BACK TO BACK: Into The Dark Destiny

BACK TO BACK: Into The Dark Destiny
Midnight Moon


__ADS_3

Matahari yang telah bersinar sepanjang hari, perlahan kini mulai terbenam di ufuk barat. Siang hari yang cerah juga sekarang sudah mulai berganti menjadi malam yang gelap. Terlihat lampu-lampu jalan menerangi seisi kota Gondwana yang dipenuhi oleh berbagai kehidupan manusia. Selain itu, cahaya lampu dari bangunan-bangunan yang ada juga ikut serta dalam memberikan pencahayaan terhadap tempat-tempat lain dari kota Gondwana tersebut.


Ketika malam sudah mulai larut dan angin sejuk juga sudah mulai berhembus, nampak Litch sedang jongkok di atas gedung pertokoan yang minim akan pecahayaan. Ia terlihat sedang mengawasi sesuatu yang berada di bawah gedung tersebut. Tatapan matanya yang tajam serta ekspresinya yang serius, terpancar dari raut wajah Litch ketika ia sedang mengawasi seseorang di jalanan yang berada di bawahnya tersebut. Denggan menggunakan pakaian serba hitam, membuatnya menjadi tidak terlalu terlihat oleh orang-orang yang sedang berada di jalanan tersebut.


“Sudah kuduga!!! Rupanya sejak masa ini ia juga sudah mulai melakukan hal menjijikan seperti itu.” Ujar Litch yang melihat ayahnya memasuki sebuah kafe bersama dengan seorang wanita muda.


“Dasar mahluk sialan!!! Kali ini tidak akan kubiarkan lagi kau membuat ibu terluka dan mengalami hal-hal yang menyedihkan.” Ujar Litch dengan tatapan yang tajam.


“Tetapi apakah aku harus segera mempercepatnya!? Ataukah harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Apakah mungkin aku harus mencoba untuk memperbaikinya telebih dahulu.” Ujar Litch sambil masih memikirkan langkah yang akan ia ambil.


“Fakta bahwa ibu sangat mencintai orang tersebut juga akan membuatnya bersedih jika aku melenyapkan bedebah itu. Inilah sisi yang tidak aku sukai dari ibuku. Bisa mencintai, bahkan menikah dan menjalin hubungan rumah tangga dengan orang itu. Walaupun sudah tersakiti beberapa kali, tetapi masih saja mau bertahan. Persetan dengan cinta!!!” Ujar Litch yang terlihat sedang berpikir.


Ketika Litch sedang memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan dan akibat dari keputusan yang akan ia ambil nanti, di dalam kafe terlihat ayah Litch sedang bermesraan dan mencium-cium si wanita simpanannya tersebut. Litch yang sedang memperhatikan mereka berdua dari atas gedung seberang itu pun seketika langsung terlihat sangat kesal dan emosi dengan kelakuan bejat sang ayah.


“Sialan!!! Untuk apa aku ragu dan memikirkan tentang hal-hal tersebut. Bedebah itu!!! kelakuan bejatnya tidak mungkin bisa untuk berubah sampai dengan kapan pun. Mau tidak mau aku harus menghentikan dia secara cepat maupun lambat.” Ujar Litch dengan penuh emosi karena melihat tingkah laku bejat ayahnya.


“Kepedihan yang nanti akan dialami oleh ibuku jauh lebih menyakitkan daripada kesedihan semantara ini. Tidak ada ampun untuk mahluk sampah sepertimu, ayah sialan!!!” Ujar sambil menatap tajam ke dalam kafe.


“Semuanya juga demi untuk kebaikanmu, ibu. Untuk memperbaiki dan mencegahnya, aku harus melangkahkan kaki lebih awal daripada takdir kelam itu sendiri.” Ujar Litch sambil memakai masker kain hitam di wajah bagian bawah.


