
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
"Heh mau apain gue?!" protes Beauty.
Beauty memberontak kala tangan itu menariknya menuju sebuah mobil mewah. Tapi,pemberontakannya berhenti begitu mengetahui bahwa yang menyeret dirinya bukan orang yang ada dipikirannya. Beauty kira,Anya atau Bella yang berniat jahat kepadanya. tetapi,ternyata tangan hangat itu milik,
"Ansell?!" Beauty menatap tak percaya pada laki-laki di depannya.
Setelah smpai di mobil mewah milik Ansell, gadis itu duduk di samping kemudi dengan tubuhnya yang basah kuyup.
"Lo gila? depresi atau gimana?" tanya Ansell seraya mengusap wajahnya yang basah.
Beauty yang sedang kedinginan karena AC yang dinyalakan oleh Ansell menoleh dengan raut wajah kebingungan. Seakan mengerti, Ansell kembali bertanya "Ngapain ujan-ujanan gitu?"
"Terserah gue lah." jawab Beauty.
Merasa tidak nyaman dengan seragamnya yang basah dan sedikit menerawang, Beauty melirik kesana-kemari mencari sesuatu yang bisa digunakan. Seakan peka dengan keadaan, Hoodie hitam mendarat mulus di wajahnya.
"Tengkyu eh-!"Beauty sedikit terkejut melihat Ansell yang sudah bertelanjang dada memperlihatkan ototnya yang sangat kekar. Beauty menelan ludahnya kasar, merasa tidak enak.
"Pakai lo aja." kata Beauty seraya memberikan Hoodie hitam milik Ansell.
"Tanktop lo keliatan. Hitam kan?" balas Ansell dengan sedikit tertawa.
Beauty langsung menyilangkan kedua tangannya di dada lalu dengan cekatan mengenakan Hoodie Hitam yang diberikan Ansell.
"Apa yang mau lo omongin?" tanya Beauty setelah selesai mengenakan hoodie hitam milik Ansell.
Ansell tersenyum lebar saat menyadari Beauty peka terhadap keadaan. ia menyalakan mesin mobilnya. Mobil hitam itu membelah jalanan kota di tengah derasnya hujan.
"Jangan bilang siapapun kalo kita berteman." kata Ansell.
Beauty mengernyit heran, "Maksudnya?"
__ADS_1
"Gue takut Anya sama Bella semakin menjadi-jadi ke lo setelah tau kita temenan."
Beauty tertegun, hatinya tercelos mendengar kata teman keluar dari bibir Ansell. Seperti ada rasa kecewa dan tidak terima yang hinggap di hati Beauty. setelah membuang nafas kasar, Beauty mengiyakan. toh, ini juga untuk kepentingan dirinya.
dan pada saat itu, Beauty belum memutuskan untuk mencintai Ansell.
***
Alva menggenggam data lomba yang akan diserahkan kepada kepala sekolah besok pagi. seperti biasanya sebelum diserahkan, ia akan mengecek semuanya terlebih dahulu agar tak ada yang tertinggal. tetapi, matanya terkejut melihat daftar lomba matematika. disana, tertera nama Bella Cassandra.
"Bella?" gumam Alva.
Ia berbalik, berniat kembali menemui Pak Gio untuk menanyakan hal tersebut. tetapi, Pak Gio tak ada di tempatnya yang biasa sehingga Alva akhirnya mencari Pak Gio di seluruh sudut sekolahan.
Pak Gio tak kunjung ditemukan, Alva menyerah. Telfonnya pun tak diangkat sedari tadi. Akhirnya, Alva tak bisa berbuat apapun. ia menuju ruang Kepala Sekolah seperti tujuan awalnya.
Namun, saat tangannya akan membuka ruang kepala sekolah, ia melihat seseorang yang dicari-cari sedari tadi. Pak Gio ada disana sedang berbincang dengan Pak Kepala Sekolah sehingga Alva mengurungkan niatnya untuk masuk.
Sayup-sayup terdengar pembicaraan antara Pak Gio dan kepala sekolah yang menarik perhatiannya. Awalnya Alva tak berniat menguping, tapi ia harus menggunakan dengan baik telinga pemberian tuhan bukan?
Sedangkan suara kepala sekolah terdengar lebih santai ketimbang Pak Gio, "percaya saja pada anakku. dia akan memenangkannya ketimbang gadis buruk rupa itu."
