
Navy kira, dia akan baik-baik saja selama sisa minggu itu. Dia bekerja seperti biasa. Menyepi di balik mesin jahit, merancang pola dan menyematkan jarum peniti ke setiap lipatan yang ingin dia bentuk. Dia lupa segalanya bila menggelar lembar demi lembar kain yang membungkus sebuah kebahagiaan. Tantri harus mengomeli Navy yang sering melewatkan makan. Sikap cuek sang sepupu itu membuat Tantri bertahan di butik NMA selama ini. Tantri adalah ibu di butik, mewakili mama Navy yang bekerja di Samarinda.
Navy tidak pernah lagi menoleh ke arah Flower Garden setiap kali lewat, baik perjalanan pulang pergi antara rumah dan kantor. Padahal sebelum bertemu Junot seminggu itu, Navy selalu menelengkan kepala, melihat sekilas dan tidak mendapatkan apa-apa selain kenangan dan rindu. Harapannya saat Junot melambaikan tangan untuk mengajaknya baikan. Semenjak mengetahui bagaimana mantannya mencium mesra Rhea di pipi, Navy juga berhenti menoleh ke kafe itu.
Dia terbangun dari mimpi indahnya. Navy hanya bekerja sampai lupa bahwa dia sedang runtuh. Tantri yang melihatnya makin khawatir.
"Kalo masuk UGD karena telat makan, bakal banyak yang dibuat repot sama kamu. Tante Yana ngomelin gue, anak-anak nganggur nungguin pola desain dari lo, klien-klien banyak yang batalin pernikahan karena gaunnya terhambat diproduksi. Mau kayak gitu?" tanya Tantri, merujuk nama mamanya Navy. Sebelum kena omel, lebih baik Tantri mengingatkan lebih dahulu.
Dia memergoki Navy muntah di kloset usai makan, akibat asam lambung yang naik. Wajar bila Tantri harus menggertak kali ini.
__ADS_1
Ini masalah serius jika sudah tiga hari Navy belum makan nasi. Hanya sepotong roti pada siang hari menjadi pengganjal perutnya, lalu melanjutkan kerjaan tanpa henti.
"Bisa nggak sih kalo ada masalah, kamu ngomong ke aku?" tuntut Tantri. Intonasinya belum turun.
Navy malah pura-pura tuli. Kakinya menjejak pedal lebih dalam, akibatnya suara mesin makin keras disertai bentuk jahitan yang melenceng.
Sayangnya kain tule koleksi butik sudah habis. Dan tidak ada pengganti kainnya untuk menjadi lapisan luar gaun bergaya terompet.
Navy bangkit dengan kepala makin cenat-cenut. Dia menyentak tasnya, mengambil anak kunci dan pergi menenangkan diri di luar.
__ADS_1
Lebih baik belanja kain di toko garmen. Siapa tahu dengan berada di tumpukan kain aneka motif akan menciptakan percikan ide segar. Apalagi aroma khas kain baru hanya akan membuat Navy mendingan.
Selama beberapa jam berada di sana, Navy sudah memesan banyak item. Lantas dia sadar tenggorokannya terlalu kering. Setelah memastikan pesanannya bakal dikirim nanti, Navy berlalu dari toko. Dia akan singgah di salah satu gerai makanan di mall. Navy sendiri tidak tahu alasannya membelokkaan laju motor ke mall. Intinya Navy sesak kena omelan Tantri melulu.
Navy belanja harian sebentar, berkeliling sendiri. Aktivitas seperti ini sudah lama terlupakan. Semenjak buka butik, Navy jarang menyusuri rak sendirian, melihat dan mengambil barang, lalu membaca komponen dan harganya. Jika cocok diambil, jika tidak dikembalikan. Setelah satu putaran penuh, Navy kembali ke posisi paling ujung, mengembalikan barang yang tidak diperlukan. Lalu singgah di gerai ayam goreng dan mengisi energinya.
"Navy!" Seseorang telah memanggilnya.
Navy menoleh sekilas ke sosok paling tidak diinginkan sebelum Tantri ditemuinya sisa hari itu. Doa-doa Navy tidak oernah terkabulkan dalam aksi menghindari Junot. Cowok beraroma sandalwood itu menarik kursi di depan Navy dengan cepat. Dengan cekatan, Junot mengeluarkan setumpuk undangan perpaduan kuning dan ungu dari tas ranselnya. Undanganitu belum diberi bungkus plastik dan berlabel nama-nama orang.
__ADS_1