Dengan menutup sebagian wajahnya menggunakan masker kain hitam, Litch telah memutuskan sebuah tindakan yang akan dilakukan kepada ayahnya. Dari atap gedung yang berada di seberang kafe tersebut, Litch terus memperhatikan dan mengawasi kelakuan bejat sang ayah dengan tatapannya yang sangat tajam. Walaupun, dari tatapan tajamnya itu terlihat bahwa ia sudah sangat kesal dan emosi melihat hal tersebut. Namun Litch masih mencoba untuk bersabar dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan rencananya tersebut.


Setelah sekian lama Litch menungu dan memperhatikan kelakuan ayahnya yang sedang bermesraan dengan wanita lain, akhirnya mereka beruda pun keluar dari dalam kafe tersebut. Perlahan mereka beruda pun mulai berjalan meninggalkan kafe tersebut sambil saling bermesra-mesraan. Sembari memegang erat tangan dan memeluk pinggang pasangannya, wanita muda itu pun terlihat sangat manja dengan ayah Litch. 


Melihat kedua orang yang diawasinya tersebut mulai bergerak meninggalkan lokasi, Litch pun ikut bergerak meninggalkan atap gedung tersebut. Dengan masker dan pakaian serba hitam, Litch berusaha untuk terus mengikuti kemana pun ayahnya tersebut pergi. Litch pun bergerak secara dia-diam dari satu bangunan ke bangunan lainnya seraya membuntuti ayahnya dari belakang.


“Mas sekarang kita kemana lagi nih? Malam jugu sudah mulai dingin, apakah kita ke hotel saja?” Ujar wanita simpanan ayah Litch dengan nada yang manja.


“Kamu ini maunya selalu ke hotel mulu. Sabar yah nanti juga kita kesana. Sebaiknya kita menikmati lebih dulu malam yang indah ini dari luar. Sayang pemandangan langitnya lagi bagus banget. Lihat bintang-bintangnya indah sekali kan? Bulan purnamanya juga, cantik banget. Kaya wajah kamu, bersinar terang menyinari hatiku.” Ujar ayahnya Litch sambil menggoda wanita simpanannya.


“Ahhh, mas bisa saja nih. Gombal!!!” Ujar wanita simpanan tersebut sambil tersipu malu dengan rayuan ayahnya Litch.


“Memang benar kok, bukan gombal.” Ujar Ayahnya Litch dengan nada yang mesra.


“Ya sudah. Sebelum ke hotel, kita ke tempat biasa yuk? Aku mau minum minuman yang bisa mengahangatkan tubuh dulu. Soalnya sudah mulai dingin ini.” Ujar wanita simpanan tersebut menarik tangan ayahnya Litch.


“Iya sayang, aku juga rencananya mau kesana.” Ujar ayahnya Litch kepada wanita simpanan tersebut.


Tidak lama setelah berjalan sambil saling bermesraan, mereka berdua pun tiba-tiba masuk ke sebuah gang yang sepi dan minim akan penerangan. Hanya ada kelap-kelip lampu neon di beberapa plang bangunan kafe yang nampak tidak terbuka untuk secara umum. Dari beberapa kafe tertutup yang berada di distrik gang sepi tersebut, sepertinya ada salah satu tempat favorit dari mereka berdua untuk menghangatkan badan dengan minum minuman beralkohol.


Memang di kota Gondwana, kafe-kafe atau tempat nongkrong yang umum tidak bolah menyediakan dan menjual minuman beralkohol. Minuman tersebut hanya bisa ditemukan di kafe atau tempat-tempat yang tertutup. Biasanya tempat tersebut berada di sebuah gang kecil yang sepi dan di area-area tersembunyi yang jarang di datangi oleh banyak orang. Orang-orang umum biasa menyebutnya dengan nama distrik gang sepi.


Sementara itu, kembali ke Litch yang sedang mengikuti ayahnya dan wanita simpanan tersebut dari belakang. Melihat mereka berdua yang tiba-tiba masuk ke distrik gang sepi tersebut, Litch pun terus mengikuti dari atas bangunan-bangunan kafe tertutup tersebut. Dengan memakai masker dan pakaian yang serba hitam, Litch melompat dari satu bangunan ke bangunan lain tanpa mengalami kesulitan sama sekali. Pergerakannya sangat lincah dan tidak dapat terdeteksi oleh siapapun, termasuk oleh ayahnya dan wanita simapanan tersebut.


