Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku

Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku
Bab 22 : Nonton


__ADS_3

Sabtu malam Minggu, Rain dan Gama menyusul Embun dan Bening ke Mall untuk menonton bioskop. Mereka terlihat senang. Rain dan Gama memilih membeli makanan dan minuman sebelum masuk. Sedangkan Embun dan Bening mengantri tiket.


"Kita dapat tempat duduk terbaik," ujar Embun seraya menunjukkan empat tiket yang dipegangnya.


Gadis itu senang karena mendapat tempat duduk berderet agar bisa bersisian satu sama lain. Mereka berempat pun masuk untuk menonton film dengan genre sesuai umur mereka.


Bening mengambil kursi di sebelah Rain, membuat cowok itu duduk diantara gadis itu dan pacarnya, sedangkan Gama duduk di sebelah Embun.


Saat lampu dimatikan dan ruangan menjadi gelap, Rain meraih jemari Embun, dia sedikit mencondongkan kepala ke arah pacarnya itu, sedangkan Embun sendiri tersenyum dan membiarkan Rain menggenggam telapak tangan kirinya, sambil asik memakan popcorn yang dia pangku dengan tangan kanannya.


Rain sesekali mengambil popcorn milik Embun, dengan terus tersenyum dan tatapan yang tak teralihkan dari layar bioskop. Gama yang menyadari kalau Rain dan Embun saling bergandengan tangan pun tidak terkejut, karena sudah tahu sepupunya itu memang berpacaran dengan gadis yang dia taksir.


Bening sesekali melirik Rain yang duduk di sebelahnya, terlihat senyum kecil di wajah gadis itu. Hingga berpikir untuk menawari Rain popcorn miliknya.


"Rain, popcorn."


Rain yang terkejut lantas menoleh dan hanya mengulas senyum, menolak tawaran Bening dengan halus.


"Terima kasih, nanti saja," jawab Rain.


Bening hanya mengangguk dan kembali fokus dengan film yang sedang diputar, gadis itu masih tidak tahu kalau hubungan Rain dan Embun sudah lebih dari sekadar teman.


_


_


_


_


"Aku ke kamar kecil bentar, ya." Bening yang sudah tak tahan karena panggilan alam, langsung berlari menuju toilet begitu film selesai.


"Aku juga ke kamar kecil bentar." Rain ikut pamit dan pergi meninggalkan Embun dan Gama.

__ADS_1


Gama dan Embun sendiri lantas menunggu di koridor yang tak jauh dari kamar mandi, keduanya berdiri bersisian, dan Embun tampak memainkan ujung sepatunya.


"Oh ya Ge, kalian 'kan sepupu dan seumuran, kenapa kamu kelas tiga sedangkan Rain masih kelas dua?" tanya Embun menoleh pada Gama.


"Rain tinggal kelas, dan itu juga karena tingkahnya sendiri," jawab Gama.


Embun mengernyitkan dahi, hingga tertarik untuk mendengar cerita yang lebih tentang Rain.


"Dia itu sebenarnya pintar, tapi sayangnya pemalas dan suka bolos, akibatnya tidak naik kelas." Gama bercerita sambil mengingat kenakalan sepupunya itu, bahkan dia sampai tertawa kecil saat berhenti bercerita.


Embun pun tertawa mendengar cerita Gama, dia tak menyangka Rain ternyata bad boy, badung dan bandel.


"Kamu tahu? dia itu jagoan balap liar. Bahkan dia pindah sekolah ke Jogja adalah bentuk hukuman yang diberikan om Skala dan tante Bianca untuknya, mereka sudah kuwalahan menghadapi kenakalan Rain," ucap Gama lagi dan membuat Embun semakin terkejut.


"Kamu tahu snack citata dan mikurame? makanan yang paling digemari banyak orang di negara ini, pemilik pabriknya adalah om Skala, papa Rain."


