Bangsal Kamboja

Bangsal Kamboja
Bab 27 ~ Jangan Pergi


__ADS_3

Andra menggendongku ke kamar dan dibaringkan di ranjang, masih menatapku heran sambil mengusap air mata di wajahku.


“Istighfar Mel.”


Aku membaca istighfar dalam hati sambil memandang wajahnya. Apa yang aku lihat tadi begitu jelas, Andra diikuti oleh iblis dengan rantai. Tidak boleh, Andra tidak boleh menjadi korban. Ia sangat baik sudah mendampingiku dan sekarang kami sudah menikah.


“Mel, minum dulu.” Ibu menyodorkan gelas, aku pun beranjak duduk.


Beberapa teguk cukup membasahi kerongkongan yang mendadak kering, walaupun rasa takut itu masih ada. Bang Doni menanyakan kenapa aku berteriak, Ibu dan Andra menunggu jawabanku.


“Biasa, ada … penampakan.”


“Ini pasti nggak biasa, kalau Cuma setan lewat kamu nggak akan histeris itu,” ujar Bang Doni. Andra masih menunggu penjelasanku.


“Kamu ngeyel ya Mel, aku bilang bangunkan kalau ada apa-apa.”


“Cuma ke toilet doang.”


“Amel, Andra benar baiknya kamu ditemani. Untuk kebaikan kita semua,” tutur Ibu dan aku hanya mengangguk pelan.


“Istirahatlah, ini sudah malam.”


Bang Doni dan Ibu keluar dari kamar dan menutup pintu. Andra pun beranjak untuk mengunci dan kembali duduk di sampingku.


“Kamu lihat apa?”


Hanya gelengan kepala yang aku lakukan, bibirku terkunci rapat. Rupanya hal itu tidak membuat Andra pasrah, ia memaksa aku mengatakan dengan jujur apa yang aku lihat sampai aku histeris.


“Amel,” tegur Andra mengangkat daguku dengan telunjuknya.


“A-aku takut.”


Andra mengacak rambutnya seakan frustasi karena belum mendapatkan jawaban. Bagaimana tidak, aku masih enggan mengatakan penglihatan yang membuat gaduh seisi rumah.


“Amel, beberapa jam lalu aku sudah mengucap ijab qabul menikahimu. Jangan ada rahasia diantara kita, jadi katakan apa yang kamu lihat tadi?”


“Aku lihat kamu waktu ambil minum, ketika aku tengok ternyata kamu diikuti iblis dan dalam keadaan terantai. Aku nggak mau kamu jadi korban, aku nggak rela kalau ada keluarga harus menjadi tumbal,” ujarku lalu memeluk Andra erat.


Bang Doni hampir menjadi tumbal dan rasanya tidak sanggup meski hanya membayangkan kalau Andra pun akan mengalami nasib yang sama seperti Ningrum, Munir dan korban lainnya. Andra mengusap punggungku berusaha menenangkan.


“Sabar Mel, kita akan cari jalan keluarnya. Itu hanya setan yang mempengaruhi kamu agar larut dalam ketakutan dan lupa pada Tuhan.”

__ADS_1


“Jangan tinggalkan aku Ndra.”


“Tidak akan.”


***


Andra ada di rumah karena jadwal libur. Aku mendengar dia menghubungi Pak Burhan menyampaikan masalah semalam. Entah apa yang dikatakan oleh orangtuanya karena Andra hanya mengangguk dan sesekali menjadi iya.


“Pak Burhan bilang apa?”


“Nanti beliau hubungi lagi.” Andra mengobati luka di kakiku. Mengganti perban dan mengoleskan salep di bagian bekas sayatan.


“Ada teman Bapak yang lebih paham masalah yang kita hadapi, kalau beliau bersedia nanti kita ke sana untuk minta bantuannya.”


Menjelang siang, Ibu mengatakan ada temanku datang. Aku dan Andra saling tatap, menduga siapa orang itu.


“Marni.”


“Hai Mel, gimana kondisi kamu?”


