Bangsal Kamboja

Bangsal Kamboja
Bab 28 ~ Dia ....


__ADS_3

Aku dan Andra dalam perjalanan menuju kediaman pria bernama Aldo teman dari orangtua Andra.Tempat tinggal pasangan itu cukup mewah dan hanya ditinggali oleh sepasang suami istri Aldo dan Yura.


Ternyata kehadiran kami sudah ditunggu karena Pak Burhan sudah mengabari mengenai kedatangan kami.


“Ini pasti Amel menantu Pak Burhan ya.”


“iya tante.”


Tante Yura -- istri Aldo --  terlihat sangat ramah dan masih muda, padahal dia mengaku putranya sudah menikah dan seumuran dengan Andra.


“Jadi kalian bekerja di rumah sakit?”


“Saya masih, tapi Amel sudah resign.”


Tante Yura mendengarkan dengan baik penjelasan Andra, termasuk alasan berhenti dari pekerjaan. Tidak lama datanglah Aldo dan menyalami aku juga Andra.


“Sorry, baru beres meeting online. Jadi gimana, apa yang bisa kami bantu?”


Andra dan aku saling tatap, akhirnya aku menceritakan awal mula kejadian di bangsal kamboja. Pasangan itu terlihat menyimak dengan baik, sesekali Pak Aldo mengernyitkan dahi dan mengusap dagunya.


“Tante dulu seperti kamu, tapi beruntung sekarang mata batin sudah tertutup dan pengalaman pertama melihat ‘mereka’ ya di rumah sakit.”


“Andra, Amel, pesugihan itu semacam perjanjian dengan ritual dan kesepakatan antara manusia dengan iblis demi mendapatkan sesuatu secara cepat. Biasanya mencari kemewahan dan menurut cerita kalian, pesugihan yang terjadi di bangsal kamboja belum berakhir.”


Penuturan Aldo membuat aku dan Andra kembali saling tatap dan Andra mengusap punggung tanganku.


“Lalu kami harus bagaimana? Saya tidak mau Andra jadi korban.”


“Tidak akan ada korban lagi, akhiri perjanjian itu.”


“Tapi bagaimana caranya, saya dan Amel hanya berada di waktu dan tempat yang salah,” sahut Andra membuat Aldo kembali mengusap dagunya dan menunduk. Pria itu terlihat memikirkan sesuatu sampai Tante Yura menegurnya.


“Bantuin aja langsung, jangan bertele-tele. Kasihan Amel, sudah jadi korban. Setelah ini hidupnya belum tentu senyaman dulu,” ujar Tante Yura.


“Sabar sayang, kita pasti akan bantu,” sahut Om Aldo yang tersenyum pada istrinya.

__ADS_1


“Jadi, apa yang harus aku lakukan agar semua ini berakhir?” tanyaku lagi.


“Kita harus pastikan dulu Munir melakukan perjanjian dengan iblis yang mana, setelah itu baru kita akhiri perjanjian itu.”


“Ada sosok yang sering muncul baik di dunia nyata juga mimpi saya, iblis yang menyeret nyawa tumbal pesugihan.”


Namun, Om Aldo menggelengkan kepalanya. Entah apa yang salah, padahal aku sudah menjelaskan sesuai dengan semua yang aku tahu.


“Iblis bisa menjelma menjadi apapun dan siapapun untuk menggoda dan memperdaya manusia. Bisa jadi sosok yang kamu maksud bukan yang kalian cari.”


“lalu bagaimana kami mengetahui dengan siapa Munir melakukan perjanjian?” Andra pun sudah tidak sabar untuk bertanya.


“Apa kalian bisa tinggal di sini?” tanya pria itu membuat aku dan Andra heran. “Hanya sementara, saya perlu melihat siapa sosok yang mendatangi kamu?”


“Bisa Om, kami ingin ini segera berakhir,” sahut Andra.


“Tapi, apa ‘mereka’ akan muncul juga di sini?” tanyaku khawatir jika di sini makhluk-makhluk itu malah tidak ada menampakan diri dan menganggap aku juga Andra.


