Bangsal Kamboja

Bangsal Kamboja
Bab 25 ~ Belum Ada Judul


__ADS_3

Setelah kejadian aku histeris malam itu, Ibu terlihat semakin sedih. Entah apa yang dia pikirkan, mungkin aku diduga tidak waras. Tidak dengan Andra, dia berpikir aku menyembunyikan sesuatu dan terus mendesakku untuk bicara.


Akhirnya dokter memperbolehkan aku pulang. Perawatan di rumah dengan beberapa kali kontrol lebih disarankan. Aku Masih bungkam, karena belum tentu ada yang percaya kalau pesugihan yang dilakukan Munir belum terputus dan aku menjadi penerusnya. Kepalaku rasanya sakit jika memikirkan kenapa harus aku dan bagaimana terlepas dari hal ini.


“Kenapa tidak tunggu Nak Andra. Kamu mau ke sana sendiri?”


“Ada supir Bu. Aku sewa mobil sekalian supirnya juga.”


“Ibu ikut ya?”


“Nggak usahlah Bu. Siang aku sudah balik kok. Hari ini ‘kan Bang Doni juga harus kontrol.”


 Akhirnya Ibu pun menyerah, ia memilih mengantar Doni daripada ikut aku menemui orangtua Andra. Aku perlu konsultasi dengan Pak Burhan tanpa ada Andra. Tidak ingin mengambil resiko dan semakin membuat Andra terlibat dan aku tahu Andra baru selesai shift malam, dia pasti tertidur dan tidak akan tahu aku mendatangi orang tuanya.


Hampir dua jam akhirnya tiba di kediaman orangtua Andra. pasangan itu terkejut dengan kedatanganku tanpa memberi kabar. Apalagi kondisi kakiku pasca operasi.


“Kenapa nggak bareng Andra saja?”


“Andra sibuk Bu, aku ada perlu dengan Bapak dan Ibu.”


“Ada masalah apa Nak Amel? Ceritakanlah!”


Mulutku tidak langsung bersuara, karena bingung harus sampaikan dari mana. Ibu Andra berpindah duduk di sampingku lalu mengusap punggungku, sepertinya beliau tahu aku gugup dan takut. Akhirnya aku sampaikan gangguan yang masih ada hubungannya dengan bangsal kamboja. Mulai dari penampakan suster Dian, juga kedatangan Iblis dalam mimpi dan membuatku histeris karena hadir di kamar  dan hanya aku yang bisa melihat perwujudannya.


“Bapak kurang paham dengan pesugihan, tapi satu hal yang harus kita yakini adalah Allah tidak tertandingi. Nak Amel boleh takut dengan iblis itu, mintalah perlindungan Allah. Jangan pasrah dan menerima permintaan Iblis. Lawan Nak.!”


“Tapi Pak, saya takut. Saya pasti kalah.”


“Dekatkan diri pada Tuhan, hanya itu kuncinya. Jangan malah lakukan ritual macam-macam untuk mengakhiri pesugihan atau apalah namanya. Itu hanya bujuk setan agar Nak Amel terjerumus.”


Ucapan Pak Burhan ada benarnya, bisa jadi aku memang tidak ada hubungannya dengan pesugihan itu. Pak Burhan banyak memberi nasihat dan amalan sesuai ajaran agama yang harus aku lakukan.

__ADS_1


“Kalau nak Amel takut menghadapi sendiri, hadapi dengan yang lain. Keluarga atau pasangan. Kenapa tidak menikah dengan Andra dan hadapi masalah ini bersama.”


“Bapak bisa aja. Saya nggak pantas untuk Andra Pak, kondisi saya begini dan Andra bisa dapatkan yang lebih baik dari saya,” jawabku tanpa tahu kalau pria yang kami bicarakan baru saja stiba.


“Itu ‘kan menurut lo.”


Aku menoleh sudah ada Andra di tengah pintu.


“Kalau datang tuh ucap salam,” tegur Ibu.


Aku menelan saliva, tidak menyangka ada Andra datang. padahal sudah aku perkirakan dia tidak akan tahu kalau aku mendatangi rumahnya. Pak Burhan akhirnya menjelaskan kedatanganku karena Andra terus mendesak.


“Nah ini nih, dari kemarin gue tanya ada masalah apa. Mulutnya nggak bersuara.”


