
"Rain ... hujan!"
Embun yang sejak tadi menyandarkan kepalanya di bangku pun menegakkan badan, bibirnya nampak tersenyum melihat ke arah jendela yang berada di samping Rain. Kebetulan guru mereka keluar dan seperti biasa teman-temannya yang lain sibuk mengobrol dan bahkan makan di dalam kelas, padahal tugas dari guru mereka belum juga terselesaikan. Karena jam perlajaran terakhir, mereka berencana kompak berkata tugas itu belum selesai agar dijadikan PR.
"Apa kamu tidak pernah melihat hujan, sepertinya kamu senang sekali," cibir Rain sambil menggoreskan pulpen ke bukunya, mengerjakan tugasnya.
"Hem ... aku menyukai rain (hujan)."
DEG
Dada Rain kembali berdetak tak karuan, ia meletakkan pulpennya dan menatap Embun yang masih terus memandangi rintik hujan di luar sana.
Bel tanda berakhirnya pelajaran hari itu pun berbunyi, semua siswa pun benar-benar kompak meminta tugas tadi dijadikan PR saat guru mereka masuk kembali ke dalam kelas, mereka semakin bersorak kegirarangan karena sang guru mengiyakan permintaan mereka.
Embun dan Rain berjalan keluar kelas, beberapa dari teman mereka masih berdiri di koridor kelas untuk menunggu hujan reda, hingga beberapa siswa memilih melepas sepatu dan berlari ke tengah lapangan basket. Mata Embun terlihat membesar, gadis itu bahkan bertepuk tangan seperti anak kecil dan tertawa melihat teman-temannya bermain air hujan.
"Apa kamu ingin melakukannya?" tanya Rain.
"Melakukan apa?"
Rain melepas tasnya, dan meraih tas yang ada di pundak Embun. Cowok itu tersenyum lantas meraih pergelangan tangan Embun, menariknya berlari menerobos koridor dan melompat ke luar gedung, untuk bermain air hujan di tengah lapangan seperti teman-temannya yang lain.
Embun mendongakkan kepalanya, dia tak menyangka bermain air hujan saat usianya menginjak remaja masih menyenangkan. Apa lagi banyak temannya yang mulai ikut bergabung. Genangan yang ada di lapangan pun membuat siswa-siswa itu kembali seperti bocah berumur lima tahun.
"Rain, bukankah di Jogja banyak pantai?" tanya Embun yang sibuk mengerjabkan matanya karena tetesan air hujan dan rambutnya yang basah mulai menutupi sebagian wajahnya.
Rain pun mengangguk, menyingkirkan helaian rambut Embun yang basah ke belakang. "Kenapa?"
__ADS_1
"Ayo kita ke sana!"
"Sepertinya kamu sangat menyukai air." Rain mulai menyimpulkan.
"Hem ... aku suka, sangat suka, dan Rain apa kamu tahu?"
"Apa?"
"Sepertinya saat hujan aku akan selalu mengingatmu." Embun tersenyum semakin lebar apa lagi Rain menepuk kepalanya sambil ikut tersenyum.
Bening yang baru saja menyebrang dari kelasnya untuk menemui Embun nampak menepuk pundak dan tasnya yang terkena tetesan air, gadis itu menoleh ke arah mata para siswa lain memandang, dia melihat Embun dan Rain sedang berdiri berhadapan dengan tangan cowok itu masih berada di atas kepala saudara kembarnya.
"Embun!" teriak Bening. Panggilannya pun membuat Rain dan Embun menoleh.
"Ayo Rain, kita pulang!" ajak Embun dan berlari meninggalkan Rain yang lagi-lagi tertawa melihat tingkahnya.
-
-
-
Hujan mulai reda, Rain dan Embun pun berjalan pulang dengan baju basah sambil menenteng sepatu mereka. Embun bahkan menggerak-gerakkan tangannya dan sesekali menendang genangan air di jalanan yang dia lewati.
"Kamu kayaknya senang banget ketemu sama Bening," tanya Rain.
"Tentu saja, sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu bahkan berkomunikasi, saat tahu aku memiliki saudara kembar rasanya seperti mimpi, dan entah kenapa aku merasa sangat sayang ke Bening meskipun kami baru saja bertemu," jawab Embun panjang lebar. "Tapi ada hal lain juga yang membuat aku senang."
__ADS_1
"Hal lain, apa?" tanya Rain antusias, entah kenapa dia berharap Embun merasa senang karena bertemu dirinya.
"Aku akan kedatangan teman juga, dia bilang akan pindah sekolah ke Jogja buat ketemu aku," jawab Embun dengan wajah berseri.
"Teman? Cewek?" tanya Rain.
"Cowok."
Tentu saja jawaban Embun membuat Rain terkejut. Cowok? Apa artinya Embun menyukai cowok lain? Atau Embun disukai cowok lain? Pikiran Rain sudah sampai ke mana-mana. Ia bahkan sampai berhenti berjalan dan menatap punggung Embun yang berjalan melenggok ke kiri dan ke kanan dengan bersenandung riang.
"Rain, ayo!" Embun memalingkan badannya, bibirnya mengerucut karena Rain malah berhenti berjalan. "Rain rain go away come again another day."
Karena nyanyian gadis itu Rain tertawa dan kembali melangkahkan kakinya untuk mendekat, dia berhenti tepat di depan Embun yang menatapnya dengan senyuman lebar.
"Rain apa kamu tahu? aku suka menyanyi seperti itu saat berada di Australia, dan entah kenapa lagu itu seperti mantra, saat mendung dan aku menyanyikannya hujan benar-benar tidak jadi turun. Dia benar-benar pergi."
"Jadi apa kamu mau bilang kalau kamu sejenis avatar, apa kamu pengendali air hujan?" cibir Rain.
Embun mengingit bibir bawahnya dan tertawa. "Entahlah, yang pasti ada satu hujan yang aku ingin tidak akan pernah pergi dariku."
Rain mengernyit kemudian bertanya, "Hujan apa?"
"Kamu, Rain!" Embun menggerakkan dagunya dan lagi-lagi tersenyum manis.
Rain pun terdiam, matanya benar-benar menunjukkan bahwa dia menyukai gadis di hadapannya sekarang, hingga sebuah pertanyaan lolos begitu saja dari bibirnya.
"Bu, apa kamu mau menjadi pacarku?"
__ADS_1