
Suasana malam di kota Gondwana terasa begitu sangat sunyi dan sepi. Cahaya bulan purnama yang bulat sempurna, bersinar terang menyinari larut malam dari kota Gondwana. Semilir angin malam berhembus cukup kencang hingga menggoyangkan pohon-pohon yang ada dipinggir jalan. Semakin malam, suhu udara yang ada di kota Gondwana juga terasa semakin sejuk dan dingin.
Sementara itu, di tengah larut malam yang dingin. Terlihat seseorang sedang mengendarai sepeda motor di jalanan yang sangat sepi. Sinar lampu depan dari motor tersebut nampak bersinar terang menyinari area jalan dilaluinya. Dengan menggunakan peralatan mengendara yang lengkap, pengendara motor tersebut memacu kendaraanya lumayan cukup kencang menembus angin malam.
Ketika pengendara tersebut sedang fokus mengendarai sepeda motornya, tiba-tiba dari depan terlihat ada seseorang perempuan yang sedang tergelak tak sadarkan diri di pinggir jalan. Seketika itu juga, pengendara motor itu pun langsung menghentikan laju sepeda motornya. Ia langsung segera memeriksa dan menolong perempuan yang malang tersebut.
Ketika pengendara motor itu mendekati dan melihat perempuan yang sedang terkapar di pinggir jalan, ia dibuat sangat kaget dengan identitas dari perempuan tersebut. Pengendara motor itu pun merasa sangat syok begitu melihat dan mengetahui bahwa perempuan yang sedang tergeletak itu adalah Jeanna.
“Jeanaaaaa!!!! Nak!!!! Apa yang telah terjadi padamu.” Teriak pengendara motor tersebut sambil membuka dan melempar helm yang ia pakai.
Setelah membuka helmnya, ternyata pengendara motor tersebut adalah ayah dari Jeanna yang sedang berangkat kerja untuk melakukan shift malamnya. Melihat anak perempuannya terkapar bersimbah darah di pinggir jalan, ayahnya Jeanna itu pun merasa sangat kaget, syok dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Ia nampak tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada anak perempuannya tersebut.
“Jean, Jeanna!!! Bangun nak!!! Siapa yang telah melakukan semua ini kepadamu nak? Ayo bangun nak. Ayah mohon bangun nak!!!” Ujar Ayah Jeanna sambil menangis dan memeluk anaknya yang terluka parah.
Menyadari kalau anak perempuannya tersebut terluka parah dan tak sadarkan diri, ayah Jeanna pun bergegas untuk membawa Jeanna ke rumah sakit terdekat. Ia berharap kalau nyawa anak perempuannya itu masih bisa diselamatkan oleh dokter yang ada di rumah sakit. Dengan menggunakan sepeda motornya, ayah Jeanna pun langsung segera membawa Jeanna dan meninggalkan tempat tersebut.
“Tenang nak, kamu pasti akan baik-baik saja. Ayah tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku, tidak akan!!!” Ujar Ayah Jeanna sambil memacu sepeda motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi agar segera sampai ke rumah sakit terdekat.
Sementara itu, malam pun sudah semakin larut. Dari kejauhan nampak Litch sedang berjalan di sebuah jalan yang ada di perumahan. Dengan menggunakan jaket abu-abu, Litch berjalan sendirian sambil membawa kantong plastik di tangannya. Tidak lama setelah berjalan di jalan perumahan yang sangat sepi, Litch pun akhirnya sampai ke rumahnya. Tanpa ragu-ragu, Litch langsung segera masuk ke rumah melalui jendela samping.
“Kenapa kamu masuk lewat jendela!?” Ujar ibunya Litch yang melihat anaknya masuk ke rumah lewat jendela.
“Ibu!? Aku pikir ibu sudah tidur.” Ujar Litch yang menyangka kalau ibunya sudah tertidur.
“Kamu belum jawab pertanyaan dari ibu. Kenapa kamu masuk kerumah lewat jendela?” Ujar ibunya Litch bertanya kepada anaknya.
“Aku pikir ibu sudah tidur, makanya aku masuk lewat jendela. Aku nggak mau ganggu waktu tidur ibu.” Ujar Litch menjawab pertanyaan dari ibunya.
