
Navy menoleh sekilas ke sosok paling tidak diinginkan sebelum Tantri ditemuinya sisa hari itu. Doa-doa Navy tidak oernah terkabulkan dalam aksi menghindari Junot. Cowok beraroma sandalwood itu menarik kursi di depan Navy dengan cepat. Dengan cekatan, Junot mengeluarkan setumpuk undangan perpaduan kuning dan ungu dari tas ranselnya. Undanganitu belum diberi bungkus plastik dan berlabel nama-nama orang.
Navy kagum dalam sepuluh hari usai lamaran, Junot dan Rhea sudah menyiapkan surat undangan.
"Pas banget lo di sini. Bantu nyebarin undangan, dong. Lo isi aja temen-temen SMP kita. Lumayan reunian. Bebas lah siapa aja. Ambil satu juga buat lo." Junot mencatat buku daftar, siap mendata. "Lo inget mereka nggak? Anak kelas 9C?" Junot bertanya dengan semringah.
Tidak menyadari retakan yang terus berderak di salah satu bilik jantung Navy.
"Lo aneh. Masa mantan lo yang nyebarin undangan nikahan lo?" Navy menggerutu. Dia mengaduk sedotannya gemas. "Udah gitu, gue disuruh bikin baju nikah calon lo."
"Lo belum move on dari gue?" Junot memainkan alisnya. Terhibur bahwa Navy terganggu dengan permintaan tolongnya.
Mereka sudah belasan tahun tidak bertemu. Wajar jika Junot menjadi orang asing di mata Navy. Akan tetapi, Navy adalah teman pertama di SMP yang Junot temui setelah balik menetap di Jakarta.
"Lo gak mau, Nav?"
Senyuman berbubuh citric acid itu mengembang penuh paksa. Navy tidak masuk daftar istimewa yang harus diundang. Sosoknya tidak bernama. Keberadaannya tidak benar-benar diminta dalam acara itu. Cara Junot menyerahkan surat undangan sama sekalu tidak menunjukkan sebuah ketulusan. Jika Navy istimewa sebagai teman sekelas, mestinya Junot mencatat namanya sebelum memberikan ke Navy. Bukan asal meletakkan ke meja dan main perintah menyebarkan undangan.
Harga diri Navy tentunya rusak gara-gara Junot sendiri.
Nggak etis banget lah.
__ADS_1
"Btw, Jun. Cewek lo punya utang ke gue. Dia belum bayar makanannya di Flower Garden," tembak Navy tidak suka diutangi siapapun yang bukan bagian system circle-nya.
"Hah, seriusan?"
Lo juga belum bayar es duren pocongnya 12 tahun lalu.
Navy mengedikkan bahu. Struk pembayaran makanan masih dia simpan sebagai bukti Navy tidak berdusta.
"Ya ampun. Ya udah gue bayarin makanan lo aja deh, ya sebagai gantinya?" usul Junot. Matanya mengarah ke ayam goreng yang tersisa separuh.
"Telat. Ini kan udah gue bayar duluan." Navy menepis cepat.
"Udah kenyang. Gak."
"Oke deh. Gue traktir lu kapan-kapan."
Ogah ketemu kapan-kapan. Jantung gue mau diiris sampe kaya apa sih sama lo?
Navy makin malas. Tetapi dia bertahan dengan bergeming melanjutkan makan siangnya.
"Tumben lo sendirian di sini. Ngapain, Nav?" tanya Junot kehabisan topik pembicaraan. Tidak enak mengingat Rhea sampai lupa bayar makanan gara-gara terlalu banyak dibanjiri emosinya.
__ADS_1
"Abis belanja."
Makin ke sini, Navy makin jutek. Dia tidak senang berduaan dengan Junot. Kekesalannya masih mendarah daging. Dia makan dengan cepat demi melampiaskan kekecewaannya.
"Lo sendiri ngapain ke sini?"
"Nyebar undangan. Kan ada staf mall yang juga teman SMP kita."
Navy mengangguk. Dia kenal juga. Tetapi jarang bertemu sosoknya. "Oh, Chandra ya. Cepet banget undangannya dicetak?"
"Ya kan kerjaan gue gak jauh sama desain gini, Nav. Gue udah punya banyak konsep undangan pernikahan. Begitu Rhea suka, gue langsung cetak undangan juga. Ini baru keluar dari mesin cetak. Anget kan?" tunjuk Junot ke arah undangan yang masih gres.
Respon terbaik yang dikerahkan hanyalah gumaman rendah. Tetapi kepalanya sudah diserbu banyak pertanyaan soal ketiadaan Rhea.
"Kok lo sendirian nyebar undangan? Emang udah baikan?" todong Navy sambil lalu.
"Iya dong. Langsung diselesaikan malam itu juga. Gak enak berantem lama. Lagian Rhea juga nyebarin undangan ke temen-temennya sendiri. Biar hemat waktu," tandas Junot.
Bersamaan itu pula, arah pandang Junot terkunci. Dia tidak bergerak dan menatap tajam tangga eskalator. Melihat sikap Junot yang kaku, mau tidak mau menarik atensi Navy untuk mengikuti hal yang sama.
Navy makin tercengang.
__ADS_1