
Awan lebat yang nampak mendung dan air hujan yang turun deras dari langit, membuat situasi dan kondisi sebuah perumahaman di suatu sore terlihat sangat kelabu. Sinar matahari senja juga tidak bisa menampakan cahaya hangatnya karena seluruh langit telah tertutup oleh awan yang tebal. Selain itu, nampak terdengar suara-suara gemuruh petir yang menggelegar dan menggema di langit sore tersebut. Jalan-jalan serta saluran-saluran air yang ada di perumahan itu juga nampak dipenuhi dan dibanjiri oleh air hujan yang mengalir cukup deras.
Melihat tidak adanya tanda-tanda awan akan begerak menjauh ke tempat lain, dan debit air hujan yang turun dari langit juga semakin bertambah deras. Nampaknya curah hujan ini mungkin akan terus berlangsung hingga malam hari yang gelap menjelang ke perumahan tersebut. Sementara itu di dalam sebuah rumah yang berada di kawasan perumahan tersebut, terlihat seorang laki-laki paruh baya yang nampak sedang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumahnya.
“Hujan-hujan gini mau kemana mas!? Ini kan juga sudah mau malam. Lagian kamu kan baru saja pulang dari kantor.” Ujar seorang istri yang ternyata adalah ibu dari Litch kepada suaminya.
“Ini urusan pekerjaan, tiba-tiba aku dipanggil oleh bos untuk segera datang ke kantor lagi. Tidak usah mikir yang enggak-enggak lah, aku kayak gini juga buat kamu.” Ujar ayahnya Litch sambil bersiap-siap dan kembali memakai pakaian kantornya.
“Tapi kan kamu ini baru saja pulang dari kantor, masa mau berangkat lagi!? Apa tidak bisa besok saja?” Ujar ibunya Litch yang tidak mau suaminya pergi dari rumah.
“Mau bagaimana lagi! Ini kan urusannya penting, menyangkut dengan masalah kantor. Kamu mau aku dipecat dari kantor!!!” Ujar ayahnya Litch mengambil kopernya.
“Tidak sih, tapi....” Ujar ibunya Litch yang ragu-ragu dan sedikit merasa curiga dengan suaminya.
“Sudahlah!!! Kamu ini suami mau ada urusan pekerjaan malah dibikin ribet gini. Sudah kamu jaga rumah saja, aku mau pergi ke kantor dulu.” Ujar ayahnya Litch yang bergegas pergi meninggalkan rumah dan istrinya untuk pergi ke kantor lagi.
Sambil memakai pakaian kantor yang rapi, ayah Litch pun perlahan mulai segera pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke kantornya lagi. Walaupun diluar rumah sedang hujan deras dan kepergiannya tersebut sempat mendapat penolakan dari istrinya, akan tetapi ayahnya Litch tetap memutuskan untuk pergi keluar dari rumah. Sesaat setelah ayahnya Litch membuka pintu rumah untuk pergi keluar, tiba-tiba kejadian yang mengejutkan pun terjadi.
“Jeder!!!!!!” Suara keras Petir yang menyambar di sekitar lokasi perumahan tersebut.
“Ya tuhan!!!! Kamu Litch, bikin ayah kaget saja.” Ujar ayah Litch sambil terkaget dengan kemunculan anaknya di depan pintu yang disertai oleh suara keras dari sambaran petir.
Sesaat setelah ayah Litch membuka pintu rumah dari dalam, ia pun dibuat kaget oleh Litch yang secara tiba-tiba muncul dan berdiri pas di depan pintu. Selain itu, suara petir yang menyambar dengan keras juga ikut membuat kemunculan Litch terasa sangat mengagetkan. Dengan badan dan pakaiannya yang basah kuyup, Nampak wajah Litch memasang ekspresi yang sangat serius. Pandangan mata yang tajam dan dingin terpasang di raut wajah Litch ketika ia menatap ke arah pintu rumah yang dibuka oleh ayahnya.
