Bangsal Kamboja

Bangsal Kamboja
Bab 31 ~ Kerasukan (1)


__ADS_3

Amel dan Andra sudah kembali ke rumah. Suami Bu Ela ternyata kesurupan, tidak sulit untuk menyadarkannya kembali. Namun, yang terasa aneh dan berdasarkan penjelasan Ibu Ela kalau suaminya sering sekali kesurupan atau ada saja setan yang ikut ketika pulang kerja.


Sebenarnya Pak Eman -- suami Ibu Ela hanya bekerja sebagai penjaga rumah. Rumah mewah yang berada tidak jauh dari pemukiman mereka tinggal.


Kejadian aneh yang diceritakan Ibu Ela hanya sewaktu-waktu, tapi ia sendiri tidak hafal hari atau tanggalnya. Sempat ada pernyataan kalau majikan Pak Eman mendapatkan kekayaan bukan dengan cara yang halal.


“Ayo,” ajak Andra karena aku sempat terdiam di depan pagar rumah. “Malah melamun.”


“Kamu merasa aneh nggak?” tanyaku sudah melewati pagar dan Andra sedang menutup kembali pagar rumah.


“Iya.”


“Kalau gitu sama, kayaknya memang yang dibawa Pak Eman dari tempat kerjanya.”


“Ck, maksud aku bukan aneh itu tapi … kepalaku pusing Mel.”


“Oh, minum obat ya.”


Andra menghela nafasnya, entah apa aku salah bicara karena wajahnya malah cemberut dan dia menguap.


“Lebih baik kamu tidur, kalau bangun nanti masih pusing baru minum obat.”


“Iya, aku perlu tidur. Setelah itu bersiaplah jadi obat.”


...***...


Kebetulan Ibu dan Bang Doni sedang keluar kota, hanya ada Andra dan aku di rumah. Suasana cukup sepi, aku sedang menyiram tanaman. Kegiatan yang sering kulakukan selama tidak lagi bekerja. Sedangkan Andra setelah bangun pamit membeli makanan.


Terdengar ada keributan dari arah rumah Ibu Ela yang hanya terjeda tiga rumah dari sini. Sepertinya Pak Eman kembali kerasukan.


“Ke sana nggak ya,” gumamku ragu-ragu.


Aku khawatir tidak bisa mengatasi makhluk yang ikut dengan tubuh Pak Eman, apalagi Andra sedang keluar. Suasana sudah mendung dan gelap karena menjelang maghrib, waktu yang mendekati sempurna untuk para tak kasat mata menunjukan eksistensinya.


Kran air sudah aku matikan dan selang kembali aku gulung. Bergegas aku melangkah masuk ke rumah, meskipun mulut menggerutu karena Andra belum terlihat. Setelah maghrib ia baru datang, sambil bersiul ceria.


“Jangan cemberut gitu dong, makin gemes deh,” ujarnya sambil mencubit daguku. “Nggak usah marah juga, aku sudah solat dan udah makan. Ini punya kamu.”


“Kenapa nggak makan bareng di rumah aja?” tanyaku dengan kesal.


“Aku makan sate kamu nggak ‘kan nggak suka sate. Udah makan dulu, nggak baik menolak rezeki.”

__ADS_1


Sambil misuh-misuh aku menuju meja makan, kondisi rumah sepi bolak balik ada penampakan, punya suami malah asyik makan di luar bikin orang mikir yang aneh-aneh. Andra menyadari kalau aku kesal dan sebal karena ulahnya, ia pun menghampiri dan duduk di sampingku setelah mengambil air dingin dari kulkas.


“Aku makan sate kambing makanya nggak dibawa pulang.”


Penjelasan Andra membuat lega karena dia tidak ingin menyusahkanku dengan aroma makanan berbau kambing. Aku pun menghabiskan makan malamku dengan lahap. Sast sedang berada di dapur, tepatnya di wastafel cuci piring. Tidak ingin menumpuk cucian kotor. Namun, aktivitasku sempat terhenti karena aku merasakan kedatangan ‘mereka’. Bahkan sempat mencium aroma kemenyan.


Srek.


“Siapa itu?”


Aku memberanikan diri melangkah menuju pintu dapur yang menuju halaman belakang yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian. Jelas-jelas aku dengar ada orang berjalan, sangat jelas. Perlahan aku buka gorden dan menatap keluar, tidak ada apapun atau siapapun.


Ada dua hal yang harus aku cemaskan, orang jahat atau setan. Kalau orang jahat bisa saja melukai, sedangkan setan bisa buat aku ketakutan dan ujung-ujungnya membahayakan juga. Meskipun memiliki mata batin, aku belum ada keberanian melawan ‘mereka’ kecuali ditemani. Kejadian bangsal kamboja menambah sisa ketakutan dalam diriku.


Lagi-lagi aku mencium aroma kemenyan. Siapa orang yang menggunakannya? Mendadak aku ngeri sendiri dan merinding. Saat berbalik aku terkejut lalu berteriak.


“Andra!”


“Kamu kenapa teriak?”


“Kamunya ngapain ada di belakang aku, bikin kaget aja.”


