
Di suatu sore yang cerah, sinar matahari senja terpancar hangat melalui pepohonan rindang yang ada di sekitar hutan. Dengan cahaya yang minim dan banyaknya pohon-pohon besar, hutan tersebut terlihat sangat tenang dan sunyi sepi. Suara-suara hewan terdengar nyaring di sekitar area hutan tersebut. Angin senja yang lembut juga bersemilir sambil menggerakan tanaman liar yang tumbuh subur di dalam hutan. Dalam sunyinya hutan tersebut, terlihat beberapa anak remaja yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak sambil merekam kegiatan mereka dengan menggunakan kamera.
“Clar.... Clarissa!!! Ngapain sih sore-sore gini ke hutan segala? Serem tau!?” Ujar seorang anak remaja kepada Clarissa teman sekelasnya Litch.
“Sshhh... Vega!!! Jangan berisik nanti suara kamu masuk ke videonya.” Ujar Clarissa yang sedang merekam video.
“Iya nih, dari awal kan kamu sudah tau kalau kita ini mau mau mencari rumah angker di hutan Alask ini.” Ujar salah satu teman cowok yang ikut Clarissa dalam mencari dan merekam rumah angker untuk channel youtubenya.
“Kamu diam aja Anton!!! Aku pikir rumah angkernya nggak masuk ke area hutan, mana ini udah mulai gelap lagi. Clar, ngapain sih kamu buat video-video serem kayak gini. Kagak takut kamu.” Ujar Vega kepada Clarissa.
“Aku memang suka sama hal-hal mistis. Dari kecil juga sering nonton film-film yang bergenre horor. Kebetulan sekarang aplikasi Vetube lagi digemari oleh banyak orang. Dan video uang paling banyak ditonton oleh penggunanya adalah video tentang hantu dan mistis-mistis gitu. Makanya aku jadi punya keinginan untuk buat video ekspedisi hantu seperti ini. Sebenarnya dari dulu juga aku sudah punya keinginan untuk melakukan ekspedisi ke rumah-rumah angker, cuma nggak ada temen yang mau daiajak aja.” Ujar Clarissa menjelaskan tentang dirinya yang suka dengan hal-ahal mistis.
“Kamu ini, cantik-cantik tapi sukanya sama hal-hal yang begituan.” Ujar Vega yang heran dengan hobi Clarissa.
“Nggak apa-apa kali, cewek antimainstream kayak Clarissa justru malah banyak yang suka. Nggak kaya kamu, bawel, penakut, ngribetin pula. Hahaha!!” Ujar Anton sambil meledek Vega dengan nada bercanda.
“Yeee dasar ibu-ibu komplek!!! Cewek-cewek juga gak ada yang mau sama kamu. Mulutnya sudah kayak ibu-ibu arisan.” Ujar Vega membalas Anton.
“Apa kau bilang.....” Ujar Anton yang mulai terbawa emosi.
“Sudah-sudah.... Kalian ini, selalu saja bertengkar. Aku kesini bukan untuk merekam kalian bertengkar. Lagian matahari sudah mulai tenggelam, kita harus segera menyelesaikan rekamannya. Kalian mau kita disini sampai larut malam?” Ujar Clarissa kepada Vega dan Anton yang menemaninya untuk merekam video ekspedisi rumah angker.
“Jangan dong.... Ini aja suasananya udah serem. Apalagi kalau udah malam.” Ujar Vega yang tidak mau mereka merekam video ekspedisi hantunya sampai malam.
“Makanya aku sengaja datang kesininya sore-sore, biar sebelum matahari terbit kita sudah bisa pulang.” Ujar Clarissa kepada Vega.
“Tau nih Vega, padahal kan dia sendiri yang mau ikut. Kami juga sudah bela-belain datangnya sore gini, biar nanti nggak terlalu seram. Kamu kan baru pertama kali ikut ekspedisi ini, makanya kami pilih waktu dan tempat yang pas.” Ujar Anton kepada Vega.
“Bagiku sih ini suasananya sudah serem, apalagi area hutan gini.” Ujar Vega yang sudah merasa seram dengan tempat tersebut.,
“Ini lokasi ekspedisi yang paling dekat dengan rumah kita. Tempatnya juga nggak jauh-jauh amat, ini masih hutan di area belakang sekolah.” Ujar Anton menjelaskan lokasi ekspedisi yang tidak terlalu jauh.