“Sudah cepat sana masuk, basah kuyup gini. Nanti masuk angin.” Ujar ayahnya Litch menyuruh anaknya untuk segera masuk ke rumah sambil membuka payung.
“Ayah mau pergi kemana?” Ujar Litch dengan nada serius dan dingin, bertanya kepada ayahnya yang terlihat bersiap untuk pergi.
“Ayah mau berangkat kantor lagi. Atasan ayah nyuruh ayah untuk datang ke kantor lagi. Ada masalah penting yang harus segera diselesaikan katanya. Ya sudah, ayah pergi dulu ya.” Ujar ayah Litch yang pergi melewati anaknya dengan menggunakan payung untuk melindungi badannya dari air hujan.
Sambil membalikan badan, Litch pun memperhatikan ayahnya tersebut dengan tatapan dan ekspresi wajah yang masih nampak sangat serius. Litch tetap diam berdiri di depan pintu dengan kondisi badan dan pakaiannya yang sudah basah kuyup. Sementara itu, melihat anaknya basah kuyup terkena air hujan, ibunya Litch pun menyuruh anaknya untuk segera masuk ke rumah.
“Litch, ayo cepat masuk ke rumah, nanti kamu sakit. Lagian hujan deras gini kamu nggak mampir dulu ke rumah temen atau neduh sebentar gitu. Jadi basah kuyup gini kan!?” Ujar ibunya Litch menyuruh masuk dan masihati anaknya.
“Iya bu.” Ujar Litch dengan singkat sambil masuk ke rumah.
“Ya sudah, cepat sana mandi dulu.” Ujar ibunya Litch sambil menutup pintu dan sejenak memperhatikan suaminya yang perlahan sudah mulai pergi menjauh dari rumah.
Sementara itu, hari pun sudah menjelang malam. Kali ini langit malam tidak mau untuk menampakan sinar lembut dari sang rembulan. Hanya ada awan gelap yang menyelimuti malam dingin dan sunyi. Selain itu, Rintik air hujan yang turun dari langit juga masih sedikit terasa dan membuat suasana malam ini menjadi tidak nyaman untuk sekedar keluar dari rumah. Namun, intensitas air hujan yang turun pada malam hari ini tergolong lebih rendah daripada hujan yang terjadi pada sore hari tadi. Rintik gerimis air hujan itu dapat dilihat dari cahaya lampu jalan yang menyinari area jalan perumahan tersebut.
Di sisi lain, Walaupun malam hari ini masih ada rintik gerimis dan suasanannya yang cukup dingin. Akan tetapi, terlihat Litch yang seorang diri sedang berjalan di sebuah jalan pertokoan dengan menggunakan jaket hitam. Tidak lama setelah melangkahkan kakinya, Litch pun tiba-tiba memasuki sebuah toko di pinggir jalan yang sepi tersebut. Nampak cahaya neon menyala cukup terang dari tulisan “BOB GUN” yang terpampang besar di atas pintu masuk toko tersebut. Selain itu, Di samping kanan dan kiri bangunan toko itu juga terdapat beberapa bar serta tempat makan yang nampak masih buka.
“Sreeett, Kling....Klining....Klining.....” Suara pintu terbuka yang mengenai lonceng di atasnya.
“Litch!!! Ada apa malam-malam begini. Sebelumnya asal kamu tahu aja ya, kalau kamu mau beli senjata lagi, kali ini aku nggak bisa kasih yah!!!! Lagian kamu itu masih di bawah umur, ngapain ke toko senjata kayak gini. Kalau bukan anaknya Linda, aku nggak bakal kasih izin kamu untuk masuk kesini.” Ujar seorang pemilik toko senjata yang melihat Litch masuk ke tokonya.
“Seperti biasa, kau ini cerewet sekali Bob!!! Tenang saja, aku kesini untuk melunasi uang pembelian pisau adamentium kemarin. Sesuai janjiku kan? Akan aku lunasi dalam dua hari. Bahkan ini belum sampai dua hari.” Ujar Litch kepada pemilik toko senjata yang bernama Bob sambil menghampirinya.