“Amel,” panggil Andra ketika aku merangkak menaiki ranjang. “Aku mau sekarang.”


“Hah!”


Andra mendekat lalu mengusap wajahku, membuat detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Sentuhan tangan Andra padahal baru di wajah sukses membuat tubuhku berdesir.


“Aku ingin membuat pernikahan dan hubungan ini sempurna. Lakukan kewajibanmu,” bisik Andra.


Mau tidak mau, siap tidak siap aku harus lakukan. Sudah menjadi hak dan kewajiban kami, semakin lama menunda dengan berbagai alasan bisa saja menambah dosa. Saat ini aku duduk di tengah ranjang dan Andra memastikan pintu dan jendela kamar sudah terkunci juga mengganti penerangan dengan lampu tidur.


Andra sempat mengucapkan doa dan mengusap kepalaku lalu wajahnya perlahan dekat, dekat dan bibir kami bertemu. Sama-sama amatir, tapi rasanya luar biasa. Padahal baru bibir saja yang bertemu. Entah aku yang sudah terbawa suasana atau memang Andra sangat lihat membuat kami terlena. Pakaianku sudah dilepas begitu pun dengan Andra.


Perlahan sentuhan dan pagutan membuat kami melayang dan sesuatu menghentak di bawah sana membuat aku menjerit pelan.


“Rileks Mel.”


Aku memejamkan mata sambil menggigit bibirku menahan perih dan tidak nyaman, tetapi  aku harus tahan. Cukup lama Andra bergerak sampai akhirnya kami meledak bersama. Dengan nafas terengah merasakan sesuatu yang benar-benar baru dan mungkin akan sering kami lakukan.


“Hah, enak bener Mel. Tahu gini aku nikahin kamu sejak lama ya.”

__ADS_1


Andra menarik selimut untuk tubuh kami, rasanya masih malas untuk beranjak menggunakan pakaian yang sudah mendarat entah di mana. Terdengar Andra mengatakan sesuatu, tapi kantuk sudah menyerang.


Aku terjaga dan merasakan tangan suamiku berada di atas perut. Saat menoleh wajahnya ternyata sangat dekat dan hembusan nafasnya begitu terasa. Baru setengah empat pagi dan belum subuh. Aku beranjak dan mengenakan pakaian yang sejak semalam masih teronggok di lantai. Sempat mengguncang tubuh Andra membangunkannya karena aku ingin ke belakang untuk mandi, rasanya tidak nyaman. Namun, Andra masih lelap dalam mimpinya.


“Hah, udah mau subuh masa takut,” gumamku lalu keluar dari kamar.


Terasa sejuk ketika air membasuh tubuhku dari guyuran shower. Busa sampo dan sabun wajahku membuat pandanganku buram. Tiba-tiba air tidak mengalir, aku mengucek mataku dan melihat ada sosok tidak jauh dari hadapanku.


“Hahhh.” Mataku rasanya pedih dan tanganku meraba putaran shower lalu memutarnya, tapi airnya masih tidak mengalir. Aku meraba dinding mencari handuk biasa tergantung di kapstok dan berhasil, aku memegang handuk.


Srek.


“Amel.”


“Aaaa,” aku berteriak karena mendengar bisikan dari belakang. Saat ingin berlari malah terpeleset dan … bruk. Aku terjerembab karena licin dari busa sabun yang belum dibilas.


Segera aku mengusap wajahku dengan handuk dan memastikan pandanganku. Tidak ada siapapun, lalu siapa yang berbisik tadi. Masih dengan nafas terengah dan terduduk di lantai kamar mandi, tengkuk terasa berat dan sekujur tubuh langsung merinding.


Bibirku ingin berteriak demi merasakan ada sesuatu di belakangku. Entah seperti apa raut wajahku yang jelas saat ini aku sangat takut. Perlahan aku menoleh dan … “Amel.”


“Aaaa.” Aku kembali berteriak karena wajah sosok itu terlihat jelas di depanku. Menyeramkan dengan keriput dan pucat serta lingkar hitam di kedua matanya. Ingin berdiri tapi kembali terpeleset aku merangkak menuju pintu dan sosok terkikik.


“Amel, buka pintunya.”


“A-andra.”


Makhluk itu masih terkikik.


“Amel, buka pintunya.”


Terasa kakiku disentuh oleh makhluk itu, sangat dingin dan kuku-kuku tajamnya seperti menusuk kulit dan perih. Sambil terisak aku berusaha membuka pintu dan … berhasil.


“Amel.” Andra langsung merengkuh tubuhku cengkraman di kaki sudah tidak terasa dan suara tertawa mengikik juga sudah hilang. Anehnya, air shower kembali mengalir.


“Aku takut,” ujarku di sela tangis di dada Andra.


“Sudahlah. Ada aku di sini.”


Entah sosok apa yang tadi hadir dan apa tujuannya. Baru kali ini aku diganggu di dalam rumah sampai se ekstrim itu. Mungkinkah ada hubungannya dengan bau kemenyan semalam atau karena Pak Eman yang kerasukan.


 

__ADS_1


__ADS_2