
membuka buku besar berisi data klien. Pada setiap lembar terdapat catatan rinci soal tanggal pernikahan, desain gaun dan kontak pemesan. Pada halaman terakhir, Navy menemukan nama Rhea. Tetapi isinya masih kosong. Navy belum mengukur tubuh Rhea.
Navy menyalin nomor Rhea, lalu menghubungi sang klien untuk bertemu di toko roti tidak jauh dari butik NMA. Butik rintisan Navy ini memang berada di lokasi strategis, tidak heran ramai pelanggan.
Untungnya Rhea bersedia, kebetulan sekali calon pengantin ini berada di kafe yang dirujuk Navy sebagai lokasi pertemuan.
"Gimana?" tagih Tantri kepo.
"Deal ketemu di Flower Garden, Mbak Tantri," ucap Navy dengan nada kalah.
Tantri cekikikan, tetapi mendorong adik sepupunya segera keluar dari butik.
Navy tidak punya pilihan. Dia pun segera menyalakan motornya. Perasaannya makin tidak enak. Bukan dia yang harus datang menemui orang lain. Sayangnya kondisi ruang kantor yang kotor mengharuskan Navy tetap di luar.
Mengemudi dalam keadaan kepala cenat-cenut memang tidak dianjurkan. Tetapi janji tetaplah janji. Harus ditunaikan. Demikian pula soal meeting untuk melanjutkan rencana pengukuran baju.
Dua hari yang lalu, Rhea mengunjungi butik rintisan Navy. Dia baru saja mengadakan pesta lamaran di rumah. Keluarga bersepakat pernikahan bakal digelar tiga bulan lagi, padahal Rhea sendiri ingin menangguhkan pernikahan sampai dia wisuda dulu. Toh Rhea belum sidang proposal seminar skripsi.
Rhea makin stres karena tiga bulan yang tersisa, semua persiapan harus selesai. Di pikirannya, dia harus memesan gaunnya dahulu, lalu menetapkan EO dan katering.
Rhea bahkan membujuk calon suaminya datang ke kafe sore ini pula. Sejak semalam, cewek itu memohon agar Helmy mau menemaninya konsultasi gaun. Padahal Helmy sudah menyerahkan segalanya pada Rhea. Dia sudah ribet dengan pekerjaan, jangan pula diperkeruh oleh persiapan pernikahan.
Suasana kafe beraroma perpaduan kopi, coklat, dan kue manis itu belum mampu mengenyahkan kegelisahan Rhea. Dia duduk sendirian menunggu kehadiran Helmy. Tatapannya terus terpaku ke ponselnya.
__ADS_1
Navy langsung mendekat ke meja Rhea. Dia sengaja menarik kursinya agak keras, sebab Rhea kelewat sibuk dengan benda persegi canggih itu, sampai tidak sadar Navy sudah memanggil namanya dua kali.
"Sudah dari tadi, Mbak Rhea?" tanya Navy berbasa-basi.
Rhea balas tersenyum.
"Lumayan lah," sahut Rhea seraya meneguk teh lemonnya sampai tandas.
Navy melirik sekitarnya. Dia agak tidak enak mengukur kliennya di tempat umum, tetapi perlahan mengeluarkan buku catatan, bolpoin dan pita meteran.
"Apa kita ukur badan dulu, Mbak?" tanya Navy memberanikan diri.
"Oh, boleh. Tapi pesen makan dulu enaknya, ya," jawab Rhea.
Selama ada orderan, duit bisa mengalir deras, apa masalahnya?
Yang penting kata Mbak Tantri, bayarannya gede. Apalagi penampilan Rhea sore ini memang mewah. Pastinya gaun yang diinginkan agak susah dibuat.
"Ukurannya sudah beres. Lalu untuk tema gaun, keinginan Mbak Rhea apa?" tanya Navy, siap mendata secara akurat soal gaun yang diinginkan Rhea.
"Outdoor, garden party gitu. Kalau ada blink-blink bagus ya?"
"Oh, gaun model monokromatik, ya?" Navy membuka album gaun bermodel monokromatik.
__ADS_1
"Nggak seru, Mbak. Yang tumpuk-tumpuk mirip rok ruffle itu bagus. Tapi ekornya panjang dan lebar."
Binar mata Rhea begitu terang. Navy akui, dia iri dengan cewek-cewek yang bisa menikah di usia muda, di saat Navy sendiri sudah menginjak angka 29 tahun. Setahun lagi, dia masuk klub perawan bangka bareng Mbak Tantri.
Ngenes, batinnya Navy meratapi status jomlo yang awet.
Untuk beberapa waktu, Rhea membolak-balikkan katalog penuh minat. Sementara itu, Navy menikmati sepiring roti sisir untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.
Sangat aneh. Navy melewatkan sarapan dan makan siangnya tanpa merasa lapar sama sekali. Tetapi giliran lepas dari pita meteran, benang, dan kain, perutnya memberontak sangat keras.
Wajar jika aroma manis kue telah menstimulasi selera makan Navy sore itu.
Pada potongan kue yang terakhir, senyum merekah Rhea tertuju pada sosok di belakang Navy. Kebetulan posisi Rhea menghadap ke pintu masuk kafe, sehingga mudah bagi Rhea memantau para pengunjung yang datang.
"Ay!" panggil Rhea makin semangat menyambut pelukan ringan cowok bertubuh tegap.
Aroma sandalwood masih membekas dari tubuhnya yang terbungkus setelan mahal. Seperti halnya Rhea, cowok itu terkesan tajir, jika dilihat dari Rolex melingkar di pergelangan tangan kiri.
Tetapi, potongan rambut belakang yang terlihat jelas kerapiannya di tangan pemilik barbershop Axrilic; cukup menjadi alasan keterlambatan Helmy.
"Maaf bikin lo nunggu lama." Tangan Helmy terjulur ke pipi Rhea, mengusapnya dengan halus dan perhatian.
"Tiga jam kali, Ay. Lo yang lama!" sewot Rhea, sengaja berbisik. Tetapi suara Rhea terlalu keras untuk didengar Navy.
__ADS_1
"Sori. Antriannya.... LO NAVY, KAN?" Calon suami Rhea terperanjat sewaktu duduk di samping Rhea. Dia menatap intens perancang baju pengantin di depannya dengan tidak percaya.