“Litch, Litch...... Ini bukan masalah uang!!! Seharusnya aku tidak diperbolehkan untuk menjual senjata ke anak yang masih di bawah umur. Dari kemarin aku penasaran, memangnya kamu beli pisau itu buat apa sih?” Ujar Bob sang pemilik toko senjata yang bernama Bob Gun.
“Sudah kubilang, untuk peralatan praktikum di sekolah. Selain itu, aku juga suka dengan bentuk pisaunya.” Ujar Litch yang berbohong kepada Bob sambil duduk di kursi pelanggan.
“Kalau untuk pratikum seharusnya tidak perlu pisau yang terbuat dari besi adamentium kan!? Pisau biasa yang dijual di pasar-pasar umum juga bisa kau beli. Lagipula kau sampai mengluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk membeli pisau yang digunakan untuk praktikum. Rasanya itu tidak wajar. Katakan sebenarnya, kau gunakan untuk apa pisau itu?” Ujar Bob yang merasa curiga dengan Litch.
“Sudahlah Bob, aku tahu kau ini orang baik, aku juga mempercayaimu. Lagipula aku membelinya juga bukan untuk melakukan tindakan kriminal kok. Ini uang sisanya, sekarang sudah lunas kan?” Ujar Litch sambil memberikan Bob sejumlah uang yang ia keluarkan dari kantong jaketntya.
“Litch, Litch....Ya sudahlah, untung kamu ini anaknya Linda. Tapi kamu janji yah tidak akan menggunakan pisau itu untuk tindakan kriminal kan? Soalnya kalau ada apa-apa nanti toko ini juga yang kena.” Ujar Bob yang luluh dengan Litch.
“Iya, kau tidak perlu khawatir akan hal itu.” Ujar Litch sambil masih tetap duduk.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong uang sebanyak ini kamu dapat darimana? Nggak ngerampok kan!? Atau kamu nyuri yah!!!” Ujar Bob yang heran Litch punya uang sebanyak itu.
“Hei... sepertinya aku tarik ucapanku tadi. Kamu ini cukup kejam juga!? Itu uang tabunganku!!!! Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku harus segera melunasi utangku. Aku tidak mau punya utang kepada orang, itu menjadi beban bagiku.” Ujar Litch kepada Bob sambil terseyum.
“Kali aja gitu, hehehe..... Tapi nggak apa-apa ini, uang tabunganmu buat beli barang seperti itu? Sebenarnya nggak usah dilunasi juga tidak apa-apa.” Ujar Bob yang merasa tidak enak.
“Nggak apa-apa Bob. Aku memang menyukai pisau itu, semuanya sangat berguna bagiku. Tetapi aku juga tidak mau mempunyai utang kepada siapa pun.” Ujar Litch sambil masih tetap duduk di kursi pelanggan.
“Lagian itu juga bukan uang pribadiku. Untung tadi sore aku sempat mengambil dompet itu dari kantongnya. Sebelum ia pergi meninggalkan rumah, aku ambil dompet orang itu dari kantongnnya. Dengan ini ia juga tidak bisa melancarkan aksi menjijikannya.” Ujar Litch di dalam hatinya.
“Litch, Litch.... Haahh!!!! Aku benar-benar nggak ngerti sama jalan pikranmu. Nanti kalau ibumu tahu bagaimana?” Ujar Bob yang heran dengan Litch.
“Jangan kasih tahu ibuku tentang hal ini Bob. Aku takut dia khawatir denganku.” Ujar Litch meminta agar Bob tidak memberi tahu ibunya tentang hal ini.
“Baiklah, aku juga tidak mau dia cemas dan khawatir tentang anaknya. Tetapi lain kali aku tidak akan memberikanmu senjata-senjata lagi. kecuali kamu sudah cukup umur untuk memilikinya.” Ujar Bob yang pasrah kepada Litch sambil menasihatinya.
