Bangsal Kamboja

Bangsal Kamboja
Bab 24 ~ Belum Berakhir


__ADS_3

“Andra,” ujarku tanpa menoleh ke arah kiri sedangkan Andra masih bergumam doa. Terdengar bunyi rantai, sepertinya Suster Dian melangkah mendekat.


Andra meneriakan ayat suci begitu pun aku membuat suster Dian berteriak dan suara rantai karena langkah menjauh.


“Sudah pergikah?” tanyaku dengan tangan masih dalam genggaman Andra.


“Hm.”


“Aku nggak bohong ‘kan? ‘mereka’ masih ada, bisa jadi bukan hanya arwah suster Dian yang mengganggu kita. Andra kita harus gimana?” tanyaku agak merengek.


Aku pikir semua sudah berakhir ketika malam itu Munir dan ketiga orang lainnya menjadi pelengkap tumbal bangsal kamboja, tapi sosok Suster Dian yang menampakan wujudnya di hadapan ku juga Andra menunjukan kalau ini belum selesai.


“Gue nggak ngerti Mel. Nanti gue tanya Bapak dan Ibu, mungkin mereka pernah tangani hal seperti ini. Sekarang lo makan ya.”


“Ibu kemana kok belum datang juga sih.”


“Kenapa nyari Ibu, bukannya senang ditinggal berduaan,” ujar Doni yang baru datang bersama Ibu dan langsung duduk di sofa.


“Loh belum dimakan juga.” Ibu mengangkat mangkuk berisi bubur, Andra bergeser memberi tempat untuk Ibu yang langsung menyodorkan sendok berisi bubur ke depan mulutku. “Makan, kalau mau cepat pulang."  


Andra hanya terkekeh melihat aku terpaksa menerima suapan dari Ibu.


“Nak Andra makan dulu deh. Nanti mau menginap atau pulang?” tanya Ibu masih dengan tekun menyuapiku.


Aku memberikan tatapan pada Andra, seakan mengatakan kalau dia tidak boleh pergi. Untuk kali ini aku ingin egois, terserah Andra akan menganggap aku memanfaatkannya atau tidak. Rasanya tidak sanggup kalau harus menghadapi gangguan dan urusan yang berkaitan dengan bangsal kamboja sendirian.


“Nginap Bu, ada yang nggak mau ditinggal. Alasannya sih masih trauma.”


Aku mengangkat tangan yang terbebas dari infus lalu membentuk kepalan tangan dan aku tunjukan pada Andra. Ibu memukul tanganku dan Andra pun beranjak menuju sofa. Tidak lama terdengar dia berbincang dengan Bang Doni.


“Sudah Bu, aku nggak suka bubur. Itu makanan orang sakit.”


“Memang kamu lagi sakit, kalau sehat nggak akan berbaring di sini.”


Setelah memberikan aku minum, Ibu meminta aku istirahat dan memperbaiki letak selimut. Memang rasa kantuk seperti membebani kelopak mataku, aku masih melihat Ibu yang membuka cabinet di samping ranjang entah mencari apa dan suara obrolan bang Doni juga Andra.


“Andra, aku jangan ditinggal,” ujarku lirih karena sudah setengah tidak sadar. Suara bang Doni entah mengucapkan apa aku tidak dengar lagi.


...***...


Aku merasa ada yang mengikuti langkahku. Tanpa menoleh aku mempercepat langkah dan anehnya koridor yang aku tuju seperti tiada akhir padahal tadi hanya tinggal beberapa meter menuju pintu. Kenapa juga aku masih berada di sini … bangsal kamboja.


“Tolong!” teriakku sambil berlari di koridor tanpa ujung.


Tunggu! Berlari, kenapa aku bisa berlari. Bukankah kakiku cedera karena ulah si bangs4t Munir sebelum dia mati sebagai tumbal. Aku pun menghentikan lari dan langkahku lalu menunduk menatap kedua kakiku yang terlihat baik-baik saja, bahkan saat ini memakai seragam perawat.

__ADS_1


Setelah kejadian malam itu, aku sudah membuat surat resign dan kemarin baru menjalani operasi agar kakiku bisa berjalan normal. Apa semua itu mimpi atau saat ini aku bermimpi.


“Tidak, kamu tidak bermimpi.”


“Siapa kamu?” aku menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sana.


“Aku bisa menjadi siapapun yang kamu inginkan dan aku bisa membantumu menyelesaikan masalah. Kondisi fisikmu hanya seujung kuku bagiku.”


