akan lebih mengerti dan memahami antara satu sama lain. Bukankah begitu, Wonder Litch!?” Ujar Jeanna mengkonfirmasi asumsinya kepada Litch.
“Kenapa kau yakin betul bahwa aku mempunyai kemampuan khusus tersebut?” Ujar Litch yang kembali bertanya kepada Jeanna.
“Ayolah Litch! Mau bagaimana pun kau mengelak tentang hal tersebut, kau tidak bisa selalu menutupi aura energimu itu. Aku bisa merasakannya dengan sangat jelas. Tenang saja, lagipula aku juga tidak mempunyai niat buruk kepadamu kok. Oke, aku akan memberitahumu tentang kemampuan khusus yang kumiliki. Agar kau bisa lebih percaya kepadaku.” Ujar Jeanna yang berusaha untuk membuat Litch mengakui bahwa ia memiliki kempauan khusus.
“Kemampuan khususmu?” Ujar Litch dengan nada bertanya.
“Iya! Aku bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang.” Ujar Jeanna menyebutkan tentang kemampuan khusus yang dimilikinya.
“Hah!? Maksudmu melihat masa lalu dan masa depan seseorang itu bagaimana?” Ujar Litch yang merasa terkejut.
“Pertama kali aku mendapatkan kemampuan ini pas waktu aku kelas 1 SMP. Aku melihat kilas kejadian tentang teman satu mejaku. Aku melihat rumah temanku itu terbakar habis. Dan aku melihat dia ikut terbakar dalam kebarakan tersebut. Aku pikir itu hanyalah mimpi atau halusinasiku saja. Tetapi tidak lama setelah itu, teman satu mejaku itu dikabarkan meninggal dalam kebakaran rumahnya.” Ujar Jeanna menjelaskan tentang awal pertama kali ia mendapatkan kemampuan khususnya.
“Kejadian itu pun terus berulang kepadaku, aku terus melihat kilas kejadian-kejadian tentang orang terdekatku. Dan kejadian-kejadian yang aku lihat itu, tidak lama kemudian benar-benar terjadi. Sama persis dengan apa yang telah aku lihat sebelumnya. Perlahan aku pun mulai menyadari bahwa aku bisa melihat masa depan dari seseorang.” Ujar Jeanna menjelaskan kemampuan khususnya kepada Litch.
“Setelah beberapa kali aku melihat kilas masa depan tersebut, lama-kelamaan aku juga mulai bisa melihat masa lalu dari seseorang. Dan kemampuan khusus itu pun terus meningkat seiring berjalannya waktu.” Ujar Jeanna yang masih menjelaskan tentang kemampuan khususnya.
Ketika Jeanna sedang menjelaskan tentang kemampuan khusus yang dimilikinya, Litch nampak memasang raut wajah yang cukup serius. Ia terlihat sedang memikirkan tentang sesuatu tentang kemampuan yang dimiliki oleh Jeanna.
“Jika memang Jeanna mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan dan masa lalu seseorang, maka dia juga bisa melihat masa depan dan masa laluku dong!?” Ujar Litch didalam hatinya.
“Oh ya, ada satu hal yang membuatku tertarik dan yakin kalau kau adalah anak yang unik sama sepertiku. Anak yang mempunyai kemampuan khusus dan misterius.” Ujar Jeanna kepada Litch.
“Apa itu!?” Ujar Litch bertanya dengan singkat kepada Jeanna.
“Seperti yang sudah aku katakan tadi, aku bisa melihat masa depan dan masa lalu dari hampir semua orang. Akan tetapi ketika melihatmu, aku melihat ada dua masa lalu dan dua masa depan yang berbeda. Dari pengalamanku yang sudah sekian banyak melihat masa lalu dan masa depan orang, aku tidak pernah melihat hal tersebut sebelumnya. Tidak pernah ada dua masa lalu dan masa depan yang ber-.” Ujar Jeanna kepada Litch menjelaskan tentang dirinya melihat dua masa lalu dan masa depan yang berbeda dari Litch.
“Tunggu dulu, aku pikir kelas bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan tentang hal ini.” Ujar Litch memotong ucapan Jeanna.
“Teet....Teet....Teet....Teet....” Terdengar suara bel masuk yang menandakan kalau pelajaran akan kembali dimulai.
“Temui aku sehabis pulang sekolah nanti. Kalau kau memang benar-benar mau tahu dan mempunyai kemampuan khusus tersebut, sebaiknya kau harus berhati-hati dalam bertindak. Tapi apabila sekarang kau mau macam-macam dan main-main denganku, aku sarankan lebih baik kau lupakan semuanya. Atau kau akan mengalami sesuatu yang tidak mungkin kau bayangkan sebelumnya.” Ujar Litch menyuruh Jeanna untuk serius akan hal tersebut.
“Tenang saja, aku juga sudah lama bertanya-tanya tentang kemampuan khusus ini. Baiklah, aku akan menunggu sampai pulang sekolah nanti.” Ujar Jeanna menyetujui ucapan Litch.
Karena bel masuk kelas sudah berbunyi dan siswa-siswi lain juga sudah mulai memasuki kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar mereka, Jeanna pun akhirnya meninggalkan Litch dan kembali ke tempat duduknya. Litch dan Jeanna telah bersepakat untuk menghentikan pembicaraan mereka yang kemudian akan dilanjutkan lagi setelah sepulang sekolah nanti. Mengingat menurut Litch, kelas bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakan tentang kemampuan khusus tersebut.
“Walaupun sangat beresiko untuk memberitahunya, tetapi akan lebih baik jika tidak menjadikan Jeanna sebagai musuhku. Apalagi kemampuan khusus yang dimilikinya mungkin suatu saat bisa berguna bagiku. Meskipun sebenarnya aku masih ragu-ragu dengan keputusanku ini, akan tetapi saat ini hanya itulah hal terbaik yang terlintas dibenakku. Menghabisinya hanya akan menambah masalah baru yang lebih rumit. Apalagi seingatku dia adalah anak dari seorang polisi. Sebaiknya aku harus berhati-hati dalam memberikan infomasi kepadanya.” Ujar Litch didalam hatinya sambil mmeikirkan keputusan dan tindakan selanjutnya yang akan dilakukan olehnya.
“Sebenarnya aku masih tidak bisa percaya kepada siapapun, tetapi sepertinya mulai sekarang takdir mengaharuskanku untuk berani melempar dadu dan mengambil kartu kehidupan ini. Meskipun demikian, setidaknya aku masih dan harus mempunyai kendali atas permainan serta jalan takdir yang mulai aneh ini.” Ujar Litch didalam hatinya sambil mencoba untuk menguatkan tekadnya.
“Memang sepertinya ada yang aneh dengan jalan takdir di masa ini. Kejadian-kejadian yang terjadi, semuanya menjadi tidak terduga olehku.” Ujar Litch didalam hatinya sambil terlintas di pikirannya tentang The History.
__ADS_1
Tidak lama setelah seluruh siswa maupun siswi sudah memasuki kelas semua, seorang guru laki-laki pun datang dan memasuki ruang kelas 2B. Nampaknya sekarang pelajaran pun akan kembali dimulai. Ketika para murid kelas 2B sedang bersiap untuk memulai pelajaran setalah 20 menit beristirahat, terlihat Vinyzius Azra sedang tersenyum misterius sambil melirik ke arah tempat duduk Litch.