
“Bunuh pria yang menghalangi jalanku!” teriak Munir.
Aku memejamkan mata, mulutku kembali mengucapkan doa. Mendadak makhluk-makhluk itu berteriak. Munir panik karena makhluk piaraannya menghilang, mungkin untuk selamanya.
“Rupanya kamu tidak bisa dianggap remeh.”
Pria itu menyeringai dengan sinis lalu mengambil keris yang ada di meja ritualnya dan menghampiri aku.
“Bukankah aku akan menjadi pelengkap tumbalmu, sebaiknya kamu bersabar karena belum waktunya mengakhiri hidupku.”
Ternyata ucapanku tidak berhasil membuat pria itu marah, malah mengeluarkan keris dari sarungnya dan siap menghunus ke tubuhku. Namun, gagal karena Andra tersadar dan langsung mengarahkan tendangannya ke tubuh Munir.
Aku beringsut menuju pintu dengan tenagaku yang tersiksa. Rasa sakit di sekujur tubuhku seperti membelah tubuh.
“Aaaa.” Sekuat tenaga aku menggeser pintu dan berteriak. “Pak Burhan, aku di sini. Tolong aku, ada Andra juga di sini. Pak Burhan ….”
Rupanya aku salah, Pak Burhan sudah dibekuk oleh Narto dan Gopal. Mereka berjalan ke arahku, Pak Burhan sudah babak belur. Suster Dian mengekor di belakang. Kami semua berada di ruangan itu. Andra bersandar ke dinding, perutnya tertusuk keris. Seragam yang dikenakan sudah pekat dengan noda darah.
Aku sempat berteriak dan berontak ketika tubuhku diangkat dan dibaringkan di atas meja ritual. Kedua tanganku diikat, membuatku tidak leluasa lagi untuk bergerak. Sepertinya aku tidak berhasil, seluruh tubuhku benar-benar sakit karena luka. Pandanganku pun mulai kabur, suara Andra dan Pak Burhan masih aku dengar.
“Ibu,” ujarku lirih.
Di sampingku sudah berdiri iblis pengambil nyawa tumbal pesugihan di bangsal kamboja. Wajah makhluk itu sangat menyeramkan, tapi aku sudah tidak peduli. Rasa takut dan bergidik ketika melihatnya sudah tidak ada lagi.
Mendadak aku ingat Ibu, dia mungkin sudah resah karena belum melihatku, jika aku tiada malam ini dia pasti akan sangat sedih.
Makhluk itu mengulurkan tangannya menyentuh tubuhku. Dadaku terasa sakit seakan dihantam batu besar. Dari ujung kaki terasa sakit menjalar naik ke atas. Inikah rasanya sakaratul maut. Tarikan nafasku juga mulai berat.
Ya , mungkinkah sudah akhir dari kehidupanku?
Tubuhku terasa mengejang, mulutku tidak henti berzikir. Terdengar suara Andra dan Pak Burhan memanggilku. Aku memejamkan mata karena rasanya sangat lelah. Namun, aku melihat Ayah. Ayah tersenyum melambaikan tangannya.
Aku ingat ayat yang ayah dan Pak Burhan ajarkan. Dengan pelan aku membacanya. Nafasku mulai teratur, akupun membacanya lagi dan rasa sakit di dadaku perlahan hilang. Makhluk itu menjauh dan berteriak. Dengan lantang aku kembali melantunkan ayat suci.
“Bungkam mulutnya!” teriak Munir.
Entah tangan siapa menutup mulutku, tapi dalam hati aku terus melantunkan doa. Tiba-tiba tangan yang mendekap mulutku perlahan lepas. Aku lihat mereka mundur. Narto, Gopal dan Suster Dian. Ruangan ini didatangi iblis-iblis pencabut nyawa.
Perlahan aku beranjak duduk untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Berikan aku waktu, aku bisa selesaikan tumbal ini. Hanya butuh empat nyawa lagi.”
Keempat orang itu semakin tersudut karena makhluk-makhluk tadi menghampiri mereka. rupanya waktu yang harus dipenuhi oleh Munir sudah habis. Dia gagal memenuhi dua puluh lima nyawa yang harus disiapkan dalam satu bulan setiap tahunnya.
__ADS_1
“Gadis itu, dia memiliki jiwa murni. Arwahnya bisa membuat kalian kuat,” tutur Munir sambil menunjuk ke arahku.
Aku mendengar Pak Burhan melantunkan doa membuat makhluk-makhluk itu terganggu. Pintu ruangan mendadak tidak bisa dibuka. Suster Dian berteriak sambil memukul pintu, dia berharap ada yang mendengar dan menyelamatkannya.
