
Axel keluar dari kamar untuk mengambil minum. Namun, saat melihat pintu kamar Embun yang sedikit terbuka, membuat Axel berpikir untuk melihat keadaan putrinya itu. Hingga Axel melihat Embun dan Sky yang ternyata masih duduk di balkon, ia pun berjalan mendekat dan menghampiri keduanya.
Sky yang melihat kadatangan Axel, langsung berdiri dan pergi dari sana. Axel sendiri memilih duduk di samping Embun dan langsung mengambil Loki dari pangkuan sang putri.
"Bu, Maafin Papi! Papi memang bukan pria yang sempurna, Papi memiliki masa lalu yang begitu kelam dan buruk. Namun, meski begitu Papi sangat menyayangimu," ujar Axel dengan tangan mengusap bulu Loki.
Tatapan Axel tertuju pada kucing Embun, ia tersenyum getir ketika mengingat masa lalu yang memang lebih pantas ditutup rapat-rapat.
"Dulu Papi menikah dengan mamimu saat kamu berumur dua tahun, mamimu sangat menyayangimu layaknya anak kandungnya sendiri," imbuh Axel.
Embun mendengarkan dengan seksama cerita Axel, lantas menoleh pada pria yang sudah tidak lagi muda itu.
"Apa Papi menyesal punya anak sepertiku?" tanya Embun dengan bola mata mulai berkaca.
"Tidak, tentu tidak. Papi malah begitu bangga dan bahagia memilikimu," jawab Axel.
"Lalu, mungkinkah mama Rea menyesal telah melahirkanku?" tanya Embun lagi dengan nada suara yang terdengar begitu berat.
Axel terkesiap mendengar Embun bertanya seperti itu. Ia melepas Loki dan memilih memeluk Embun, mengusap rambut gadis itu penuh kasih sayang.
"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Meski di dunia ini sudah tak ada lagi yang menyayangimu, tapi Mami dan Papi tetap akan menyayangimu. KamiĀ akan selalu ada di sisimu, bagaimanapun keadaanmu," ujar Axel kemudian.
__ADS_1
Tanpa Axel dan Embun tahu, Jojo ternyata mendengar percakapan mereka. Wanita itu menangis di depan pintu, hingga akhirnya memilih menghambur ke keduanya. Ia langsung memeluk dua orang terkasihnya itu sambil menangis. Sky yang melihat hal itu lantas ikut membaur dan memeluk, keempatnya kini saling berpelukan, membuat Embun tersenyum bahagia.
_
_
_
_
Keesokan harinya. Embun berangkat ke sekolah seperti biasanya, tapi alangkah terkejutnya dia ketika melihat anak-anak lain berdiri memandangi papan tulis di dan kelas. Mereka ternyata sedang melihat sebuah tulisan di sana. Tertulis 'Embun anak haram' di papan itu.
Embun begitu marah dan sakit hati, bahkan mengepalkan kedua telapak tangan begitu erat. Rain yang juga baru datang, melihat Embun yang terlihat begitu marah, hingga melihat tulisan yang ada di papan. Cowok itu langsung menghapus tulisan jahat itu.
Embun yang emosi, langsung mendorong pundak Bening, membuat saudara kembarnya itu hampir terjatuh ke belakang.
"Apa-apaan kamu?" Bening yang terkejut, langsung menatap tajam pada Embun.
"Kamu pikir kamu saja yang nyesel bersaudara denganku! Asal kamu tahu, aku juga nyesel memiliki saudara seperti kamu, aku nyesel pernah satu rahim dengan manusia yang tak punya hati seperti kamu. Aku nggak pernah meminta Tuhan buat lahir ke dunia ini! Apa kamu pikir ini semua keinginanku?" Embun merasa begitu geram dengan apa yang telah dilakukan oleh Bening.
Rain yang menyadari kalau Embun berlari pergi, lantas menyusul dan menarik tangan Embun karena gadis itu sedang marah-marah ke Bening di depan banyak orang.
__ADS_1
"Bu, sudah." Rain mencoba menenangkan Embun yang begitu emosi.
Rain mengajak Embun untuk pergi dari sana, tapi sebelum itu dia mengatakan sesuatu pada Bening. "Kamu memang keterlaluan dan tak punya hati!"
Bening kebingungan dengan sikap Embun padanya, juga Rain yang mengatainya tak punya hati. Ternyata Bening tidak tahu soal tulisan yang ada di papan kelas Embun, karena memang bukan dia yang menulisnya.
_
_
_
Saat jam istirahat. Embun dan Rain berada di kantin untuk makan, tanpa sengaja mata Embun tertuju pada Gama yang baru datang.
"Ga--" Embun ingin memanggil Gama, tapi langsung dicegah oleh Rain.
"Kenapa?" tanya Embun heran.
"Tidak usah," jawab Rain singkat, membuat Embun bingung.
"Dia mau pindah dari apartemenku, katanya mau tingggal di kos-kosan saja," lanjut Rain.
__ADS_1
Embun mengernyitkan dahi, merasa aneh kenapa tiba-tiba Gama akan pindah, gadis itu berpikir mungkinkah ada masalah antara Rain dan Gama.