“Nah itu rumah angkernya, akhirnya ketemu juga.” Ujar Clarissa sambil menunjuk kearah bangunan atau rumah yang ada di area hutan Alask tersebut.
Setelah berjalan agak sedikit lama, akhirnya Clarissa dan kawan-kawannya pun menemukan rumah angker yang mereka tuju. Begitu mereka sampai, terlihat bangunan tua yang tak terurus berdiri di area hutan Alask. Dari bangunan tua tersebut, terpancar aura misterius yang tidak menyenangkan bagi siapapun yang melihatnya. Apalagi dengan cahaya matahari yang minim, hal tersebut semakin menambah kemistisan yang ada di bangunan atau rumah tak terurus tersebut.
“Clar... kamu serius ini rumahnya? Serem banget ihhh.” Ujar Vega melihat bengunan tersebut yang nampak menyeramkan.
“Iyaa.... Memang disini tempatnya. Nih... bentuknya sama seperti yang ada di gambar.” Ujar Clarissa sambil memperlihatkan foto bangungan tersebut di ponselnya.
“Iyaa sihh, tapi dari luar aja sudah terlihat menyeramkan, apalagi kalau masuk kedalamnya.” Ujar Vega yang merasa ketakuatan.
“Justru itu yang dicari! Ayo kita mulai ekspedisinya, nanti keburu malam.” Ujar Clarissa yang bergegas masuk ke rumah angker tersebut sambil membawa kameranya.
“Clar.... nanti dulu, tungu!” Ujar Vega yang sebenarnya tidak mau masuk ke rumah tersebut.
“Ayolah Ga! Betul apa kata Clarissa, kalau sudahh malam nanti jadi tambah nyeremin lohh. Mumpung masih sore ini, masih ada sinar matahari juga.” Ujar Anton yang ikut masuk ke rumah tersebut sambil membawa kamera lainnya.
“Ishh, kalian ini gak ada takut-takutnya.” Ujar Vega yang terpaksa ikut masuk ke dalam rumah angker tersebut.
Mereka bertiga pun akhirnya masuk ke dalam bangunan atau rumah tua yang angker tersebut, dengan tujuan untuk merekam dan melakukan kegiatan ekspedisi rumah berhantu. Sejak mengenal Vetube, Clarissa pun mulai membuat video-video tentang dunia hantu dan hal-hal mistis lainnya. Video tersebut Clarisa buat untuk di posting ke aplikasi Vetube. Meskipun terlihat cantik dan pintar, ternyata Clarissa mempunyai hobi atau kesukaan unik yang jarang di sukai oleh cewek-cewek seumurannya. Ia menyukai hal-hal yang berbau mistis dan dunia perhantuan. Ia juga sangat suka dan gemar sekali menonton film-film yang bergenre horor. Dan semenjak bertemu dengan Anton, teman satu sekolah Clarissa yang mempunyai kesukaan yang sama dengannya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi rumah hantu, dan mulai merekamnya untuk di posting ke Vetube, aplikasi video yang sedang digemari oleh banyak orang. Sementara itu Vega, teman sekelas dari Clarissa. Ini adalah pengalaman pertama kalinya ia mengikuti hobi antimaainstream dari Clarissa dan Anton. Oleh karena itu, ia masih kurang berani dan cenderung merasa takut dengan kegiatan unik kedua temannya.
“Oke guys, kita sudah sampai di rumah angker yang kita tuju untuk ekspedisi kali ini. Dan sekarang kita baru saja memasuki area lantai satu dari rumah angker ini. Untuk lokasinya sendiri, bangunan tua ini berada di area hutan Alask yang terletak di kota Gondwana. Jaraknya juga tidak jauh dari pemukiman warga, masih di area pinggiran hutan. Oh ya, untuk kali ini ada salah satu teman kami yang mau ikut mencoba ekspedisi rumah angker ini. Perkenalkan teman kami, namanya Vega.” Ujar Clarissa yang memulai rekaman videonya sambil menjelaskan lokasi ekspedisi dan juga memperkenalkan temannya yang baru ikut dalam ekspedisi kali ini.
“Ha-hai semuanaya.... aku Vega, teman sekelas dari Clarissa.”Ujar Vega di depan kamera yang dipegang oleh Anton sambil merasa ketakutan dengan keadaan sekitarnya.
