
Sayup-sayup aku mendengar suara Andra dan entah siapa. Juga instruksi prosedur penanganan pasien. sepertinya aku kembali berada di rumah sakit. Kepalaku rasanya pening dan kakiku sakit sangat sakit.
“Andra, lo minggir dulu.”
“Amel.”
“Sadar Dok, udah mulai sadar nih.”
“Amel, lo dengar gue.” Aku mengangguk pelan.
“Amel, saya dokter Rio. Bisa buka mata kamu!”
Perlahan aku mengerjap dan mendesis pelan. Ada yang mengecek tensi dan detak jantungku. Rasa sakit di kakiku kembali muncul dan merambat naik.
“Amel, apa yang kamu rasakan?” tanya Dokter Rio.
“Sakit.”
“Dimana Mel?” tanya Andra.
“Kaki.”
“Setelah keningnya beres, bawa ke radiologi. Kalau lihat rekam medis, baru tiga minggu lalu operasi nih.”
“Andra." Aku panggil Andra karena takut, aku ingin Andra mendampingiku.
“Gue di sini Mel.” Aku merasakan tangan Andra menggenggam tanganku.”Jangan takut, ada gue. kita cek lagi kaki lo ya.”
Aku hanya ingat tubuhku ditarik oleh sosok Munir dan terjerembab, entahlah setelah itu apa yang terjadi. Ibu pasti khawatir dan aku tidak melihatnya di sini.
“Ndra, Ibu?”
“Ada di luar.”
Setelah pemeriksaan di radiologi, dua orang dokter jaga berdiskusi dan memanggil perwakilan keluargaku. Aku lihat Ibu dan Andra mendengarkan arahan dokter, Andra sempat menoleh ke arahku dan tersenyum.
Aku penasaran dengan hasil pemeriksaan, karena wajah Ibu terlihat khawatir. Sesekali dia mengusap ujung matanya. Tanganku meremmas selimut karena kesal, kenapa aku bisa lemah sampai kalah dengan para iblis itu. Padahal Pak Burhan sudah bilang agar aku kuat.
“Mel.”
“Ibu, aku nggak apa-apa. Kita pulang aja Bu, aku nggak mau di sini,” ujarku merengek seperti anak kecil.
Ibu mengusap kepalaku. Andra mendekat, tapi sibuk dengan ponselnya. Sikap kedua orang ini membuatku bingung. Aku hanya ingin pulang, kalaupun ada gangguan dan aku terlihat seperti orang tidak waras paling hanya keluargaku yang menyaksikan. Kalau di sini, aku bisa direkomendasikan untuk menemui psikolog.
“Saya urus administrasi dulu, Ibu temani Amel.”
__ADS_1
“Aku boleh pulang Bu?”
“Boleh.”
Kami pulang dengan taksi dan Andra ikut pulang. Dia duduk di samping supir, sedangkan aku diapit oleh Ibu dan bang Doni. Tidak ada yang bicara selama perjalanan, mungkin karena lelah dan ngantuk karena saat ini sudah hampir subuh.
Sampai di kamar, Andra mengecek jendela kamarku. Dia berulang kali menutup dan membuka. Ibu mengarahkan dia untuk tidur di kamar Bang Doni, sedangkan aku ditemani oleh Ibu.
...***...
Aku terjaga karena mendengar suara orang berbincang. Setelah subuh tadi, aku tertidur dan ternyata sudah jam sepuluh pagi. Pantas saja sudah terang. Dengan langkah tertatih aku keluar kamar, mendapati orang tua Andra dan juga Ibu yang sedang berbincang.
“Nak Amel sudah bangun?”
Aku hanya tersenyum lalu menghampiri mereka. mencium tangan Pak Burhan dan istrinya lalu duduk di samping Ibu.
“Amel, Ibu harap kamu ikuti apa saran dari kami. Ibu tidak sanggup kalau kamu terus diganggu, sedangkan Ibu tidak bisa bantu karena melihat ‘mereka’ juga tidak.”
“Saran apa?” tanyaku menatap bergantian ibu dan orangtua Andra.
“Kamu akan menikah dengan Andra malam ini,” sahut Pak Burhan dan cukup mengejutkan. Sebenarnya aku bingung apa relasi dari menikah dengan mengatasi gangguan dari iblis pesugihan. “Bapak akan bantu dari jauh, apapun yang terjadi sampaikan. Paling tidak ada Andra yang mendampingi Nak Amel.”
Setelah maghrib ijab qobul pernikahan aku dan Andra pun dilaksanakan dengan sangat sederhana. Aku hanya mengenakan gamis putih dan pashmina, Andra dengan baju koko terlihat tampan seperti biasa. Saat Andra dan Bang Doni berjabat tangan, aku melihat Ibu mengusap air matanya.
