
y tidak kalah terkejutnya mengenali bahwa cowok di depannya adalah Herjunot Helmy. Seluruh tubuh Navy membeku di tempat. Kue di mulutnya memadat, tak mampu tertelan karena, ya, gantengnya membuat Navy makin salah tingkah.
"Aseme Wedhus Gurung Adus!" Navy membatin kecewa. Dia tidak terima semua cowok cakep diembat cewek cantik.
Sementara Navy tidak secantik Rhea.
"Hai." Navy melambaikan senyum sekilas. Parahnya dia berada dalam performa buruk. Tampilannya buluk. Belum mandi sore, dandanannya sejak pagi luntur dan rotinya tersangkut di mulut.
Sesak!
"Kenal Mbak Navy, Ay?" tanya Rhea penasaran.
"Temen gue dari SMP," balas Junot semringah. "Lama gak lihat lo, Nav."
"Ya kan lo yang ke mana? Gue tetep di sini, kok," sahut Navy.
"Kebetulan banget nih gaunnya dipesan ke lo. Harga temen, ya?" pinta Helmy sambil lalu.
Navy tersenyum dongkol. Dia paling malas mendengar harga teman. Semurah-murahnya tarif gaun yang dirancang Navy, tidak sepadan dengan perjuangan hunting semua keperluan ke sana-sini.
"Gue kan sekolah di Bandung. Pas balik, ketemu Rhea. Asik aja pulang udah nemu jodoh."
Navy kembali mengumpat di dalam hati. Kesal bukan main karena Rhea beneran cantik dan cocok bersanding di sisi Junot.
__ADS_1
Kalau saja ada satu cowok buat gue, pasti gak sesak kaya gini ngelihatin orang bahagia.
Dia iri berada di posisi Rhea.
"Congratz, ya," ucap Navy. "Oke deh, kalian pengen baju model gimana?" tanya Navy. Kali ini dia membetulkan posisi duduknya.
Makin cepat pertemuan ini beres, makin baik. Toh, Navy tidak bisa meninggalkan butiknya lebih lama. Dia balik kepikiran dengan payet-payet yang berserakan tadi.
Rupanya pertemuan itu berlangsung agak lama. Rhea dan Helmy kerap bersilang pendapat. Banyak tema yang berubah seiring lembar demi lembar katalog gaun dibuka. Saran Navy sering diacuhkan.
Junot ingin konsep sederhana, tetapi Rhea banyak memilih gaun yang banyak aksen. Entah aksen duyung, cape tambahan di pundak, atau ruffle berekor 11 meter dan belahan rendah. Rhea gemar gaun yang modelnya heboh.
Dan pertemuan itu tidak membuahkan apa-apa. Pasangan yang dimabuk asmara ini mengacuhkan saran Navy.
"Ya udah deh, serah lo." Helmy pasrah. Sudah capek karena harus berdebat lama dengan Rhea. Baru kemarin mereka bahagia bertukar cincin. Sekarang sudah mulai berantem perkara gaun.
"Lo marah, Ay?" tanya Rhea. Intonasi suaranya berubah setelah mendapati reaksi cuek Helmy.
"Siapa yang marah?" Helmy balik tanya.
"Itu bilang terserah?"
"Nggak kok. Gue ikut pilihan lo."
__ADS_1
"Bohong!"
Rhea cemberut. Dua legam bola matanya memantulkan cahaya dari lampu kafe. Tentu saja Rhea nyaris menangis.
"Lo niat nggak sih, nikahin gue? Ini pernikahan yang gue inginkan, Ayang. Kita juga nikahnya di taman. Masa gue harus pakai kebaya model kuno. Ikutin tren dong, Ay!"
"Tapi ya jangan heboh, Rhea."
"Tuh, kan. Nggak manggil Ay. Cuma nama doang. Kamu ngambek, kan?"
Sebagai saksi perdebatan itu, Navy cuma menghela napas. Ini bukan pertama kalinya dia melihat calon pengantin berantem di depannya. Malahan Navy sudah ogah buat turun tangan.
Dia cuma pemberi jasa. Layanannya menciptakan gaun pengantin. Bukan konselor hubungan. Lagi pula, hubungan asmaranya nol. Terakhir punya pacar ya masih SMP.
Tanpa banyak omong, dengan langkah dramatis Rhea yang asal pergi dari kafe, Helmy dibuat malu bukan main.
"Sorry, Nav. Cewek gue emang gini," kata Helmy sambil memijat pelipisnya. Jelas dia bingung harus bagaimana dengan kelakuan Rhea.
"Biasa aja lo. Gue udah catet poin-poinnya kok. Ntar gue sampaikan ke cewek lo."
Junot menganggukkan kepala. Dia menyusul Rhea tidak lama kemudian.
Dan saat itu pula, air mata Navy tumpah mengenang masa lalunya. Di kafe ini pula, perpisahan pernah terjadi.
__ADS_1