
Junot akan balik menyapa.
Memang, Junot menyapanya duluan. Tetapi harapannya luruh begitu saja. Junot dan Rhea benar-benar serasi. Dalam tiga bulan, mereka resmi membiduk bahtera kehidupan bersama.
Lantas, kenapa harus Navy yang membuat gaun pengantin Rhea?
Hela napas itu terus terdengar. Energi Navy terkuras begitu saja.
Navy patah hati karena harus merelakan Junot mempersunting wanita idamannya. Dan itu bukan Navy!
Sejujurnya Navy ingin menumpahkan air matanya seketika. Dia adalah cewek yang strong. Pastinya urusan baper lihat orang lain menikah bukan masalah besar. Tetapi, hatinya tidak bisa bohong. Dia kecewa!
Junot pula alasan Navy belum menikah sampai sekarang.
Seandainya Junot tadi memperkenalkan Navy sebagai mantan pacarnya, Rhea pasti bakal gagal memesan gaun ke Navy tanpa alasan yang jelas. Lebih baik Rhea bersikap seperti itu daripada Navy patah hati berkepanjangan.
Dia menyalahkan dirinya yang tidak pandai terbuka. Navy pernah ada di posisi Rhea. Ngambek perkara sepele, dan kemudian tidak ada tegur sapa selama beberapa waktu. Sialnya, seminggu kemudian Junot pindah ke Bandung untuk melanjutkan SMA.
Kendati sudah bisa lihat kabar orang lewat internet-dengan ragam sodmed yang bisa dimanfaatkan sebagai alat stalker rahasia Junot-sikap pasif Navy menjadi jawaban. Pada akhirnya kebisuan itu yang mengantarkan kepada sebuah kehampaan.
__ADS_1
Tidak jodoh.
Navy mengusap air matanya. Dia tidak boleh menunda pekerjaannya di butik. Sekali lagi, Navy bangkit dari duduknya. Namun, saat membayar makanannya, Navy mendapat biaya tambahan tidak terduga.
Satu gelas lemon tea, satu teh thailand jumbo, wafle stroberi dan salad buah pesanan Rhea belum dibayar.
Tawa penuh ketidakpercayaan Navy membahana. Dia tersangkut dalam deja vu berkat Junot.
Baik Junot dan Rhea sama-sama menyebalkan, atau ini memang takdir Navy terjebak di kafe penuh kenangan pahitnya. Aroma manis tempat itu lama-lama membuat Navy makin eneg.
"****** kalo gue masih ngarepin hal yang sia-sia. Udah, lupain aja mantan terindah!"
Mantan kekasihku jangan kau lupakan aku.
Bila suatu saat nanti, kau merindukanku, datang, datang padaku.
Navy menggelengkan kepala, sibuk mengenyahkan irama sendu itu. Dia tertipu oleh harapannya sendiri. Junot sendiri tidak pernah menjanjikan apapun sewaktu putus.
Junot mustahil balik padanya.
__ADS_1
Sudah waktunya Navy menyerahkan perasaan dan menerima kenyataan.
Sampai akhir lagu itu, Navy sengaja bertahan di dalam kafe, meratapi kesialan asmaranya.
Kedua tungkai Navy makin lunglai dalam perjalanan balik ke butik. Sikapnya yang makin loyo membuat atensi Tantri tertarik. Rasa ingin tahu sepupunya membesar seiring langkah pemilik butik menutup pintu kantor.
"Lho, kenapa kamu?" tanya Tantri. "Bukannya seger abis di luar, kok malah tambah ancur. Abis lihat kecelakaan, tah?" Medok Tantri mulai keluar. Wanita itu menggelengkan kepala bingung, sengaja mengeraskan suara di luar pintu.
Pintu yang tertutup, disertai deru mesin jahit menyebabkan Tantri paham situasinya.
Navy tidak mau diganggu siapapun.
Ruang kerja Navy masih berantakan seperti biasa. Payet-payetnya telah dikumpulkan dalam satu wadah di atas meja kopi. Dia melanjutkan pekerjaannya dalam diam, bersama air mata yang menggenang.
Navy tidak mengerti. Kesetiaan seperti apa yang bisa dijadikan sebagai patokan? Dia setia pada janji kosong yang dibuat oleh dirinya sendiri. Doa-doanya selalu dimunajatkan pada sepertiga malam. Tetapi yang terjadi adalah Navy tidak mendapatkan siapa-siapa. Dia sudah terlambat untuk bicara dengan Junot.
Bagaimana cara merelakan hati yang tercuri sekian lama? Dua belas tahun bukan waktu yang singkat dan Navy ingin ada pertangungjawaban dari cowok itu.
Ya sudahlah.
__ADS_1