“Memangnya kamu habis dari mana saja, jam segini baru pulang? Mana ayah juga masih belum pulang lagi. Ibu itu khawatir sama kalian berdua. Mana bisa ibu tidur!!!” Ujar ibunya Litch yang merasa khawatir dengan anak dan suaminya yang sudah larut malam tetapi belum pulang ke rumah juga.
“Tadi kan aku sudah bilang, kalau Litch itu mau pergi ke minimarket untuk membeli peralatan praktek buat sekolah besok. Tetapi pas mau pulang ke rumah, aku malah ketemu sama teman. Jadi aku main dulu ke rumah temanku. Namanya juga anak muda bu. Nongkrong-nongkrong sebentar sama teman.” Ujar Litch menjelaskan situasinya kepada sang ibu dengan mencoba untuk berbohong.
“Maafkan aku bu, aku tidak bisa memberitahu sebenarnya. Tetapi semua ini juga demi kebaikan kita di masa yang akan datang. Aku tidak ingin ibu merasakan hal yang menyakitkan itu lagi. Waktu itu aku tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu, tetapi sekarang kondisinya telah berbeda. Aku tidak akan membiarkan kepedihan itu mendatangi kita berdua lagi.” Ujar Litch di dalam hatinya.
“Kalau mau main, kasih kabar ke ibu dulu dong. Kan ibu jadi khawatir sama kamu, takut kenapa-kenapa. Ya sudah. Sana kamu tidur, ini sudah malam. Kamu itu masih pelajar, besok juga mau masuk sekolah kan? Jadi, jangan terlalu sering begadang, nanti kamu nggak fokus sama pelajaran.” Ujar ibunya Litch menasihati anaknya.
“Iya bu, maaf. Ibu juga sebaiknya tidur saja.” Ujar Litch menuruti perkataan ibunya.
“Iya sebentar lagi ibu juga mau tidur. Tapi nunggu ayahmu pulang dulu.” Ujar ibu Litch yang masih ingin menunggu suaminya pulang ke rumah.
“Orang kaya gitu nggak usah ditunggu bu, bikin capek saja. Lebih baik ibu tidur saja, ibu sudah ngantuk kan?” Ujar Litch yang menyuruh ibunya untuk tidur saja.
“Sebentar lagi saja, ibu masih kuat kok.” Ujar ibunya Litch yang bersikokoh untuk menunggu suaminya.
“Ayolah bu, sebaiknya ibu tidur saja. Ibu nggak usah mikirin orang kaya gitu.” Ujar Litch sambil memaksa ibunya untuk tidur dengan mendorongnya secara pelan-pelan dari ruang tamu.
“Tapi-“ Ujar ibu Litch sambil didorong pelan-pelan oleh anaknya.
“Kalau memang sudah waktunya pulang, pasti dia juga akan pulang kerumahnya. Ibu tidak usah khawatir akan hal itu. Yang penting sekarang ibu istirahat aja. Kan tadi ibu sendiri yang bilang, ini sudah malam.” Ujar Litch yang terus mendorong pelan-pelan ibunya menuju ke kamar tidur.
Karena dipaksa oleh anaknya, ibunya Litch itu pun akhirnya mau untuk bersitirahat ataupun tidur. Ia terpaksa berhenti untuk menunggu suaminya yang sampai saat ini juga belum juga pulang ke rumah. Padahal jam di dinding rumahnya sudah menunjukan pukul 00:50, sebentar lagi tepat jam 1 pagi. Oleh karena itu, ibunya Litch pun beristirahat dan tidur sendirian di kamarnya tersebut.
Setelah memaksa ibunya untuk beristirahat, Litch pun berjalan menuju ke kamarnya sendiri. Sambil masih membawa kantong plastik di tangannya, Litch pun melepaskan jaket abu-abu yang ia pakai. Raut wajah Litch nampak sangat serius. Sambil terus berjalan menuju kamarnya, nampak warna hitam pekat terlihat dari balik jaket abu-abu yang Litch pakai tadi.
“Untuk beberapa hari ini mungkin ibu akan merasa bersedih. Tetapi untuk kedepannya, ibu akan terlepas dari derita menyedihkan yang datang dari ayah sialan itu. Ibu tidak perlu menunggu lagi, karena memang orang itu sudah pulang untuk selama-lamanya. Sekali lagi, ini semua demi kebaikan kita berdua. Agar tidak tercipta takdir yang sama seperti masa lalu kelam itu.” Ujar Litch didalam hatinya.
