
Navy kira, harinya bakalan baik-baik saja jika menyibukkan diri. Lupa makan dan jarang interaksi justru menjadi bumerang. Tantri mengomelinya tanpa jeda, pada saat itu Navy meledak dan menurut untuk isi perut.
Rhea terus datang menagih gaunnya. Sisi jelek sang pelanggan rese satu ini luar biasa. Mudah berubah dan menuntut gaunnya harus ini dan itu. Jika kemarin kerah sabrina, hari ini pundak terekspos, dan besok berubah lagi. Akhirnya Navy malas mengurus gaun Rhea.
Dia lebih suka melayani orderan baru. Karena itu Rhea uring-uringan ingin melihat gaunnya sejauh mana dikerjakan.
"Ya gimana gue bisa garap kalo lo aja plin-plan. Gue kerjain, beli bahan dan motong, lo mintanya lain. Kan gue yang rugi," tandas Navy kemarin siang, saat Rhea menghubungi lewat panggilan video.
Bukannya jera, Rhea datang ke butik dan memantau progresnya. Dia kecele karena ingin gaunnya cepat jadi. Parahnya, sikap cuek Navy menyebabkan cewek itu mengadu ke Junot.
"Ay, temen lo kok ogah sih bikin gaunnya?" protes Rhea akhirnya lewat percakapan telepon. Cewek itu berdiri di sisi trotoar, menunggu jemputan taksi yang akan membawanya pulang.
"Ogah kenapa?" tanya Junot santai, untung sekarang jam istirahat di kantor.
"Lo diem-diem ngatur gaun gue, kan? Bukan gaun berombak itu lagi?" tuduh Rhea mendadak.
"Ngapain gue ngatur? Kan gue bilang terserah," imbuh Junot. Capek berantem mulu. Tiap hari yang dibahas Rhea adalah topik yang sama.
"Ya abisnya Mbak Navy enggak mau bikin gaunnya," protes Rhea. Kaki jenjangnya mengentak kesal.
"Ngantri, kali." Junot berbaik prasangka. Dia tidak sengaja melihat daftar antrian gaun waktu di butik. Tentunya siapa lebih awal yang pesan pasti bakal dikerjakan lebih dahulu.
"Ya tapi, udah sudah hampir sebulan lho, Ay. Kita udah nyebar undangan, masa gaunnya gak jadi. Gue juga ogah nyewa," tuntut Rhea.
"Oke, kita bahas nanti ya. Gue harus meeting sama bos, nih."
Percakapan terputus, menyisakan debu dan knalpot. Polusi bising itu menambah kemarahan cewek tinggi jangkung itu. Rhea tidak suka merasa sendirian dan diabaikan orang lain. Dia menghubungi temannya, untuk shopping gila-gilaan lagi.
*****
__ADS_1
Navy mengintip dari sisi balkon. Setelah memastikan Rhea pergi, dia mengeluarkan kunci sepeda motor. Namun, sampai di palang pintu, Tantri sudah mencegatnya.
"Mau ke mana?" tanya Tantri.
"Belanja monte."
"Ikut dong," bujuk Tantri. Bosen akut karena berada di butik terus.
"Nggak. Tetep jagain butik lah."
"Ih, yang ngambek digangguin kakak sepupunya gara-gara telat makan," sungut Tantri. "Jadi orang jangan moody-an dong, Nav," imbuhnya lagi.
"Biarin. Sekalian mau cari Geprek Bensu."
"Ya udah. Garapan udah beres, kan?"
"Udah. Tinggal anak-anak yang lanjut tambahan kecilnya."
Kembali cewek itu menikmati waktu luangnya. Kebiasaan belanja sendiri, sembari mengamati harga-harga. Dia tidak mau terlalu kebanyakan pikiran dikejar tuntutan Rhea.
Meski bukan pertama kalinya menghadapi klien rewel, tetapi Rhea tetaplah sosok paling menyebalkan.
Telepon berdering. Navy mengernyitkan dahi heran dengan nomor tidak dikenal menghubunginya. Dia segera mengangkat panggilan itu, siapa tahu ada keluhan lain soal gaun klien yang sudah terkirim tadi pagi.
"Halo?" Sapa Navy.
"Nav, ini gue. Lo di mana?" tembak Junot langsung.
Navy menarik napas tegang. Dia membeku di tempat saat menerima panggilan itu. Lantas dia terkesiap setelah tiga detik yang panjang.
__ADS_1
"Gue nyari bahan. Kenapa?"
"Gue jemput Rhea di butik. Kalian gak ada. Lo gak ngebunuh cewek gue kan?"
Navy terkesiap lagi. Tuduhan apa lagi yang dialamatkan padanya? Rhea bicara apa sampai Junot berkata absurd? Rhea memang menyebalkan.
"Apaan sih?" Navy terpancing.
"Becanda."
"Garing!"
"Sorry. Gue lupa nanya, surat undangan yang kemarin gue kasih ke lo, udah disebar kan?" tanya Junot.
Navy teringat setumpuk surat undangan pernikahan masih tergeletak di sudut ruang kantornya, tidak tersentuh sama sekali.
"Belum lah. Gue gak punya waktu buat nganter surat itu."
"Oke. Gue ada di butik lo sekarang."
"Ha! Oke biar karyawan gue yang nyariin." Navy segera menghubungi Tantri. Tetapi panggilan itu tidak kunjung terangkat. Malahan anak-anak lainnya juga tidak ada yang mengangkat. Sudah keasyikan dengan kerjaan masing-masing.
Navy terperangah. Akhirnya dia urung melanjutkan sesi keliling hunting aksesoris tambahan. Justru lari dengan keranjang belanjaan berisi dua pak kain satin silver tiga meter. Usai membayar kilat, dia balik ke butik.
Untungnya Junot masih menunggu di butik, disertai pandangan mesum Tantri yang terlalu mengagumi. Navy risi dengan kelakuan Tantri. Dia menahan dongkol berkat Tantri yang ogah mengangkat teleponnya. Bagi perawan tua itu, menikmati wajah Junot jauh lebih menyenangkan dibandingkan mengangkat panggilan Navy.
"Sorry nunggu lama. Nggak keburu, kan?" tanya Navy kikuk.
"Santai aja, Nav." Junot tersenyum manis.
__ADS_1
Duh, kenapa ya, makin ke sini, pesona Junot makin menawan? Akrab banget sama Mbak Tantri. Andai sore gini Junot jemput gue pulang dan bikin sirik Tantri yang belum kunjung menikah. Andai hari itu gue lebih dewasa nggak ada kejadian putus pas pacaran. Kita....