Baju Manten Untuk Mantan

Baju Manten Untuk Mantan
Orderan Gaun (1/3)


__ADS_3

Butiran payet semburat keluar dari bungkus plastik kiloan, berkat senggolan tidak sengaja cewek berambut kusam dan disanggul asal. Ribuan benda kecil berlubang warna hijau toska dan hitam sukses membaur di seluruh lantai.


Kecelakaan kecil itu disebabkan oleh kecerobohan Navy sendiri. Gara-gara telepon berdering nyaring yang mengejutkan; lupa janji temu klien pada jam tiga sore, dikejar deadline dan kepala migrain sukses membuat Navy kacau.


Cewek itu merutuki kebodohannya sendiri. Dia tidak punya waktu demi memunguti satu per satu payet kecil pesanan kebaya seragam Salon Rias Marantika. Rasanya, Navy memilih pingsan saja daripada diserbu pesanan yang terus membludak.


"Mbak Tantri!" panggil Navy heboh.


Masih untung yang tumpah bukan kopi panas. Bakalan lebih bahaya bila cairan pekat itu mengenai hasil desain dan kain milik pelanggan. Sempat pula tiga hari lalu Navy tidak sengaja menumpahkan kopi ke hasil desain milik Alesa-siswa magang dari SMK Puri Widyana jurusan Tata Busana. Alesa menangis sambil begadang mendesain ulang tugas akhirnya. Karena itulah Navy memberi kompensasi berupa voucher gratis makan sepuasnya di gerai piza langganannya.


Kali ini yang tumpah memang payet, tetapi repot mengumpulkannya satu per satu lagi jika Navy harus mengerjakan satu gaun kebaya kontemporer.


"Huh, pakai jatuh segala!" sungut Navy, mulai terganggu dengan payet-payet di kakinya.


Dia harus hati-hati dan fokus dalam mengukur dan memotong pola, sebelum dijahit. Jika ada satu yang salah potong, keseluruhannya bakal kacau balau.


Navy kerap membuang potongan kain mahal yang tidak sengaja salah potong. Setiap sudut kain harus simetris. Setiap lengkung harus sama sisi. Jika selisih, kain bekas itu dibuang ke gudang lalu didaur ulang menjadi keset kaki yang murah meriah dijual ke pasar.

__ADS_1


Memungut payet bukanlah bagian dari pekerjaan Navy, padahal dia pelaku dari kekacauan di ruangannya. Dia tidak punya waktu.


"Apa?" sahut Tantri.


Wanita berusia 45 tahun itu muncul dari kamar mandi. Dia mengusap telapak tangannya yang basah ke ujung baju bercorak zebra. Tantri jelas kaget mendengar panggilan histeris Navy. Walau Navy sudah sering menciptakan kegemparan, Tantri selalu saja dibuat kaget.


"Tolong rapikan payetnya, Mbak. Sekalian ajak Alesa juga. Habis ini ada tamu lho. Kudu rapi," rengek Navy. Dia meratakan bagian dada manekin dengan selembar brokat kuning keemasan.


Masih ada setengah jam lagi sebelum kedatangan tamu di ruangan Navy. Namun, kekacauan itu tidak bisa diselesaikan dengan satu orang. Apalagi Navy harus membuat pola baru sebelum klien baru datang. Sebab, besok subuh, gaunnya bakal diambil untuk dipakai oleh pengantin.


Jika dibersihkan orang lain, Navy bakal mengamuk karena setiap benda di dalamnya berubah tempat. Walau gunting ada di sofa, orang lain dilarang keras menyentuh dan meletakkannya di meja. Hanya Navy yang tahu betul semua benda yang diletakkan tangannya sendiri. Kalau orang lain? Silakan menerima semprotan kata-kata makian Navy.


Harus Navy sendiri yang bersih-bersih. Sayangnya, Navy terlalu sibuk dengan pekerjaan. Jadi, lantai masih belum disapu mana etis disaksikan para klien yang mampir ke butik.


"Aduh. Nggak deh, Mbak. Enakan di sini. Pelanggan kita bisa cek gaun-gaun di display. Syukur-syukur milih yang jadi," seloroh Navy dan menghela napas pegal.


Tangannya dengan cekatan menyisipkan jarum pentul ke lekukan tubuh di manekin. Tanpa harus mengukur, Navy langsung tahu berapa senti lagi yang harus dipotong nanti.

__ADS_1


"Ya kalo bayarannya gede, Nav. Udah, kamu keluar aja dulu deh. Beli kopi mendingan. Biar aku yang beresin payetnya."


Tantri menarik kain brokat dari tangan Navy. Malah, Tantri mengalungkan tas selempang Navy ke leher, menyuruh desainer muda itu segera hengkang dari butik NMA.


"Mbak, aku...."


"Hush. Refresh dulu, sayangku!" Tantri makin gemas.


Navy menggelengkan kepala. Dia menolak pergi karena satu hal.


"Masa aku harus telepon Mbak Rhea buat ketemu di luar? Dia barangkali lagi perjalanan ke butik?" elak Navy makin waswas. "Kan dia janji bakal dateng ke sini."


"Makanya, telepon gih."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai, tes ombak nih. Ada yang suka sama cerita ini?

__ADS_1


__ADS_2