
Andra membantuku membilas tubuh, rasa malu sudah menguap karena rasa takut dari sosok tadi. saat waktu subuh ia pun mandi dan memintaku tetap di kamar. Kami beribadah bersama, lalu Andra mengintrogasiku terkait kejadian tadi.
“Aku tidak tahu, sosok itu baru aku temui. Perempuan, sosok itu perempuan tapi aku hanya melihat wajahnya saja.”
Tubuhku masih lemas karena interaksi dengan sosok gaib di kamar mandi, akhirnya pagi ini aku hanya duduk di beranda rumah memandang lalu lalang kendaraan dan orang yang lewat. Andra sedang mencuci motornya.
“Mbak Amel, Mas Andra,” pekik Bu Ela tergopoh-gopoh dan sudah membuka pagar. Membuat aku berdiri dan melangkah menghampiri, Andra pun menghentikan kegiatannya.
“Ada apa Bu?”
“Mbak Amel, tolong suami saya. Dia masih belum sadar, sepertinya masih diganggu.”
Aku menoleh menatap Andra yang menganggukkan kepala, paling tidak kamu harus lihat dulu kondisi Pak Eman sebelum mengatakan bisa atau tidak membantu mereka.
“Iya bu, kami segera ke sana.”
“Tolong ya Mbak Amel,” pinta bu Ela sambil menggenggam tanganku lalu bergegas pulang.
Andra mengakhiri mencuci motornya yang memang sudah hampir rampung, lalu masuk ke dalam sepertinya mengganti pakaiannya.
“Ayo,” ajak Andra sudah berdiri di belakangku.
“Kalau ternyata bukan kerasukan, gimana? Bisa aja itu sugesti atau semacam penyakit kejiwaan.”
“Ya dilihat dulu Mbak Amel, jangan menebak-nebak atau kamu takut ya?” goda Andra sambil berjalan dan kami sudah melewati pagar rumah. Aku mencebik pada Andra.
Ketika menginjakan kaki di pekarangan rumah Bu Ela, aku terdiam sejenak. Rasanya aneh, aku menoleh pada Andra dan dia pun terlihat merasakan hal yang sama.
“Masuk dulu deh,” gumam Andra.
Terdengar isak tangis, sepertinya anak Pak Eman dan Bu Ela. Kami mengucap salam lalu Bu Ela mempersilahkan masuk. Pak Eman sudah dibaringkan di lantai beralas kasur lipat di ruang keluarga. Yang membuatku terkejut adalah tubuh pria itu seperti tidak bernyawa … kaku. Bahkan rahangnya terbuka membuat mulutnya terlihat menganga dan mata terbelalak.
“Ibu, apa sudah dibawa ke dokter. Mungkin kena stroke?”
“Saya sudah memanggil dokter, katanya bukan stroke atau penyakit syaraf. Sesekali rahang bapak bisa mengatup lagi dan bisa bicara, tapi ketika kumat akan seperti ini lagi.”
Aku duduk di samping tubuh Pak Eman, hanya menunduk karena sejak kami masuk ada sosok yang terlihat tidak menyukai kehadiran kami. Awalnya aku tetap menduga kalau Pak Eman terkena penyakit medis, tapi sosok tak kasat mata yang berdiri tidak jauh dari kepala pria itu menjelaskan kalau Pak Eman mengalami gangguan dari makhluk gaib.
Andra menepuk bahuku karena aku masih menunduk dan mengabaikan Ibu Ela yang bicara padaku. Bukan tanpa alasan, aku begini karena enggan menatap sosok itu. sosok yang pagi tadi menggangguku saat mandi.
“Jadi gimana?” tanya Andra saat aku mengajaknya bicara di beranda.
“Aku masih takut interaksi dengan makhluk itu,” sahutku lirih.
“Tapi kita bisa Mel, kamu nggak lihat Pak Eman tidak berdaya begitu. Apa kamu tega kita pulang dan biarkan keluarga ini sedih dengan keadaan kepala keluarganya terbujur kaku tapi masih bernafas.”
__ADS_1
Apa yang dikatakan Andra benar, bisa saja interaksi aku memberikan solusi apa yang harus dilakukan oleh keluarga ini agar Pak Eman kembali normal. Teringat pula masalah bangsal kamboja, di mana aku dibantu oleh Andra, Pak Burhan juga Om Aldo.
“Ayo,” ajak Andra.
Kami pun kembali ke dalam dan kembali duduk di tempat tadi lalu memberanikan diri menatap sosok yang berdiri menatap tajam ke arahku.
