
Setelah keluar dari rumah sakit, Andra sempat istirahat beberapa hari karena luka di perutnya. Pria itu kembali bertugas, tapi tidak langsung mengerjakan tugasnya. Pihak rumah sakit juga kepolisian tentu saja memanggil Andra untuk menceritakan kejadian malam itu, karena ada empat korban yang meninggal tidak bisa dijelaskan secara logika.
Sedangkan aku, setelah memaksa pulang masih belum boleh beraktivitas. Pergelangan kaki kanan yang cedera karena ulah Munir, tidak memungkinkan aku bekerja lagi. Sebagai perawat aku dituntut untuk luwes dan aktif, sedangkan kondisi kaki ini malah membatasi pergerakan. Karena kondisiku, pihak rumah sakit mendengarkan penjelasanku di rumah.
“Amel, masuk!” teriak Ibu dari dalam rumah.
“Iya.”
Aku bosan hanya berada di kamar, pindah ke sofa dan menonton TV lalu ke kamar lagi. Kali ini aku menyiram tanaman dengan selang air. Tongkat yang digunakan sebagai tumpuan ketika melangkah aku sandarkan pada pilar beranda. Saat ini sudah hampir maghrib.
Tepat saat aku mengakhiri kegiatan, Bang Doni baru saja pulang. Pria itu masih berada di atas motor melepas helm yang dikenakan, aku mengernyitkan dahi sejak Bang Doni melewati pagar.
“Kamu ngapain sih? Kayak kaki udah sembuh aja.”
“Bang Doni juga ngapain? Udah motor-motoran, itu kepala habis cedera,” ujarku memarahinya, kalau bisa mulutku akan bilang Bang Doni masih hidup karena Allah masih sayang dan perjuangan Ningrum. Meskipun mulut mengoceh, tatapan ku tertuju ke arah pagar.
“Bukan motor-motoran, aku dari kantor. Pengajuan mutasi, kalau nggak disetujui ya resign.”
Aku berjalan pelan menuju kursi panjang di beranda, duduk dan menepuk sisi kosong disebelahku. Doni yang paham, langsung ikut duduk di sana.
“Kenapa?”
“Bang Doni sudah punya pacar?”
“Apaan sih, kepo banget,” sahut Doni lalu menatap kosong ke depan. Raut wajahnya berubah sendu.
“Sebelum kecelakaan aku sering lihat Abang murung, apa karena perempuan yang abang suka atau mungkin memang pacar abang.”
Doni sempat diam lalu menghela nafasnya.
“Ada perempuan yang Abang suka, kami baru saja saling menyatakan perasaan. Entah aku salah apa atau dosa apa. Hubungan baru dua minggu harus kandas.”
Karena Bang Doni tidak melanjutkan ceritanya, aku pun kembali bertanya.
“Kandas, kenapa?”
“Ada musibah, perempuan itu kecelakaan lalu meninggal.”
Deg.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun,” ucapku kembali menatap ke arah pagar lalu mengusap punggung laki-laki yang mana saudaraku satu-satunya.
“Abang masih cinta?”
Dia mengangguk pelan.
“Abang nggak rela dia pergi?”
__ADS_1
Lagi-lagi dia menganggukan kepala.
“Jangan begitu bang, perjalanan gadis itu terhambat karena ulah abang.”
Doni mengernyitkan dahi, lalu menoleh dan menatapku heran.
“Maksud kamu?”
Aku menghela nafas, memberanikan diri membahas hal gaib lagi setelah kejadian bangsal kamboja malam itu.
“Aku pernah lihat ada perempuan yang abang bonceng, beberapa hari sebelum abang kecelakaan. Aku tanya ke Ibu, beliau nggak tahu. Saat itu aku belum sadar kalau yang dibonceng bang Doni itu … hantu.”
“Hah, maksud kamu?”
“Bang Doni tidak ikhlas dengan kepergian perempuan itu, saat ini arwahnya masih ada di dunia. Kasihan bang, dia ikuti abang terus.”