Ketika Bob dan Litch sedang asik berbincang-bincang, televisi yang menyala sejak tadi pun tiba-tiba menyiarkan sebuah berita. Seorang pewarta perempuan menyiarkan sebuah berita tentang kematian Clarissa, Vega, dan Anton. Mendengar berita tersebut, Bob serta Litch pun akhirnya mengalihkan fokus mereka dan langsung menyaksikan liputan berita tersebut dengan serius.
“Satu orang siswa dan dua orang siswi SMA Negeri 01 Gondwana tewas mengenaskan dalam laka lantas yang terjadi kemarin malam. Siang hari ini, jenazah dari ketiga anak tersebut sudah dimakamkan di pemakaman umum Demise, Gondwana.” Ujar pewarta perempuan yang menyiarkan berita kematian Clarissa, Vega, dan Anton.
“Mereka bertiga satu sekolah dengan kamu kan Litch. Kamu kenal mereka?” Ujar Bob setelah melihat berita tersebut.
“Iya, dua diantaranya bahkan satu kelas denganku. Tadi siang juga aku datang ke pemakaman mereka.” Ujar Litch menanggapi pertanyaan Bob dengan nada sedikit serius.
“Eh!!! Serius Litch!? berarti kamu akrab sama mereka dong?” Ujar Bob yang kaget mengetahui fakta tersebut.
“Enggak terlalu sih, cuma kenal saja. Lagipula dia itu salah satu anak populer di sekolahku, mana mungkin aku akrab dengannya.” Ujar Litch sambil terbayang Clarissa.
“Ehh..... Memang kematian tidak memandang siapa pun yah!? Kalau waktunya tiba, mau presiden pun nggak bakal bisa menghindar darinya.” Ujar Bob dengan nada bijak.
“Bob, kalau menurut kamu takdir itu sesuatu yang seperti apa?” Ujar Litch bertanya kepada Bob tentang takdir.
“Enggak, aku hanya ingin tahu perspektif kamu tentang takdir. Kalau nggak mau jawab juga tidak apa-apa. Ini Cuma pertanyaan iseng saja.” Ujar Litch kepada Bob.
“Oke, takdir kah? Kalau menurutku sihh yaa seperti yang aku bilang tadi. Takdir adalah sesuatu yang tidak dapat kau hindari. Tetapi sebenarnya usaha lah yang menentukan nasib dan takdir kita di masa yang akan datang. Tentu sebagai manusia biasa, kita tidak bisa mendahului dan mengetahui takdir yang akan terjadi di masa depan. Namun menurutku kita masih bisa untuk merencanakannya. Terlepas berhasil atau tidak, itu tergantung pada usaha yang kita lakukan. Tetapi, setidaknya kita sudah berusaha. Nggak pasrah sama takdir itu saja.” Ujar bob menjelaskan tentang takdir menurut pendapatnya.
“Tergantung sama usaha kita yah!? Tak kusangka kau ini bijak juga ya Bob. Aku pikir kau ini hanya pria membosankan yang tergila-gila dengan senjata saja.” Ujar Litch sambil tersenyum tipis.
“Maksudmu apa hey!!! Gini-gini ilmuku banyak juga loh. Hidup di bumi selama 35 tahun bukan cuma untuk senang-senang saja. Terkadang aku juga sering baca-baca buku dan jurnal. Memang kamu anak kemarin sore. Kencing saja masih belum lurus.” Ujar Bob yang mengejek Litch dengan nada bercanda.
“Buku??? Majalah dewasa kali.” Ujar Litch membalas ejekan Bob.
“Apa kau bilang hahh?!! Kamu pikir aku ini om-om girang apa?” Ujar Bob yang sedikit kesal.
“Klingg......Klining......Klining......” Suara lonceng terkena pintu toko yang terbuka.
Ketika Bob dan Litch tengah asik berbincang dan bercanda, ada seseorang pria yang masuk ke toko Bob Gun tersebut. Sepertinya ia adalah seorang pelanggan yang akan membeli senjata ke Bob. Pria tersebut nampak memakai jaket hoodie berwarna merah dan celana jeans hitam yang terdapat gambar mawar berduri. Setelah membuka pintu toko, pria berhoodie merah itu pun langsung berjalan mendatangi dan mendekat ke arah Bob.
