Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku

Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku
Bab 14 : Menyukaimu


__ADS_3

Embun lagsung menghapus pesan yang dikirimkan oleh Rea dan mengembalikan ponsel Rain yang dipinjamnya tadi. "Makasih ya," ucapnya dengan senyum cerah di wajahnya.


"Sama-sama," jawab Rain seraya menerima ponselnya.


Embun terlihat tersenyum-senyum sendiri, membuat Rain sampai mengernyitkan dahinya karena heran.


"Ponsel kamu gimana? Tante Jo mau datang buat ngambilin nggak?" tanya Rain.


"Hah, apa? Ponsel? Tidak, aku tidak masalah jika Mami tidak mau mengambilnya, terserah kalau ponselnya disita," jawab Embun masih dengan senyum mengembang di bibirnya.


Rain semakin merasa aneh dengan sikap Embun, tadi gadis itu datang marah-marah tapi setelah meminjam ponselnya sekarang dia enyum-senyum. Rain menatap ponselnya dan bertanya-tanya siapa yang dihubungi oleh Embun sampai mood gadis itu bisa berubah sangat cepat.


-


-


-


-


Keesokan harinya, bak detektif terkenal. Embun diam-diam memerhatikan Bening, Ia bahkan mengikuti kemana pun kembarannya itu pergi. Baik ke kantin, kamar kecil, bahkan ketaman Embun mengawasinya. Intinya dia ingin tahu apa saja kebiasaan Bening, bahkan saat Bening kedapatan mendaftar ekstrakulikuler jurnalistik, Embun juga mendaftar agar bisa terus mengawasi saudarinya itu.


"Ah, lelah juga." Embun kembali ke kelas setelah beberapa waktu mengawasi Bening karena jam pelajarannya akan dimulai.


Embun melihat Rain yang tertidur berbantal lengan di atas meja. Ia pun ikut duduk dan menatap wajah Rain. Embun memiringkan kepala, menatap lekat wajah Rain yang ternyata jika dilihat begitu sangat tampan.


"Kenapa aku merasa dia tampan?"


Embun bergumam dalam hati, dan tak disadarinya bibirnya tersenyum sendiri. Hingga tiba-tiba Rain membuka mata, Embun buru-buru membuka buku dan berpura-pura membaca.


"Apa kelas sudah akan dimulai?" tanya Rain seraya mengucek mata tak menyadari kalau tadi Embun memandanginya begitu lama.


Embun hanya melirik Rain sekilas, kemudian menjawab pertanyaan cowok itu. "Belum, sepertinya para guru sibuk rapat."


"Oh ..." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Rain karena sebenarnya masih mengantuk. Keningnya mengernyit mendapati Embun membaca buku dengan posisi terbalik. Tanpa berpikir aneh-aneh, Rain membalik buku itu dan kembali menguap.


"Kamu ngapain sih semalam? Apa kamu tidur larut malam? kenapa jam segini sudah tidur lagi dan masih ngantuk," tanya Embun mencoba mengalihkan rasa salah tingkahnya.


"Aku nonton bola," ucap Rain yang kembali merebahkan kepalanya ke meja.


Siang itu karena guru yang seharusnya mengajar sedang rapat. Para siswa di kelas pun hanya mengerjakan tugas yang diberikan. Rain lumayan cepat menyelesaikan tugasnya, bahkan dalam hitungan menit, cowok itu sudah selesai padahal semua temannya masih sibuk mengerjakan.


"Cepat banget?" Embun keheranan, dan malah merasa kalau Rain asal-asalan saja memgerjakannya.


"Sudah biasa, biar bisa cepat pergi main," ujar Rain.

__ADS_1


Embun menghentikan gerakan tangan, lantas menatap Rain yang memang tipikal remaja santai dan seperti tak memiliki beban itu.


"Apa kamu sebelum pindah ke Jogja juga seperti ini?" tanya Embun yang merasa penasaran.


"Seperti ini bagaimana?" tanya Rain membalas pertanyaan Embun.


"Selalu bersikap tenang, sok cool, santai," ujar Embun ingin memuji tapi juga diselipi nada ejekan.


Rain akhirnya bercerita bagaimana dia di rumah, karena kedua orangtuanya selalu sibuk bekerja, membuat Rain bersikap sesuka hati. Namun, tak lantas bebas karena sang mama juga diam-diam mengawasi, memberi syarat jika Rain menginginkan sesuatu.


Ternyata Embun juga sama, tapi Embun masih diawasi karena Jojo sangat menyayangi dan tak ingin putrinya itu salah pergaulan. Hingga tanpa sadar keduanya bercerita bagaimana kehidupan mereka dulu sebelum pindah ke Jogja.


Lama kelamaan, Rain dan Embun jauh lebih dekat, selain mereka duduk satu meja, itu juga karena mereka selalu berangkat dan pulang bersama, apa lagi tinggal di satu atap.


