Bangsal Kamboja

Bangsal Kamboja
Bab 33 ~ Ada kaitannya


__ADS_3

Aku menatap sekitar memastikan makhluk itu benar-benar sudah pergi setelah aku melantunkan doa, hanya dalam hati. Dengan nafas masih memburu dan beranjak duduk, pandanganku masih memperhatikan sekelilingku. Bahkan perlahan menoleh ke lantai, khawatir ia bersembunyi di sana.


“Aneh,” gumamku pelan.


Andra masih terlelap, sepertinya teriakanku tidak mengganggu tidurnya. Sambil kembali merebahkan diri, pikiranku melayang memikirkan kenapa makhluk itu menggangguku. Makin dipikir makin bingung, akhirnya kantuk kembali datang dan aku pun terlelap.


“Hah, jam berapa ini?”


“Hampir subuh,” sahut Andra sedang memakai seragamnya. Aku lambat bangun,untungnya Andra tidak. Seharusnya sebagai istri aku yang membangunkan dan mempersiapkan ia berangkat. “Mandi dululah, mau aku temani?”


“Nggak apa-apa, aku berani.”


Jam lima aku mengantarkan Andra ke depan, membuka pagar dan mencium tangan pria itu yang sempat menanyakan apa aku berani sendirian di rumah. Meskipun semalam sosok itu muncul lagi, aku tetap berusaha berani termasuk saat ini. Andra pun mengucap salam lalu pergi.


Suasana dan langit masih gelap, aku kembali menutup pagar lalu beranjak masuk. Hanya beraktivitas di ruang tamu dan kamar, tidak berani ke dapur menunggu hari terang.


***


Hampir jam sepuluh saat aku tiba di Rumah sakit bersalin, yang menurut informasi sedang membutuhkan perawat. Aku diminta menunggu pemilik klinik yang akan menginterview. Sambil menunggu aku memainkan ponsel, ternyata ada pesan dari Bang Doni kalau ia dan Ibu sudah dalam perjalanan dari stasiun ke rumah.


“Akhirnya nggak sepi lagi,” gumamku.


Terdengar era_ngan dan rintihan wanita, awalnya aku sempat terkejut tapi untuk situasi rumah bersalin seperti ini hal itu biasa. Mungkin Ibu yang akan melahirkan. Rumah sakit ini tidak terlalu besar, bahkan hanya terdiri dari satu lantai dan hanya melayani pemeriksaan kehamilan dan persalinan juga perawatan setelahnya. Dari informasi yang aku baca, mereka akan merujuk ke rumah sakit besar kalau ada pasien darurat atau membutuhkan penanganan lebih intensif seperti operasi atau tindakan lain.


“Mbak Amel, silahkan!”


Aku di arahkan menuju ruang pemilik rumah sakit, melewati koridor di mana ada ruang tindakan. Sempat menoleh dan tepat pintu yang sedang terbuka. Ada seorang Ibu di atas brankar yang siap melahirkan. Langkahku sempat terhenti, bukan karena melihat kondisi pasien itu tapi sosok yang berdiri di samping dokter dan bidan yang membimbing persalinan.


Sosok dengan rambut panjang dan jubah putih kusam dengan banyak noda.


“Mbak Amel.”

__ADS_1


“Iya.” Aku menoleh ke arah petugas yang mengantarku kemudian kembali melihat ke dalam ruangan dan … “Astagfirullah.” Makhluk itu sudah berdiri tidak jauh dariku.


Aku pun bergegas mengikuti petugas tadi dan mengabaikan makhluk yang mungkin saja masih menatapku.


PUJI DANURAJA


Table name yang tertera di meja pria yang sedang bertelepon, aku diminta duduk dan bisa mendengar apa yang dia bicarakan.


“Ganti saja, Eman sudah tidak bisa diharapkan. Terserah sekarang kondisinya bagaimana, bukan urusan kita.”


Deg.


Entah kenapa aku merasa tidak asing dengan nama Eman yang disebutkan pria ini. Akhirnya ia mengakhiri perbincangan via telepon dan mengajakku bersalaman.


“Amelia Citra. Oh, kamu sudah menikah?” tanya pria itu sambil melirik.


“Iya Pak.”


