
Aku sudah tiba di rumah, sepertinya Bang Doni dan Ibu juga sudah tiba karena pagar rumah sudah tergeser. Saat aku mengucap salam ada suara Ibu menjawab.
“Mel, Andra izinkan kamu kerja lagi?”
“Iya bu, jenuh aku di rumah.”
“Baguslah mending kamu kerja, daripada di rumah berisik dan bawel.”
“Ish, Bang Doni apaan sih. Gimana Bu, sudah dapat jodoh untuk Bang Doni?” tanyaku pada Ibu membalas ejekan Doni.
“Ck, rese kamu.” Doni akan menjahiliku, tapi aku berhasil menghindar.
Di kamar saat mengganti pakaian dengan setelan rumah, terdengar suara ibu berbincang. Sepertinya ada tamu. Setelah mengirim pesan pada Andra kalau aku sudah ada di rumah, segera aku keluar dari kamar untuk bantu ibu membuat minum.
Ternyata Ibu Ela dan Pak Eman yang datang, kebetulan mereka ingin menemuiku.
“Amel, sini sayang,” panggil Ibu.
Aku mengangguk pada pasangan suami dan istri di hadapanku lalu duduk di samping Ibu. Mendengarkan maksud kedatangan mereka ingin menyampaikan terima kasih, Pak Eman sudah lebih baik meskipun kadang masih ada gangguan kedatangan hantu yang aku duga adalah sosok yang sama dengan yang waktu itu.
“Suami saya sudah tidak bekerja di rumah itu lagi, selain dipecat saya tidak ingin dia sakit lagi kalau harus bekerja di sana.”
“Pak Eman, kalau boleh tahu siapa nama majikan Bapak?” tanyaku karena penasaran.
“Kami biasa memanggil beliau Pak Raja, istrinya punya usaha salon kecantikan dan Pak Raja sendiri pemilik klinik bersalin atau rumah bersalin gitu Mbak.”
“Nama lengkap Pak Raja, Puji Danuraja ‘kah?”
“Nah betul itu Mbak. Mbal Amel kenal?” tanya Pak Eman.
Aku menghela pelan, entah apa maksud pemilik kehidupan membuat aku berada di tengah situasi ini. Kenyataan Pak Puji atau Pak Raja memiliki pesugihan dan apa yang aku saksikan di klinik tadi membuat kepalaku mendadak pening dan mual.
“Kamu kenal Mel? Loh kamu kenapa sayang, kok tiba-tiba pucat begini. Doni,” panggil Ibu.
“Kepalaku pusing Bu.”
‘Kenapa Bu?”
“Doni, ajak Amel ke kamar.”
Aku sudah berbaring di ranjang dan meminta Bang Doni menutup jendela kamar meskipun jendela itu menghadap taman di samping rumah. Tidak ingin ada sesuatu atau gangguan yang memanfaatkan jendela tersebut.
“Kamu kenapa sih?”
Aku menggelengkan kepala lalu memejamkan mata. Terdengar pintu tertutup, sepertinya Doni meninggalkan kamarku. Sayup-sayup masih terdengar pembicaraan Ibu dengan Pak Eman dan Ibu Ela, membahas sakitnya Pak Eman dan pertolongan yang aku dan Andra lakukan.
“Amel, kamu sakit?”
Aku merasakan pergerakan di ranjang saat aku menggeliat pelan. Ternyata Andra sudah pulang, artinya sudah sore dan cukup lama aku tertidur.
“Kepalaku tiba-tiba pusing.” Aku beranjak duduk, Andra menggeser dari pinggir ranjang ke sampingku.
“Yakin? Ibu bilang wajah kamu pucat dan ….”
“Andra, aku diterima kerja bahkan mulai besok,” ujarku sambil memegang tangannya.
Namun, Andra hanya diam. Aku jadi ragu kalau dia berkenan aku bekerja lagi.
__ADS_1
“Kamu, tidak setuju aku ….”
“Bukan, bukan itu. Aku hanya merasa ada yang mengganjal, perasaanku tidak enak tapi tidak ada penglihatan apapun.”
Masih dengan menatapku, Andra mengusap kepala juga wajahku. Lalu dia tersenyum, membuat aku jadi bingung.
“Kalau kamu tidak setuju aku akan mundur.”
“Jangan, tetap lanjutkan. Aku ikhlas kamu tetap bekerja. Hanya saja aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu,” tutur Andra dan pandanganku pun beralih ke arah lain.
Rasanya aku tidak ingin menceritakan penampakan dan kejadian yang aku lihat tadi juga ada hubungan majikan Pak Eman dengan pemilik rumah bersalin.
“Amel.” Andra meraih daguku dan mengarahkan agar memandangnya. Tatapan kami pun saling terpaut. “Ada yang ingin kamu sampaikan?”
“Hm, itu ….”
“Ada hubungannya dengan kamu tiba-tiba kurang sehat?”
“Mungkin,” jawabku sambil menunduk.
“Amel, kita sudah menikah aku tidak ingin ada rahasia. Waktu belum ada hubungan aja, aku gercep ngejar dan kepo dengan urusanmu. Kenapa sekarang malah main rahasia?”
