
Om Aldo mengeraang sepertinya cengkeraman iblis itu sangat kuat. Andra berlari mendekat dan menjerit lalu melangkah mundur ketika tangan nya akan menyentuh iblis itu.
“A-mel,” ucap Om Aldo.
“Amel, kemarilah.” Andra berteriak mengajakku mendekat, tapi aku tidak tahu bagaimana menolong Om Aldo.
Andra menarik tanganku dan kami menyentuh tangan iblis itu agar melepaskan Om Aldo.
“A‘udzu bi wajhillahil kariim wa bi kalimatillahit tammati lati la yujawizuhunna barrun wala faajirun min syarri maa yanzilu minas sama’i, wa min syarri ma ya‘ruju fiha, wa min syarri ma dzara’a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min fitanil laili wan nahari, wa min thoriqil laili wannahari, illa thariqan yanthiqu bi khairin, ya rahman.”
Lantunan doa yang aku baca membuat iblis itu tersungkur dan Om Aldo yang terjatuh lemas sambil mengatur nafasnya yang terengah.
“Aargghhhh.”
“Om Aldo,” ujarku melihat si iblis berteriak dan kembali berdiri.
“Mari bersama lantunkan doa yang tadi.”
Kami bertiga kembali merapal doa, iblis itu berteriak dan kembali tersungkur.
“Jangan berhenti,” teriak Om Aldo lalu mendekat ke sang iblis. “Pergilah ke tempatmu, perjanjianmu dengan Munir sudah berakhir.”
“Belum, aku pasti akan kembali,” jawabnya lalu tertawa.
Om Aldo melantunkan ayat kursi dan ayat lainnya, begitupun denganku dan Andra. Iblis itu kembali berteriak lalu menjadi api dan hilang. Suasana mendadak sepi, hanya terdengar deru nafas kami bertiga.
“A-pa sudah berakhir?” tanyaku entah ditujukan pada siapa.
“Entahlah, semoga saja sudah.” Om Aldo menatap sekitar ruangan yang sebenarnya tidak boleh kami masuki karena tempat kejadian perkara ketika Munir dan ketiga orang lainnya meninggal menggantikan sebagai tumbal pesugihannya sendiri.
“Seharusnya tempat ini dialihfungsikan, setan senang berada di sini karena tempat ini digunakan untuk menyembah mereka.”
“Om Aldo, bisa kita pergi sekarang!” Aku sangat tidak nyaman berada di ruangan ini.
Andra merangkul bahuku, kami pun meninggalkan tempat itu. Lantai tiga belas, bangsal kamboja tampak semakin angker karena belum difungsikan. Entah bagaimana nanti ketika benar-benar dijadikan bangsal persalinan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala membayangkan penampakan yang hilir mudik di tempat itu.
Kami kembali ke rumah Om Aldo dan Tante Yura dan sekarang sudah lewat tengah malam. berinteraksi dengan makhluk gaib membuat tubuhku lelah.
“Bagaimana, apa sudah berakhir?” tanya tante Yura ketika kami tiba di rumah.
“Semoga saja,” ujar Om Aldo. “Kalian istirahatlah, kita bicara lagi besok.”
Aku dan Andra meninggalkan pasangan itu menuju kamar yang kami gunakan selama tinggal bersama mereka.
__ADS_1
***
“Andra, Om sudah kirimkan kontak Arka ke ponselmu. Sesekali kalian bertemulah, kemampuanmu harus diasah.”
Aku hanya menyimak obrolan Andra dengan Om Aldo. Saat ini kami sedang sarapan dan aku akan pamit pulang setelah ini. Berharap urusan pesugihan sudah selesai.
“Amel, kamu jangan sungkan hubungi kami. Jika memang kami bisa bantu, pasti kami akan bantu. Apalagi Burhan itu sahabatku.”
“Iya Om,” jawabku singkat. Sebenarnya aku penasaran dengan putra Om Aldo, jika orangtuanya meminta Andra untuk belajar dengannya sudah pasti kemampuan dan kelebihan orang itu tidak bisa diragukan.
“Tidak perlu takut kalau ada gangguan dan penampakan, itu sudah menjadi makanan orang yang memiliki mata batin.”
“Saya termasuk tidak bisa mengontrol rasa takut ketika melihat ‘mereka’.”
