
Setoples keripik singkong pedas menjadi teman kerja Navy. Musik berdentum keras lewat stereo besar yang mengisi setiap sudut ruang butik. Kadang tenggelam kadang berisik melantunkan lagu acak. Segala genre dan penyanyi membaur dalam satu akun streaming musik, demi menghargai semua pegawai yang gandrung musik beda warna. Lagu-lagu lintas genre itu sedang duel melawan irama mesin jahit. Saling bersahutan.
Sesekali obrolan terucap di antara para penjahit muda. Obrolan tidak nyambung kerap terdengar, disusul gelak tawa bagi yang ikut menguping.
"Parani ae (samperin aja)," kata Laila sambil lalu. Tangannya cekatan memasukkkan benang ke lubang jarum.
"Hah? Mbak Rani? Belum dateng tuh," sahut Niken tanpa menoleh.
Tawa terus berderai, terutama Tantri. Dia harus merujuk para staf ke dokter THT untuk memastikan tidak ada yang mengidap penyakit budek akut keseringan mendengar lagu favorit Laila, selaku penggemar setia penhanyi She's Gone.
"Apaan sih, rame mulu," tegur Navy seraya lewat. Cewek itu memutuskan berhenti sejenak dari aktivitas mengamati model-model baju.
Dia butuh kopi baru sambil menikmati suasana sore di balkon ruko dua lantai itu. Seharusnya anak-anak selesai bekerja sampai jam empat sore. Tetapi, masih banyak yang betah menyelesaikan kerjaan. Terlalu nanggung.
__ADS_1
Jadilah kebiasaan berubah pulang setengah jam lebih lambat.
"Nav, kayaknya lu kasih kompensasi lagi deh biar anak-anak gak bolot. Kocak asli." Tantri cekikikan lagi. Dia menceritakan ulang apa yang baru saja didengar oleh telinganya.
"Oh, ya udah pulang aja kali. Udah waktunya juga buat pulang." Navy tidak peduli. Dia hendak naik tangga ketika suara sensor bel terdengar jauh lebih bising dibandingkan musik.
"Tamu nih?" Tantri balik, menyongsong kehadiran pengunjung.
Navy urung ke atas. Dia mengintip di balik dinding dan mendapati Rhea lah yang datang berkunjung. Rencananya bersantai, sambil memikirkan konsep gaun yang cocok dengan klien lainnya ambyar. Dia balik ke ruang kantornya yang sesak oleh gulungan kain serta display gaun setengah jadi. Pantat teposnya jatuh dalam bantalan tipis kursi selagi Rhea muncul
Malahan alis Navy terangkat penasaran kenapa Rhea masih mengunjungi butiknya. Taktik apa yang membuat Rhea bisa menjinakkan Junot. Jelas sekali bahwa saat itu Rhea menggandeng mesra cowok lain. Navy bisa melihat bagaimana kemarahan Junot bisa dipendam sedemikian rupanya. Seakan, semenyebalkan apapun Junot di masa lalu, Junot tidak pantas mendapatkan Rhea.
"Gimana kabarmu?" tanya Rhea, duduk menyilangkan kedua kakinya. Pahanya terekspos, memamerkan kaki jenjang berbungkus sandal gaya romawi.
__ADS_1
"Ya gini-gini aja. Sibuk jahit," ucap Navy datar. Dia meredam muka kesalnya dengan menyeruput teh hangatnya.
"Ih, merendah aja, Mbak. Bahas kemarin nih, Mbak. Kita pake outdoor, ekornya 11 meter, dan warna putih agak biru, ya." Rhea mencebik.
"Udah ada kesepakatan sama Junot?"
"Udah."
"Oke."
Canggung rasanya bicara dengan Rhea. Dia terus menelan tehnya sampai kandas. Padahal di pangkal lidah, sudah tersemat pertanyaan keberadaan Rhea di mall tanpa Junot kemarin.
"Kalau ada alternatif lain, bisa buka koleksi katalog di bawah meja."
__ADS_1
Hanya itu yang terucap di mulut Navy. Dia menyerah untuk kepo kehidupan kliennya.
"Nggak. Aku mau itu aja. Dan, kalo bisa bikin seragam bride maid enam orang. Warnanya merah darah."