“Sekarang tujuan pertamaku sudah berhasil tercapai. Tetapi ini adalah permulaan dari jalan takdir yang akan mendatangi masa ini. Dari apa yang terjadi pada Clarissa, sepertinya kematian adalah hal yang mutlak dalam jalan takdir seseorang. Aku tidak bisa menghentikan ataupun merubahnya. Tetatpi aku tidak akan menyerah akan hal itu. Mulai sekarang aku harus berusaha dan mencari cara untuk mencegah takdir kematian yang akan mendatangi ibuku.” Ujar Litch didalam haitnya sambil masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Karena hari sudah mulai menjelang pagi dan besok Litch juga harus berangkat sekolah, ia pun akhirnya bersitirahat dan tidur di kamarnya. Nampak semua orang yang ada di perumahan tersebut memang sedang melakukan istirahat dengan cara tidur. Bulan purnama yang bulat sempurna pun nampak masih bersinar dengan cukup terang. Suasana malam di perumahan tersebut terasa sangat senyap dan damai.
Sementara itu, di suatu tempat yang gelap. Tetesan air menetes ke sebuah saluran air yang sangat kotor dan berbau tidak sedap. Di dalam gelapnya saluran air pembuangan atau gorong-gorong, nampak beberapa ekor tikus berlarian pada bagian pinggir dari saluran air tersebut.
“Kumohon ampuni saya. Apa yang kau inginkan??? Katakan saja, akan aku berikan semuanya. Kau mau uang? Apakah kau mau uang??? Aku punya banyak uang. Kumohon jangan sakiti aku, akan kuberikan semua uangku.” Ujar ayahnya Litch meenujukuan dompetnya sambil duduk ketakutan di bagian pinggir dari saluran air pembuangan atau gorong-gorong tersebut.
Sambil terduduk di dalam gorong-gorong yang sangat minim akan pencahayaan, nampak beberapa bagian tubuh dari ayahnya Litch mengalami luka yang cukup serius. Darah mengalir dari pelipisnya yang nampak seperti terkena pukulan keras. Kemeja putih yang ia pakai juga terlihat sudah robek-robek dan berlumuran dengan darah.
“Apa yang ku inginkan??? Itu sangat sederhana sekali. Aku ingin kau tidak pernah hadir dalam dunia ini, jangan pernah hadir bahkan bertemu dengan seorang perempuan yang nantinya akan kau sakiti. Apalagi sampai berumah tangga dan menjalin hubungan keluarga bersamanya. Kehidupanmu hanya akan membuat orang lain menderita, Sullivan!!!” Ujar Litch dengan pakaian yang serba hitam sambil berdiri di depan ayahnya tersebut.
“Apa maksudmu??? Tunggu, kau tahu namaku? Siapa sebenarnya kau ini? Dan apa yang kau bicarakan, aku tidak mengerti.” Ujar ayahnya Litch yang bernama Sullivan sambil merasa kebinggunan dengan perkataan orang berpakain serba hitam yang berada dihadapannya.
“Aku juga sudah menduga akan hal itu. Kau sedikit pun tidak pernah memperhatikan keluargamu, istri dan anakmu. Dari sejak dulu, kau sama sekali tidak akan pernah berubah. Kau tidak mempunyai rasa tanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan, ayah sialan!!!” Ujar Litch sambil melepas masker hitam yang menutupi wajahnya.
“K-kau, Litch!!!! Apa... apa yang kau lakukan? Kau??? Kenapa???-” Ujar Sullivan yang merasa tidak percaya dan terkejut setelah mengetahui identitas asli dari orang berpakaian hitam yang telah melukainya.
“Sssshhhh..... Tenang saja, pada masa sebelumnya kau juga mengalami hal seperti ini. Tidak usah takut, ini hanya masalah waktu saja. Cepat atau lambat, hidupmu akan berakhir di tanganku.” Ujar Litch sambil memainkan pisau dengan tangganya dihadapan ayahnya tersebut.