Ternyata Marni yang datang, kami duduk bersebrangan di sofa dan Andra tentu saja di sampingku. Yang Marni dengar aku kecelakaan sampai harus operasi dan mengajukan resign. Dia tidak tahu aku menjadi korban di bangsal kamboja. Marni adalah rekan kerjaku sebelum bertugas di bangsal kamboja.


“Sekarang bangsal kamboja di jadikan apa?” tanyaku penasaran.


“Kamu tahu siapa yang bertanggung jawab?” tanyaku lagi sambil melihat ke arah pintu.


Andra yang sering di UGD tidak mendengar informasi tentang hal ini, ternyata rumah sakit dikuasai oleh keluarga Munir. Termasuk keputusan pemanfaatan bangsal kamboja yang beralih fungsi.


“Aku turut prihatin dengan kondisi kamu, bahkan sampai harus resign.”


“Terima kasih, ini sudah menjadi takdirku.”


Andra yang melihat gesture tubuhku ikut memandang keluar.


“Ada apa Mel?”


Aku menatap Andra dan Marni bergantian. Kalau aku tidak sampaikan, kasihan Marni dan dia tahu aku memiliki mata batin. Ketika Marni sudah pulang, aku menceritakan sosok yang mengikuti Marni.


“Wajahnya tidak asing, aku seperti pernah melihatnya. Aku nggak mau ikut campur dulu, urusanku sendiri cukup pelik.”


“Mel, mungkin Tuhan kasih kamu kelebihan untuk bantu orang lain. Seperti Marni, mana dia tahu kalau diikuti hantu.”

__ADS_1


Obrolanku dengan Andra terhenti karena dering ponsel Andra. Pak Burhan yang menghubungi dan menyarankan agar aku dan Andra menemui sahabatnya bernama Aldo dan istrinya Yura.


“Kata Bapak, istri Pak Aldo ini sama seperti kamu. Punya kelebihan, tapi tidak bisa mengontrol yang ada kesulitan dan berimbas ke diri sendiri.”


“Tinggal di mana?”


“Di Jakarta juga, besok kita temui mereka.”


Saat ini sudah malam, waktu yang membuatku agak khawatir. Karena gangguan sering muncul di malam hari. Apalagi Bang Doni sedang keluar kota, menemui kerabat yang menawarkan peluang pekerjaan tentu saja rumahku semakin sepi.


Andra sempat melantunkan ayat suci setelah shalat isya, membuat suasana menjadi hangat dan suasana kembali dingin ketika pria itu mengakhiri lantunannya. Ibu sudah mengunci semua pintu dan berpesan pada Andra agar mengawasi aku.


“Sudah ngantuk?” tanya Andra melihatku menguap.


“Hm.”


Aku sudah berbaring dan memejamkan mata, menyadari Andra menyelimutiku. Namun, kantuk sudah sangat mendera. Entah Andra berkata apa aku hanya mendengar seperti gumaman. Tiba-tiba aku membuka mata dan tidak ada Andra di kamar.


“Andra.”


Beranjak dari ranjang, aku melangkah pelan menuju pintu. Terdengar suara yang tidak asing dari luar, suara … rantai.


Jantungku sudah berdendang tidak biasa, rasanya tangan mendadak tremor saat akan menekan handle pintu dan terasa berat. Kedua mataku terbelalak sempurna melihat penampakan di depan kamarku. Andra yang sudah terantai berjalan ke sana ke mari diikuti oleh iblis itu.


“Andra!”


“Amel, tolong aku!”


Andra mengulurkan tangannya ke arahku, entah mengapa sulit untuk aku gapai.


“Andra, jangan pergi!” Aku berteriak dan sudah dalam posisi duduk.


“Amel, kamu mimpi buruk?” tanya Andra yang terjaga karena teriakanku.


“Andra, jangan pergi,” ujarku lalu memeluknya.


Rasanya ingin segera pagi dan menemui Pak Aldo sesuai arahan orang tua Andra. Semoga ada pencerahan ketika bertemu orang itu. Tidak boleh lagi ada korban pesugihan baik keluarga atau orang lain.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2