Backdoors : Survival Guide

Backdoors : Survival Guide
Chapter 9 : Halangan


__ADS_3

Setelah selesai bertukar, makhluk itu masih menatap ku sambil mengulurkan tangannya, Apakah dia masih ingin bertukar? Karena kami sudah merasa cukup jadi aku mencoba berkomunikasi dengan makhluk tersebut.


" Untuk saat ini kami sudah cukup bertransaksi " ucapku, yah walaupun aku tidak tau apakah makhluk ini akan mengerti atau tidak. 


Tapi diluar perkiraanku, makhluk itu mengangguk mengerti sebelum pergi ke kejauhan. Apakah kita dapat berbicara dengan makhluk lain juga? Aku tidak tau kalau aksebilitas semua bahasa juga bisa digunakan untuk makhluk lain? atau hanya makhluk itu saja yang mengerti? entahlah, yang terpenting kita memiliki informasi kalau ada juga makhluk yang tidak agresif seperti makhluk ini.


Kembali ke yang lain, aku memberikan barang-barang hasil pertukaran kami kepada Hyunsuk dan Olivia. Melihat hasil pertukaran keduanya juga senang, terutama saat kami berhasil mendapatkan beberapa bahan Medis seperti gulungan perban dan cooling spray. Dengan ini pemulihan Olivia akan lebih cepat.


Mengambil, cooling spray. Aku menyemprotkan nya ke lebam yang ada di kaki Olivia, setelah beberapa saat aku mengoleskan balsem ke kakinya.


" Apakah ini sakit? " tanyaku saat menyentuh lebam di kakinya.


" Tidak terlalu " ucap Olivia dengan wajah malu-malu.

__ADS_1


Aku cepat menyadari, sepertinya aku terlalu lama menyentuh kaki Olivia, jadi aku dengan cepat menarik tanganku.


" Yah sepertinya, lebam mu akan sembuh dengan cepat " ucapku dengan canggung.


" Y-ya "


Setelah beberapa saat beristirahat, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Lagipula kami tidak bisa terus-terusan di tempat ini, aku tidak tau apakah monster lain akan datang atau tidak jadi kami hanya bisa terus melanjutkan perjalanan.


Karena kakinya yang sakit, Olivia terpaksa kubawa. Pada awalnya dia menolak, tetapi saat orang itu sendiri kesulitan untuk berdiri pada akhirnya kami memutuskan untuk membawa Olivia padaku. Karena akan sulit jika aku membawa beberapa tas, jadi Hyunsuk mengambil peran itu saat dia mengambil tas Olivia.


Dibawah olok-olok Hyunsuk, kami melanjutkan perjalanan. Karena akan sulit untuk membela diri dengan posisi saat ini,  Hyunsuk jadi orang terdepan yang memimpin jalan karena Hyunsuk sendiri memiliki Parang yang sebelumnya kuberikan.


Menurut jam yang kami dapatkan, sekarang sudah menunjukkan pukul 16.00 yang artinya sudah sore hari jika itu di bumi. Aku tidak tau jam berapa kami mulai dari bangun di ruang putih, tetapi jika memperhitungkan waktu aku yakin setidaknya kami sudah menghabiskan sehari dari mencari jalan keluar dari ruangan putih hingga sampai di tempat ini.

__ADS_1


Apakah ini hari kedua kami di dunia ini? entahlah, setidaknya aku masih bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang.


Kami melanjutkan perjalanan di sepanjang terowongan, entah sudah berapa lama berjalan setidaknya kami sudah melewati puluhan percabangan yang membuat kaki kami cukup lelah. Tentu saja untuk menghemat tenaga kami beberapa kali berhenti di tempat dengan penerangan yang cukup baik hanya sekedar mengisi tenaga.


Sejauh ini kami juga cukup beruntung tidak menemukan monster apapun selain dua makhluk yang sebelumnya.


Setelah semua, kami juga menemukan beberapa persediaan di perjalanan yang isinya adalah beberapa paket makanan, potongan panjang kain putih, dan sebuah kapak api.


Yah ini cukup mengisi persediaan kami, dan untuk kapak api, karena Hyunsuk tidak menggunakannya aku memutuskan untuk tetap membawa kapak tersebut untuk jaga-jaga jika ada situasi yang membutuhkan kapak ini untuk dilakukan. Dan lagipula efektivitas kapak lebih memiliki banyak jika dibandingkan dengan parang atau katana.


Saat melewati salah satu saluran ventilasi, kami akhirnya menemukan sebuah pintu merah di ujung lorong. Seharusnya ini menjadi momen yang membahagiakan karena keberadaan pintu itu berarti kami akan menemukan tempat lain entah itu jalan keluar atau ruang selanjutnya.


Tetapi aku tidak membuat ekspresi senang atau apapun karena di ujung lorong ini, berdiri di depan pintu merah adalah seekor makhluk yang mirip anjing besar. Lidah makhluk itu sangat panjang hingga bisa menjulur sampai ke lantai.

__ADS_1


Seluruh tubuh ditutupi kulit merah dan hitam dengan otot-otot yang menonjol layaknya binaragawan. Makhluk ini tidak memiliki mata, tetapi bahkan dengan itu aku bisa tau kalau makhluk ini menyadari keberadaan kami dengan pasti saat yang dimaksud mulai menggeram dengan keras ke arah kami.


Melihat makhluk ini, aku berpikir, " Yah sepertinya tidak akan mudah untuk mencapai pintu keluar "


__ADS_2