“Bukan gitu, aku hanya … takut.”
Tubuhku direngkuh oleh Andra ke dalam pelukannya. Kami bukan pasangan romantis, tapi rasa cinta untuk Andra semakin hangat. Bagaimana tidak, dia bisa rasakan apa yang aku sembunyikan.
“Katakanlah!”
“Setelah interview, aku melewati ruang bersalin. Ada pasien melahirkan dan bayinya meninggal. Aku melihat janinnya dimakan, rasanya aku ingin muntah.”
Andra masih bungkam, dia menunggu kelanjutan ceritaku.
Apa yang aku dengar dari Pak Eman, juga pria pemilik rumah bersalin yang kemungkinan besar sama, juga kedatangan makhluk itu semalam. Aku sampaikan pada Andra, kesimpulan kami sama.
“Pesugihan,” ujarku dan Andra berbarengan.
“Urusan dengan bangsal kamboja rasanya masih belum hilang, ini udah ada lagi. Kenapa juga kita harus berada di tengah urusan pesugihan.”
“Jangan gitu, semua ada hikmahnya kok.” Andra mengusap punggungku berusaha menenangkan dan memberikan kenyamanan. “Masih pusing?”
***
“Kabari aku kalau ada apa-apa,” ujar Andra sudah berada di atas motor. “Jangan bawa motor meskipun jarak dekat, kaki kamu belum sembuh total.”
“Iya, paling naik ojek atau minta antar Bang Doni.”
Hari ini Andra masih shift pagi, sedangkan hari pertamaku malah shift dua. Setelah ini aku masih ada waktu untuk istirahat. Mempersiapkan hati dan mental untuk bergelut dengan aktivitas rumah sakit termasuk penampakan yang ada di sana.
“Semangat Amel, kamu kuat dan berani,” ujarku menyemangati diri sendiri.
Setelah dzuhur dan selesai makan siang, Bang Doni mengantarkan aku. ia sempat menatap rumah sakit tempatku bekerja.
“Mel, yakin mau kerja di sini? Kayaknya serem, nanti kamu lihat yang aneh-aneh loh.”
“Yakin Bang. Nggak usah di sini, di rumah juga aku sering lihat yang aneh. Bang Doni ‘kan salah satu manusia aneh yang aku lihat.”
“Awas kamu, nggak bakal aku jemput.”
__ADS_1
“Nanti malam, aku dijemput Andra.”
Aku tidak tau kalau interaksi aku dan Doni dilihat oleh Pak Puji, bahkan pria itu menanyakan siapa Bang Doni. Menduga kalau Doni adalah suamiku.
“Dia abang saya Pak.”
Pak Puji hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku. Beruntung aku ditugaskan di pemeriksaan rawat jalan. Kecuali shift malam aku ditugaskan di UGD. Tidak ingin bertugas di tindakan persalinan, karena akan ada macam-macam penampakan di sana.
“Pokoknya obat ini harus diminum setiap hari. Ini obat penyubur kandungan.”
Aku melewati pantry dan mendengar perbincangan, meski tidak jelas dari pembicaraan dari awalnya karena hanya mendengar masalah penyubur kandungan. Tidak lama Pak Puji keluar dari pantry, berarti suara perintah tadi dari pria itu.
Tidak ingin ikut campur, aku pun tidak ingin kepo apalagi mencari tahu lebih jauh. Bertugas di poli rawat jalan membantu dokter memeriksa kandungan pasien ibu hamil tidak membutuhkan effort lebih. Setelah maghrib kebetulan tidak ada dokter praktek, aku hanya menunggu waktu kerja selesai sambil merapikan ruang periksa.
“Mbak Amel.”
Aku menoleh, ada Mbak Isti office girl yang datang membawa nampan dengan beberapa gelas di atasnya.
“Ini juice mangga. Silahkan dinikmati dan harus dihabiskan, kalau tidak akan mubazir. Kalau mubazir nanti dihabiskan setan.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Isti, macam dia pernah lihat setan saja. Karena terus didesak agar dihabiskan dengan alasan bersisa akan mubazir, aku pun menghabiskan isi gelas berisi juice.
“Terima kasih ya Mbak, enak loh.”
“Sama-sama, besok aku bikinin lagi tapi yang beda.”
Tepat jam sepuluh, aku sudah memakai jaket dan membawa tas. Melakukan absen dan meninggalkan area kerja karena Andra sudah menunggu di depan.
“Astagfirullah,” ujarku melangkah mundur karena hampir menabrak Pak Puji.
“Mau ke mana buru-buru sekali.”
“Pulang Pak.”
“Ah, kalau begitu bisa bareng saya. Tempat tinggal kita searah loh.”
“Maaf Pak, suami saya sudah menunggu.”
“Ah begitu.”
Aku mengangguk lalu bergegas meninggalkan Pak Puji, tidak baik bicara atau berinteraksi dengannya terlalu lama.
Melewati ruang tindakan, langkahku terhenti. Jantungku berdetak lebih cepat bahkan sampai merinding melihat sosok yang sedang menjilat! peralatan persalinan yang berada di wastafel khusus alat medis. Sosok itu menyadari kehadiranku, dia menoleh dan menyeringai.
__ADS_1