
Aku bingung, sebenarnya siapa sosok yang terus merubah wujudnya. Ningrum adalah korban, siapa sebenarnya iblis yang diajak kerjasama oleh Munir.
Om Aldo kembali melantunkan doa dan sosok Ningrum kembali berganti wujud menjadi Andra. Bukan hanya aku yang terkejut, Andra dan Om Aldo sama kagetnya denganku. Perlahan tubuhku mulai kembali normal, aku pun berteriak.
“Siapa kamu?”
Sosok itu kembali merubah wujudnya menjadi iblis penyeret arwah.
“Ikuti perintahku maka kamu akan mendapatkan kemewahan.”
“Dasar Iblis,” teriak Om Aldo lalu kembali melantunkan doa. Aku hafal doa yang dilantunkan Om Aldo lalu ikut merapal begitu pula dengan Andra. Sosok itu pun terpengaruh, ia sempat berteriak kemudian menghilang.
“Kemana dia?” Andra mendengus kesal.
“Bawa Amel masuk!”
Andra memapahku ke dalam menyisakan Om Aldo yang masih menatap sekeliling. Aku dan Andra duduk di sofa ruang keluarga, Om Aldo mengunci kembali pintu karena sudah lewat tengah malam. Terdengar langkah kaki, seperti Tante Yura ikut terbangun juga.
“Ada apa ini, kenapa semua ada di sini?”
“Iblisnya benar muncul, tapi belum sempat kita musnahkan dia sudah hilang.”
Tante Yura menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Sungguh pasangan ini benar-benar orang baik dan serius membantu kami.
“Ada yang perlu kalian tahu, rumah ini sepertinya diberi pagar agar makhluk halus tidak bisa masuk,” tutur Om Aldo. “Makanya kalian saya minta tinggal di sini untuk sementara dan jangan terpengaruh atau tergoda untuk keluar seperti tadi.”
“Aku lihat Ayah,” ujarku menyampaikan kenapa bisa aku berada di luar.
“Nah itu dia, iblis itu bisa menyerupai siapapun. Jangan sampai kamu terpedaya lagi.”
__ADS_1
“Lalu bagaimana solusinya Om, kita belum tahu dengan siapa Munir melakukan perjanjian.”
Aldo tampak berpikir, kemudian menghela nafasnya dan menatap aku juga Tante Yura bergantian.
“Sepertinya aku harus melihat langsung bangsal kamboja.”
***
Aku dan Om Aldo sudah berada di lobby rumah sakit, menunggu Andra selesai tugasnya tapi sudah hampir jam sebelas malam pria itu belum muncul juga. Kalau ikut jadwal shift dua, seharusnya sudah selesai sejam yang lalu. Semalam kami memutuskan menemani Om Aldo untuk melihat bangsal kamboja.
“Kita tinggal saja Andra, keburu tengah malam dan auranya semakin kuat.”
Aku hanya mengangguk dan mengirimkan pesan pada Andra kalau kami sudah duluan ke lantai tiga belas. Saat aku menekan angka tiga belas di lift, Om Aldo mengernyitkan dahinya. Aku menceritakan kejadian lift yang aku dan Andra alami.
“Ck, parah juga ya gangguannya.”
Akhirnya kami tiba di lantai tiga belas. Om Aldo bergumam doa saat pintu lift terbuka dan melangkahkan kakinya keluar dari lift. Aku merasakan aura tidak nyaman dan berbeda, sepertinya Om Aldo merasakan hal yang sama.
“Auranya tidak bagus dan sangat kuat. Pantas saja kamu diganggu, aura kita bertabrakan dan ….” Om Aldo menarik nafasnya lalu bibirnya berkomat kamit. “Ada yang datang dan dia … jahat.”
Deg.
Aku pun bergerak dan berdiri di belakang tubuh Om Aldo.
Brak.
Pintu toilet terbuka dan tertutup sendiri. Aku menoleh sekeliling, kenapa tidak ada orang atau keluarga pasien yang menunggu. Jika Om Aldo penasaran dengan toilet dan mulai melangkah ke sana, aku malah menuju pintu bangsal mencoba membuka tapi terkunci.
Ada kertas tertempel di pintu dengan tulisan “BEROPERASI MULAI 30 XX TAHUN XXXX” artinya seminggu lagi. jadi belum ada kegiatan di lantai ini, hanya ada aku dan Om Aldo di sini.
__ADS_1
“Om Aldo,” ujarku lalu menoleh, pria itu sudah memasuki toilet.
Srek.
Suara itu, aku tidak asing dengan suara tersebut.
Srek.
Kembali terdengar dan begitu dekat, seperti dari belakangku. Suara langkah terseret. Aku enggan menoleh, bahkan keringat dingin mulai membasahi dahi serta telapak tangan tanda aku ketakutan. Dengan kondisi kakiku sekarang, tidak mungkin aku langsung berlari.
“Om Aldo,” ujarku lirih karena lidahku terasa kelu untuk berteriak.
Di tengah ketakutan, terdengar denting lift terbuka. Semoga seseorang yang datang dan benar saja itu Andra. Aku kenal dari teriakannya.
“Astagfirullah, Amel! “
Aku tidak berani menoleh ke arah lift yang berada di sisi kiriku. Dari sudut mata aku melihat Andra berjalan pelan ke arahku dan berhenti beberapa langkah dariku.
“Pergi kalian!”
Entah apa yang ada di belakang tubuhku sampai Andra berteriak. Dengan pelan aku memberanikan diri berbalik. Pantas saja Andra sampai berteriak, para demit piaran Munir yang berdiri di belakangku. Hantu wanita, pocong dan genderuwo yang pernah aku lihat di toilet ternyata berdiri di belakangku dan sekarang ada di hadapanku.
Terdengar teriakan Om Aldo dari toilet. Aku memejamkan mata lalu merapalkan doa membuat ‘mereka’ melangkah mundur. Andra menarik tanganku lalu kami menuju toilet.
“Om Aldo,” panggil Andra. di dalam toilet ada garis polisi karena ada pintu rahasia menuju ruang ritual dan pintu itu sudah terbuka.
“Andra,” ujarku menahan tangan Andra.
“Kita harus akhiri Mel dan Om Aldo di sana. Entah apa yang terjadi.”
__ADS_1
Aku pun mengekor langkah Andra menuju pintu dan betapa terkejut mendapati apa yang terjadi di dalam ruang itu, tepatnya di depan meja ritual. Om Aldo dengan tubuh terangkat dengan leher berada dalam cengkraman sosok yang begitu menyeramkan. Sepertinya makhluk itu adalah iblis yang menjadi rekanan perjanjian dengan Munir. Iblis pesugihan bangsal kamboja.