“Litch??? Apa-apaan semua ini!? Kenapa kau melakukan hal seperti ini kepada ayahmu sendiri?” Ujar Sullivan yang bertanya-tenya dengan situasi dan kondisi saat ini.
“Hahh??” Ujar Litch yang nampak emosi dengan perkataan ayahnya tersebut.
“Dssschhh!!!” Satu pukulan melesat dari tangan Litch menuju ke wajah dari Sullivan, ayahnya Litch sendiri.
“Kau masih bertanya kenapa??? Apakah kau tidak menyadari apa yang telah kau lakukan hahh!!??” Ujar Litch sambil memukul wajah ayahnya.
“Dasar manusia bejat tidak berguna!!! Jika aku bisa memilih, aku tidak akan mau mempunyai ayah sialan sepertimu. Sedikit pun aku tidak mau menerimanya!!! Lebih baik aku tidak ada sekalian di dunia ini, daripada harus memiliki ayah bejat sepertimu.” Ujar Litch yang terus memukuli ayahnya dengan penuh emosi di setiap pukulannya.
“Dsscchh.... Dsscchh.... Dsscchh.... Dsscchh.... Dsscchh....” Pukulan demi pukulan dilesarkan oleh Litch ke ayahnya.
“Li....Li-Litch, ma-maafkan a-ayah....” Ujar Sullivan dengan nada yang tebata-bata karena mengalami luka yang sangat serius.
“Sampai kapan pun, kau tidak akan bisa berubah. Untuk yang satu ini aku tidak akan bertaruh pada takdir, apalagi kepada jenis orang sepertimu. Sekarang kau akan membusuk di tempat paling kotor di kota ini. Inilah takdir yang seharusnya kau dapatkan.” Ujar Litch yang kembali memakai masker kain hitamnya.
“Hahahaha..... Bagus wahai manusia berhargaku. Teruslah lawan takdir menyedihkan ini. Kau tidak pantas menerima jalan takdir suram seperti yang telah kau lalui dulu. Aku menyukai semangat pemberontakanmu itu. Hahahaha!!!!” Ujar suara misterius yang tiba-tiba terdengar oleh Litch.
Suara misterius itu terdengar sangat menggema di tempat yang sangat minim akan pencahayaan tersebut. Nada suaranya yang berat dan menyeramkan, membuat suasana di sekitar nampak mencekam. Mendengar suara misterius tersebut, seketika Litch pun terkaget dan langsung bersikap wasapada dengan kondisi sekitar.
“Siapa kau???” Ujar Litch sambil melihat sekitar area dari gorong-gorong tersebut.
Sementara itu, ayah Litch yang sedang terluka parah itu pun nampak tidak mendengar suara misterius tersebut. Ia terdiam duduk menyeder di tembok sambil merasa kesakitan akibat dihajar habis-habisan oleh anaknya. Darah perlahan mengalir dari kepala menuju ke kemeja putih yang ia kenakan selama ini.
“Hahaha..... Hahaha..... Hahaha..... Hahaha.....” Tawa suara misterius tersebut menggema dalam gorong-gorong.
“Siapa kau ini!? Tunjukan dirimu!!!” Ujar Litch yang penuh dengan keawaspadaan.
“Tidak!!! Kau yang harus menunjukan dirimu sendiri, Wonder Litch!!!!” Ujar suara misterius sambil terlihat sesosok siluet hitam dari suatu mahluk dihadapan Litch.
“Duaaaaarrrr!!!!!” Bunyi ledakan yang sangat keras sesaat setelah sosok siluet mahluk hitam tersebut muncul dihadapan Litch.
“Litchhhh.......” Teriak ayah Litch yang terbakar oleh api dari ledakan besar tersebut.
“Beep-Beep, Beep-Beep, Beep-Beep, Beep-Beep......” Bunyi suara alarm dari kamar Litch.
Seketika itu juga Litch pun langsung terbangun dari tidurnya. Walaupun alarmnya terus berbunyi, Litch masih tetap berbaring di kasur sambil menatap atap kamarnya dengan pandangan yang kosong. Litch sepertinya masih dalam keadan sadar dan tidak sadar.