“Pergilah, bukan tempatmu di sini,” ujarku pelan tanpa menatap makhluk yang masih berdiri dan terkikik. Hanya aku dan Andra yang terganggu dengan pekikan tertawanya.
Ibu Ela dan kedua anaknya yang masih remaja berpelukan, Andra meminta anak-anak Bu Ela untuk masuk ke kamar atau keluar rumah. Khawatir ada hal yang terjadi di luar nalar dan belum sampai di pikiran dua anak itu.
“JANGAN IKUT CAMPUR, INI URUSANKU DENGAN MANUSIA ITU.”
“Jangan mengancam kami,” ujar Andra, dia bisa berinteraksi dan merasakan kehadiran makhluk itu meski tidak bisa dengan jelas melihat keberadaannya.
“Kamu juga mencampuri urusan dunia, menggangguku.”
“KARENA KALIAN YANG IKUT CAMPUR URUSANKU.”
Brak.
Prang,
“Astagfirullah,” jerit Bu Ela menyaksikan pigura terjatuh dan pecah.
Aku memejamkan mata dan merapal doa, Andra menyentuh tangan Pak Eman dan memijat area tertentu yang mungkin bisa membuka syarafnya peka.
“Pak … Bapak sudah sadar?” tanya Bu Ela menghampiri suaminya yang masih menyesuaikan dengan situasi.
Aku menggeser posisi duduk mundur ke belakang, jelas ada yang aneh. Andra menghampiriku dan menanyakan keadaanku, aku menggeleng pelan.
“Aneh, ini terlalu mudah.”
“Maksudnya?”
“Terlalu mudah kita atasi makhluk itu, sedangkan auranya ….”
“Kuat,” sahut Andra.
Andra tidak mengajakku pulang, kami menunggu Pak Eman sepenuhnya sadar. Saat ia sudah bisa beranjak duduk, Pak Emang mengucapkan terima kasih. Aku pun menanyakan awal Pak Eman tiba-tiba merasakan ini semua.
“Rumah majikan saya Mbak. Ada sesuatu di sana, tadinya saya tidak percaya tapi saya lihat sendiri dan begini jadinya.”
“Ada apa dengan rumah majikan Bapak?” tanya Andra mewakili pertanyaanku.
“Memang banyak yang membicarakan kalau majikan saya mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak halal, bahkan pekerja rumah di sana juga ganti-ganti terus. Malam itu saya tidak sengaja menyaksikan kedua majikan saya sedang melakukan ritual, yang membuat saya takut ada hantu di sana di depan majikan saya yang sedang sujud.”
__ADS_1
“Ritual pesugihan?” tanyaku meyakinkan lagi.
“Sepertinya begitu mbak.”
Aku dan Andra saling tatap, kenapa kami harus terlibat lagi dengan urusan … pesugihan.
***
“Besok kamu masuk shift pagi ‘kan?”
“Hm.”
Aku mempersiapkan seragam untuk Andra, karena ia akan berangkat setelah subuh. Semoga malam ini tidak ada gangguan, rasanya rindu istirahat dengan tenang.
“Ibu balik kapan Mel?”
“Besok atau lusa.”
“Kamu nggak apa, besok aku tinggal?”
“Nggak masalah, rencananya besok aku mau ke Rumah bersalin kasihkan lamaran.”
“Yakin mau ambil peluang itu?”
“Iya, bete juga di rumah. Lama-lama jenuh.”
“Nggak akan jenuh kalau kami sibuk.”
Aku menaiki ranjang dan duduk di samping Andra yang masih asyik dengan game onlinenya.
“Makanya aku cari kerja, biar ada kesibukan.”
Rupanya permainan game Andra sudah selesai, dia menatapku setelah meletakan ponsel di atas nakas.
“Maksud aku sibuk yang lain, urus bayi misalnya.”
“Kamu mau aku jadi baby sitter?”
“Bukan, maksud aku urus bayi-bayi kita dong. Yuk, bikin lagi!"
“Eh.”
Setelah proses bikin anak yang dimaksud Andra, kami pun lelah dan tertidur. Entah sudah berapa lama memejamkan mata, tapi terjaga karena ada usapan di wajahku yang membuat geli. Perlahan aku membuka mata dan ... berteriak.
Hantu yang sempat mengganggu di toilet dan menyiksa Pak Eman. Wajahnya tepat di atas wajahku hanya berjarak kurang lebih dua puluh centimeter. Rambutnya yang terurai jatuh ke wajahku dan menyebabkan geli.
__ADS_1
“Aaaaaa.”
Tentu saja aku kembali berteriak, apalagi sosok itu menyeringai dan terlihat menyeramkan serta tercium aroma busuk.