“Mas malam ini aku mau minum minuman kesukaanku yah.” Ujar wanita simpanan tersebut berjalan berdua bersama ayah Litch di jalan distrik gang sepi tersebut.


“Iya-iya, Whiski kan?” Ujar ayah Litch kepada wanita simpanannya.


“Ihh, mas tau aja sih....” Ujar wanita simpanan tersebut dengan manja.


“Iya dong, aku kan tahu semua tentangmu. Pokoknya malam ini kita akan bersenang-senang bersama. Minum sampai puas, habis itu baru kita ke hotel.” Ujar ayah Litch sambil memeluk wanita simpanannya tersebut.


Ketika ayah Litch dan wanita sempanannya itu sedang berjalan sambil bermesraan, tiba-tiba Litch pun lompat turun dari atas yang kemudian muncul dihadapan mereka berdua. Dengan wajahnya yang tertutup oleh masker kain, Litch berdiri menghadang sang ayah yang sedang berjalan bersama wanita simpanannya. Nampak Litch sudah tidak kuat menahan emosi karena melihat kelakuan bejat dari ayahnya. Apalagi kondisi lokasi atau tempat tersebut juga nampak sangat sepi dan tidak ada satu orang pun yang lewat. Oleh karena itu, menurut Litch ini adalah tempat yang tepat dan saat yang tepat pula untuk melaksanakan rencananya tersebut.


“Hei siapa kau ini. Apakah kau mau coba untuk merampok kami? Cepat menyingkir dari hadapanku!!!” Ujar ayah Litch dengan cukup berani.


Mendengar ucapan tersebut, Litch yang menggunakan pakaian serba hitam itu pun nampak hanya diam dan membisu sambil menundukan kepalanya. Karena wajahnya yang tertutup oleh masker kain berwarna hitam, ayah Litch pun sama sekali tidak mengenali orang berpakain hitam tersebut. Ia tidak menyadari bahwa seseorang yang muncul dihadapannnya itu adalah anaknya, Litch.


“Hei minggir kau, sialan!!! Kau pikir ini jalan punya nenek moyangmu!? Minggir sa-” Ujar wanita simpanan tersebut dengan nada mengejek.


Sasaat sebelum wanita simpanan itu menyelesaikan ucapannya, sebilah pisau pun meluncur dari tangan kiri Litch tepat menuju ke arah wanita tersebut. Seketika itu juga, pisau yang meluncur dengan sangat cepat itu pun langsung menancap ke bagian kepala dari wanita simpanan tersebut.

__ADS_1


“Csleepps....” Lemparan pisau Litch menancap ke dahi dan membuat wanita simpanan tersebut langsung jatuh terkapar di jalan.


“Hah!?” Ujar ayah Litch yang syok dan tidak mempercayai kejadian singkat tersebut.


Sesaat setelah melemaparkan pisau ke arah wanita simpanan tersebut, Litch pun perlahan mulai mengangkat kepalanya. Sorot mata merah menyala terpancar dari pandangan tajam yang mengarah langsung kepada ayahnya. Seketika itu juga, aura energi yang sangat mengintimidasi pun keluar dari sekeliling tubuh Litch. Nampaknya Litch kini benar-benar sudah marah dan telah memutuskan untuk menghentikan perbuatan bejat dari ayahnya tersebut.


“Apa yang kau lakukan??? Kau membunuhnya!!! Siapa kau ini? Ada masalah apa dengan kami?” Ujar Ayah Litch dengan panik.