-


-


-


-


TOK! TOK! TOK!


"Masuk!" Suara Rain terdengar mengizinkannya.


Embun membuka pintu dan menyembulkan kepala dari balik pintu sebelum masuk. "Rain, belajar fisika bareng mau nggak?" tanyanya.


Rain yang melihat Embun sudah membawa buku pun meminta gadis  itu masuk dan menjawab dengan kata mau. Mereka pun akhirnya belajar bersama di kamar Rain, membahas pelajaran yang tadi didapat di sekolah. Hingga ponsel Rain berdering, dan nama sang mama terpampang di sana.


"Bentar, ya!" Rain memilih berdiri dan menjawab panggilan dari Bianca-mamanya.


"Halo."


Embun terus menatap Rain yang sedang menjawab panggilan dari tempatnya duduk, sedangkan Rain sudah pindah duduk di tepian ranjang.


"Oh, Mama udah dapat tempat. Oke," ucap Rain setelah mendengar Bianca berbicara. "Aku kasih tahu tante Jojo dulu." Rain bangkit dan  keluar dari kamar untuk menemui wanita yang paling disayangi Embun itu.


Embun terkejut mendengar ucapan Rain, tiba-tiba rasanya dia tidak rela jika cowok itu pindah dari apartemen. Embun langsung berdiri dan mengekor Rain yang menemui dan memberikan ponselnya pada sang mami.


"Ini mama, katanya mau omong sama Tante," ucap Rain sambil memberikan ponsel pada Jojo.


"Halo." Jojo langsung menjawab panggilan Bianca.


"Halo, maaf sudah merepotkanmu. Aku sudah mendapatkan tempat tinggal untuk Rain. Jadi dia bisa pindah dari sana, maaf kalau sudah merepotkan beberapa waktu ini," ujar Bianca dari seberang panggilan.

__ADS_1


"Oh, begitu. Baaiklah! Nanti aku akan membantu Rain saat pindah, sebenarnya tidak merepotkan, Rain anak yang mandiri," balas Jojo.


"Belum tahu saja kelakuan aslinya." Bianca malah seolah menolak pujian Jojo ke sang putra. "Baiklah, terima kasih banyak atas bantuannya, maaf jika terlalu lama, karena kesibukan pekerjaan di sini."


Setelah membalas ucapan Bianca lagi, Jojo pun mengakhiri panggilan dan mengembalikan ponsel milik Rain.


"Kapan rencananya kamu mau pindah? Bilang aja, nanti Tante bantu." Jojo menawarkan diri.


"Kalau boleh, nanti aku pikirkan dulu ya, Tan. 'Kan aku juga belum berkemas juga,"ujar Rain.


Embun yang sedari tadi mematung mendengarkan dan melihat apa yang terjadi di sana, entah kenapa menjadi merasa tidak rela jika Rain pindah, hingga dia terlihat cemberut.


"Rain, kamu beneran mau pindah?" tanya Embun ketika mereka sudah kembali ke kamar untuk melanjutkan belajar.


"Hem ... mama udah dapat tempat tinggal untukku," jawab Rain santai.


"Rain, apa nggak enak di sini aja?" tanya Embun yang sebenarnya ingin merayu Rain agar tidak jadi pindah.


"Nggak enak sama tante Jojo dan kamu," jawab Rain.


"Nggak enakan mana sama tinggal sendiri? Kalau di sini, makan kamu terjamin, kalau ada apa-apa juga ada yang urus, lalu--"


Belum juga Embun selesai menyampaikan semua kata-kata di dalam otaknya untuk membujuk Rain agar tidak jadi pindah, ponsel Rain berderit dan sebuah pesan terlihat masuk.


Rain langsung membaca pesan yang nomornya tidak tersimpan di dalam kontaknya.


[Ini Embun, ya?]


[Tadi mama telpon dan tanya, apa aku ketemu kamu. Katanya kamu di Jogja.]


[Katanya semalam kamu minta foto aku, ya?]


[Aku pengen ketemu kamu]


Rain mengernyitkan dahi membaca pesan itu, apa nomor ini yang semalam dihubungi oleh Embun? Rain menatap Embun yang terlihat terus memandanginya.


"Bu... "


"Rain! Rain Rain go away, jangan pindah ya! Aku menyukaimu," Ucap Embun dengan mimik serius di wajahnya.


Bagi Embun yang sudah lama tinggal di luar negeri, kata suka adalah hal yang wajar diucapkan jika memang menyukai seseorang, tapi bagi Rain kata suka diartikan lain. Suka di sini Rain anggap berarti sebuah ketertarikan kepada lawan jenis.


"Kamu menyukaiku?"


Pertanyaan Rain diamini dengan anggukan kepala oleh Embun.

__ADS_1


__ADS_2