“Aku ingin membeli beberapa jenis Revolver. Apakah disini ada?” Ujar pria tersebut memesan senjata api jenis Revolver.
“Baik, sebelumnya boleh minta tanda atau kartu identitasnya terlebih dahulu.” Ujar Bob yang meminta kartu identitas kepada pria tersebut.
“Baiklah.” Ujar pria tersebut sambil mengambil kartu identitasnya di dompet.
“Ini.” Ujar Pria berhoodie merah sambil memperlihatkan dan menyerahkan kartu identitasnya ke Bob.
“Baiklah. Tunggu sebentar, akan aku ambilkan senjatanya.” Ujar Bob setelah memeriksa identitas pria tersebut.
“Ya sudah Bob, kalau begitu aku pulang dulu yah.” Ujar Litch yang beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Oke, salam buat ibu kamu yah.” Ujar Bob yang sedang mengambil senjata pesanan pelanggannya.
“Siap bos.” Ujar Litch perlahan mulai berjalan keluar dari toko senjata tersebut.
Karena sudah tidak punya lagi urusan dengan Bob, Litch akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan toko senjata tersebut. Licth pun beranjak dari tempat duduknya dan perlahan mulai berjalan keluar dari toko Bob Gun. Ketika Litch berjalan melewati pelanggan bercelana jeans hitam itu, ia sempat menengok sedikit dan sekilas memperhatikan pria tersebut dari belakang. Merasa ada seseorang yang lewat dibelakangnya, pria berhoodie merah itu pun perlahan menengok kebelakang dan sekilas membalas memperhatikan Litch. Alhasil, mereka berdua pun sekilas saling tatap menatap antara satu dengan yang lainnya. Sampai pada akhirnya Litch membuka pintu toko dan pergi keluar dari tempat tersebut.
Ketika Litch sudah benar-benar keluar dari toko tersebut, televisi yang masih menyala itu pun kembali menyiarkan sebuah berita. Pembawa berita perempuan tersebut menyampaikan berita tentang pahlawan super Gondman yang mengalahkan mahluk misterius di hutan Alask. Mendengar berita tersebut, pria berhoodie merah itu pun mengalihkan fokusnya ke televisi tersebut.
“Kemunculan mahluk misterius yang berada di hutan Alask kemarin, berhasil di kalahkan oleh pahlawan super kita, Gondman. Sekali lagi, Gondman telah meyelamatkan dan melindungi kita dari ancaman-ancaman yang datang ke kota Gondwana ini.” Ujar pewarta perempuan yang menyampaikan headline berita.
“Pahlawan super Gondman berhasil melindungi kota Gondwana dari ancaman mahluk misterius menyerupai manusia purba yang tiba-tiba muncul hutan Alask kemarin sore. Namun kali ini pahlawan super kita tidak seperti biasanya. Dalam peristiwa ini Gondman tidak memberikan informasi sedikit pun mengenai lawan yang telah ia kalahkan kepada kami, para awak media. Kemunculan mahluk menyerupai manusia purba itu sendiri juga sampai sekarang masih menjadi misteri yang belum bisa dipecahkan. Akan tetapi, mayat dari mahluk misterius tersebut kini dikabarkan telah diambil dan akan diidentifikasi oleh perusahan milik swasta, ANCIENT.” Ujar narasi berita mengenai manusia purba dan gondman.
“Kami mengajukan diri untuk menangani dan menidentifikasi lebih lanjut tentang mayat mahluk misterius ini. Syukur pemerintah mengizinkan ANCIENT untuk menjadi tempat identifikasi bagi mahluk misterius ini. Kami sangat berterima kasih kepada pihak pemerintah atas kepercayaan yang telah diberikan kepada ANCIENT.” Ujar Andrew yang diwawancarai oleh wartawan.
“Namun naasnya, tiga anak remaja yang dikabarkan pertama kali melihat mahluk misterius tersebut, mengalami kecelakaan maut ketika mereka sedang menaiki mobil ambulan untuk pergi ke rumah sakit. Kini jenazah mereka telah dimakamkan di pemakaman Demise siang hari tadi.” Ujar narasi berita yang masih beranlanjut.
