
Embun menatap ke luar jendela pesawat yang tengah mengudara, sebentar lagi dia dan maminya hampir sampai di Indonesia. Memalingkan wajah melihat maminya, Embun tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke lengan wanita itu.
"Bening, apa dia sama sekali tidak mirip denganku?" tanyanya.
"Em... mirip, kalian sama-sama cantik, kok" jawab Jojo.
Embun pun tersenyum, ia sudah membayangkan pasti rasanya akan senang jika memiliki saudara perempuan yang bisa diajaknya jalan-jalan bersama.
Sesaat setelah sampai di Indonesia, mereka dijemput oleh sopir Jordan. Untuk sementara, mereka akan tinggal di sana sampai Axel dan Sky datang.
"Akhirnya kalian pulang juga," ucap Lidia yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Wanita itu langsung menyambut Jojo dan Embun yang baru saja turun dari mobil.
"Iya Ma," Jojo memeluk mama mertuanya, sebelum bergantian dengan Embun yang baru pertama kali bertemu langsung dengan kakek-neneknya setelah bertahun-tahun hanya bisa melihat dari panggilan video.
Lidia langsung mengajak keduanya masuk, membiarkan sopir dan pembantu rumah mengurus barang-barang Jojo dan Embun. Karena perjalanan yang lumayan lama, membuat Embun memilih beristirahat di kamar yang sudah disediakan oleh Lidia, sedangkan Jojo memilih duduk bersama dengan mertuanya.
"Papa sedikit terkejut ketika kalian bilang mau pulang. Apa hanya sementara atau seterusnya?" tanya Jordan, kemudian menikmati teh yang baru saja disuguhkan pembantunya.
"Ini karena Embun, dia ingin bertemu Bening. Meski sebenarnya sedikit berat, tapi sepertinya Embun sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan," jawab Jojo. "Untuk tinggal sementara di sini atau seterusnya, kami belum tahu, Kak Axel dan aku belum membicarakannya lagi," imbuhnya.
Lidia dan Jordan hanya mengangguk, hingga kemudian mereka membahas bagaimana kehidupan Jojo dan Axel selama di Australia, meski sudah sering mendengar mereka bercerita lewat panggilan telepon, tapi akan puas rasanya jika mendengar, saat bertatap muka secara langsung seperti sekarang.
Jojo masuk ke kamar Embun setelah selesai berbincang dengan mertuanya. Karena mereka tiba di Indonesia saat sore hari, Embun yang kelelahan pun terlelap tidur hingga malam. Jojo duduk di tepian ranjang putrinya, menatap wajah damai gadis itu. Ia mengusap lembut sisi wajah dan menyingkirkan anak rambut dari pelipis Embun
__ADS_1
"Bagaimanapun tanggapan dan reaksi kamu saat bertemu ibu kandungmu nanti. Mami pasti akan menerimanya." Jojo bersuara lirih, jauh dalam lubuk hatinya Ia takut kalau Embun akan beralih menyayangi Rea dan mengabaikan dirinya.
-
-
Hari berikutnya, Jojo sengaja mengajak Embun ke rumah Rea dan Arkan bersama Lidia. Namun, sayang rumah itu terlihat sepi, dan hanya ada asisten rumah tangga yang menemui mereka.
"Bu Rea dan pak Arkan sedang keluar, sudah sejak tadi pagi paling sebentar lagi datang," ucap asisten rumah tangga Arkan.
"Oh begitu, kalau begitu kami tunggu saja," ujar Lidia yang sudah biasa datang ke sana.
Asisten rumah tangga Arkan mempersilahkan masuk, lantas meminta Lidia, Jojo dan Embun menunggu di ruang tamu, wanita paruh baya itu masuk untuk membuatkan minum.
"Jadi, Rea-ibu kandungmu adalah putri mama, sementara papimu Axel adalah putra kakek Jordan."
Embun mengernyit mendengar penjelasan neneknya. "Jadi, kakek dan nenek pernah menikah sebelumnya?"
"Benar, jadi papimu Axel dan Rea ibu kandungmu adalah saudara tiri," imbuh Lidia.
"Lalu, terjadi kesalahan medis saat mama Rea akan melakukan proses bayi tabung dengan Mami Jojo?" Embun bertanya dengan polosnya, membuat Lidia langsung menoleh ke sang menantu.
"Iya," jawab Jojo cepat.
__ADS_1
Embun pun tersenyum dan mengedarkan pandangan, rumah itu memang terlihat besar dan mewah. Embun memeluk lengan neneknya, masih dengan tatapan yang menelisik ke setiap sudut ruangan yang berada di sana.
Selang beberapa menit, suara mobil Arkan terdengar memasuki halaman. Jojo menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Embun dan Lidia. Hingga keduanya menangkap sosok Arkan dan Rea yang berjalan melewati pintu, Jojo langsung berdiri diikuti Embun. Hingga langkah Rea terhenti ketika melihat Jojo dan mamanya, kemudian tatapannya beralih pada gadis di sebelah Jojo yang sudah bisa ditebak kalau itu adalah Embun—putrinya.
"Jo, kapan datang?"
Arkan menyapa Jojo, kemudian beralih pada Embun, tatapan pria itu penuh kehangatan. Embun terdiam saat Arkan memeluk dan mengecup keningnya.
Rea berjalan perlahan ke arah Jojo dan Lidia, rasa tidak percaya ketika bisa kembali melihat putri kandungnya, meski kehadiran Embun pernah tidak diharapkan, tapi tetap saja itu putrinya. Jojo sadar kalau Rea pasti terharu, hingga kemudian meminta Embun untuk menyambut Rea terlebih dahulu.
"Dia Rea, mama kandung kamu," kata Jojo.
Embun bingung harus bagaimana, hingga akhirnya Rea yang memeluknya terlebih dahulu, mata wanita itu berkaca, seakan sedang meluapkan rasa rindu kepada putrinya itu. Embun termangu, ingin membalas pelukan tapi ragu, hingga ketika melirik Jojo dan maminya itu mengedipkan mata memberi isyarat, membuat Embun akhirnya membalas pelukan Rea.
Mereka pun duduk bersama, meski Embun sudah bertemu ibu kandungnya, tapi entah kenapa baginya Jojo tetaplah mami tercintanya. Ia bahkan tidak mau duduk di sebelah Rea saat wanita itu memintanya duduk di sebelahnya, Embun tetap memilih duduk di sebelah Jojo, terus memeluk lengan mami yang sudah membesarkannya. Mereka saling bertanya kabar, hingga kemudian Embun membuka mulut untuk menanyakan Bening yang tidak dilihatnya sejak tadi.
"Di mana Bening? apa dia sekolah?" tanya Embun.
Arkan dan Rea sedikit terkejut, mereka saling tatap sebelum bersamaan menatap ke arah Embun.
Embun memeluk lengan Jojo semakin kuat, seakan bisa membaca tatapan Arkan dan Rea. Perasaan Embun tiba-tiba terasa gusar, hatinya berkata kalau dia tidak akan bisa melihat Bening.
"Sebenarnya Bening, dia- dia baru saja kami antarkan ke bandara."
__ADS_1