“Beep-Beep, Beep-Beep, Beep-Beep, Beep-Beep......” Suara alarm yang terus berbunyi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, Litch pun akhirnya mulai beranjak sadar dan bangun dari tempat tidurnya. Sesaat ia terduduk di tempat tidurnya sambil masih memasang pandangan kosong di wajahnya. Semantara itu, karena suara alarm dikamarnya itu mulai mengganggu, Litch pun akhirnya mematikan alarm tersebut.
“Sialan sampai terbawa di dalam mimpi!!!” Ujar Litch sambil duduk di kasurnya dengan eskpresi wajah yang nampak sangat serius.
“Tetapi suara itu, kenapa suara misterius itu terus saja muncul di mimpiku? Sebenarnya suara siapa itu!? Apakah itu dari suara manusia atau....???” Ujar Litch yang merasa heran dengan suara misterius yang muncul di mimpinya tersebut.
Karena matahari sudah menyingsing di ufuk timur, Litch pun bergegas merapikan tempat tidurnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia langsung segara masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan seluruh anggota tubuhnya yang kotor. Setelah selelai mandi dan menyiapkan peralatan sekolahnya, Litch pun menuju ke meja makan untuk melakukan sarapan pagi.
“Telah terjadi ledakan yang sangat besar di distrik gang sepi pada waktu dini hari tadi. Seorang perempuan ditemukan hangus terbakar di lokasi ledakan tersebut.” Ujar seorang pembawa berita pada televisi yang sedang disaksikan oleh Litch di ruang makan.
“Tadi malam, warga kota Gondwana dikejutkan dengan sebuah ledakan besar yang terjadi di distrik gang sepi. Di lokasi kejadian, ditemukan jasad seorang perempuan yang sudah hangus terbakar oleh kobaran api dari ledakan tersebut. Untuk identitas dari perempuan tersebut masih belum bisa diketahui, karena ia mengalami luka bakar yang sangat serius di sekujur tubuhnya. Di duga, ledakan tersebut bersumber dari gorong-gorong yang ada di distrik gang sepi. Sampai saat ini pihak kepolisian masih mendalami dan menyelidiki lebih lanjut tentang kejadian ledakan tersebut.” Ujar narasi berita tentang kejadian leadakan tersebut.
“Kami masih mendalami lebih lanjut untuk penyebab dari ledakan yang terjadi di distrik gang sepi ini. Kemungkinan besar, ledakan terjadi karena penumpukan gas-gas mudah terbakar yang ada di dalam gorong-gorong atau saluran pembuangan tersebut. Untuk penemuan jasad perempuan di lokasi kejadian, kami masih akan mengidentifiksi lebih lanjut lagi. Sayangnya, kami tidak bisa mendapatkan remakan kejadian dari cctv. Cctv yang ada di lokasi kejadian telah rusak dan sama sekali tidak merakam kejadian ledakan tersebut. Kami juga masih akan mendalami hal tersebut.” Ujar seorang polisi menjelaskan tentang ledakan yang terjadi kepada para awak media.
Melihat dan menyaksikan berita yang ada di televsi, Litch pun teringat dengan kejadian tadi malam. Sesaat sebelum Litch muncul di hadapan ayahnya dan wanita simapanan tersebut. Dengan pergerakannya yang sangat lincah dan cepat, Litch bergerak mendahului mereka berdua dari atas bangunan yang ada di distrik gang sepi tersebut.
Litch meloncat dari satu bangunan ke bangunan yang lain dengan tanpa ragu. Sambil terus bergerak lincah ke atap bangunan-banguan tersebut, Litch nampak sedang melakukan sesutau pada cctv yang merekam tempat sekitar. Sepertinya ia sedang berusaha untuk merusak semua cctv yang ada di distrik gang sepi tersebut.
“Hehmm!!! Aku tidak akan melakukan kesalahan sedikit pun. Meskipun itu hanya satu titik.” Ujar Litch yang tersenyum melihat berita di televisi sambil menyantap menu sarapannya.
Sambil menyantap menu sarapannya, Litch dengan santai menyaksikan berita dari televisi. Ia sedikit pun tidak merasa khawatir dengan berita mengenai ledakan tadi malam yang disebabkan olehnya. Litch nampak dengan tenang menyantap lahap menu sarapan paginya.