“Kamu … jangan ngaco Mel.”
"Aku serius Bang."
Bang Doni mengusap kasar wajahnya, dari gestur tubuhnya sudah bisa dipastikan kalau dia memang belum ikhlas.
"Bang."
"Dia di mana Mel?"
"Abang diam, dia kemari," ujarku. "Sekarang ada di depan Abang. Bicara Bang, lepaskan dia dan ikhlaskan."
Setelah maghrib ada Andra datang, dia cerita apa saja yang ditanyakan oleh rumah sakit dan kepolisian yang masih memanggilnya terkait bangsal kamboja.
“Kalian mau percaya atau tidak, memang begitu kenyataannya. Bapak saya netral, dia orang luar. Bisa memberikan kesaksian juga kalau yang terjadi yang seperti itu. Pesugihan. Itu kalimat penutup dari gue."
"Menurutmu bangsal kamboja akan diapakan?"
"Gue nggak tahu. Eh, gimana kaki lo? Jadwal operasi kapan sih?"
"Masih minggu depan. Menurut kamu, bangsal kamboja apa masih dipakai untuk pasien khusus?”
“Gue nggak tahu, tapi distribusi pasien ke bangsal itu terbatas. Hanya yang benar-benar butuh perawatan khusus, yang koma mungkin.”
“Hm.”
“Pengajuan mutas guei disetujui, dipindah ke UGD.”
“Hah, serius?”
“Iya.”
__ADS_1
Tidak pernah terpikirkan olehku, meski itu dalam mimpi kalau aku akan terlibat dengan urusan mistis dan menjadi korban. Ingin marah, tapi kepada siapa. Ibu dan orangtua Andra meyakinkan aku kalau apa yang terjadi memang sudah jalan takdir. Cobaan hidup yang memang harus aku lalui.
***
“Baring di sini,” titah Andra, aku pun hnya bisa patuh.
Hari ini adalah jadwal tindakan operasi pergelangan kakiku yang cedera. Meskipun hasilnya tidak akan mengembalikan sepenuhnya, paling tidak aku bisa berjalan tanpa tumpuan tongkat meski agak tertatih. Sudah berada di UGD dan Andra yang menanganiku.
Andra memakaikan gelang pasien, juga memasang infus. Karena beberapa jam lagi aku akan masuk ruang operasi.
“Sudah mulai puasa ya?”
“Hm.”
“Andra, Amel sudah booking kamar. langsung antar ke kamar saja,” ujar dokter jaga yang membaca rekam medis milikku.
“Oke.”
“Semangat ya Amel.”
“Iya Dok.”
Andra mendorong kursi roda diikuti Ibu. Rumah sakit bertanggung jawab akan pengobatanku.
“Oke, sudah sampai. Bisa naik sendiri nggak? Atau perlu gue gendong?”
Aku mencebik lalu berdiri dan berpindah ke ranjang pasien. Andra minta aku istirahat lalu ia kembali ke tempat tugasnya.
“Mel, ibu ke kantin dulu ya. Tadi lupa beli air.”
“Iya bu.”
“Kamu nggak apa, ibu tinggal. Apa ibu panggil suster ya?”
Aku menolak permintaan ibu lalu mencoba memejamkan mata, seperti yang Andra bilang aku sebaiknya istirahat. Entah sudah benar terlelap atau belum, karena aku menyadari kehadiran suster memeriksa keadaanku.
“Amel.”
Perlahan aku membuka mataku, suster itu berdiri di samping ranjang. aku hendak kembali memejamkan mata, tapi urung karena membaca name tag yang dikenakan suster tersebut.
“Astagfirullah.” Aku memekik lalu beranjak duduk dan berseger menjauh dari tepi ranjang. Sosok perawat bername tag ‘DIAN’ itu menunduk.
“Amel.”
“Pergi atau aku bacakan doa dan kamu ….”
“KENAPA KAMU JADIKAN AKU TUMBAL!”
__ADS_1