Pria itu meletakan kembali berkas curriculum vitae milikku. Sempat bingung menjelaskan alasan aku berhenti dari rumah sakit. Tidak mungkin aku sampaikan kalau aku terlibat dan hampir menjadi korban pesugihan bangsal kamboja.


“Saya kecelakaan Pak, ada cedera di kaki dan saat itu saya memilih resign.”


Rasanya tidak nyaman dengan tatapan pria bernama Puji ini. Mungkin umurnya kisaran tiga puluh lima, masih terlihat gagah. Namun, tatapan menelisik cenderung genit yang membuatku tidak nyaman.


“Apa kamu sedang hamil?”


“Hm, tidak Pak.”


“Menunda kehamilan?”


Aku menggelengkan kepala, entah apa hubungan pertanyaannya dengan pekerjaan seorang perawat. Sebelumnya banyak rekan kerjaku yang hamil sambil bekerja, tidak ada larangan akan hal itu.

__ADS_1


“Kalau kamu hamil, apa akan resign lagi seperti sebelumnya?”


“Tergantung situasi Pak.”


Pria itu manggut-manggut lalu kembali bertanya di mana aku tinggal. Saat aku sebutkan alamat meski tidak lengkap dengan nomor rumah, Pak Puji mencondongkan tubuhnya ke dekat meja.


“Saya ada karyawan yang tinggal di daerah itu, namanya Pak Eman. Apa kamu kenal?”


Apa yang dimaksud olehnya Pak Eman suami Ibu Ela. Kalau iya, berarti keganjilan atau keanehan di rumah majikannya itu adalah rumah pria ini. Yang diduga melakukan ritual agar cepat mendapatkan kekayaan.


“Sepertinya baru dengar pak, atau mungkin benar kami bertetangga tapi saya tidak kenal. Dulu saya bekerja shift, jadi jarang berinteraksi dengan tetangga,” tuturku mengandung kalimat dusta.


Lagi-lagi pria itu manggut-manggut.


“Amel, kamu saya terima bekerja di sini. Walaupun nanti kamu hamil, tetaplah bekerja. Tidak akan ada larangan, bahkan saya pastikan karyawanku yang hamil akan mendapatkan kebijakan dalam bekerja.”


Aku tidak mengerti kebijakan dan peraturan rumah sakit ini, apalagi Puji tidak mempertanyakan sejauh mana aku bisa menangani pasien malah membahas tentang kehamilan. Sungguh di luar nalar dan logika.


“Bekerja mulai besok, setelah ini kamu temui staf di belakang untuk urus database dan seragam kerja.”


“Baik, Pak. Terima kasih.”


Tidak peduli dengan sikap aneh Pak Puji dan kemungkinan pria itu melakukan pesugihan. Yang jelas aku sudah bekerja lagi dan tidak akan jenuh di rumah. Meskipun harus bersiap mendapatkan penglihatan atau penampakan yang mungkin semakin banyak.


Banyak area yang menurutku agak horror, seperti pojokan dan area yang kotor membuat makhluk tak kasat mata senang berada di sana. urusan database kepegawaian sudah selesai, untuk seragam tidak ada ukuran yang pas jadi aku akan pakai seragam perawat pada umumnya.


Melewati koridor tadi, lagi-lagi aku menghentikan langkah tepat di depan ruang tindakan. Terdengar suara tangisan, rupanya pasien tadi sudah selesai bersalin. Namun, bukan kegembiraan yang tampak tapi kesedihan.


Sepertinya bayi yang dilahirkan Ibu itu meninggal. Aku mendorong pintu semakin lebar dan ada makhluk tadi yang sedang menj!lati kedua kaki si ibu. Mendadak aku merinding dan bergidik, tentu saja tidak ada yang melihat hal itu.


Bukan itu yang membuat merinding bahkan sempat mengusap kepalaku. Makhluk yang akhir-akhir ini menggangguku ada di sana. Membungkuk sambil mengunyah sesuatu. Aku memicingkan mata memastikan apa yang dia makan.

__ADS_1


Rasanya aku mual bahkan ingin muntah, karena makhluk itu sedang mengunyah janin yang digendong seorang pria mungkin ayah dari janin itu. Apa mungkin semua ini ada kaitannya? Hantu itu, dengan Pak Puji juga Pak Eman.


__ADS_2