
Flower Garden tadinya adalah tempat pengembangan bibit bunga. Beraneka ragam tanaman seperti monstera, hoya, begonema, aglonema dan anturium pernah mahal pada masanya. Namun, tren daun mahal itu berakhir pada tahun 2010. Banyak tanaman yang ditanam penuh perhatian di awal, menjadi tidak terawat.
Pemilik nursery itu menjual bangunannya ke orang lain. Daur ulang tempat agar suasananya makin bagus. Yang tadinya sepi dikunjungi, menjadi penuh orang. Anturium dipertahankan. Di bagian tengah kafe disulap menjadi kolam kecil dengan anak-anak ikan koi warna jingga.
Menu awalnya sederhana. Sup buah durian pocong menjadi primadona. Tetapi karena tempat ini lebih dikenal Flower Garden-nya sebagai pusat bunga, pemilik kafe membiarkan orang-orang memanggilnya dengan nama itu.
Layaknya daun anturium yang berganti daun, dia tetap akan disebut dengan namanya. Akarnya tetap di sana. Bergeming menyaksikan banyak perubahan terjadi di Flower Garden.
Begitu pula dengan kisah Navy di kelas 9 SMP.
Kisahnya terjebak di kafe itu. Bersama cowok yang baru saja meninggalkan bangku dari ban bekas.
Navy menjalin hubungan dengan Helmy. Di kalangan anak-anak SMP, Helmy dipanggil Junot karena kesamaan nama. Supaya sama terkenalnya dengan Herjunot Ali yang main di film Realita Rock n Roll. Junot memanjangkan rambut dengan sengaja dan sering bertingkah sok keren. Perut kempes dan tubuh kerempengnya selalu disaksikan siapa saja dan meneriakkan dirinya adalah Herjunot Helmy yang keren. Pak Samsir, guru olahraga yang terkenal galak sampai nekat menjambak rambut Junot saat kejar-kejaran dalam razia sekolah. Junot kerap kabur, tapi selalu tertangkap dan tidak lama kemudian punya potongam rambut yang aneh.
__ADS_1
Tetapi, Junot tetaplah Junot. Cowok pede overdosis yang sering menggombali Navy.
Seperti halnya kisah-kisah labil remaja, hubungan mereka tidak mulus juga. Usai UNAS SMP, intensitas masuk sekolah mulai jarang. Hadir hanya saat cap tiga jari. Mulai sibuk mendaftar di SMA incaran masing-masing, tetapi Navy menaruh curiga yang besar pada Junot.
Sifat posesifnya menyebabkan Navy curigaan pada Junot.
"Lo suka Lika, ya?" tuduh Navy, matanya sudah berkaca-kaca.
"Siapa yang suka? Orang Lika aja yang ganjen," balas Junot cuek. Tangannya sibuk dengan ponsel Nokia 3310 dan memainkan Bounce. Junot ingin mencetak skornya sendiri.
"Ngarang!" sahut Junot.
Es Duren Pocong yang terkenal itu tidak mampu merendam emosi dua remaja yang bergejolak. Ketidakpercayaan memicu kesalahpahaman.
__ADS_1
"Gue tuh siapanya lo sih? Kalo lo jalan sama cewek lain, terus gue sama siapa?!"
Tidak tahan dituduh macam-macam dan gagal membuktikan cinta sejati yang dituntut Navy, Junot membiarkan kisah mereka berlalu begitu saja.
"Ya udah! Menurut kamu sendiri aku siapamu?" tanya Junot, konsentrasinya pecah. Bola basketnya menancap ke paku begitu saja. Dan dia jengkel kurang sepuluh poin untuk menjejak ke batas skornya.
"Udah?" Pikiran Navy makin berkecamuk.
Junot pergi begitu saja. Malas berantem dengan pacarnya sendiri. Dia bahkan tidak membayar sup buah. Navy yang harus membayar tagihan dan mengomeli sikap tidak bertanggungjawabnya Junot.
Tetapi kegantengan Junot terus membayangi Navy. Sampai sekarang pun, Navy sulit menerima tawaran date cowok mana pun.
Waktu bergulir amat lama. Bumi menjalani selusin revolusi matahari.
__ADS_1
Navy yakin Junot bakal selalu ada di sisinya. Selama itu Navy menunggu kesempatan bisa bertatap muka dengan Junot. Dia gagal move on dan memilih menunggu agar takdir bisa menyatukan hatinya yang tertinggal di Junot. Suatu saat Junot-nya akan kembali. Percaya bahwa jodoh tak akan ke mana. Diperparah pula oleh ego Navy agar tidak mengemis cinta. Navy, si bucin cowok cekring itu menunggunya.