
Sebelum lamunan Navy mulai tidak terkendali, gadis itu berdehem. Dia mengambil tumpukan surat yang ditumpuk dengan lapisan kain lainnya. Pantas saja Tantri tidak tahu posisinya. Navy sengaja menyembunyikan tumpukan kertas matt paper, terlalu malas menyadari bahwa penantian 12 tahun berujung sia-sia. Junot bakal menikah dengan Rhea.
"Gimana progres gaunnya Rhea?" tanya Junot makin kepo.
"Puyeng!" Navy memutuskan untuk jujur. Lebih baik masalah ini diselesaikan secara terbuka. Jika Rhea cuma datang mengganggu pekerjaan Navy, dia bakalan mundur sebagai perancang gaun. Masih ada banyak waktu bagi Rhea untuk bereksperimen dengan desainer lainnya.
Sementara Navy tidak. Dia berhadapan dengan belasan klien yang menanti jasanya.
"Gue malah suka gaun yang nggak lo jual itu, Nav." Junot menyahut. "Buat apa dipajang di sana kalo akhirnya lo belum nikah?" sindirnya telak, menyodok ketenangan sang desainer.
*******. Ini gue pake buat nungguin lo. Mau gue bakar gaunnya pun, tapi gue sayang. Lebih ogah dipake Rhea!
Navy tersenyum paksa. Malahan dia berdehem pelan.
"Sama kaya lo yang menghargai konsep pernikahan, gue juga suka konsep kesederhanaan. Gue pengen itu spesial punya gue. Kalo dipake orang lain, pasti bakalan nggak istimewa lagi," tutur Navy.
"Tapi orang lain bakal niru konsep lo gimana?"
"Perbedaannya aja jelas. Bisa aja modelnya bagus, tapi siapa yang bikin? Gue mati-matian sih ngatur diet gue agar postur tubuh gue selalu pas dengan gaun ukuran itu. Sayangnya diet gue selalu gagal karena kerjaan bisa bikin gue suka lupa makan." Sahutan Navy menyimpan terlalu banyak informasi. Dia malu sendiri. Harus ya, Junot tahu usaha Navy biar kurusan?
"Emangnya lo sudah punya calon?"
__ADS_1
Krak.
Ada sesuatu yang patah, tetapi bukan kayu. Bersumber dari jantung tetapi disebutnya hati.
Perasaan Navy makin tidak karuan.
I hope you will come to me, Dear Ex.
"Bakalan menyusul lo. Sudah ah, balik ke rencana pertama maunya calon lo. Kita pake model pertama aja. Disesuaikan sama maunya lo, gue kasih aksen tambahan buat lo. Ntar gue sambungin sama desainer baju manten lo."
Navy jarang seterbuka itu ke klien. Tetapi di depan Junot, seakan dia kembali ke masa muda mereka. Masa di mana semuanya terbuka lebar. Tidak ada pembatas. Segalanya sangat mudah. Junot masih sosok yang sama. Mendengar tetapi tidak peka.
Navy mengambil satu surat undangan, tahu pasti bahwa ada terlalu banyak perbedaan antara desain surat dan gaunnya. Lebih baik disatukan dalam satu konsep.
Navy mencibir, "Bukannya lo dan dia bakalan banyak berantemnya kalo gue komentar?" imbuh Navy.
"Hah?"
Tidak. Navy bukan bumbu penyedap berbentuk lada, yang setiap kata-katanya bisa bikin orang berteriak gatal karena hidungnya kemasukan serbuk lada. Pasti telinga orang yang mendengar satu dua patah Navy bakalan gatal. Navy ogah jadi bumbu penyedap pertengkaran pasangan yang mendekati hari H.
"Emangnya kok bisa kalian nikah? Padahal selera kalian kayaknya beda jauh, Jun?" pancing Navy penasaran.
__ADS_1
Junot melipat kedua tangannya di dada. Tampak berpikir. Sikap mereka sering bersinggungan. Rhea yang banyak maunya, sementara Junot memilih mengalah.
"Karena kita saling mencintaumi, Nav."
Navy mau muntah rasanya. Melihat surat undangan, dia jadi ingat rangkulan mesra di tubuh Rhea sewaktu nggak sengaja ketemu di mall.
"Sejujurnya gue nggak minta banyak. Tetapi nyokap maunya yang sederhana aja. Kebaya tradisional."
Navy tidak berkomentar. Pastiny Junot termasuk sosok penurut, sampai selera nyokapnya saja diperjuangkan.
"Kalo gitu, gue kurangin tumpukan ekor gaun pengantinnya. Jadi satu lapis. Thanks, Jun. Gue punya ide baru. Tetapi lebih enak kalo Rhea tahu konsep desain gue. Sebentar."
Navy mengambil buku sketsa dan pensil. Tangannya dengan cekatan membuat lekuk pinggang yang ramping. Junot cuma mengamati gerakan tangan Navy. Dia terlalu kagum melihat bagaimana cepatnya Navy menemukan ide.
Jika ekor gaun yang diminta Rhea sepanjang 12 meter dan berombak, dengan tiga lapis, sekarang dibuat dari brokat polos sepanjang 5 meter, tetapi aksen kerah kebaya. Di bagian pinggang, akan diberi sabuk tambahan bertabur serbuk berlian.
Navy memotret sketsa dengan kamera ponsel. Dia menyodorkan sketsa itu ke Junot.
"Lo kasih ke Rhea, ya. Gue bakal kebut dalam tiga hari. Abis itu fitting, kalo nggak, terpaksa gue undur diri."
Lagian ogah, dipermainkan mulu sama Rhea. Gue gak suka orang yang inkonsiten.
__ADS_1
Dan, gue belum rela mimpi gue direbut sama keadaan. Gue nggak siap liat lo menikah dengan yang lain, Herjunot Helmy.