Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku

Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku
Bab 3 : Bening


__ADS_3

Di Indonesia,


Sama halnya dengan Axel dan Jojo. Arkan dan Rea juga mengadakan pesta ulang tahun untuk Bening.


Duduk bersama kedua orangtuanya, gadis manja itu menatap Arkan dan Rea secara bergantian, Bening tidak mengerti kenapa orang yang sudah membesarkan dirinya itu terlihat memasang wajah tegang.


"Pa, Ma. Ini hari ulang tahunku, kenapa Papa dan Mama memasang muka seperti itu?" tanya Bening.


Rea menatap sang suami. Seperti Jojo dan Axel, mereka juga mengambil keputusan yang sama. Memberitahukan masalah status Bening dan Embun di hari ulang tahun putrinya yang ke-17.


"Be, ada yang Mama sama papa mau omongin," ucap Rea yang tiba-tiba merasa gugup dan takut.


"Iya, Mama ngomong saja!" Bening terlihat santai, seakan kekhawatiran yang tersirat di wajah kedua orangtuanya bukanlah sebuah masalah besar.


Rea menoleh pada Arkan, menggenggam telapak tangan suaminya begitu erat. Arkan mengangguk, mengisyaratkan agar Rea memberitahu masalah kembaran Bening, yaitu Embun.


"Mama dan Papa sudah lama menyimpan rahasia ini, kami harap kamu bisa mengerti akan hal ini!" pinta Rea sebelum melanjutkan bicara.


"Hem...!" Bening benar-benar terlihat santai.


Rea menarik napas panjang dan menghela perlahan, akhirnya wanita itu membuka mulut dan siap bercerita.


"Sebenarnya kamu memiliki saudara kembar, dulu mama melakukan prosedur bayi tabung, tapi karena kesalahan dokter yang menangani mama, membuat Mama akhirnya mengandung dua bayi dari dua pria yang berbeda." Rea berhenti bercerita dan ingin melihat reaksi Bening.


Namun, tak seperti yang Rea dan Arkan bayangkan. Bening terlihat biasa saja, gadis itu malah menatap Arkan dan Rea dengan wajah bingung. Kenapa kedua orangtuanya seolah sangat takut bercerita tentang hal yang dianggapnya biasa itu.


"Be!" panggil Arkan kemudian.


"Iya, Papa? gimana?" tanya Bening yang seolah menganggap cerita Rea itu tidak penting.

__ADS_1


Arkan terkesiap, begitu pula dengan Rea. Padahal sebelumnya mereka sudah sangat ketakutan dan khawatir, bagaimana jika Bening bertanya di mana saudaranya, kenapa mereka dipisah. Tapi sepertinya hal yang mereka takutkan tidak akan pernah terjadi.


"Kamu tidak mau tahu, di mana saudara kembarmu, dan kenapa kalian terpisah?" tanya Rea balik.


"Oh, ya sudah. Sekarang aku tanya, di mana dia? Kenapa kami terpisah?" Bening malah mengulang pertanyaan Rea, seakan tidak memiliki ketertarikan akan hal itu.


Melihat putrinya yang terlihat cuek dan tidak peduli, membuat Rea menyerah bicara, menyandarkan punggung dengan kasar dan satu tangan memijat kening. Hingga akhirnya Arkan yang menjawab pertanyaan itu.


"Dia ikut Papinya ke Australia, karena kalian satu ibu beda ayah. Kamu adalah anak Papa, dan dia adalah anak pria lain," ulas Arkan.


"Oh ... begitu."


Berbeda dengan Embun, Bening sejak kecil terlalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya, segala kebutuhannya selalu tercukupi. Bagi Bening, tidak ada yang lebih penting dari bersenang-senang.


Bening pun menguap, menengok pada jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Gadis itu berdiri, menepuk pelan kedua pahanya seolah membuang kotoran dari sana.


"Papa sama Mama sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, 'kan? Kalau tidak, aku mau tidur. Ngantuk," ucap Bening.


Karena Rea dan Arkan tidak menjawab, Bening memilih langsung keluar dari ruangan itu, sambil menguap berulang kali ketika berjalan pergi.


"Mas, kenapa Bening tidak peduli?" tanya Rea yang masih tidak habis pikir.


"Entahlah, mungkin karena dia sudah biasa sendiri," jawab Arkan.


Rea lagi-lagi mengembuskan napas, padahal wanita itu sudah menyiapkan hatinya jauh-jauh hari, bersiap menghadapi amarah putrinya jika mendengar kebenaran itu. Namun, sepertinya Rea tidak perlu khawatir, karena Bening sama sekali tidak peduli.


Baru berjalan menaiki anak tangga, langkah Bening terhenti ketika ponsel yang ada di dalam genggamannya bergetar. Ia mendapatkan pesan singkat dari salah satu temannya.


[Be, party yuk! Kamu 'kan ultah, tadi berpesta bersama orangtua membosankan]

__ADS_1


Bening tersenyum mendapat pesan dari salah satu temannya, ia pun membalas pesan itu kemudian memutar badan dan berjalan cepat keluar dari rumah. Ia pergi ke sebuah klub tempat teman-temannya berkumpul.


***


"Pesta, ini baru pesta!" ucap salah seorang teman Bening saat gadis itu baru saja bergabung.


"Wah, makasih ya. Kalian repot-repot nyiapin pesta," kata Bening yang merasa senang karena merasa teman-temannya sangat perhatian.


"Tentu dong, bagaimana bisa kita nggak peduli sama kamu. Iya nggak!" timpal yang lain.


Malam itu mereka berpesta, hanya ada gelak tawa dan kesenangan. Bening sangat suka pesta seperti itu, di mana merasa bisa lepas dan bebas. Namun, tanpa Bening sadari, ada salah satu temannya yang tidak menyukai dirinya.


Gadis itu iri dan berniat jahat, Ia memasukkan sesuatu ke tas Bening saat putri Arkan itu tengah bercanda bersama temannya.


_


_


_


"Diam di tempat!" Suara pria bersuara lantang menggema di ruangan tempat Bening dan teman-temannya melakukan pesta.


Mereka semua terkejut dan langsung menatap ke arah pintu yang dibuka paksa tanpa izin, beberapa pria berseragam Satpol-PP tampak menatap mereka satu persatu.


"Be, razia," bisik salah satu teman Bening.


"Kalau razia kenapa? Kita juga nggak melanggar hukum," bisik Bening balik tanpa rasa takut.


Gadis yang memasukkan sesuatu ke tas Bening tampak menyeringai, Ia tahu kalau malam itu memang akan ada razia, karena itu dia sengaja memasukkan sebuah plastik kecil berisi sesuatu ke dalam tas Bening.

__ADS_1


Semua teman Bening terlihat takut, tapi putri Arkan itu terlihat santai. Membiarkan polisi pamong praja menggeledah tas satu persatu, hingga ketika menggeledah tas miliknya, air muka Bening seketika berubah pucat.


"Kamu nyabu?"


__ADS_2