“Hhmm..... mahluk misterius yah!? Sepertinya aku telah melewatkan kejadian yang menarik.” Ujar pria berhoodie merah tersebut sambil menyaksikan berita di televisi.
“Mas, ini beberapa jenis senjata Revolver yang anda pesan. Silahkan pilih yang anda suka.” Ujar Bob sambil memperlihatkan beberapa jenis senjata Revolver pesanan pria tersebut.
“Ohh, terima kasih.” Ujar Pria bercelana jeans hitam sambil melihat-lihat jenis senjata Revolver pesanannya.
Sementara itu, hujan gerimis yang turun pada malam hari ini juga terjadi di tempat atau area gedung ANCIENT milik Andrew. Tulisan ACIENT yang terpampang besar di bangunan gedung tinggi itu pun menyala dengan sangat terang. Walaupun sudah mulai menuju larut malam, namun gedung ANCIENT masih tetap beroperasi seperti biasanya. Masih banyak kendaraan truk yang keluar masuk ke dalam bangunan gedung tersebut. Para penjaga juga terlihat siap siaga berdiri di pos jaga yang ada di area depan gedung.
“Proffesor Dranne, bagaimana kondisi barang berharga kita!?” Ujar Andrew yang mendatangi proffesor Dranne ke dalam lab.
“Untuk kondisi fisiknya sendiri jelas ini masih sangat bagus, tetapi kita kehilangan jantungnya. Pukulan Gondman benar-benar tepat menghancurkan organ bagian jantung dari manusia purba ini. Yaa, sepenuhnya dia sudah tak bernyawa lagi.” Ujar proffesor Dranne menjelaskan kondisi dan keadaan manusia purba kepada Andrew sambil memengangi gadget penelitiannya.
Terlihat proffesor Dranne sedang menganalisa dan meneliti mayat manusia purba dengan menggunakan gadget yang ada di tanggannya. Mayat mannusia purba itu sendiri berada pada kotak yang berisi cairan khusus untuk mengawetkannya. Dengan lubang bekas pukulan Gondman di dadanya, manusia purba tersebut sudah tak bernyawa dan tersimpan dalam kotak kaca bening berisikan cairan yang berwarna putih bening pula. Nampak Andrew pun terlihat memandangi dan memperhatikan kotak kaca berisi mayat manusia purba tersebut dengan seksama.
“Andrew, apakah kau kecewa manusia purba ini sudah tak bernyawa?” Ujar proffesor Dranne bertanya kepada Andrew.
“Tidak!!! Mau bernyawa atau tidak, ini masih menjadi sampel yang sangat bagus. Sejak awal juga kita tidak menduga kalau mahluk ini akan bernyawa. Sekarang yang paling penting adalah anak nakal ini telah kembali lagi ke rumahnya, ANCIENT!!!!” Ujar Andrew sambil terus memperhatikan manusia purba yang berada di dalam kotak kaca bening.
“Sekumpulan orang bodoh itu dengan mudahnya memberikan kita hak untuk meneliti manusia purba ini. Mereka pasti tidak tahu seberapa berharganya sampel ini. Seperti apa yang kau katakan proffesor Dranne, kita tidak perlu susah payah mengeluarkan tenaga untuk menangkapnya. Manusia purba itu pasti akan datang kembali ke ANCIENT.” Ujar Andrew yang masih memperhatikan manusia purba tersebut.
“Sudah kubilang rencana ini pasti akan berhasil. Kita biarkan orang bar-bar itu yang mengurusnya. Tugas kita hanyalah bersikap baik ke pihak pemerintah. Setelah semuanya selesai, kita tinggal mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Sekarang lihat di depan mata kita, manusia purba ini telah kembali ke lab ACNCIENT sesuai dengan perkiraanku. Walaupun sudah tak bernyawa, akan tetapi dia masih menjadi sampel dan bahan penelitian kita yang sangat bagus.” Ujar proffesor Dranne masih sambil memegangi gadget besarnya.