Suasana yang ada di dalam bangunan tua tersebut memang terlihat cukup menyeramkan. Dengan udara yang terasa cukup dingin dan sedikitnya intensitas cahaya yang masuk, membuat suasana dalam rumah tersebut semakin tidak nyaman untuk dirasakan. Ruangan tersebut juga terlihat kosong dan tidak ada satu pun barang-barang rumah tangga atapun furniture. Lantai dan dindingnya pun sudah sangat kotor dipenuhi oleh debu serta sarang laba-laba. Memang sepertinya rumah ini sudah sangat lama ditinggalkan dan dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya. Selain itu, di beberapa area dalam ruangan tersebut juga terdapat sejumlah sampah dan coretan-coretan cat warna-warni yang menempel di dinding. Sepertinya rumah tersebut juga terkadang menjadi tempat berkumpul bagi orang-orang usil dan tidak bertanggung jawab.
Sementara itu, ketika mereka sedang asyik merekam video kegiatan ekspedisi rumah angker. Secara tiba-tiba, sesosok pria berbadan besar pun muncul terjun dari lantai atas dan tepat mendarat dihadapan ketiga anak remaja tersebut.
“Aaaaakhhh.....” Teriak sosok pria berbadan besar yang ternyata adalah manusia purba yang kabur dari lab ANCIENT.
“Clarissaaa!!! Apa itu???” Ujar Vega yang kaget dan ketakutan dengan kemunculan manusia purba tersebut.
Sesaat setelah terjun dari lantai atas, manusia purba itu pun langsung mengayunkan kedua tangannya menuju kearah Clarissa dan Vega. Melihat manusia purba itu mau melukai kedua temannya, Anton pun dengan sigap menarik Clarissa dan Vega agar terhindar dari serangan manusia purba tersebut. Karena Clarissa dan Vega ditarik oleh Anton, ayunan tangan manusia purba itu pun melesat dan hanya mengenai lantai bangunan yang kotor dan berdebu.
“Daaaarrrr!!!” Suara ayunan tangan manusia purba yang mengenai lantai.
“Aaaaaa.....” Ujar Clarissa dan Vega yang ditarik oleh Anton.
Akibat dari pukulan kedua tangan manusia purba, lantai bangunan itu pun langsung hancur berantakan. Selain itu, debu-debu dan kotoran hasil dari pukukan manusia purba itu juga mulai beterbangan memenuhi ruangan yang gelap tersebut. Sementara ruangan tersebut dipenuhi oleh debu-debu dan kotoran yang beterbangan, Anton pun memanfaatkan momen itu untuk mengajak kedua temannya agar melarikan diri dari tempat tersebut.
__ADS_1
“Clarissa! Vega! Ayo lari..... Cepat keluar dari sini!” Ujar Anton yang menyadari adanya bahaya dari manusia purba yang tiba-tiba muncul dan menyerang mereka.
Dikarenakan oleh kemunculan dan serangan manusia purba yang secara tiba-tiba, Anton, Clarissa, dan Vega pun memutuskan untuk melarikan diri dan meninggalkan bangunan tua tersebut. Akhirnya mereka pun terpaksa menghentikan kegiatan ekspedisi rumah angker tersebut. Melihat para anak-anak tersebut melarikan diri, manusia purba itu pun mencoba untuk mengejar mereka.
“Clar.... apa itu clar? Apakah itu hantu?” ujar Vega sambil berlari.
“Entahlah aku juga belum pernah melihat hantu seperti itu. Tetapi dari rupanya mirip dengan genderuwo.” Ujar Clarissa sambil terengah-engah karena berlari menjauh dari manusia tersebut
“Hah?!! Genderuwo?!?” Ujar Vega yang ikut berlari menjauh.
“Cepatlah!!! Entah hantu atau apa, mahluk itu sedang mengejar kita. Ayo cepat!!!” Ujar Anton sambil menoleh kebelakang.
Dengan lari yang cepat, manusia purba itu mengejar mereka bertiga dari belakang. Ketika mereka sedang berlari menjauh dari kejaran manusia purba, laju dari lari vega pun tiba-tiba terhenti. Ia jatuh tersungkur ke tanah akibat tersandung saat berlari dari manusia purba tersebut.
