Beauty To You

Beauty To You
Sebuah ikatan


__ADS_3

**Sebelum baca, Yuk Votenya.


Happy Reading ❣️**


"Lo suka yah sama Ansell?" tanya Lala membuat Beauty tersadar seketika.


"Hah? enggak kok." jawab Beauty.


Lala tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Beauty. Padahal, mata Beauty selalu berbinar setiap melihat Ansell. Meskipun keduanya berteman baru-baru ini, Lala sudah banyak mengetahui tentang Beauty. Tentang kesukaannya, hal yang dibencinya, dan hal-hal kecil lainnya. Begitupun sebaliknya.


"Bohong lo." kata Lala.


Beauty mengelak berkali-kali. Dirinya bahkan tak tau kalau dia menyukai Ansell. Selama ini, pikirnya ia hanya merasa kagum dengan Ansell sama seperti cewek lainnya.


***


Ansell menyusuri koridor kelas XI dengan tenang. Ia membawa bola basket di tangan kanannya dan bola voli di tangan kirinya. Ansell hendak menuju ruang penyimpanan sampai ekor matanya menemukan Beauty yang sedang mengobrol dengan Anya. Sudah pasti Anya berulah lagi.


Ansell mendekati keduanya yang berada di bawah tangga. Ia memperhatikan dengan seksama. Melihat Anya menjambak Beauty, ia masih diam bahkan sedikit tertawa melihat Beauty tak berkutik. Selanjutnya, Anya mulai memaki kesetanan, dan Ansell tetap bungkam. Sampai akhirnya, Anya mulai menyebut namanya.


"Jangan dekat-dekat sama Ansell! dia punya gue. paham?! muka jelek kaya lo ga pantes buat Ansell. Sadar diri dong!" maki Anya.


Ansell tak bisa tinggal diam lagi. Ia mendekati Anya, menarik tangannya dan mengurung gadis itu di tembok. Tepat disebelah Beauty berdiri.


"Lo bukan siapa-siapa. Lo gak punya hak buat ngatur-ngatur orang deket sama gue. Sekali lagi lo kaya gini, gue gak akan tinggal diam. Paham?!" ancam Ansell dengan mata menusuk menyorot tajam mata Anya.


"Heh lebah, ambil tuh bola voli sama bola basketnya. Taruh di ruang penyimpanan sekarang!" pinta Ansell sebelum meninggalkan keduanya.


Beauty memungut bola-bola itu lalu meninggalkan Anya begitu saja. Ia sempat mendengar suara teriakan frustasi seseorang, sepertinya itu dari Anya.


Dengan susah payah, Beauty berhasil sampai di ruang penyimpanan. Ia membuka pintu dan alangkah kagetnya ada sosok pangeran tampan sedang duduk di atas meja.


"Ansell?" sapa Beauty.


"Heh Lebah, lo kok bodoh banget sih. Kalo diinjak-injak ya injak balik lah." balas Ansell.


Beauty meletakkan bola basket dan bola voli pada tempatnya. selanjutnya, ia mendekati Ansell. Ia duduk persis disebelah Ansell. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Nama gue Beauty. Dipanggil Bee, bukan Lebah." tegas Beauty menekan kata Bee.


"Sama aja, Bee kan bahasa inggrisnya Lebah." balas Ansell.


"Udah bisa bahasa inggris, ternyata?" sindir Beauty sambil membuka pintu ruang penyimpanan dan pergi dari sana.


***


"Mendingan lo pakai rumus yang gue kasih aja deh." kata Beauty.


Merasa tidak dijawab, Beauty akhirnya menoleh melihat Ansell yang tertidur dengan menopang dagunya. Itu artinya, selama 30 menit Beauty menjelaskan panjang lebar Ansell tidak mendengarkan. Laki-laki itu malah tertidur nyenyak.


Baru saja Beauty merasa murka. Tetapi, saat melihat wajah lelah Ansell membuat amarahnya padam seketika. Ia menopang dagunya, menatap Ansell yang sedang tertidur. Memperhatikan wajah tampannya dengan kulit seputih susu, Hidung mancungnya yang bisa dibuat prosotan setan, dan rahang tegasnya yang sangat keren menurut Beauty.


