
Hari berikutnya, Rain berangkat seperti biasa bersama Gama. Namun, ketika cowok itu sedang berjalan ke arah kelas, tiba-tiba saja dari belakang seorang siswa langsung merangkul leher Rain, menggiring kekasih Embun itu menuju tanah lapang yang ada di belakang gedung sekolah. Rain cukup terkejut dengan tindakan cowok yang sepertinya adalah kakak kelasnya itu, tapi Rain memilih diam dan ikut saja.
Begitu tiba di tanah lapang, ternyata sudah ada lima siswa lain yang menanti di sana, mereka semua ternyata adalah kakak kelas Rain. Salah satu dari mereka menatap Rain dengan tatapan menghina, menilai Rain dari ujung kaki hingga kepala.
"Oh, jadi ini cowok yang berani menolak Aura. Ck, sombong." Cowok bernama Antariksa itu langsung memukul Rain yang berdiri di hadapannya, membuat kekasih Embun itu terjatuh ke tanah.
Rain memegang pipi yang terkena pukulan, tapi terlihat santai seakan mendapat pukulan seperti itu bukan pertama kali untuknya. Di sana tujuh siswa itu menghajar Rain. Sedangkan Rain sendiri memilih tidak melawan dan hanya menghalau setiap pukulan yang dilayangkan ke arahnya.
Embun yang sudah berada di kelas, terlihat sesekali menengok ke arah pintu, menunggu dengan perasaan gelisah karena Rain tak biasanya datang terlambat. Hingga salah satu teman kelas Embun datang, terlihat terengah dan mengatur napas sebelum berbicara ke Embun.
"Kenapa kamu lari-lari?" tanya Embun.
"It-itu, tadi aku lihat Rain digiring sama anak kelas dua belas, kayaknya Rain mau dihajar." Teman kelas Rain dan Embun memberitahukan apa yang dilihatnya tadi, memang tak melihat Rain dihajar, tapi hanya melihat kalau rain digiring ke arah belakang sekolah, dihajar hanya pikirannya sendiri meskipun kenyataannya benar.
Embun yang panik lantas berlari ke luar kelas menuju tempat yang disebutkan oleh temannya.
Sedangkan Gama yang sudah berada di kelas, mendengar teman sekelasnya bercerita jika ada anak kelas dua yang dihajar oleh anak-anak kelas tiga. Merasa ada yang aneh, sebab teman sekelasnya juga menyebut jika perkara perkelahian karena anak kelas dua menolak adik anak kelas tiga, membuat Gama berpikir jika itu adalah rain, pasalnya Rain memang baru saja nolak cewek kemarin. Gama pun langsung berlari ke arah tempat yang disebutkan teman sekelasnya.
Embun yang sudah sampai di tanah lapang, melihat Rain dikeroyok tujuh siswa, tentu saja hal itu membuat Embun begitu geram. Tanpa pikir panjang, Embun mengepalkan telapak tangan, lantas memukul kepala bagian belakang salah satu cowok, hingga membuat ke tujuh cowok itu terkejut.
Embun tidak tahu jika yang dipukulnya adalah kakak Aura, karena dia asal pukul cowok yang jarak berdirinya paling dekat dengannya.
"Sial!"
Antariksa atau kerap dipanggil Tara itu langsung menoleh ketika mendapat pukulan, hingga dia memelototi Embun yang berdiri dan menatap garang padanya.
__ADS_1
"Apa lihat-lihat, hah? Beraninya main keroyok!" cibir Embun.
Tara tersenyum miring melihat Embun yang membela Rain, hingga menoleh ke Rain dan kemudian menatap Embun. "Ck, beraninya minta bantuan cewek. Cemen amat!" ejek Tara.
"Tara kelamaan, hajar aja!" Salah satu teman cowok itu berteriak dengan lantang.
Embun terkejut mendengar nama cowok yang baru saja dipukulnya, hingga dia melihat name tag di seragam Tara. Embun pun tersenyum mencibir.
"Ck, namamu Antariksa, kenapa bisa dipanggil Tara? Kenapa nggak Tari sekalian. Dasar bencong, beraninya main keroyok!"