“Nah itu, harus dibiasakan. Ingat Mel, derajat manusia lebih tinggi dari setan.”
Aku tersenyum dan mengangguk, mendengarkan nasihat dari Om Aldo.
“Semoga kamu cepat sehat ya Mel dan sering-seringlah main ke sini.”
“Iya Tante. Terima kasih atas kebaikan kalian, kami tidak akan bisa melewati ketakutan ini kalau tidak didampingi Om Aldo.”
Aku dan Andra akhirnya pulang, saat diperjalanan Ibu sudah kami kabari. Beliau menyambut kedatangan aku dan Andra dengan suka cita. Aku paham kekhawatiran Ibu, karena kejadian Bang Doni juga apa yang aku alami.
“Hari ini shift dua lagi ya?”
Aku menghampiri Andra, sepertinya dia mendapatkan penglihatan lagi. Semoga saja bukan penglihatan tentang keburukan.
“Andra.” Aku mendorong pelan tubuhnya, dia terkejut kemudian istighfar dan mengusap wajahnya. “Kamu lihat apa?”
Andra menatap wajahku kemudian tersenyum dan berakhir tertawa.
“Lihat apa? Bikin takut aja.”
“Sini dong,” ujar Andra sambil menepuk area di sampingnya agar aku duduk.
“Bukan yang aneh-aneh ‘kan?”
“Oh bukan, kalau yang aneh nggak bakal aku sebahagia ini.”
“Terus?”
Andra tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.
__ADS_1
“Aku melihat kita bergandengan tangan. Bukan hanya kita ada bocah-bocah lucu, sepertinya dia lahir dari sini.” Andra mengusap pelan perutku.
“Tidak boleh mendahului Tuhan, mana tahu penglihatan tadi ….”
“Ssttt. Jangan merusak suasana.” Andra memejamkan matanya dan kami hanya diam. Jujur saat ini aku memang lebih tenang, tidak seperti sebelumnya yang dicekam rasa takut.
Sudah lebih dari sebulan pasca kakiku di operasi dan sekarang sudah bisa berjalan normal, meskipun belum boleh beraktivitas berat seperti berlari. Aku menunggu Andra untuk menyampaikan tawaran pekerjaan untukku.
“Rumah bersalin?”
“Iya. Nggak jauh dari sini kok. Naik motor nggak sampai lima menit, kalau jalan kaki ya lumayan. Naik angkot Cuma sebentar.”
“Kamu yakin mau kerja lagi? Rumah bersalin itu apa nggak lebih seram dari bangsal kamboja ya?”
“Udah deh, nggak usah ngingetin masalah itu.”
“Ya nggak gitu, aku hanya khawatir aja.Kita nggak barengan loh, nanti kalau kamu diganggu atau dapat penampakan gimana?”
“Ingat kata Om Aldo, kita harus lawan rasa takut.”
“Aku gimana kamu aja. Eh, berarti kaki sudah oke ya?”
Aku mengangguk dan menggerakan kakiku yang sebelumnya cedera.
“Jadi udah bisa dong?” tanya Andra sambil tersenyum smirk.
“Bisa apa?”
“Unboxing. Kemarin-kemarin aku nggak berani karena kamu masih sakit, kayaknya sekarang sudah aman ya.”
Sepertinya malam ini akan jadi malam yang panjang untuk aku dan Andra. Bukan karena gangguan makhluk halus, tapi sentuhan-sentuhan halus. Siap tidak siap aku harus siap memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri.
“Nanti malam ‘kan,” sahutku.
“Sekarang juga bisa, aku masih kuat kok. Ngantuk karena shift malam bisa diatasi pake kopi.”
“Bang Andra, Mbak Amel,” teriak seseorang dari depan rumah.
“Kayaknya nanti malam deh, itu pasti minta bantuan. Masa kamu tolak,” ujarku pada Andra, pria itu mendengus pelan lalu kami beranjak keluar.
Selama ini setelah pernikahan kami hanya fokus pada kesehatanku dan memanfaatkan kelebihan yang kami miliki untuk membantu orang. Kadang ada tetangga atau kerabat yang diganggu makhluk halus, kerasukan atau bahkan diikuti, kami akan coba mengatasi.
“Bu Ela, ada apa Bu?”
__ADS_1
“Mbak Amel, tolongin suami saya dong.”