Mendengar ucapan panik dari sang ayah, Litch pun sama sekali tidak menghiraukannya. Litch tetap berdiri diam sambil terus menatap tajam sang ayah dengan sorot mata merah menyalanya yang mengerikan. Apalagi pakaiannya yang serba hitam dan wajahnya juga tertutup oleh masker hitam, hal itu membuat Litch nampak begitu mengitimidasi dan mengancam. Ditambah lagi dengan minimnya akan pencahayaan dari tempat tersebut, kini Litch pun semakin terlihat menyeramkan.


Tidak lama setelah mendengar ucapan dari sang ayah tersebut, tiba-tiba Litch pun perlahan mulai bergerak maju dan berjalan mendekatinya. Sebilah pisau lain pun dikeluarkan dari tangan kanan Litch. Sambil masih mengeluarkan sorot mata merahnya, Litch terus bergerak maju dan mendekat kearah ayahnya. Melihat orang yang berpaikan serba hitam itu perlahan mulai mendekatinya, ayah Litch pun semakin merasa panik dan ketakutan akan hal tersebut.


“Hei!!! Apa yang akan kau lakukan? Jangan mendekat!!! Kuperingatkan, jangan coba-coba mendekatiku!!!” Ujar ayah Litch yang merasa ketakutan sambil perlahan bergerak mundur.


“Kau baru saja membunuh wanita itu. Akan kulaporkan kau ke polisi!!! Ini negara hukum, polisi pasti akan mencarimu. Jangan main-main denganku!!!” Ujar ayah Litch mencoba untuk mengancam orang berpakaian serba hitam tersebut dengan nada yang panik.


“Kau baru saja memulai sesuatu yang akan menimbulkan suatu kepedihan bagi keluargamu. Dan aku akan menghentikannya terlebih dahulu.” Ujar Litch dengan memberatkan suaranya sambil terus berjalan maju.


“Hahh!? Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti. Kalau kau mau uang , silahkan ambil saja semua uangku. Asal kau jangan apa-apakanku.” Ujar ayah Litch tersebut yang terus bergerak mundur. 


“Dari dulu kau juga tidak akan pernah mengerti perasaan keluargamu.” Ujar Litch yang mulai mempercepat pergerakannya.


“Apa-apaan kau ini!!!” Ujar ayah Litch sambil berlari menjauh setelah melihat orang berpakaian hitam tersebut mulai bergerak dengan cepat menuju kearahnya.


Merasa keselamatannya terancam, ayah Litch pun berusaha untuk melarikan diri guna menjauh dari orang yang telah membunuh wanita simpanannya tersebut. Disisi lain, Litch yang telah bertekad untuk melenyapkan ayahnya itu pun bergerak mendekati sang ayah dengan kecepatan yang lebih tinggi.


“Swoooosshhh!!!!” Litch bergerak dengan cepat sambil mengayunkan pisau yang ada di tangan kanannya ke arah punggung dari sang ayah yang sedang berlari menjauhinya.


Ketika Litch sedang bergerak menyerang sang ayah, secara tiba-tiba situasi dan kondisi kejadian pun berubah dan berpindah ke sebuah jalan yang tidak kalah minim akan pencahayaannya. Hanya ada lampu jalan yang bersinar tidak terlalu terang. Jarak antara satu lampu dengan lampu yang lainnya juga terlampau lumayan cukup jauh, sekitar jarak 40 meteran. Alhasil, tidak semua area di jalan tersebut dapat tersinari dengan baik, ada bebarapa area yang masih minim akan cahaya.


Ditengah dinginnya malam yang ada di jalanan minim akan pencahayaan tersebut, nampak dari kejauhan seorang wanita sedang berjalan sendirian. Setelah lebih dekat, wanita tersebut ternyata adalah Jeanna. Dengan menggunakan jaket berwarna putih keabu-abuan, terlihat Jeanna sedang berajalan sendirian di jalanan yang sepi tersebut.


“Tetapi memang kalau diarasakan, suasana malam itu lebih menenangkan dan lebih membuat nyaman daripada suasana siang hari. Udaranya yang sejuk, tidak terlalu banyak kendaraan dan orang-orang yang lewat. Membuatku merasa lebih bebas untuk melakukan apapun.” Ujar Jeanna yang terlihat sangat menikmati suasana malam hari.