“Litch.... Apakah kau tahu ayahmu itu dimana? Sudah pagi gini tetapi masih belum pulang kerumah.” Ujar ibunya Litch mendatangi anaknya yang sedang sarapan pagi di meja makan.
“Enggak, memang dia nggak kasih kabar ke ibu?” Ujar Litch dengan santai dan tenang.
“Kemarin sih katanya mau ada lembur di kantornya. Tapi sampai sekarang nggak ada kabarnya lagi.” Ujar ibunya Litch kepada anaknya.
“Memang mungkin masih ada lembur kali. Sudah ibu jangan terlalu mikirin dia, mending ibu sarapan aja ini.” Ujar Litch yang selesai menyantap menu sarapan paginya.
“Iya sih belakangan ini ayahmu sering sekali dapat lemburan dari kantornya. Pulangnya juga malam-malam terus. Kadang-kadang ibu suka binggung kenapa ayah sering sekali mendapat lembu.” Ujar ibunya Litch sambil duduk di kursi.
“Sudah nggak usah binggung. Ibu jangan terlalu sering memikirkan dia, belum tentu dianya juga mikirin tentang ibu. Sudah mulai siang, Litch mau berangkat sekolah dulu ya bu.” Ujar Litch kepada ibunya sambil berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
“Iya sudah, kamu sekolah yang baik yah Litch. Jangan sampai terlambat.” Ujar ibunya Litch menasihati anaknya.
“Baik bu.” Ujar Litch sambil berjalan meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke sekolah.
“Keputusan ini memang memerlukan sedikit pengorbanan yang harus ibu rasakan, tetapi semuanya juga aku lakukan demi kebaikan ibu sendiri. Kepedihan yang sudah ibu alami di masa lalu itu akan lebih menyakitkan daripada kesedihan atas kehilangan orang yang seharusnya tidak ibu cintai. Mulai sekarang bukan hanya harus berani melempar dadunya saja, tetapi aku juga harus bisa menentukan angka yang akan muncul dari lemparan dadu itu sendiri.” Ujar Litch di dalam hatinya sambil berangkat ke sekolah.
Setelah beberapa saat berjalan dari rumahnya, Litch pun akhirnya sampai di SMAN 01 Gondwana. Dengan menggunakan tas hitam yang ia gendong di punggungnya, Licth memasuki gerbang sekolah tersebut. Di sisi lain, para murid lain juga perlahan sudah mulai memasuki gedung sekolah tersebut.
“Teng neng-neng.... neng-neng.... teneng teng neng-neng.... neng-neng......” Suara bel masuk tanda pelajaran akan segara dimulai.
“Tempat duduk Jeanna kosong. Apakah hari ini dia tidak masuk sekolah.” Ujar Licth di dalam kelas sambil memperhatikan tempat duduk Jeanna yang kosong.
Tidak lama setelah bel masuk berbunyi, seorang guru perempuan pun datang dan langsung memasuki kelas 2B. Langkah kakinya terdengar oleh seluruh murid yang ada kelas tersebut. Seketika para murid kelas 2B itu pun langsung duduk di tempat duduknya masing-masing.
“Selamat pagi anak-anak.” Ujar guru tersebut menyapa anak didiknya.
“Pagi bu.” Ujar para murid menjawab sapaan dari ibu gurunya.
“Kenapa ibu wali kelas masuk ke kelas ini? Seharusnya ini kan pelajarannya IPS!? Ada apa ini???” Ujar Litch didalam hatinya sambil merasa bingung.
“Sebelum kalian melaksakan kegiatan belajar bersama pak Tomy nanti, ibu sebagai wali kelas kalian ingin menyampaikan sesuatu terlebih dahulu. Ini adalah mengenai kabar dari salah satu teman kelas kalian. Tadi pagi pihak sekolah menerima kabar duka dari orang tua salah satu murid kelas 2B ini. Beberapa jam yang lalu teman satu kelas kalian Jeanna, dikabarkan telah meninggal dunia.” Ujar wali kelas 2B menyampaikan kabar duka tentang Jeanna denga nada yang sedih.
“Apa!!?? Ini tidak mungkin!!! Jeanna meninggal dunia???” Ujar Litch di dalam hati sambil merasa sangat kaget mendengar kabar kematian Jeanna.
__ADS_1