Tanpa disadari, Beauty tersenyum. Hatinya berbisik, 'apa salah jika aku mencintaimu?'


"Salah. Jangan suka sama gue." kata Ansell tiba-tiba membuat Beauty terkejut.


Ansell membuka matanya melihat Beauty yang salah tingkah dan itu membuatnya ingin tertawa.


Jika saja kulit Beauty seputih Ansell, sudah dipastikan bahwa gadis itu tertangkap basah sedang tersipu malu. Untung saja kulitnya sawo matang.


"Muka lo ngeselin." kata Beauty.


"Btw, lo bisa baca pikiran orang?" lanjutnya.


Melihat Ansell menggeleng membuat Beauty sedikit lega. "Terus maksudnya jangan suka sama lo?"


"Lo kan tadi tanya, salah gak sih kalau lo suka sama gue?" jawab Ansell dengan wajah polosnya.


"Tunggu, gue ngomong itu di dalam hati perasaan." kata Beauty dengan kening berkerut merasa kebingungan.


"Ngaco." timpal Ansell.


"Btw, sejak kapan lo temenan sama si teletubbies?" tanya Ansell.


Beauty menghela nafas kasar sebelum menjawab, "namanya Lala, Ansell. Jangan seenaknya ngubah nama orang."

__ADS_1


"Bodo amat, yang penting nama gue gabisa dibikin lelucon."


Rasanya Beauty ingin menghujat laki-laki di depannya ini.


"Dia korbannya Duo Devil juga."


"Oh."


'sabar, sabar. stok kesabaran kamu itu banyak. tenang!' Batin Beauty.


Ansell melirik jam dinding di atas televisi yang sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Ia rasa, sudah seharusnya ia pulang sekarang sebelum Nyonya Marcellen pulang dan menimbulkan keributan besar.


"Gue balik dulu lah," Ansell membereskan bukunya, lalu memasukkannya kedalam tas.


"Oh iya, udah gue bilangin sebelumnya. Jangan suka sama gue." kata Ansell sebelum akhirnya hilang bersamaan dengan pintu yang tertutup.


15 menit setelah Ansell pulang, Nyonya Marcellen datang.


"Mamah udah makan? mau Beauty siapin teh atau jus? atau mau makan dulu?" tanya Beauty seraya membawakan tas ibunya, dan menata sepatu ibunya di rak sepatu.


Itu adalah rutinitas yang selalu Beauty lakukan. Setidaknya, dengan seperti ini ia akan melihat ibunya meskipun hanya sekali dalam sehari.


"Saya tidak butuh apapun." kata Ibunya.


Nyonya Marcellen menaiki tangga, meninggalkan Beauty yang hanya bisa tersenyum pahit.


***


Seperti biasanya, sebelum tidur Beauty akan memikirkan hal-hal kecil yang ia alami. Kali ini, Beauty memikirkan kata-kata Bella sewaktu itu. "Ansell bilang kalau lo lebih menarik daripada Anya. Ansell...... bilang kalau lo baik."


Beauty sempat menghiraukan kata-kata ini. Tetapi, entah apa yang terjadi setiap gadis itu memikirkan hal tersebut jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia akan tersipu dan berhalusinasi kalau Ansell benar-benar menyukainya. Lagian, untuk apa ia mendekati gadis jelek seperti dirinya disaat semua orang menjauh? bukankah itu artinya Beauty spesial?


Tetapi, kata-kata Ansell tadi, membuat hatinya bimbang. Ia tidak diperbolehkan untuk menyukai laki-laki tersebut. Hatinya bingung harus memilik jalan yang mana, bahkan gadis itu tak tau perihal isi hati yang sebenarnya.


Beauty melangkah menuju cermin fullbody lalu bercermin. Penampilannya memang cukup buruk, dan Beauty mengakui itu. Tetapi, Ansell tidak sejahat itu bukan? laki-laki itu sangat baik kepadanya disaat semua orang jahat kepadanya. Bukankah artinya Ansell tidak pernah memandang seseorang dari fisiknya?


Dan mulai detik itu, Beauty memutuskan untuk mencintai Ansell.

__ADS_1


__ADS_2