Beberapa menit yang lalu, ketika Jeanna masih berada di rumahnya. Dari dalam kamarnya, nampak Jeanna sedang memakai jaket yang berwarna putih keabu-abuan. Sesaat setelah mengenakan jaketnya, Jeanna pun keluar dari kamarnya yang kemudian menuju turun kebawah.


“Mau kemana nak? Malam-malam gini.” Ujar ayah Jeanna melihat anaknya yang nampak mau pergi keluar.


“Sebentar kok yah, cuma mau ke minimarket doang. Beli peralatan buat praktek di sekolah besok.” Ujar Jeanna kepada ayahnya.


“Kenapa baru sekarang belinya?” Ujar ayah Jeanna kepada putrinya tersebut.


“Nggak apa-apa, nunggu sepi aja. Minimarket kan kalau siang ramai.” Ujar Jeanna dengan argumennya.


“Tapi sebentar lagi ayah mau ada shift malam. Nanti rumah ini kosong, nggak ada yang jaga.” Ujar ayah Jeanna kepada anaknya.


“Jeanna cuma pergi sebentar kok. Pas ayah pergi, Jeanna pasti sudah pulang ke rumah. Lagian juga cuma mau pergi ke minimarket doang, nggak kemana-mana.” Ujar Jeanna kepada ayahnya.


“Ya sudah, tapi harus tetap hati-hati yah!” Ujar ayah Jeanna yang akhirnya mengizinkan anaknya untuk ke minimarket.


“Baik ayah. Jeanna pergi dulu yah.” Ujar Jeanna sambil pergi keluar rumah.


Kembali ke situasi dimana Jeanna sedang berjalan di jalan yang sepi tadi. Setelah beberapa saat berjalan sendirian, akhirnya Jeanna pun sampai di minimarket tujuannya. Tanpa berlama-lama lagi, Jeanna pun langsung masuk ke dalam minimarket tersebut untuk membeli beberapa peralatan praktek yang akan digunakannya besok.


Sambil berjalan santai, Jeanna memasuki minimarket tersebut. Sesaat setelah masuk kedalam minimarket, Jeanna pun langsung menuju dan mengambil barang-barang atau peralatan praktek yang akan ia beli. Setelah mengambil barang-barang tersebut, Jeanna pun langsung pergi ke kasir untuk membayarya.


“Berapa mbak?’ Ujar Jeanna kepada kasir sambil menanyakan total harga dari barang yang ia beli.


“Semuanya jadi 105 Gran ya mbak.” Ujar kasi perempuan tersebut kepada Jeanna.


“Oh iya.” Ujar Jeanna sambil mengambil uang di dompetnya.

__ADS_1


Setelah membayar barang-barang yang ia beli, Jeanna pun langsung pergi keluar dari minimarket tersebut. Ia nampak tidak ingin berlama-lama berada di minimarker tersebut. Mengingat tadi bahwa ayahnya sebentar lagi mau berangkat shift malam. Jadi, Jeanna harus cepat-cepat pulang karena disuruh oleh ayahnya untuk menjaga rumah agar tidak kosong.


Tidak lama setelah keluar dari minimarket tersebut, Jeanna pun kembali berjalan di jalan yang minim akan pencahayaan tadi. Berbeda dengan yang awal tadi, kini ia melangkahkan kaki di jalan tersebut dengan tujuan untuk segera bergegas pulang ke rumah. Sambil membawa kantong plastik ditangannya, Jeanna terus berjalan tanpa terlihat ketakutan sedikit pun. Padahal situasi dan suasana yang ada di jalanan tersebut cukup telihat menyeramkan. Apalagi saat ini juga sudah mulai menjelang ke larut malam.


“Malam ini lumayan cukup dingin juga yah. Untung aku memaakai jaket.” Ujar Jeanna yang sedikit merasa kedinginan.


