Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku

Be My Bu ~ Jadilah Kekasihku
Bab 16 : Apa Punya Pacar?


__ADS_3

Bening dan Embun menatap wajah satu sama lain, keduanya malah tampak canggung dan tak tahu harus bagaimana, Bening mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi Embun melebarkan lengan untuk memeluk, dan saat Bening ingin memeluk, Embun mengulurkan tangan. Hingga keduanya tertawa bersamaan, lantas saling memeluk.


"Bagaimana kalau kita pergi ke kafe, biar lebih enak ngobrolnya!" ajak Bening.


"Boleh." Embun begitu senang, bahkan tak melepas genggaman tangannya ke Bening.


"Rain, apa kamu mau ikut?" ajak Embun menoleh pada Rain.


"Tidak usah, aku pulang duluan saja," tolak Rain dengan seulas senyum, dia sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena canggung. Rain hanya tak ingin mengganggu Embun dan Bening yang baru pertama kali bertemu.


Akhirnya Embun dan Bening pergi, sedangkan Rain pulang dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan kedua gadis itu.


-


-


-


Bening dan Embun sekarang sudah berada di kafe yang jaraknya tak begitu jauh dari sekolah mereka. Keduanya menceritakan keseharian dan juga keadaan masing-masing sebelum pindah ke Jogja, mereka langsung terlihat akrab meski baru bertemu setelah belasan tahun.


"Aku masih tidak percaya kalau kita kembar, tapi wajah kita begitu berbeda," ujar Bening yang masih tak habis pikir.


Dia dan Embun baru saja membandingkan wajah, sampai-sampai membuat pengunjung lain keheranan.


"Aku juga heran." Embun pun berpikir. Seakan tak percaya dengan cerita orang tua mereka, Embun dan Bening sibuk berpikir tentang kesalahan medis yang membuat mereka lahir. Bahkan keduanya membuka gulugulu dan mencari jika mungkin ada kejadian sama seperti mereka, dan jawabannya ada. Namun, rata-rata karena si wanita berselingkuh dengan pria yang bukan suaminya.


"Ah .... apaan sih ga jelas!" gerutu Bening meminta Embun berhenti membaca artikel yang mereka dapat.


Setelah berbincang dan sejenak melupakan pembahasan tentang wajah dan asal usul mereka, Embun pun berpamitan karena hari sudah sore.


"Bu, minta nomor kamu, dong!" pinta Bening seraya menyodorkan ponselnya.


Embun pun mengambil ponsel dari tangan Bening, lantas memasukkan nomornya.


"Sudah, nih!"


"Makasih."

__ADS_1


Bening tersenyum lebar mendapat nomor Embun, sedangkan Embun melakukan panggilan agar nomor Bening masuk ke ponselnya.


"Eh, kamu kok bisa kenal Rain?" tanya Bening yang penasaran, tapi lupa untuk bertanya sejak tadi.


"Kami satu apartemen," jawab Embun yang tak menjelaskan detailnya kalau mereka tinggal di satu unit yang sama.


Bening hanya mengangguk-angguk pelan. Setelah itu mereka pun berpamitan, berjanji bertemu di sekolah pada esok hari dan mengobrol lagi.


-


-


-


Malam itu, Rain sedang belajar seperti biasa saat ponselnya berdering, dan sang mama menghubunginya.


"Halo, Ma!" sapa Rain begitu menjawab panggilan itu.


"Rain, kamu belum pindah?" tanya Bianca dari seberang panggilan. "Pengurus apartemen yang mama sewa bertanya, kok kamu belum ke sana," imbuh Bianca.


"Kenapa?" tanya Bianca yang terdengar terkejut dari seberang panggilan.


Embun yang masuk ke kamar Rain karena ingin belajar bersama pun, tanpa sengaja mendengar percakapan Rain dan Bianca. Tentu saja Embun masih tak setuju kalau Rain pindah dari sana.


