Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku

Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku
Bab 17 : LoLolove


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Embun dan Rain sampai di sekolah. Embun langsung melepas lengan Rain yang sedari tadi dia pegang ketika melihat Bening menunggu di depan gerbang.


"Pagi!" sapa Bening ketika melihat Rain berjalan ke arahnya.


"Pagi," balas Rain. "Bu, aku ke kelas dulu." Pamit Rain pada Embun.


"Oke!" Embun menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan.


Bening menatap Embun dan Rain bergantian, dia merasa saudara kembarnya dan cowok yang ditaksirnya itu terlihat sangat akrab. Namun, Bening mencoba mengabaikan mengingat dia juga belum terlalu mengenal Embun.


"Udah sarapan belum? Sarapan yuk!" ajak Bening yang langsung menarik tangan Embun menuju kantin.


Embun tidak menolak ajakan Bening, karena tentu saja dia senang bisa menemani dan berlama-lama bersama saudaranya itu.


_


_


_


Keduanya duduk di kantin dan sudah memesan makanan untuk mengisi perut mereka. Embun jelas sudah sarapan, tapi demi Bening, dia rela makan untuk kedua kalinya.


"Aku tuh bosan makan di rumah," keluh Bening.


"Kenapa?" tanya Embun yang keheranan, apalagi ketika melihat wajah Bening yang tertekuk kesal.


"Gimana nggak bosan, bu dhe Anisa kalau nggak masak pasti beli nasi gudeg lagi nasi gudeg lagi, hampir tiap hari aku makan gudeg, sampai wajahku kayak nasi gudeg," keluh Bening sambil mengerucutkan bibir.


Embun sendiri menahan tawa mendengar saudaranya itu berkeluh kesah.


"Tapi, gudeg 'kan manis. Kayak kamu."


Ucapan Embun sukses membuat Bening tertawa, hingga melupakan rasa kesalnya.

__ADS_1


"Besok aku bawain masakan mamiku, kamu mau nggak?" tanya Embun.


"Benarkah? Tentu saja aku mau," jawab Bening antusias, setidaknya dia tidak akan makan nasi gudeg lagi setiap hari.


"Oke, mulai besok akan aku bawakan masakan mami buat kamu."


Mereka pun mengobrol sembari menyantap sarapan yang sudah disajikan oleh ibu kantin, baik Embun maupun Bening tampak menikmati kebersamaan mereka. Hingga saat mereka masih asyik berbincang, sebuah notifikasi pesan terpampang di layar ponsel Embun, gadis itu pun langsung membuka dan membaca pesan yang didapatnya.


Ternyata Embun menerima pesan dari sebuah aplikasi pertemanan bernama 'Lololove'. Ia sudah menggunakan aplikasi itu lebih dari enam bulan ini, dan Embun memiliki teman yang berasal dari Indonesia.


Gama Gutama nama akun teman Embun nampak mengirimkan pesan kepadanya, gadis itu lebih suka memanggil teman berbalas pesannya itu dengan nama 'GG' (Gege), sedangkan Embun sendiri menggunakan nama akun Bubu.


[Bagaimana kabarmu?]


[Apa kamu sudah di sekolah?]


[Selamat belajar]


Embun tersenyum membaca pesan chat yang dikirimkan GG kepadanya lewat aplikasi Lolove itu, hingga kemudian dia membalas pesan itu.


[Aku baik, terima kasih untuk semangat paginya]


Bening memerhatikan Embun yang terus tersenyum dan terlihat begitu bahagia, hingga jiwa keponya pun muncul.


"Siapa, Bu?" tanya Bening dengan sedikit melongok ponsel Embun.


"Oh, dia temanku. Aku mengenalnya lewat aplikasi Lolove," jawab Embun yang kemudian meletakkan ponsel agar bisa kembali menyantap sarapannya.


"Kamu pakai aplikasi gituan?" tanya Bening heran. Meski Lololove terkenal, tapi Bening tidak pernah berniat mengunduhnya.


Embun pun menghentikan mengunyah makanannya dan meraih kembali ponselnya. Dia memerlihatkan fitur aplikasi itu ke Bening.


"Apa aplikasi ini tidak populer di sini?" tanya Embun keheranan.

__ADS_1


"Entahlah, tapi aku sih nggak pernah pakai yang begituan," balas Bening. "Takut menipu, terkadang yang dipasang fotonya manis, cute, tampan. Eh, ternyata aslinya om-om, 'kan mengecewakan."


"Coba ...  bagaimana kalau temanmu itu om-om?" tanya Bening kemudian.


Tentu saja pertanyaan Bening membuat Embun yang tengah meminum teh langsung tersedak, dia kemudian menatap saudarinya itu dengan raut keterkejutan.


Bening memasang muka serius, dia terus menduga kalau teman suadara kembarnya yang bernama GG tadi adalah om-om, hingga Embun terbahak dan membuat Bening heran.


"Ih, kamu ini. Bagaimana kalau benar om-om?" tanya Bening lagi.


Baru saja Embun ingin menjawab, tapi bel masuk sudah berbunyi. Embun pun buru-buru mematikan ponselnya agar tidak ketahuan guru lagi. Gadis itu tidak ingin ponselnya terkena sita untuk yang kedua kali.


***


Embun pun masuk ke kelasnya. Matanya tertuju pada Rain yang sudah duduk di bangku mereka. Masih dengan senyuman di bibirnya, Embun pun duduk. Ia tiba-tiba saja tertawa sendiri saat mengingat ucapan dan dugaan Bening soal temannya yang bernama GG tadi.


"Kenapa kamu? Datang-datang tertawa seperti orang gila, kesambet?"Rain menatap Embun curiga.


"Nih, susu!" Bukannya menjawab pertanyaan Rain, Embun malah meletakkan susu kotak yang sengaja dibelinya di depan cowok itu.


Rain mendesau pelan karena Embun tidak menjawab pertanyaannya dan malah menyodorkan susu kepadanya, hingga akhirnya Rain memilih meraih dan meminum susu itu.


Namun, baru saja beberapa sesapan Rain meminumnya, Embun tiba-tiba saja merebut kotak susu yang berada di tangannya itu dan berucap-


"Minta dikit ya Rain!"


Tentu saja hal itu membuat Rain terkejut, apalagi Embun langsung meminum dari sedotan bekas bibirnya. Rain sampai menyentuh bibirnya sendiri saat melihat Embun menyesapnya dengan santai.


"It-itu." Rain ingin mencegah tapi Embun seakan tak peduli.


"Makasih ya! ternyata enak juga," ucap Embun sambil mengembalikan susu milik teman sebangkunya itu.


Rain pun tidak bisa bicara apa-apa lagi, cowok itu hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan dan kebingungan. Sementara itu, Embun masih bersikap santai, dia mengeluarkan buku pelajarannya sambil bersenandung lirih, tidak merasa bahwa sikapnya membuat jantung Rain berdetak tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2