Andra terus mengoceh aku hanya diam, sampai akhirnya Pak Burhan mengusulkan untuk kami menikah dan menyelesaikan masalah gangguan Iblis pesugihan bersama.


“Menikah!” ujarku dan Andra serempak.


“Dari pada kalian ke mana-mana berdua, lebih baik halalkan hubungan lalu hadapi masalah bersama,” ujar Pak Burhan yang disetujui oleh Ibu. “Tidak mungkin diantara kalian tidak ada perasaan, kalau kemana-mana bersama dan saling support.”


Aku sudah berbaring di ranjang menatap langit-langit kamar. Usulan dari Pak Burhan sudah aku sampaikan pada Ibu dan Bang Doni. Tidak usah tanya Andra setuju atau tidak, dia malah ingin segera dan aku baru tahu kalau dari awal bertemu di bangsal kamboja Andra sudah tertarik denganku.


Ponselku bergetar, ternyata pesan dari Andra kalau dia baru sampai di rumah sakit dan UGD cukup ramai. Aku kembali teringat masalah bangsal kamboja, akan dijadikan apa tempat itu nanti. Mataku baru saja mulai terpejam dan tidur ayam saat mendengar suara di jendela. Suara ketukan.


“Ibu, Bang Doni,” panggilku masih dalam posisi berbaring.


Tidak ada jawaban, aku pun kembali memejamkan mata. Namun, suara itu kembali terdengar dan sontak membuatku langsung membuka mata dan hilang kantuk seketika mengingat hal ini pernah terjadi. Ketukan jendela yang pernah kualami ternyata pocong, apa sekarang gangguan dari makhluk yang sama.


Perlahan aku beranjak duduk. Kamarku tidak menggunakan lampu temaram, karena aku menggunakan lampu biasa meskipun untuk tidur semenjak gangguan-gangguan yang aku alami di bangsal kamboja.


Tok Tok

__ADS_1


Kembali terdengar ketukan di jendela kamar sedangkan jam dinding menunjukan hampir tengah malam. Lampu kamarku berkedip dan aku yakin itu bukan karena arus listrik atau lampunya bermasalah. Ada gangguan sosok tak kasat mata, termasuk ketukan di jendela.


Perlahan aku berjalan menuju jendela, tanganku sudah menyentuh gorden. Ketukan semakin kencang. Aku merapal doa memberanikan diri  untuk menyibak gorden. Bulu kuduk terasa merinding, jelas sudah di luar sana pasti sudah menunggu makhluk gaib.


Brak


Kaca jendela bergetar seperti ada sesuatu yang menabrak.


“Astagfirullah.”


Aku menarik nafas sebelum menyibak pelan gorden jendela dan … sosok Munir berdiri dengan raut wajah penuh kebencian menatapku. Bukan sosok Munir yang membuatku bergetar ketakutan, tapi sosok iblis pencabut nyawa tumbal pesugihan yang berdiri di belakang Munir. Sosok yang hadir di mimpi dan mendatangi aku di rumah sakit.


Mulutku ingin berteriak, tapi rasanya kaku dan lidahku kelu. Bahkan tanganku yang menahan gorden pun sama. Di belakang sana ada juga Gopal, Narto dan Dian. Ke empat sosok itu terantai dan masing-masing diikuti oleh iblis.


“TERUSKAN ATAU IKUT DENGAN KAMI!”


Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan Munir.


“IKUT DENGAN KAMI!”


Bahkan sosok Dian pun mengatakan hal yang sama. Tubuhku masih sulit digerakan, Iblis itu sungguh kuat. Aku pun memejamkan mata dan membaca doa.


BRAK


“Hahh.”


Aku terkejut karena jendela kamarku terbuka dan tangan Munir menggapai ke arahku, berhasil menarik tanganku.


“Tidak! Ibu!” Aku berteriak karena tarikan itu membuat sebagian tubuhku sudah keluar dari jendela.


“Amel. Buka pintunya!” teriak Ibu.

__ADS_1


Akhirnya aku meneriakan ayat suci, sosok iblis itu melangkah mundur. Sepertinya doa yang aku teriakan cukup berpengaruh. Dengan lantang aku kembali meneriakan doa dan … “Aaaa.” Tubuhku tertarik sepenuhnya keluar dari jendela dan terjerembab.


“Amel!”


__ADS_2