“Akhh...” Ujar Vega yang kesakitan karena tersandung.
“Vega!!!” Ujar Clarissa yang melihat vega jatuh tersungkur di tanah.
Melihat kejadian tersebut, Clarissa dan Anton pun langsung menghentikan lari mereka. Sementara itu, manusia purba yang mengejar mereka pun mulai mendekati Vega yang terbaring ditanah akibat jatuh tersandung.
“Aaaaaaaakhhhhh........” Teriak manusia purba di depan Vega yang terbaring di tanah.
“Ga.... Ayo bangun, Vega!!! Cepat.” Ujar Clarissa sambil teriak.
“Aa~ Jangan..... Jangan sakiti aku!!!” Ujar Vega yang mulai bangkit dari jatuhnya.
Sambil mengepalkan tangannya, manusia purba itu pun bersiap untuk memukul Vega yang masih duduk ditanah. Melihat hal tersebut, Clarissa pun bergegas berlari menuju Vega yang mau diserang oleh manusia purba tersebut.
“Vegaaaaa.....” Ujar Clarissa sambil berlari menuju kearah Vega.
Sesaat sebelum pukulan manusia purba tersebut mendarat ke tubuh Vega, secara mengejutkan tiba-tiba Anton muncul dihadapan Vega yang sedang merasa sangat ketakutan. Dengan wajah yang penuh tekad dan keberanian, ia merentangkan kedua tangannya sambil menghadap langsung kearah manusia purba yang sudah melesatkan pukulannya. Anton bermaksud untuk melindungi Vega agar tidak terkena pukulan manusia purba tersebut. Ia tidak rela dan tidak mau jika jika salah satu teman ceweknya celaka ataupun terluka. Secara dia adalah satu-satunya cowok dari ketiga remaja tersebut. Anton merasa bawha ia mempunyai tanggung jawab untuk melindungi kedua temannya tersebut.
Walaupun ia mencoba untuk melindungi Vega, tetapi tindakan heroik yang dilakukan oleh Anton itu pun sia-sia dan justru berunjung petaka bagi dirinya sendiri. Tanpa menghiraukan kemunculan Anton, Manusia purba itu pun tetap melanjutkan pukulannya. Sehingga Anton pun terkena pukulan telak yang sangat keras dari manusia purba tersebut. Akibat dari pukulan yang mendarat tepat di bagian kepalanya, Anton langsung terlempar dan jatuh terkapar tak berdaya. Seketika itu juga Anton langsung jatuh pingsan dan tak sadarkan diri tergeletak di tanah.
“Antoooonnnn!!!” Ujar Clarissa melihat Anton yang terkena pukulan langsung dari manusia purba.
“Huh!?....... Anton....” Ujar Vega melihat Anton terkapar tak sadarkan di tanah dengan darah yang mengalir di kepalanya.
“Ga... Ga... Ayo cepat lari dari sini!!!” Ujar Clarissa sambil menggoyang-goyangkan badan Vega yang terdiam membisu.
“Clar, Anton...... Kenapa semua ini bisa terjadi Clar?” Ujar Vega sambil menangis dan memeluk Clarissa yang datang menghampirinya.
“Iya aku tahu, tetapi kita harus pergi dari sini untuk sekedar mencari bantuan atau apapun itu.” Ujar Clarissa dengan nada yang keras.
“Aaakkkkkhhhhh.....” Teriak manusia purba yang berdiri diahadapan Clarissa dan Vega.
Sementara Clarissa sedang mengajak Vega untuk segara meninggalkan tempat tersebut, Manusia purba itu pun langsung muncul dan berdiri di hadapan mereka berdua. Manusia purba tersebut berencana untuk melalukan serangan keduanya kepada Clarissa dan Vega.
“Ga, Vega!!! Ayo cepat pergi dari sini!!! Kalau tidak, kita akan bernasib sama dengan Anton.” ujar Clarissa sambil menarik Vega untuk berdiri dan berlari.
Ketika Vega dan Clarissa mulai bangkit dan akan berlari menjauh dari tempat tersebut, Manusia purba tersebut langsung mengangkat kedua tangannya dan berniat untuk memukul mereka berdua.
“Claarrr....” Ujar Vega ketakutan melihat manusia purba yang akan memukul mereka dengan kedua tangannya.