Tara semakin marah karena ucapan Embun yang baginya adalah sebuah penghinaan, cowok itu langsung memegang lengan Embun dengan kasar dan erat.
"Dasar l*nte, kamu tahu apa, hah!"
Mata Rain membeliak mendengar umpatan Tara, hingga cowok itu langsung bangkit dan menarik kerah seragam Tara, ia melayangkan pukulan ke wajah cowok itu bertubi-tubi.
Teman Tara tidak terima Rain memukul cowok itu, mereka mengeroyok Rain tapi pada akhirnya semua malah terjatuh terkena pukulan cowok itu. Rain menghajar Tara dan ke enam temannya secara bergantian, membuat mereka tersungkur di tanah dengan luka lebam di wajah.
Saat Rain hendak kembali menghajar Tara, salah satu teman Tara hendak memukul Rain dari belakang, beruntung Gama datang di saat yang tepat. Gama mengalungkan lengannya ke leher siswa itu dan langsung membantingnya ke tanah.
"Hentikan!" Suara teriakan melengking terdengar di sana.
Rain dan Gama yang ingin melayangkan pukulan kembali lantas berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Embun juga ikur menoleh, mereka melihat guru BK datang bersama Bening.
Guru BK bernama Pak Pras itu tak percaya melihat ke tujuh anak didiknya tersungkur di tanah dengan wajah penuh lebam dan memar, sedangkan Rain dan Gama tampak baik-baik saja, hingga akhirnya Rain yang kini disalahkan.
__ADS_1
Mereka semua pun akhirnya digiring ke ruang BK, dimintai informasi satu persatu hingga akhirnya Rain yang dijadikan tersangka, karena telah memukuli 7 murid kelas XII. Guru Bk langsung menghubungi Bianca dan Felisya, meminta mereka datang untuk membahas masalah Rain dan Gama. Karena Bianca tidak ada di kota itu, membuat guru BK Rain memberi kelonggaran hingga lusa untuk datang ke sana.
-
-
-
Bianca langsung terbang ke Jogja begitu mendapat telpon dari guru Rain. Sesampainya di apartemen, wanita itu langsung menatap putranya yang tertunduk duduk di sofa. Bianca juga menatap Gama, karena keduanya sama-sama bersalah.
"Kenapa kamu berkelahi, hah? Bukankah Mama pindahin ke sini, agar kamu bisa jauh dari masalah, tapi kenapa tetap saja buat masalah sih, Rain?!" Bianca tampak begitu geram dengan putranya. "Kenapa nggak di sana, nggak di sini, kamu terus saja buat keributan!"
Bianca terus aja marah-marah, mengatai putranya ini dan itu, hingga membahas perilaku buruk Rain di rumah. Rain mengepalkan tangan, hingga kemudian berteriak karena tak tahan mendengar sang mama mengomel.
"Mereka ngatain Embun l*nte, Ma! Apa aku harus diam saja?" Rain berteriak, tapi tetap tak berani menatap Bianca.
Bianca terperangah dengan mulut menganga, bahkan sampai menatap Gama karena dirinya bingung harus bagaimana. Bianca tahu siapa Embun, tapi tak tahu kalau anaknya dan gadis itu sedang berpacaran.
"Kamu juga, kenapa ikut berkelahi?" tanya Bianca yang sudah tidak bisa mengomel lagi pada Rain. Ia memilih beralih mengomeli Gama.
"Aku cuma ngebanting satu anak doank. Rain yang banyak, Tante." Gama mencoba membela diri.
Entah kenapa Bianca kehabisan kata-kata, hingga akhirnya hanya bisa memijat keningnya.
"Biarkan Mama ketemu Embun. Mama penasaran apakah yang kamu katakan benar," ujar Bianca pada akhirnya. "Jangan-jangan itu hanya alasanmu saja."
__ADS_1
Selain ingin memperjelas tentang sang putra yang terlibat perkelahian, Bianca juga ingin berterima kasih kepada Jojo yang sudah menampung dan merawat Rain beberapa waktu yang lalu.