Hati Alva tertegun mendengarnya. Ia bukan tidak tahu dengan apa yang dibicarakan kedua orang tersebut. Pantas saja nama Beauty tidak ada di daftar lomba matematika bersama dirinya. Yang ada justru Bella, anak bapak kepala sekolah yang terhormat. Otak Beauty jauh diatas Bella. Bahkan, Beauty juga rajin belajar sehingga menjadi ranking 1 parallel dan Alva berada pada ranking 2 menyusul Beauty. Dibawahnya, baru ada Bella di urutan ketiga.
Sayangnya, Bella berada di peringkat tersebut bukan karena usahanya. Melainkan karena orang tuanya karena saat di kelas, nilai-nilai yang di dapatkan dapat dibilang rata-rata. Bahkan saat sesi kuis sekalipun, Bella jarang bisa menjawab. Berbeda dengan Beauty yang kepintarannya sudah diakui banyak orang. Meskipun fisiknya terbilang kurang namun otaknya tak dapat diremehkan.
Alva yang tadinya berniat memberikan file lomba kepada kepala sekolah mengurungkan niatnya. ia beralih menuju parkiran mobil, memasuki mobil berwarna putihnya dan melaju berniat menemui seseorang yang ada di pikirannya.
***
"Ehm, Ansell lo gak ada niatan buat pake baju gitu?" tanya Beauty pelan takut menyinggung Ansell yang sedang menyetir dalam diam.
Bukannya menjawab,laki-laki itu malah kembali bertanya, "Baju gue basah gitu masa harus dipake?"
Beauty hanya bisa mengiyakan meskipun sebenarnya ia ingin memaksa Ansell untuk menggunakan pakaiannya. Jujur, ia merasa sangat canggung dengan situasi ini. Situasi dimana mereka hanya berdua di dalam mobil dengan kondisi Ansell yang tidak mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
Tiba-tiba, pikirannya hempas begitu saja saat mendengar hpnya berbunyi. Hp keluaran lama, yang dapat dikatakan tidak terlalu bagus agar ia tidak dicurigai. Yang semua warga sekolah tau, Beauty masuk kesana karena beasiswa oleh Galaxy Mall, yang sebenarnya adalah Mall milik ibunya.
Melihat nama Alva pada layar hpnya, Beauty langsung menggeser tombol hijau.
"Ada apa?" tanya Beauty.
"Lo lagi dimana?" suara dingin Alva terdengar begitu jelas. Suara dan nada khas Alva si ketua kelas yang tegas dan keras. Tapi, entah kenapa sifatnya begitu berbanding terbalik. Alva sangat hangat bahkan kepada Beauty sekalipun.
"Gue lagi di jalan pulang." jawab Beauty.
"Oke, gue otw rumah lo. Ada yang perlu kita omongin." Kata Alva sebelum mematikan sambungan telefonnya.
Saat itu juga Beauty tertegun. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 18.03 artinya, setengah jam lagi Ibunya akan sampai dirumah dan apabila Beauty belum disana maka ia akan di maki habis-habisan. Tetapi, jika ia tak menemui Alva di rumah 'bohongannya', semuanya akan terbongkar begitu saja.
Beauty harus segera memutuskan.
"Puter balik, ke jalan Virasta!" pinta Beauty yang membuat Ansell mengernyit heran.
"Plis, cepetan." katanya lagi.
Dengan cekatan, Ansell putar balik dan melaju menuju jalan Virasta. Jalan Virasta sebenarnya adalah rumahnya. Apa urusan Beauty kesana?
"Mo ngapain lo?"tanya Ansell.
"Alva. dia mau kerumah gue."
"Rumah lo kan bukan Jalan Virasta."
"Dia gak tau rumah gue yang itu. gue ngasih tau ke temen-temen rumah gue di Jalan Virasta gang 1. Gila ajah gue liatin mereka rumah mewah punya mamah, bisa bahaya."
"Trus yang di Jalan Virasta punya siapa?"
"Punya gue, dari almarhum ayah."
Mobil Ansell tiba-tiba terhenti karena rem dadakan, sepertinya jalanan macet saat ini karena kecelakaan. Dan Beauty langsung uring-uringan seperti orang gila. Ia takut jika Alva sampai terlebih dahulu dan tanya kepada tetangga mengingat laki-laki itu orangnya sangat ramah.
__ADS_1