Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku

Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku
Bab 30 : Bagaimana Keadaanmu?


__ADS_3

Setelah Bening mengatakan jika akan membencinya jika sampai benar papi dan mamanya berselingkuh, Embun menjadi murung. Sejak dari sekolah hingga pulang ke rumah, ia tak banyak bicara dan terus berada di kamar sepanjang sore.


Saat makan malam, Embun hanya menatap makanan yang tersaji di piring, gadis itu seakan tak ada niat untuk menyantapnya karena napsu makannya hilang.


"Bubu, apa kamu sakit? Kenapa diam saja? Kenapa tidak makan?" tanya Jojo yang merasa Embun sedikit berbeda dan terlihat lesu. “Apa kamu tidak suka makan malamnya? mau Mami buatkan yang lain?”


Embun geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Jojo, dia masih menunduk dengan tatapan terarah ke piring. Bibir mungilnya mendesau, dia lantas mengangkat kepala agar bisa melihat wajah sang mami.


"Ada apa, hmm?" tanya Jojo lembut. Ia merasa sedikit cemas, naluri keibuannya mengatakan bahwa putrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Mi, bagaimana bisa mama Rea mengandungku? Apa benar itu kesalahan medis, atau sebenarnya Papi berselingkuh dengan mama Rea?" tanya Embun yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran di hatinya, dia merasa perlu mengetahui fakta yang sebenarnya.


Jojo begitu terkejut dengan pertanyaan Embun, sampai tanpa sadar menjatuhkan sendok di tangannya ke lantai.


"Siapa yang mengatakan itu? Itu tidak benar, kamu jangan berpikir seperti itu!" sanggah Jojo.


Embun melihat reaksi Jojo yang berlebihan, hingga berpikir apakah mungkin apa yang dikatakan Bening benar.


"Jika itu memang benar, apakah artinya aku anak haram?"


"Embun! Siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu, nggak ada di dunia ini yang namanya anak haram!" bentak Jojo tanpa sadar.


Embun begitu terkejut mendengar Jojo membentaknya, bahkan kedua pundaknya sampai bergedik. Ia melihat Jojo yang terlihat marah, wanita yang sangat disayanginya itu sampai berdiri dari kursinya.

__ADS_1


“Mi, aku ‘kan cuma nanya.” Akhirnya Embun memilih bangun dan langsung masuk ke kamar, air mata jelas jatuh membasahi pipinya.


Jojo terkesiap melihat putrinya berlari masuk ke kamar. Ia memegangi kening karena terlampau marah hingga membentak Embun seperti tadi. Jojo akhirnya memilih menghubungi Axel, dia merasa masalah ini tidak bisa terus ditutupi. Embun harus tahu. Ya, lebih baik tahu dari papinya sendiri dari pada dari mulut orang lain.


"Bagaimana ini, Ax? Kita tidak bisa terus menutupi masalah ini." Jojo bertanya, setelah menjelaskan semuanya tentang Embun yang tiba-tiba menanyakan asal usul kelahirannya.


"Baiklah, kamu tenang dulu. Aku akan segera ke Indonesia, lagi pula Sky juga sudah masuk liburan. Tunggu aku! Oke." Suara Axel terdengar dari seberang panggilan, mencoba menenangkan sang istri yang kebingungan.


Jojo hanya mengiyakan lantas mengakhiri panggilanya dengan sang suami. Ia pergi ke kamar Embun, merasa perlu bicara kepada putrinya itu. Hati Jojo terasa ngilu saat melihat Embun yang tengkurap di kasur, gadis itu masih menangis.


"Bu." Jojo mendekat, duduk di tepian ranjang lantas mengusap lembut bagian belakang kepala putrinya.


"Maafin Mami, Mami nggak ada maksud ngebentak kamu. Mami hanya ingin kamu tidak memikirkan hal itu," ujar Jojo memberi pengertian, dia berbicara dengan nada suara pelan dan selembut mungkin.


Jojo benar-benar bingung, tapi dia merasa semua itu harus Axel sendiri lah yang memberitahu.


"Mami tidak bisa bicara apa-apa. Tunggu papi datang, ya. Biar papi yang jelaskan," bujuk Jojo, tangannya masih terus mengusap rambut panjang Embun. “Papi bilang mau ke sini secepatnya bersama Sky,” imbuhnya.


-


-


-

__ADS_1


Embun merasa tak tenang, apalagi masih harus menunggu papinya datang untuk mendapat penjelasan. Malam itu ia memilih keluar rumah setelah puas menangis. Embun pergi ke minimarket dekat dengan apartemen yang ditinggalinya.


Gadis itu berjalan kembali ke apartemen dengan langkah berat. Satu tangan memegang kantung plastik berisi belanjaannya, hingga ponselnya berdering dan sebuah pesan masuk ke sana.


[Bagaimana keadaanmu?]


Ternyata Rain yang mengiriminya pesan, Embun pun buru-buru membalas pesan dari cowok itu.


[Buruk, sangat buruk]


Embun mengirim pesan yang diketiknya, lalu berhenti berjalan untuk menunggu jawaban dari Rain. Suara notifikasi pun terdengar, Rain membalas pesannya dengan cepat.


[Kalau buruk, seharusnya kamu beli es krim atau cokelat, kenapa citata?]


Embun terkejut membaca pesan dari Rain, bagaimana bisa cowok itu tahu dirinya membeli Citata. Mengedarkan pandangan ke kiri dan kanan, Embun tidak melihat keberadaan Rain, hingga dia membalikkan badan dan terkejut melihat cowok itu sudah berdiri tepat di belakangnya.


Rain ternyata sudah membuntuti Embun sejak tadi. Ia pun langsung tersenyum ketika Embun menatap ke arahnya.


“Kenapa tidak membeli es krim?” tanya Rain.


“Rain!” lirih Embun. "Rain."


Gadis itu menjatuhkan barang belanjaannya dan berlari ke arah Rain, melingkarkan tangannya ke pinggang dan memeluk cowok itu begitu erat.

__ADS_1


__ADS_2