Semilir angin malam berhembus sejuk menerpa dan menggoyangkan pohon-pohon yang berada di dinggir jalan tersebut. Hembusan angin tersebut membuat suasana pada malam hari ini menjadi semakin dingin.


Saat ketika Jeanna sedang berlajan pulang untuk menuju kerumahnya, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang mengunakan pakaian berwarna putih sedang mendatanginya. Orang tersebut perlahan terus berjalan maju dan mendekat ke arah Jeanna. Hingga pada akhirnya, jarak antara Jeanna dengan orang itu pun sudah mulai mendekat.


“Jeanna, Olivia Jeanna!!! Sepertinya kau sangat menyukai suasana malam hari. Sungguh anak yang unik.” Ujar seseorang berpakaian putih sambil terus berjalan mendekat ke arah Jeanna.


“Kau, anak baru itu. Azra!!! Kenapa malam-malam gini kau bisa ada disini!?” Ujar Jeanna kepada sesorang yang ternyata adalah Azra, anak baru yang datang ke kelas 2B pagi hari tadi.


Seketika itu juga, seseorang berpakaian putih yang ternyata adalah Azra itu pun tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Dari raut wajahnya terlihat senyuman misterius yang menatap langsung ke arah Jeanna. Nampaknya anak baru itu sedang merencanakan sesuatu terhadap Jeaanna. Hal itu terlihat dari raut wajah dan tatapannya yang sangat misterius kepada Jeanna.


“Hei!!! Apa yang kau lakukan disini?” Ujar Jeanna yang juga ikut menghentikan langkah kakinya.


Tidak lama setelah itu, sesosok bayangan hitam pun tiba-tiba muncul dari belakang Azra. Sosok bayangan hitam itu langsung bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah Jeanna. Tak sempat menghindar, Jeanna pun merasa kaget dan ketakutan akan sosok bayangan hitam tersebut.


“Aaaaaaaa.......” Teriak Jeanna melihat sosok bayangan menuju ke arahnya dengan sangat cepat.


Sementara itu, dari langit malam terlihat sinar bulan purnama yang nampak begitu indah. Cahayanya yang cukup terang, menyinari hampir seluruh penjuru kota Gondwana. Angin yang berhembus pada malam malam hari ini juga lama-kelamaan terasa semakin kencang.


Kembali ke gang distrik sepi, tempat dimana Litch tadi menyerang ayahnya yang sedang bermesraan dengan seorang wanita simpanan. Terlihat di gang atau tempat tersebut nampak kondisinya benar-benar sangat senyap dan sepi, tidak ada satu pun orang yang berada disitu. Litch dan ayahnya yang beberapa waktu lalu berada ditempat itu juga kini mereka sudah tidak terlihat sama sekali. Begitu juga wanita simapanan yang tadi terkapar di jalanan tersebut. Keberadaannya kini benar-benar sudah menghilang dengan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


“Cleeeeerk.....” Sebuah penutup gorong-gorong yang ada di jalan tersebut tiba-tiba terbuka.


Tidak lama kemudian, Litch pun keluar dari gorong-gorong tersebut. Ia terlihat masih mengenakan masker kain hitam yang menutupi bagian bawah dari wajahnya. Sesaat setelah keluar dari lubang gorong-gorong tersebut, Litch pun kemudian membersihkan sebuah pisau yang berlumuran dengan darah. Dengan menggunakan ibu jarinya yang tertutup rapat oleh sarung tangan hitam, Litch membersihkan dan membuang darah di pisaunya ke dalam lubang gorong-gorong tersebut.


Setelah itu, Litch pun perlahan mulai berjalan maju menjauh dari lubang gorong-gorong tersebut. Setelah beberapa meter berjalan dari lubang gorong-gorong tersebut, tiba-tiba Litch pun menyalakan sebuah korek api. Lalu kemudian, korek api yang sedang menyala itu pun dilemparkannya oleh Litch ke dalam lubang gorong-gorong tersebut.