Embun semakin kaget mendengar berbagai fakta tentang sang pacar, dia tak menyangka kalau dirinya dikelilingi anak-anak dari keluarga kaya raya.


"Siapa bilang? Bukankah papamu pemilik Sky hotel?" Bening yang baru saja datang langsung menyambar obrolan Gama dan saudara kembarnya.


Embun dan Gama dibuat terkejut, lantas menoleh secara bersamaan ke arah Bening. Embun hanya bisa tertawa mendengar ucapan Bening, sejatinya dia juga baru tahu orangtuanya sangat kaya saat kembali ke Indonesia. Sebelumnya Embun tidak pernah dimanja dan selalu diajari kesederhanaan, hingga membuat gadis itu bersikap biasa.


"Aku juga baru tahu, papaku tidak pernah memberitahu bahwa dia memiliki banyak hotel," kilah Embun


Rain yang baru kembali dari toilet tidak mengerti dengan apa yang sedang diperdebatkan oleh ketiga orang itu. Tanpa ingin tahu, ia pun mengajak ketiganya pergi dari sana untuk makan atau berjalan-jalan.


Saat sedang melihat-lihat, siapa sangka Bening tiba-tiba menggandeng tangan Rain, membuat cowok itu terkejut dan langsung melotot.


Bening sendiri merasa tak malu atau sungkan meskipun ada Gama dan Embun, dia berpikir kalau Embun pasti menyukai Gama karena mereka berteman melalui aplikasi Lololove sejak lama.


"Be, jangan gini! Nggak enak dan aku nggak biasa." Rain langsung melepas tangan Bening yang mengalung di lengannya.


Bening sedikit terkejut karena Rain tak mau digandeng, dia menatap tangannya yang baru saja dilepas Rain. Sementara Embun sendiri terbengong ketika melihat Bening menggandeng Rain tadi, hingga gadis itu menyadari kalau Bening memiliki perasaan ke pacarnya.

__ADS_1


_


_


_


Setelah puas berjalan-jalan dan makan, mereka pun memilih untuk pulang. Taksi Bening yang sudah datang lebih dulu membuat gadis itu menjadi orang pertama yang pulang.


Melihat Rain meraih tangan Embun lagi, Gama merasa canggung dan memilih berbohong dengan berkata ada sesuatu yang ingin dia beli tapi lupa, Gama pun memilih masuk kembali ke dalam Mall dan meminta Rain pulang duluan jika tidak mau menunggunya.


"Aku akan menunggumu," teriak Rain.


Setelah punggung Gama tak terlihat, Rain kembali menatap Embun yang sedari tadi menyembunyikan perasaannya, dengan seolah berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan Bening.


"Bening pasti belum tahu kalau kita berpacaran sampai dia bersikap begitu padaku, kapan kamu akan memberitahunya?" tanya Rain sambil merapikan helaian rambut Embun yang sedikit berantakan.


"Besok," jawab Embun sedikit ragu.


"Jangan hanya karena dia saudaramu lalu kamu mengalah kepadanya, aku bukan barang jadi aku tidak mau kalau kamu tiba-tiba memberikanku pada Bening."


"Apa sih Rain?" Embun mengernyitkan kening, dia merasa tidak suka dengan ucapan Rain barusan.


"Aku hanya takut kamu menyerah," ucap Rain lembut.


Namun, Embun terlanjur kesal, sudahlah cemburu dan harus menutupinya tadi, masih ditambah ucapan Rain yang seolah meragukan perasaannya.


"Aku tidak gampang menyerah tahu," cicit Embun. "Aku juga tidak suka melihatnya menempel padamu."


Rain tersenyum dan membelai pipi gadis itu. "Oh ya, Apa besok kamu masih mau pergi ke pantai?"


Embun menatap Rain dengan pipi menggelembung, malu-malu gadis itu menganggukkan kepalanya. 


"Mau, tentu saja mau."

__ADS_1


__ADS_2