Akhirnya aku dan Andra menjadi pasangan halal. Aku pun mencium tangan Andra sesuai arahan Ibu dan dia mencium keningku. Cincin sebagai mahar pernikahan dipasangkan di jari manis. Setelah penghulu meninggalkan rumah, orangtua Andra pun pamit pulang.
Pak Burhan kembali menasehati aku juga Andra yang merespon dengan manggut-manggut.
“Cie udah halal,” ejek Bang Doni sambil terkekeh.
“Apaan sih Bang.”
“Nanti mah bukan teriak karena diganggu setan, tapi teriak lagi enak-enak.”
“Bang Doni!!!”
Ibu dan Andra menghampiriku dengan bergegas, menduga ada sesuatu karena aku berteriak.
“Bu, Bang Doni tuh.”
“Kalian ini malah bercanda. Amel, Andra kalian makan dulu. Ibu belum lihat kamu minum obat Mel.”
“Iya bu, biar saya yang pastikan Amel minum obatnya,” ujar Andra lalu mengajakku ke meja makan.
Saat ini aku dan Andra sudah berada di kamar, aku duduk di tepi ranjang dan Andra di kursi yang ditarik mendekat. Aku menjelaskan kejadian semalam di mana aku sampai terjerembab bahkan melukai kening yang harus mendapatkan jahitan.
__ADS_1
“Ke empatnya menampakan diri?”
“Iya dan mereka dirantai, sama seperti Ningrum. Setiap sosok diikuti oleh Iblis, Iblis yang masuk ke dalam mimpiku.”
“Ya sudah, gue ada di sini. Kalau ada apapun bangunkan gue ya,” ujar Andra lalu beranjak menuju jendela memastikan sudah terkunci, juga pintu kamar. Saat akan mematikan lampu aku melarangnya.
Kami sudah berbaring bersisian, aku menoleh ternyata Andra sedang menatap langit-langit kamar.
“Kamu percaya apa yang aku lihat?” tanyaku sambil menatap langit-langit kamar mengikuti apa yang dilakukan Andra.
“Hm. Meskipun gue tidak bisa melihat semua sosok itu, kadang bisa merasakannya dan akhir-akhir ini penglihatan yang gue dapatkan banyaknya tentang kamu. Mungkin karena kita akhirnya berjodoh.”
“Tapi aneh deh, kenapa malah aku yang diusik mereka. Kenapa nggak keluarganya Munir, atau para pengikut Munir?” tanyaku sambil perlahan kembali duduk.
“Karena hanya kamu yang menyaksikan dan tahu semuanya. Iblis itu tidak akan merayu satpam rumah sakit, dokter atau pasien yang nggak tahu masalah pesugihan bangsal kamboja. Wajar kalau kamu yang diajaknya."
“Iya juga sih.”
“Udah tidur deh atau mau gue buat tidur?”
“Ehh.”
Andra terkekeh. “Bercanda Mel, gue nggak akan maksa minta hak gue sekarang kok.”
Entah jam berapa saat aku terjaga karena panggilan alam. Perlahan aku menggeser tangan Andra yang ada di atas perutku. Ingin membangunkan dia, tapi kasihan karena Andra sedang terlelap. Hanya ke toilet, aku bisa sendiri.
Perlahan aku beranjak dari ranjang lalu meninggalkan kamar. Tidak ada gangguan sampai aku keluar toilet dan mendapati Andra berdiri di dekat meja makan.
“Kebangun ya? Padahal aku sengaja nggak bangunin kamu.” Aku menuju lemari es untuk mengambil air dingin, rasanya sangat dahaga. “Mau minum nggak?”
Tidak ada jawaban, aku pun menoleh dan … brak.
Aku menjatuhkan botol yang aku pegang. Tubuhku mendadak tremor melihat sosok di hadapanku. Andra yang berdiri sambil menunduk, tapi bukan itu yang membuatku takut. Ada sosok lain di belakangnya. Iblis pencabut nyawa tumbal pesugihan. Sosok itu berdiri tepat di belakang Andra dan ada rantai membelenggu Andra -- suamiku.
“Tidak! Tidaaaak!”
Teriakanku sukses membuat Andra, Ibu dan bang Doni keluar dari kamar.
Aku sudah terduduk di lantai menangis dengan menutup wajahku dengan tangan.
“Amel, ada aku di sini.” Andra memelukku, akupun menangis di pelukannya.
Mungkinkah apa yang aku lihat tadi sebagai tanda kalau Andra akan menjadi tumbal juga?
__ADS_1