Aku kembali menoleh ke belakang dan tidak ada siapapun.


“Siapa kamu?”


Tidak ada sahutan.


“Tunjukan wujudmu!”


Srek.


“Hah.”


Aku berbalik karena merasakan hembusan angin dari belakang. Jantungku berdebar lebih cepat, membayangkan kalau yang aku hadapi bukan manusia.


Srek.


Aku kembali menoleh dan berputar pelan memastikan tidak ada siapapun atau apapun di belakangku karena suara itu jelas seperti seseorang yang berjalan dari arah belakang.


Terdengar suara terbahak, lagi-lagi dari arah belakang.


“Hah.” Aku melangkah mundur setelah berbalik dan melihat sosok yang tidak asing … Munir.


“Kamu bukan Munir, dia sudah mati karena ulahnya sendiri.”


“Memang bukan. Aku bisa menjadi siapapun.”


Sosok itu berubah menjadi PAk Narto, Gopal dan juga suster Dian. Suara yang dikeluarkan juga sesuai dengan wujudnya. Dalam hati aku melantunkan doa, yang aku hadapi bukan hantu biasa.


“Percuma, aku tidak akan hilang hanya dengan doamu tadi.”


Apa? Dia tidak bergeming dengan doa yang pernah Pak Burhan dan Ayah ajarkan. Sebenarnya siapa dia?


Aku semakin bingung ketika wujud itu berubah menjadi sosok penyeret arwah yang aku lihat ketika ada arwah korban tumbal.


“Munir memang sudah mati, tapi ritual ini belum berakhir. Perjanjian masih berlangsung dan kamu bisa melanjutkannya.”


“Dasar iblis, aku bukan Munir yang bisa menghalalkan segala cara untuk hidup enak.”

__ADS_1


Srek.


Aku melangkah mundur, karena sosok itu mendekat. Wajahnya seram, membuatku ingin memalingkan wajah.


“Aku bisa berikan apa yang kamu inginkan. Kesehatan, harta, tahta bahkan balas dendam.”


“Tidak!”


“Masih ada waktu sebelum batas penyerahan tumbal tahun depan. Gunakan waktu itu sebaik mungkin dan aku pastikan banyak kemudahan yang akan kamu dapatkan. Hanya dengan menggantikan Munir menjadi pemilik pesugihan.”  


“Tidak! Pergi, aku tidak mau.”


“Mel.”


“Hahh.”


Aku membuka mata dan tarikan nafas berat seakan baru saja melakukan maraton. Terasa keringat membasahi kening dan leherku.


“Ibu.” Aku menatap sekitar dan memastikan aku masih berada di kamar perawatan. Ada Andra dan Bang Doni berbaring di sofa sedangkan Ibu di ranjang tidak jauh dari ranjangku. “Ternyata hanya mimpi.”


Sepertinya masalah Munir dan pesugihannya cukup mengganggu kewarasanku. Setelah kakiku membaik aku harus konsultasi dengan ustadz atau tokoh agama yang lebih paham dengan masalah ini. Aku kembali memejamkan mata, karena masih beberapa jam lagi menuju waktu subuh.


“MASIH ADA WAKTU SAMPAI TAHUN DEPAN, JADILAH PENGGANTI MUNIR.”


Terdengar bisikan di telingaku membuat aku kembali mengerjap dan menoleh, tapi tidak ada siapapun.


“Tidak mungkin nyata, aku yakin tawaran itu hanya mimpi.”


“DUA PULUH LIMA NYAWA DALAM SETAHUN."


“Tidak, aku tidak mau. Ibu! Andra … tolong aku!”


Teriakanku membangunkan semua, yang langsung menghampiri. Andra memastikan kondisiku, Ibu terlihat panik. Aku masih berteriak histeris, apalagi sosok itu muncul dan berdiri di belakang Andra. Hanya aku yang bisa melihatnya.


Makhluk itu menerorku. Entah karena apa, tapi aku tidak tertarik dengan tawaran Iblis itu. Rasanya aku seperti gil4, menunjuk area di mana hanya aku yang bisa melihat sosok iblis itu. Dokter jaga dan seorang perawat mencoba menenangkanku, bahkan Andra yang menangkup wajahku tidak bisa menghentikan aku yang masih berteriak.


“Pergilah Iblis, aku tidak mau.”


“Amel, tenanglah!”


Aku merasakan lenganku ditusuk jarum dan perlahan aku merasakan kantuk juga lemas lalu … gelap.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2