Sesaat sebelum manusia purba tersebut melancarkan pukulan ke Clarissa dan Vega, Secara tiba-tiba Litch pun muncul dari belakang. Litch langsung menyerang manusia purba tersebut menggunakan tongkat bisbol yang ia bawa. Dengan sekuat tenaga, Litch mengayunkan tongkat bisbol yang ia bawa tepat menuju kearah ************ manusia purba tersebut. Serangan yang dilancarkan Litch pun tepat mendarat di area ************ manusia purba dengan sangat keras. Sampai tongkat bisbol yang ia gunakan untuk memukul itu pun langsung patah terbagi menjadi dua.
“Braaak.....” Suara tongkat yang patah setelah mengenai ************ manusia purba tersebut.
“Aaaaaaakhhhh!!!!” Teriak manusia purba yang kesakitan sambil berguling memegangi selangkangannya.
Sektika manusia purba itu pun langsung teriak kesakitan dan berguling-guling sambil memegangi selangkangannya yang terkena pukulan tongkat bisbol. Dengan sinar matahari senja yang menyinari tubuhnya, Litch terlihat berdiri menghadap Clarissa dan Vega yang sedang katakutan. Ia juga masih tetap memangi tongkat bisbol yang telah patah akibat digunakan untuk memukul ************ manusia purba. Tatapannya yang tajam terpancar dari matanya dengan cahaya jingga yang bersinar di belangkanya.
“Litch.... kenapa kau ada disini? Apa yang terjadi?” Ujar Clarissa melihat Litch ada di hadapannya.
“Anton...... maafkan aku. Aku tidak menyangka kau akan melakukan tindakan nekat seperti ini. Gara-gara aku..... maafkan aku Anton.” Ujar Vega mengampiri Anton sambil menangis di hadapannya.
Mendengar tangisan Vega, Litch pun langsung mengalihkan pandangannya menuju kearah Anton yang sudah terkapar pingsan dengan luka sangat parah dikepalanya. Litch tetap diam dan berdiri tak berekspresi saat melihat Vega yang menangis dihadapan Anton. Sementara itu, Clarissa masih bingung dan memandangi Litch yang ada tak jauh di hadapannya.
Ketika Litch sedang berdiri memperhatikan Anton dan Vega, manusia purba yang tadi kesakitan akibat terkena pukulan tongkat bisbol itu pun mulai bangkit kembali. Seacara perlahan, manusia purba tersebut bangkit dan berdiri dibelakang Litch. Ia bersiap untuk melancarkan serangan yang akan diarahkan menuju ke tubuh Litch.
“Licth dibelakangmu!!!” Ujar Clarissa yang melihat manusia purba mau memukul Litch dari belakang.
__ADS_1
“Aaaaakhhh!!!” Teriak manusia purba sambil melancarkan pukulannya.
Dengan sigap dan cekatan, Litch pun menghindari pukulan tersebut sambil membawa dan menyelamatkan Clarissa yang berada di zona serangan manusia purba. Alhasil pukulan keras dari manusia purba tersebut hanya mengenai dan menghancurkan tanah yang sebelumnya dipijak oleh Licth.
“Cihh.... Sudah kuduga serangan selemah ini tidak akan berhasil.” Ujar Litch didalam hati sambil menggendong Clarissa dengan kedua tangan di dadanya.
Menyadari bahwa ia berada di gendongan Litch, Clarissa pun merasa tersipu ketika melihat wajah Litch yang terlihat sangat serius. Apalagi cahaya jingga dari senja menyinari mereka berdua dengan sangat hangat.
“Cepat pergi!!! Menjauhlah dari sini, atau kau akan celaka seperti cowok itu! Cepat!!!!” Ujar Litch sambil menurunkan Clarissa dari gendongannya.
“Tapi bagaimana denganmu?” Ujar Clarissa setelah diturunkan dari gendongan Litch.
“Serahkan semua ini padaku, kalian hanya akan menggangguku saja.” Ujar Litch dengan rasa percaya diri yang tinggi.
“Tapi dia ini mahluk yang berbahaya.” Ujar Clarissa yang mengkhawatirkan Litch.
“Aku benci harus mengatakan ini...... Percayalah padaku, ini adalah urusanku! Lagi pula kau harus segera mengurus teman laki-lakimu itu.” Ujar Litch dengan muka yang serius.