Embun berjalam cepat, hingga menyambar ponsel Rain dan langsung berbicara pada Bianca.


"Halo, Tante!" sapa Embun langsung. "Tante, Rain tidak usah pindah, ya! Biar dia di sini aja!" ujar Embun penuh harap.


Rain begitu terkejut karena Embun mengambil ponsel bahkan langsung berbicara pada mamanya. Bianca sendiri juga terkejut, kenapa putri Jojo itu menginginkan putranya tetap tinggal.


"Eh, Bu. Kembalikan ponselnya!" Rain mencoba mengambil ponsel tapi terus dihalangi dengan satu tangan lain oleh Embun.


"Embun, berikan!" Rain masih mencoba merebut, bahkan sampai tanpa sadar memeluk gadis itu dari belakang.


"Sudah selesai!" Embun menoleh ke Rain yang masih memeluknya, mencibir sambil memerlihatkan panggilan yang sudah berakhir.


Rain menatap ponsel yang ada di tangan Embun, hingga sadar kalau dia sedang memeluk gadis itu. Rain secepat kilat melepas kemudian mengambil ponsel dari tangan Embun sebelum gadis itu sadar pipinya merona.

__ADS_1


"Mama bilang apa?" tanya Rain.


"Tanya sendiri aja lagi," jawab Embun yang kemudian menjulurkan lidah untuk mengejek.


Rain tertawa kecil melihat tingkah Embun, hingga menatap lekat wajah gadis itu.


"Bu, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Rain tiba-tiba.


Embun terkejut mendengar pertanyaan Rain. "Aku pernah menyukai cowok saat di Australia, tapi sepertinya cuma aku yang suka," batin Embun. Gadis itu menjawab pertanyaan Rain hanya dengan sebuah gelengan kepala, yang artinya tidak punya.


Rain tersenyum kecil mendengar jawaban Embun, entah apa yang ada dipikirkan cowok itu sekarang.


***


Pagi harinya, Embun mengajak Rain cepat-cepat berangkat sekolah, tentu saja alasannya agar dia bisa bertemu Bening lebih awal.


"Ih, Rain. Kok lama, ayolah!" Embun menarik tangan Rain, bahkan sampai menggandeng lengan cowok itu.


Rain senang-senang saja diperlakukan seperti itu oleh Embun, apalagi gadis itu mencengkeram erat seakan dirinya takut terlepas.


-


-


Sementara itu, di rumahnya Lintang Gutama-sepupu Rain, merengek kepada kedua orangtuanya agar diizinkan pindah sekolah ke Jogja bersama Rain.


"Ma, Pa. Ayolah! Boleh, ya!" bujuk cowok yang lebih suka dipanggil Gama itu penuh harap.


"Buat apa, sih? Bukannya sudah enak di sini, sekolah dan tinggal sama Mama dan papa," kata Felisya-mamanya.


"Biar sekalian kalau lulus nanti, aku bisa langsung kuliah di Jogja juga." Gama masih mencoba membujuk kedua orangtuanya.


Tama dan Felisya saling tatap, hingga kemudian kompak menggeleng tanda tak setuju. Apa lagi dia sudah kelas 3 SMA, berbeda dengan Rain yang bandel dan pernah sekali tidak naik kelas.


Gama menggelembungkan kedua pipinya, pokoknya dia bertekad agar bisa pergi ke Jogja. Bahkan, dia berencana meminta tolong Skala dan Bianca agar mau membantu membujuk kedua orangtuanya agar setuju.


Sebenarnya Gama ke sana bukan untuk sekedar belajar dan dekat dengan Rain. Ia bersikukuh ingin ke Jogja karena hendak menemui seseorang yang sering berbalas pesan dan dikenalnya lewat aplikasi pencarian cinta. Gama baru saja tahu kalau temannya itu ternyata tinggal di Jogja dan satu sekolah dengan Rain.

__ADS_1


__ADS_2