“Kalian akan dapat ganjaran, selama ini kalian menyiapkan tumbal dan kali ini kalianlah yang akan menjadi tumbal,” ujarku lirih.
“Tidak, aku tidak mau. Amel, tolong aku. Andra tolong aku,” teriak Suster Dian.
“Nak Amel, tolong Bapak. Keluarga Bapak di kampung, kasihan mereka,” ujar Pak Narto menghiba.
Aku hanya menggelengkan kepala, karena bukan akan aku yang bisa menolong mereka tapi Allah. Selama ini mereka mengabaikan Allah dan bertindak seakan menjadi Tuhan dengan mengakhiri hidup orang.
Keempat orang itu saling mengumpat dan menyalahkan. Aku masih mendengar Pak Burhan melantunkan doa, juga Andra. Aku kembali melantunkan doa yang sama. Kami tidak bisa menghentikan makhluk-makhluk itu mengambil nyawa Munir, Narto, Gopal dan Suster Dian.
Mereka teriak dan kesakitan. Keempat orang itu menjadi pelengkap tumbal pesugihan bangsal kamboja.
Pandanganku masih menatap keempat jenazah itu. orang-orang yang dibutakan oleh dunia, entah apa yang mereka kejar sampai mendewakan para iblis. Di sana, aku melihat sosok Ningrum. Dia tersenyum dan melambaikan tanganya. Rantai yang sebelumnya membelenggu arwahnya sudah tidak terlihat. Semoga saja dia pergi dengan tenang.
“Andra,” panggil Pak Burhan.
“Aku nggak apa-apa Pak, ini tidak terlalu bahaya. Amel, lihat Amel.”
Pak Burhan menghampiriku.
“Nak Amel.”
“Nak Amel.”
“Amel. Mel, lo denger gue. Jangan tidur Mel, please.”
Andra sangat berisik, aku lelah sangat lelah.
...***...
“Woy, putri tidur. Bangun!”
Aku mengerjapkan mata, menggeliat pelan. Masih merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhku. Bersyukur aku masih selamat, Allah masih menyayangiku.
“Mel, Ibu mau lihat Doni. kamu ditemani Andra ya. Kakakmu hari ini boleh pulang.”
“Hm.”
Aku beranjak duduk, Andra ada di sofa. Padahal dia juga pasien, tapi seenaknya berjalan-jalan dan sekarang ada di kamarku.
__ADS_1
“Harusnya kita satu kamar aja ya, biar nggak repot ngurusin ke sana ke sini.”
Aku malas merespon ucapan Andra. Dengan Doni saja aku tidak diizinkan satu kamar, dengan alasan prosedur rumah sakit. Pintu kamarku dibuka seseorang, aku tersenyum melihat wanita itu berdiri dan menggelengkan kepalanya melihat Andra.
“Bener-benar ya, balik ke kamar kamu.”
“Amel nggak ada yang jagain Bu.”
“Biar Ibu yang jaga, bapak kamu sudah datang.”
“Iya, iya.”
“Gimana Nak Amel, apa yang masih dirasa?”
“Kaki aku Bu.”
“Sabar ya,” ujar Ibu Andra sambil mengusap kepalaku.
Aku hanya menganggukan kepala. Saat ini aku dalam perawatan setelah kejadian malam itu. Sebagai tenaga kesehatan, aku bisa memprediksi luka di kakiku akan berimbas pada masa depanku. Munir menginjak membuat pergelangan kakiku retak dan cedera parah. Bisa dipastikan aku tidak akan bisa melangkah normal seperti sebelumnya.
“Nggak betah Bu, aku mau pulang.”
“Sama, aku juga mau pulang.”
Padahal aku sudah lihat Andra keluar dari kamar, tapi sekarang sudah duduk lagi di sofa. Ternyata dia datang lagi bersama Pak Burhan.
“Nak Amel, sudah lebih baik?”
“Iya Pak.”
“Nggak ada yang ganggu lagi ‘kan?” tanya Pak Burhan.
Aku hanya tersenyum. Kelebihanku masih sama, bisa melihat ‘mereka’, bahkan semalam pun aku melihat sosok tak kasat mata. Sepertinya aku harus lebih menyesuaikan diri dengan kehadiran mereka, selama tidak menggangguku.
“Ada Pak, tuh,” tunjukku pada Andra.
“Gue nggak ganggu kali, lagian mana ada penampakan wujudnya ganteng kayak gini.”
Aku mencebik mendengar Andra yang narsis. Entah rumah sakit akan melakukan apa dengan bangsal kamboja.
__ADS_1