“Kau memang jenius proffesor Dranne. Bukan hanya merencanakan semua ini, tetapi kau juga menutupi semua rahasia tentang kita dengan sangat rapi. Tak sia-sia aku merekrutmu sebagai proffesor di ANCIENT ini.” Ujar Andrew melihat ke arah proffesor Dranne.
“Ini masih bukan apa-apa, Andrew. Lebih dari itu, sekarang kita akan melanjutkan penelitian tentang mahluk purba ini. Itulah yang membuatku tertarik untuk bergabung bersama ANCIENT ini.” Ujar Proffesor Dranne yang bersiap melanjutkan penelitiannya yang sempat tertunda.
“Baiklah proff, kuserahkan sampel berharga ini kepadamu. Aku percaya kau pasti bisa melakukannya dengan sempurna. Kau sendiri tahu betul akan keahlianmu itu.” Ujar Andrew kepada proffesor Dranne.
“Sekarang aku akan memberikan beberapa laporan kepada para orang bodoh itu. Cihh, benar-benar merepotkan saja!!!” Ujar Andrew sambil pergi meninggalkan ruangan lab tersebut.
“Oke mari kita lanjutkan penelitian ini.” Ujar Proffesor Dranne sambil memencet sesuatu pada layar gadgetnya.
Sementara itu, di suatu jalan yang minim dengan pencahayaan. Terlihat Litch sedang berjalan menyusuri jalan yang sepi dan sunyi. Karena mungkin sudah larut malam dan suhu udara yang semakin dingin, jadi tidak ada satupun orang atau kendaran bermotor yang melewati jalan tersebut. Selain itu juga, jalan sepi tersebut nampak tidak ada bangunan rumah ataupun pertokoan yang berdiri. Hanya ada lampu jalan yang menyala redup setiap sekitar jarak 40 meteran dan beberapa pohon rindang.
Rintik hujan yang turun sejak sore hari kini perlahan mulai mereda dan berhenti. Dengan menggunakan jaket hitam, Litch pun nampak tidak merasa takut sedikit pun dengan kondisi jalan yang sunyi dan tidak terlalu terang. Ia terus berjalan sambil menundukan kepala yang tertutup oleh cindung jaket hitamnnya.
“Kematian kah!? Kalau dipikir-pikir, seandainya aku tidak mengalami kejadian misterius tersebut. Mungkin aku sudah menyerah untuk melanjutkan kehidupan ini. Berakhir di tempat menjijikan seperti itu. Benar-benar kehidupan yang menyedihkan. Apakah kali ini semuanya akan berubah? Apakah aku mampu mengubah jalan takdir ini?” Ujar Litch sambil terus berjalan di jalanan yang sepi tersebut.
“Kejadian yang dialami oleh Clarissa dan kawan-kawannya. Apakah itu pertanda kalau jalan takdir itu memang tidak bisa dirubah!?” Ujar Litch sambil memikirkan tentang takdir.
Ketika Litch sedang berjalan sambil memikirkan sesuatu yang lumayan cukup berat, sosok misterius yang memperhatikan Litch dari jauh waktu kemarin-kemarin pun tiba-tiba muncul kembali. Mahluk misterius tersebut memiliki postur tubuh yang tergolong tidak terlalu tinggi. Rambutnya yang panjang dan seluruh tubuhnya yang berwarna hitam, terpancar dari ciri fisiknya yang terlihat menakutkan. Sosok misterius tersebut diam berdiri di bawah tiang lampu jalanan yang berada tidak jauh di depan Litch. Mahluk misterius itu pun menatap tajam kearah Litch yang sedang berjalan tertunduk menuju ke arahnya.
“Wonder Litch!!! Akhirnya aku bisa menemuimu secara langsung. Sekarang saatnya kau membayar untuk apa yang telah kau lakukan terhadap masa lalumu ini.” Ujar sosok misterius setelah Litch mendekat ke arahnya.
__ADS_1