“Ohhh iya juga, Anton!!! Baiklah, tetapi kau harus hati-hati dengan mahluk tersebut.” Ujar Clarissa yang menyadari tentang Anton.
“Cihhhh....” Ujar Litch dengan nada lirih.
Setalah terpaku dan mengkhawatirkan tentang Litch, Clarissa menyadari bahwa teman laki-lakinya (Anton) sedang terluka parah. Clarissa pun segera berlari menghampiri Vega yang sedang menangis dan merasa bersalah kepada Anton.
“Ga.... Vega!!!” Ujar Clarissa menghampiri Vega.
“Claaarr......” Ujar Vega memeluk Clarissa sambil masih menangis.
“Tenang Ga, berhentilah menangis!!! Kita harus segera membawa Anton pergi dari sini! Jika dibiarkan seperti ini, maka nyawa Anton tidak akan bisa diselamatkan. Setidaknya kita harus melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu.” Ujar Clarissa yang ingin segera membawa Anton dari tempat tersebut.
“Sungguh....” Ujar Vega sambil sedikit tersedu-sedu.
“Iya!!! Makanya kita mesti cepat membawa Anton ke rumah sakit terdekat agar bisa diselamatkan. Semakin cepat maka semakin besar pula peluang Anton untuk bisa selamat. Ayo cepat angkat Anton!!!” Ujar Clarissa kepada Vega dengan tegas.
“Baiklah.... Ayo segara bawa Anton ke rumah sakit.” Ujar Vega yang berhenti menangis dan membantu Clarissa untuk membawa Anton pergi dari tempat tersebut.
Dengan berhati-hati, Vega pun membantu Clarissa untuk mengangkat Anton yang sedang pingsan. Mereka berdua berusaha untuk memapah anton dengan merangkulkan kedua tangganya ke bahu dan pundak mereka. Tubuh Anton yang tidak terlalu besar membuat mereka lebih mudah untuk mengangkat dan membawanya pergi dari tempat tersebut.
“Tunggu dulu, siapa dia? Kenapa dia ada disini?” Ujar Vega menyadari dan melihat keberadan Litch yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
“Dia itu Litch, teman sekelas kita. Serahkan saja semuanya pada dia, aku percaya padanya. Yang lebih penting kita harus segera membawa Anton dari sini. Nyawanya dalam bahaya, kita harus cepat-cepat memberi pertolongan medis kepada Anton.” Ujar Clarissa yang ingin segera menolong Anton.
“Baiklah.......” Ujar Vega sambil mulai berjalan memapah Anton bersama Clarissa.
Meninggalkan Litch bersama dengan manusia purba, Anton yang terluka parah itu pun segera dibawa pergi oleh Clarissa dan Vega. Mereka berdua berniat untuk membawa dan mengobati Anton ke rumah sakit terdekat. Clarissa dan Vega membawa Anton dengan cara memapahnya secara hati-hati di pundak mereka. Perlahan tapi pasti, mereka pun mulai berjalan dan menjauhi tempat tersebut.
Sementara itu, Manusia purba yang telah memukul Anton hingga terkapar itu pun terlihat sangat marah dan kesal dengan apa yang telah Litch lakukan kepadanya. Ia menatap Litch dengan tatapan yang sangat tajam. Ia juga terlihat seperti ingin membunuh Litch. Badannya yang besar dan kekar, membuat manusia purba tersebut terlihat sangat mengintimidasi. Kepalan tangan yang besar juga membuatnya semakin menjadi ancaman yang serius bagi Litch. Meskipun demikian, Litch nampak sangat percaya diri dan tenang sambil berdiri tegap di hadapan manusia purba yang sedang marah tersebut. Terlihat raut muka yang sangat serius terpancar dari wajah Litch. Walaupun ia mempunyai kepercayadirian yang tinggi, akan tetapi Litch juga merasa bahwa dirinya harus waspada dan hati-hati dengan manusia purba tersebut.
“Tenaga yang super besar, pergerakannya juga cukup cepat. Sekali terkena serangannya, maka aku akan berakhir seperti laki-laki tersebut.” Ujar Litch di dalam hati sambil memperhatikan manusia purba yang terlihat mengintimidasi.
