
"Gaun lo kan biru, tapi bride maid merah, agak–" Navy menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Rhea, tetapi cewek itu sibuk dengan ponselnya sendiri, "gak cocok aja."
Malah kayak karnavalan, imbuh Navy dalam hati.
"Ya kan gue yang mau nikah. Lo terima jadi pesanan aja ribet amat jadi orang."
Navy tidak membantah. Komentar menusuk Rhea mau tak mau harus ditampik untuk sementara waktu. Tetapi intuisinya jelas berkata lain. Junot dan Rhea bakalan cekcok mendekati hari istimewa mereka nanti.
"Silakan pilih kainnya dulu, Rhea. Aku tinggal potong gaun punya orang dulu."
Navy menolak melayani Rhea. Dia mengambil gunting tajam dan melipat dua bagian lengan. Dengan garis lengkung segi lima, panjang lengan 57 sentimeter, Navy tahu bahwa tangan klien memiliki postur tinggi dan bertubuh A. Tentunya gaun berjenis ........ sangatlah cocok untuknya.
Diam-diam, Navy melirik sekilas ke Rhea. Tetapi cewek itu bergeming. Sama sekali tidak tertarik membuka katalog apapun.
Sangat aneh. Tidak biasanya ada klien yang ogah-ogahan seperti Rhea. Biasanya para calon pemesan gaun pernikahan pasti bakal menanyakan semua detail, sampai Navy ikutan pusing mencarikan alternatif lainnya.
__ADS_1
Rhea berbeda. Dia terlalu detail, tetapi agak keras kepala.
Diam-diam, Navy benci kenapa butik masih ramai. Anak-anak belum pulang, juga Tantri yang ogah menutup pintu butik sejak tadi.
Dan untungnya Tantri datang membawakan dua gelas teh panas dan sekaleng keripik balado sebagai suguhan. Navy tidak perlu membicarakan banyak hal, sebab saudara sepupunya yang mengambil alih obrolan.
Menjelang maghrib, terdengar mobil masuk ke pekarangan butik. Navy sama sekali tidak peduli. Dia terlalu fokus ke arah potongan pola. Tetapi aroma khas parfum itu menyeruak masuk bersama angin dari pintu. Jempol dan telunjuk Navy tertahan digagang gunting. Dia mendongak dan melihat wajah lelah tetapi tampan milik Junot.
"Udah lama?" tegur Junot. Dia duduk persis di samping Rhea.
Rhea tersenyum malas, tetapi dia menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Iki mas calone to yo. Ganteng tenan, mbaknya juga ayu. Embuh iki kapan sing lungguh ngisor kapan iso nyusule, ora tau metu," komentar Tantri, dengan intonasi nyinyir mirip Bu Tejo yang viral itu.
Navy sama sekali tidak peduli. Dia menuntaskan pola lengan sesegera mungkin dan melemparnya ke Tantri.
__ADS_1
"Malam ini lembur, Mbak Tantri. Bilangin ke anak-anak. Lagian, sok-sokan mirip Bu Tejo. Nggak mirip buat ngeghibah di depanku."
"Galak amat, sih. Kalo laper makan dulu, Nav." Tantri ngacir ke ruang sebelah.
"Sorry soal staf gue. Keranjingan Bu Tejo. Misinya adalah jadi bu lurah. Malah bulukan, beliau tuh,"
Rhea tidak menggubris, tetapi Junot malah mengangguk takzim, "kayak lo juga, Nav. Kapan nyusul gue nikah?"
"Kampret lo!" sungut Navy. Tak terima kena ledek mantannya sendiri.
"Ay, kita langsung pulang yuk. Udah maghrib juga. Mbak Navy sibuk ngegunting dari tadi. Gue dikacangin, lho, Ay."
Navy mengeryitkan dahi. Timbul rasa tidak senang karena Rhea sedikit membelokkan fakta. Siapa pula yang cuek?
Tapi.... navy gigit bibir. Dia juga sengaja melakukannya, meski tidak sadar selama itu mendiamkan Rhea untuk waktu yang agak lama. Beginilah kalau keasikan mengukur dan menggunting baju. Tidak heran jika pertemuan dengan klien harus di waktu luang Navy. Bukan saat dia sibuk melayani orderan orang lain dan punya tenggat waktu. Sementara Rhea datang seenaknya tanpa memberi -kabar lebih dulu.
__ADS_1
"Nggak sekalian ukur baju?"
"Nggak."