
Navy menghela napas, berusaha untuk berlapang dada. Sayangnya kenangan beruntun tentang cowok ceking berambut gondrong yang selalu mengantarnya pulang dari sekolah terus menghantuinya.
Junot milik gue. Junot milik gue. Junot.... milik Rhea.
Gunting itu berhenti memotong kain di tengah bagian pinggang. Saat itu pula, Navy sadar bahwa dia tidak boleh menyalahkan siapa pun.
Pada akhirnya malam itu, tidak satu pun pakaian yang jadi. Deru mesin bergema sampai gulungan benang di sekoci habis. Lantas suara berderak aneh semakin lantang saat jarumnya patah. Dia hanya duduk di sana, dengan tampang kuyu memikirkan cara untuk move on.
Cari pengganti, yuk, batinnya bermonolog, sibuk menghibur diri.
Tetapi gagasan mendapat pacar secara instan bukan jalurnya. Navy enggan lemah dan impulsif harus dapat alternatif lain jika keinginannya gagal tercapai.
Tidak selamanya pula Navy harus mendengar pertanyan rese 'kapan nikah' lagi setiap bertemu teman-teman dan kerabat keluarganya. Tantri sudah mendengungkan tidak enaknya belum menikah di usia lebih dari 40 tahun. Kesepian itu akan terus terjadi meskipun memiliki materi yang berlimpah.
Mustahil bagi Navy bertahan dengan ilusinya sendiri menunggu Junot. Dia harus bangkit mencari alternatif dengan cowok lain.
__ADS_1
Tapi kan nggak sekarang juga carinya. Nemu yang okelah. Jangan asal pasrah, sanggah otaknya. Dia harus logis dalam menemukan cowok yang cocok dengan semua kriterianya.
Terus kalo Junot jalan sama cewek lain, siapa yang bakal cocok sama gue?
Navy melirik angka di dinding. Jarum pendek di meja sudah mengarah ke angka enam pagi.
Sangat menyedihkan jika dia tidak melakukan apapun selepas Tantri pulang jam sembilan malam tadi. Duduk bengong dengan menipu dirinya sendiri bahwa semua baik-baik saja.
Navy menggelengkan kepala. Dia membuka buku catatan dengan maksud menulis isi hatinya, tetapi terperanjat ada sesuatu yang penting dan terlewatkan. Deadline!
Sadar bahwa gaun yang harus diantar pagi ini masih belum selesai di bagian lengan, Navy bekerja lebih cepat.
Saat pintu dibuka dari luar, aroma sampo Tantri yang kuat merasuk dalam hidung Navy. Kakak sepupunya kaget melihat mata sembab, wajah mirip zombie dan rambut yang lepas dari sanggulan yang melorot ke tempurung kepala bagian bawah.
"Kamu semalam gak pulang?" Tantri menutup mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Nggak."
"Bajunya Mbak Zahra udah beres kan? Hari ini mau dianter ke Hotel Aston."
"Udah." Navy menggunting benang. Dia memaksakan senyum yang tidak mudah. Pasti ada dua batu menggantung di sudut bibirnya.
"Balik ke rumah aja. Di sini juga berisik." Tantri bersikap perhatian. Suasana butik bukan tempat ideal untuk tidur nyenyak. Di ruang sebelah, lima mesin jahit berkumandang keras. Kerap pula pengunjung datang untuk memesan gaun pengantin, juga memperbaiki baju yang robek. Tentunya Navy harus istirahat di rumah daripada tubuhnya drop.
"Nggak papa, Mbak. Gue di sini aja. Siapa tahu ada pelanggan datang lagi," kilah Navy.
"Serius nih?" Tantri sangsi.
"Aku tidur sebentar. Bangunkan jam sembilan nanti. Ada orang Jagakarsa yang bakal datang."
Mulut Navy terbuka lebar. Dia menguap dan merenggangkan tubuh. Gulungan kain satin dipinggirkan ke sudut dinding. Kaki panjang Navy terjulur menggantung di atas bagian lengan sofa. Dia terpekur kelelahan di sana, tertidur kelelahan mengingat Junot.
__ADS_1
Entah kapan bertemu Junot lagi. Semua tergantung dari Rhea.
Hanya saja, Navy tidak ingin bertemu mereka berdua lagi.