
“Amel, kamu kenapa sayang?”
Aku mengerjap pelan lalu menoleh kiri dan kanan memastikan tidak ada sosok suster Dian. Entah yang aku rasakan tadi nyata atau hanya dalam mimpi. Namun, terlihat sangat nyata.
“Kenapa Mel? Kamu bermimpi?”
“Nggak apa Bu. Ponsel aku di mana ya?”
Ibu mengeluarkan ponselku dari tasnya. Ada beberapa pesan dari Andra, juga Bang Doni. Belum sempat aku balas karena sudah ada perawat datang. Aku memastikan betul kalau perawat itu benar manusia.
“Mbak Amel, satu jam lagi kita pindah ke ruang persiapan ya.”
“Kira-kira berapa lama operasinya Sus?” tanya Ibu. Sepertinya beliau agak trauma berurusan dengan rumah sakit, padahal aku pun sama.
“Hanya beberapa jam, Bu. Mungkin agak lama karena ada persiapan dan observasi pasca operasi. Biasanya menunggu tubuh pasien normal setelah pengaruh obat bius hilang.”
...***...
Jam lima sore aku sudah dipindahkan lagi ke kamar perawatan, sepertinya obat bius baru hilang sepenuhnya. Rasa sakit di area operasi mulai terasa. Bukan hanya ibu yang menunggu saat aku dalam tindakan, ada Andra dan bang Doni juga.
“Kalau ada keluhan bilang sama Ibu, nanti Ibu panggil dokter.”
Aku hanya mengangguk pelan, karena kedua mataku rasanya ingin terpejam. Sayup-sayup aku mendengar suara Bang Doni dan Andra berbincang. Sepertinya aku tertidur, entah berapa lama yang jelas sekarang sudah gelap.
“Bu.”
Tidak ada sahutan. Aku menoleh ke arah sofa tidak ada siapapun di sana.
“Pada ke mana sih?” gumamku sambil menggeser tubuh, rasanya pegal padahal baru beberapa jam berbaring.
Brak.
“Astagfirullah, ngagetin aja.”
“Eh, sorry.”
__ADS_1
Andra keluar dari toilet lalu mendekati ranjang dan duduk di kursi yang sebelumnya ditempati ibu.
“Ada keluhan?” tanya Andra sambil mengecek jarum dan selang infus.
“Ada.”
Andra langsung menatapku.
“Penge pulang, aku trauma di sini. Ibu dan Bang Doni ke mana sih?”
“Ke kantin, gue yang minta mereka istirahat dulu.”
“Jangan tinggalin aku sendiri, meskipun aku sedang tidur jangan biarkan aku sendiri.”
Andra terkekeh, “Nggak usah segitunya kali.”
“Aku serius Ndra. Tadi pagi, setelah kamu pergi ada yang datang dan aku yakin itu bukan mimpi.”
“Siapa yang datang?”
“Dian, Suster Dian.”
“Kamu percaya aku ‘kan?”
Andra berdecak lalu menyodorkan gelas berisi teh manis hangat. Dia bilang saat aku tertidur ada perawat yang mengantarkan minum, aku sudah boleh makan dan minum setelah tindakan operasi. Hanya sanggup menghabiskan setengah gelas, karena saat ini ada hal lain yang bagiku lebih penting.
“Andra, kamu kok diam aja sih? Nggak percaya kalau aku tadi ….”
“Ssttt, aku percaya. Sudahlah, nggak usah dibahas lagi.”
“Tapi?”
“Amel, sekarang kamu fokus dengan kesehatan aja deh.”
“Pasti ada yang terjadi, kamu sembunyikan sesuatu dari aku ‘kan?”
__ADS_1
“Amel.”
“Kalau nggak mau jujur, keluar! Biarkan aku di sini sendiri, sebentar lagi Ibu dan Bang Doni balik kok.”
“Mel, bukan gitu.”
“Keluar!”
“Oke, gue cerita tapi kamu tenang dulu.”
Aku pun diam dan mengatur nafasku karena sempat emosi bahkan bicara dengan nada setengah menghardik.
“Waktu aku shift malam, ada salah satu petugas yang lihat suster mondar-mandir di depan UGD. Tampangnya kusut dan kakinya terantai.”
“Maksud kamu dia benar suster Dian?”
“Gue nggak tahu Mel, karena nggak lihat langsung. Bisa jadi salah lihat atau ….”
Brak
Aku dan Andra menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka seperti dihentak kasar. Tidak ada seorang pun berdiri di sana. Tubuhku rasanya merinding, fokus kami berdua masih ke arah pintu. Namun ….
“Kalian kejam.”
Deg.
Suara itu berasal dari sisi lain, aku dan Andra perlahan menoleh.
“Astagfirullah. Andra,” panggilku karena dengan kondisi ini aku tidak bisa berlari atau menghindar. Sedangkan sosok itu berdiri tidak jauh dari sisi ranjang bersebrangan dengan Andra. Sosok yang sedang kami bicarakan, dengan wajah menunduk.
Andra berdiri lalu melantunkan doa, tanganku digenggam oleh pria itu.
“HENTIKAN. MENGAPA KALIAN KEJAM, KENAPA JADIKAN AKU TUMBAL!!!!!” Sosok itu berteriak lantang.
Dalam hati akut merapal doa, tapi pandangan enggan menatap ke arah itu.
__ADS_1
“Pergilah Dian, dunia bukan tempatmu lagi. Apa yang kamu terima adalah balasan karena ulahmu selama ini. Bukan salah kami.”
“AKU TIDAK BISA PERGI, AKU TERIKAT DAN KALIAN HARUS IKUT.”