Bersamanan dengan korek yang melayang menuju ke dalam lubang gorong-gorong, Litch pun tiba-tiba langsung melompat ke atas bangunan yang ada di distrik gang sepi tersebut. Sementara itu, situasi keadaan dan kondisi yang ada di dalam gorong-gorong tersebut.


“Maafkan ayah Litch, ayah janji tidak akan melakukan hal ini lagi. Kumohon jangan tinggalkan ayah disini.” Ujar ayah Litch terduduk di dalam gorong-gorong dengan tubuh yang bersimbah darah.


“Kleningg....” Suara korek api yang jatuh dan masuk ke dalam gorong-gorong tersebut.


Sesaat setelah korek api tersebut masuk ke dalam lubang gorong-gorong, tiba-tiba api yang menyala pada korek itu pun perlahan mulai menyebar. Api tersebut nampak seperti membakar udara yang ada di dalam gorong-gorong tersebut. Tidak lama setelah api itu mulai menyebar, seketika gorong-gorong itu pun langsung meledak dengan sangat keras.


“Duaaarrrr!!!!” Suara ledakan besar yang terjadi di gorong-gorong tersebut.


“Liiiiitch.....” Ujar ayah Litch sesaat sebelum api dari ledakan tesebut menghanguskan tubuhnya.


Sementara saat gorong-gorong itu meledak, Litch pun nampak sedang berdiri diatas sebuah bangunan yang tidak jauh dari lokasi ledakan tersebut. Sambil masih memakai maskernya, ia memperhatikan ledakan tersebut dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh tekad kuat dan keyakinannya. Litch mencoba untuk meyakinkan diri bahwa tindakan yang telah ia lakukan itu adalah suatu tindakan yang tepat.


Setelah sejenak memperhatikan ledakan tersebut, Litch pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Dengan pakaiannya yang serba hitam, Litch pun bergerak lincah melompati bangunan-bangunan dan menembus tempat-tempat gelap yang tidak tersinari oleh cahaya putih dari bulan purnama.


Sementara itu, kembali ke jalanan sepi yang tadi dilewati oleh Jeanna dan Azra. Angin masih berhembus cukup kencang menerpa pohon-pohon yang ada di jalan tersebut. Cahaya putih dari bulan bersinar terang menyinari jalanan tersbut.


“Kau tidak pantas memiliki kekuatan ini!!! Aku tidak akan pernah membiarkan kekuatan dari para malaikat ini disalahgunakan oleh manusia-manusia tersesat sepertimu.” Ujar Azra sambil memegang bola cahaya putih di tangannya.


“Si-siapa sebenarnya kau ini, A-azra?’ Ujar Jeanna yang tergeletak di jalan dengan darah keluar dari mulutnya.


Dengan sinar bulan purnama yang menyinarinya, nampak tubuh Jeanna terkapar bersimbah darah di jalanan yang sepi tersebut. Dari intensitas darah yang keluar dari tubuhnya, sepertinya Jeanna menagalami luka yang cukup parah. Sambil cukup berat menghembuskan nafasnya, Kondisi Jeanna nampak sedang mengalami keadaan yang kritis.


“Ini adalah kesalahanmu sendiri, berurusan dengan orang yang salah. Sekarang kau sudah terbebas dari masa depan yang mungkin akan lebih menyakitkan daripada apa yang sedang kau rasakan saat ini.” Ujar Azra yang perlahan berjalan menjauh dan pergi dari Jeanna yang sedang terluka parah.


Sementara itu, perlahan penglihatan Jeanna pun mulai memudar. Terlihat dari pandangan Jeanna yang semakin memudar, Azra berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun sesaat sebelum penglihatannya benar-benar menghilang, terlihat sesosok mahluk kecil berwarna hitam berjalan mengikuti Azra dari belakangnya.


“Litch.... Ka-kau harus berhati-hati dengan a-anak itu.....” Ujar Jeanna dengan sisa-sisa kesadaran yang pada akhirnya menghilang tertelan oleh kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2