“Pesugihan bangsal kamboja, tapi sosok itu muncul juga di tempat tinggal kalian. artinya bukan masalah tempat, tapi memang kalian sedang digoda dan dihasut agar bersekutu dengan iblis.”


***


“Belum tidur?”


Andra sudah menaiki ranjang dan ikut berbaring di sampingku, dia baru saja menghubungi orang tuanya menjelaskan apa yang diminta oleh Om Aldo. Ibu sudah aku kabari sejak tadi siang kalau kami akan menginap di kediaman Tante Yura.


“Belum ngantuk, namanya juga di tempat orang. Andra, gimana kalau iblis itu tidak akan muncul?”


“Sudahlah, kita jalani saja dulu.”


Aku dan Andra sempat berbincang sampai akhirnya kantuk datang dan kami sama-sama terlelap. Entah jam berapa saat aku terjaga karena panggilan alam untuk segera ke toilet. Saat akan kembali ke ranjang, aku mendengar suara dari arah balkon. Kebetulan kamar yang kami tempati ada di lantai dua.


Aku mendengar ada yang memanggilku dan suara itu mirip dengan suara … Ayah. mungkinkah beliau hadir karena tahu putrinya sedang dalam kesulitan. Tidak ada rasa takut, aku segera membuka pintu balkon tapi tidak ada siapapun dan apapun di sana.


“Amel.”

__ADS_1


Suara itu masih aku dengar. Perlahan aku melonggokkan kepalaku menatap ke bawah, sosok Ayah berdiri menatap ke arahku dan melambaikan tangannya. Dia berdiri tidak jauh dari taman samping rumah ini.


“Ayah.”


“Kemari nak!”


Aku berjalan agak cepat, padahal kakiku masih terasa begitu nyeri jika melakukan aktivitas yang terlalu berat apalagi saat menuruni anak tangga lalu menuju pintu samping.


“Ayah,” panggilku ketika berhasil membuka pintu dan keluar dari rumah itu.


Mendadak aku merasakan hembusan angin agak kencang dan suasana terasa mencekam. Raut wajah Ayah terlihat berbeda membuat aku berhenti melangkah. Keberanianku entah hilang ke mana dan berakhir dengan sekujur tubuhku merinding hebat dan tengkuk yang berat. Entah sejak kapan sosok itu muncul, yang jelas saat ini aku seperti dikelilingi ‘mereka’ yang pernah aku lihat di bangsal kamboja.


Para iblis yang bukan hanya satu, tapi ada beberapa juga pocong, suster dengan wajah berantakan serta genderuw0 yang pernah aku temui di toilet sudah berdiri di samping sosok Ayah.


“Kamu bukan Ayahku,” ujarku lirih.


Sosok Ayah mengikik kemudian sosoknya berubah menjadi Munir. Berubah lagi menjadi Pak Narto, Gopal, Suster Dian juga iblis yang menyeret arwah. Detak jantungku seperti mau copot karena takut melihat rupa penampakan yang berganti-ganti.


Tubuhku sudah sangat sulit digerakan bahkan bibir ini sulit untuk mengucap doa. Aku merasa ini sudah saatnya aku pergi, karena aura makhluk gaib di sekitarku terasa begitu kuat.


“Amel!”


Terdengar teriakan Andra.


“Amel, jangan bergerak. Baca doa yang Bapak ajarkan!” Andra masih berteriak. Pikiranku sudah dipengaruhi oleh ‘mereka’, membuatku seakan lupa dengan doa yang dimaksud oleh Andra.


“Astagfirullah.”


“Amel.”


Aku merasakan Andra memelukku, tapi tubuhku kaku. Suara Om Aldo yang bergumam doa, membuat para dedemit itu berteriak lalu menghilang. Tinggalah sosok yang tadi menyerupai Ayah.


“Siapa kamu?” teriak Om Aldo.


Sosok itu mengikik lalu berubah menjadi … Ningrum.

__ADS_1


 


 


__ADS_2