“Walau mempunyai tenaga dan kecepatan, tetapi badannya yang besar adalah target sasaran yang cukup terbuka bagiku. Aku hanya perlu menghindari semua serangan, setidaknya mengimbangi kecepatannya.” Ujar Licth di dalam hati sambil menganalisa manusia purba tersebut.
“Aaaaakhhhh.....” Teriak manusia purba berlari menuju Litch untuk menyerangnya.
Seketika manusia purba tersebut langsung berlari menuju Litch untuk menyerangnya. Melihat hal tersebut, Litch pun sangat bersiap siaga dengan serangan yang akan dilancarkan oleh manusia purba tersebut. Litch mengeluarkan dua bilah pisau dari balik jaket hitam yang ada di bagian belakangnya. Dua pisau yang dikeluarkan tersebut terlihat sangat tajam dan berwarna silver mengkilau. Pisau tersebut juga terlihat sangat mirip dengan pisau-pisau yang digunakan untuk peralatan atau senjata militer. Biasanya para tentara lah yang memakai atau menggunakan pisau tersebut.
Manusia purba yang berlari menuju Litch pun mulai menlancarkan pukulannya. Dengan tenggannya yang besar dan kekar, ia melesatkan pukulan keras kearah Litch yang sedang memegang pisau di kedua tangannya. Pukulan tersebut terlihat sangat cepat dan mengarah langsung menuju ke tubuh Litch yang sudah siap siaga. Melihat dan menyadari serangan tersebut, Litch langsung bergerak menuju kesamping kiri dengan pergerakan yang sangat cepat pula. Litch bermaksud untuk meghindari pukulan keras tersebut. Bukan hanya menghindar, Litch juga berusaha untuk melakukan serangan balasan dengan mengunakan dua bilah pisau yang ia pegang. Sabetan pisau tajam dari tangan kanan Litch yang kuat pun mengenai bagian sisi kiri perut manusia purba tersebut.
“Slaassshh....” Ayunan tangan kanan Litch yang memegang pisau berhasil mendarat di sisi kiri perut dari manusia purba.
Akhirnya Litch pun berhasil menghindari pukulan keras yang mengarah kepadanya. Sekaligus ia juga berhasil melancarkan serangan balik ke bagian perut dari manusia purba tersebut. Akan tetapi, sabetan pisau yang dilancarkan oleh tangan kanan Litch itu, belum cukup untuk memberi luka yang parah kepada manusia purba tersebut. Serangan sabetan pisau Litch hanya sedikit menggores permukaan kulit dari perut manusia purba yang terlihat sangat keras. Sambil berbalik menghadap kearah Litch, terlihat perut manusia purba tersebut hanya mengalami sedikit luka goresan saja. Walaupun mengeluarkan darah berwarna merah, akan tetapi intensitas darah yang keluar tidak terlalu banyak.
“Sial!!! Walaupun pisau ini terbuat dari besi Adamentium, seharusnya aku lebih kuat lagi dalam menyerangnya.” Ujar Litch sambil melihat kearah manusia purba yang nampak masih baik-baik saja walau sudah terkena sabetan pisau adamentiumnya.
Menyadari perutnya terkena luka gores yang disebabkan oleh serangan sabetan pisau Litch, manusia purba itu pun semakin marah dan murka terhadap Litch. Walaupun luka gores tersebut tidak berdampak apa-apa kepada tubuhnya, tetapi manusia purba tersebut terlihat tidak terima dan merasa sangat kesal.
“Aaaakkkhhhh!!!!” Teriak manusia purba yang semakin marah dan kesal terhadap Litch.
Melihat manusia purba yang semakin murka dan ganas, Litch pun segara meningkatkan kewaspadaannya. Dua pisau adamentium yang menjadi senjatanya, terlihat dipegang oleh kedua tangan Litch dengan sangat erat. Ia juga sudah memasang kuda-kuda siaga untuk menghadapi serangan selanjutnya dari manusia purba tersebut. Hal itu menandakan bahwa ia sudah siap dan telah meyakinkan dirinya untuk menghadapi ganasnya serangan manusia purba yang sedang murka-murkanya.
“Aku telah melihatnya, dampak luar biasa yang di timbulkan oleh mahluk satu ini. Kali ini aku yang akan mengambil jalan takdirnya!!!” Ujar Litch yang sudah siap siaga melawan manusia purba yang terlihat sangat marah.
__ADS_1