
"Padahal gue pengen liat lo fitting baju. Kan model-modelnya bagus-bagus di depan."
"Nggak, ay. Besok aja kalo udah jadi pesanannya. Dan lo gak boleh liat gaun pengantin gue."
"Mitos." Junot nyengir.
"Dibilangin gak percaya. Mau kita putus, Ay?" Rhea mendelik tidak senang, tetapi tangan Junot mencapai puncak kepala cewek itu. Junot mengelus pelan dan penuh sayang, sehingga saksi di depannya makin kegerahan.
AC yang berdengung maksimal di sudut bahkan tidak mampu mengikis kekecewaan Navy. Namun, cewek itu bertahan di atas karpet, dengan sisa potongan kain yang berantakan. Ya, nasibnya nggak beda jauh dengan kain perca. Sebentar lagi dibuang dan dibakar sampai sisa debu.
Junot mustahil menyukai Navy. Dia tidak punya celah apapun dalam menyusup. Tak lama lagi Rhea menjadi Nyonya Helmy.
"Coba aja. Siapa tau jalur rekomendasi desainernya sendiri bisa cocok buat kamu. Eh, Navy, di depan sendiri itu kan ada gaun, paling pojok, biar Rhea pakai dong," pinta Junot tiba-tiba membelokkan arah pandang.
Navy meremang, paham bahwa baju di pojok yang sengaja dipajang di display depan tanpa manekin itu sering menarik perhatian pengunjung. Sang desainernya sendiri menolak gaun sederhana itu dipakai orang lain. Navy membuat gaunnya sendiri. Polanya terlalu rumit dan dia lupa bagaimana memulai awalnya. Itu adalah gaun untuk dirinya sendiri. jika yang lain memakainya, tentu saja tidak akan istimewa. Navy ogah kalau gaunnya dipakai pacar sang mantan.
"Nggak dijual," tandas Navy.
"Tapi kan boleh dicoba," desak Junot nggak mau kalah.
"Ukurannya gak cocok. Kekecilan itu."
__ADS_1
"Maksud lo, gue gendut?" timbrung Rhea salah paham. Dia mendelik horor ke Navy.
"Lah itu kan asumsi lo." Navy mengumpulkan perca di sudut, tidak keberatan perang dingin dengan klien. Sejujurnya cewek itu tidak paham atas dirinya sendiri. Sulit memisahkan perasaan pribadi dan pekerjaan jika sudah berhadapan dengan Junot.
"Ay," rengek Rhea.
Navy menggulirkan bola mata, malas mendengar kepalsuan di balik suara Rhea yang manja. Bagaimana bisa cewek itu menaklukkan Junot, setelah jelas ketahuan selingkuh?
Nggak tahu lagi, Navy pusing. Dia ingin balik ke rumah dan melupakan sore yang panjang ini.
"Nggak kok. Lo udah cantik, pas di pelukan gue."
"Ayang."
"Nav, cobain dong. Kan kita temen."
"Nggak bisa." Akhirnya Navy berbalik, menatap tenang ke dalam legam netra Junot.
Netra itu memiliki terlalu banyak daya magnetis. Navy sekilas tersihir untuk menjelajahi ke dalam ingatan mereka berdua, saat masih SMP.
"Dan kalau kita temen, lo gak lupa buat bayar utang di Garden Flower," imbuh Navy menyesap kopinya. Sayangnya Navy menyeduh kopi tanpa ampas. padahal dengan sisa ampasnya, Navy bisa menyesap sedikit.
__ADS_1
"Oh ya ampun. Sori gue lupa. Gue bayar deh, berapa kemarin?" Junot mengeluarkan dompet kulit hitam. Dia menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.
"Nggak ada uang pas? Kan katanya pas dalam pelukan lo." Mulut Navy tidak bisa direm lagi.
"Ya ampun, butik kayak gini masa gak ada uang pas?" Pancing Rhea.
"Toko gue udah tutup sebelum lo dateng. Lagian duitnya udah direkap rapi sama kasir gue. Dan itu duit bukan punya butik, ya."
Navy meletakkan cangkir ke meja. Dia mengumpulkan materi untuk gaun Rhea. Makin cepat dibuat, makin baik. Dia malas terlalu lama terjebak dalam luka yang ditorehkan Junot dan Rhea.
Navy harus menyudahi secepat mungkin. Dia menyerah atas cintanya pada Junot.
Dasar gak tau malu. Udah gak tanggung jawab, pelupa, malah ngatain butik lagi, Navy membatin dongkol. Jika Tantri tau situasinya, tentu saja dia tidak bakal membukakan pintu butik, sekali pun Rhea tahu ada banyak orang bekerja di dalam.
"Ya sudah, kembaliannya buat lo, Nav," Junot menyudahi perasaan aneh di antara duacewek itu.
"Nggak mau." Harga diri Navy terlalu gede menerima uang lebihan. Dia bukan pengemis.
"Ribet banget. Udah pulang, Ay."
Rhea menarik lengan Junot dengan cepat. Malah, uang itu dilempar Rhea ke meja secara arogan.
__ADS_1
Navy jelas tersinggung menerima perlakuan seperti itu.
Rhea memang luar biasa.