
**Sebelum baca, Yuk Votenya.
Happy Reading ❣️**
Babylon Bar, adalah Bar terkenal di sini. Kemewahannya tidak tertandingi. Pemandangan yang disuguhkan pun tidak mau kalah. Bar dengan pemandangan laut luas berwarna biru serta kelap kelip kota membuat siapapun termanjakan saat disini.
Ansell dengan Anya berada pada rengkuhannya sedang menikmati Wine sembari memandang ke hamparan laut lepas. Anya, mengenakan dress berwarna navy dengan belahan dada yang cukup terbuka. Gadis it mendongak, menatap Ansell seraya bertanya. "Apa rencana kamu kedepannya?"
Ansell mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan maksud pertanyaan yang dilontarkan gadis itu. seakan paham dengan kebingungan Ansell, Anya menjelaskan. "Tidak ada rencana melamarku, atau menikahiku?"
Detik itu juga Ansell tertawa keras. Tidak pernah sedikitpun ia berniat serius dengan Anya. baginya, Anya hanya boneka mainannya saat merasa bosan. Anya adalah perempuan yang dengan senangnya memberikan tubuhnya kepada banyak laki-laki entah dengan alasan apa. Banyak anak-anak disekolahan yang tau mengenai ini. dan faktanya, banyak juga yang berada di jalan Anya.
"Rencana gue kedepannya, mau deketin Beauty." ujar Ansell membuat mata Anya membulat seketika. Beauty? apa maksud Ansell?
Anya masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya "Si kera? Ansell, kamu gak bercanda kan?"
Melihat gelengan Ansell, membuat Anya geram seketika. "No Ansell! kamu cuma punya aku! kalo nanti Si Kera naksir sama kamu gimana?"
"Berarti gue berhasil dong. Dia menarik buat gue." jawab Ansell dengan santai.
"Si Kera bahkan gak lebih baik dari anak idiot, Ansell." kecam Anya.
Mendengar kata anak idiot membuat Ansell merasa geram. Ia merasa Anya sedang menyindir adikknya Lizzy. hal itu membuat Ansell akhirnya mengeluarkan sebuah ancaman. "lo gak ada hak buat ngatur gue! asal lo tau, gue kenal sama Cia."
***
Sudah seharian penuh Beauty berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tak makan dan minum sejak kemarin, yang dilakukannya hanya tidur, bermain ponsel, atau sekedar nonton drakor.
Karena sudah sangat bosan dengan kegiatannya yang hanya itu-itu saja, Beauty memutuskan untuk membuka buku pelajaran dan mengisi semua soal-soalnya. Beauty bukan gadis jenius, ia hanya gadis pintar karena belajar.
Saat dirinya sedang disibukkan dengan buku pelajarannya, pintu kamar Beauty diketuk membuat Beauty mengernyit heran. Apakah itu mamah? pikirnya. Beauty segera melompat dari kasur dan berlari membuka pintu. tetapi, ekspetasi nya lagi-lagi terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Yah, kukira mamah, ternyata Bibi." lirih Beauty.
"Nyonya lagi ke kantor Bee." kata Bi Asih setelah mendengar kekecewaan Beauty.Beauty tersenyum masam sebelum bertanya "Kenapa bi?"
"Ada tamu di luar Bee." jawab Bi Asih.
Beauty merasa bingung. Ia merasa tidak memiliki teman dekat,bahkan tak ada yang tau rumahnya selama ini.
"Siapa? Perasaan Beauty gak punya teman di sekolah." gumam Beauty.
Bi Asih yang mendengar Beauty merasa kasihan. ia tersenyum hambar lalu menyuruu Beauty menghampiri temannya sebelum Nyonya pulang karena hukuman Beauty masih berjalan.
Saat menuruni tangga, betapa kagetnya Beauty saat melihat Ansell berdiri di depannya. Iya, Ansell Lawson. laki-laki yang baru saja memikat hatinya. membuat hatinya gundah gulana.
Ada apa Ansell kemari? darimana ia tau rumahnya? bukannya Ansell begitu membencinya? ada apa sampai Ansell sudi datang kerumahnya? dan juga, rumah ini belum pernah ada yang tau. Alamat rumah ini dirahasiakan oleh pihak sekolahan atas kemauan dari ibunya. itulah kiranya beragam pertanyaan yang sudah berputar pada otak Beauty. "Aku mimpi?" gumam Beauty.
Tanpa dipersilahkan, Ansell duduk di sofa ruang keluarga yang terletak tidak jauh dari ruang tamu. Ansell adalah definisi 'anggap rumah sendiri' yang sesungguhnya.
"Gue disini mau jengukin lo, katanya di skorsing dua hari." kata Ansell setelah mendapatkan posisi duduk yang nyaman
Setelahnya, percakapan selesai disana. Hening terjadi selama beberapa saat antara Beauty dan Ansell. Sampai akhirnya, Bi Asih datang dengan jus jeruk yang terlihat sangat segar. Selain itu, Bi Asih juga membawa beberapa snack.
"Bee, jangan sampai ketauan Nyonya yah nanti kamu kena marah." kata Bi Asih memperingati. Beauty mengangguk mantap. toh, Ansell tak akan lama disini bukan? pasti ada hal penting sampai membawanya kemari.
"Ehm, Ansell kamu tau darimana rumah ini?" tanya Beauty memecah keheningan.
"Ada lah, orang suruhan gue." jawab Ansell santai.
"Tolong jangan kasih tau siapapun tentang rumah ini." kata Beauty yang langsung dijawab dengan anggukan mantap oleh Ansell. Beauty bisa bernafas sedikit lega setidaknya.
"Ada apa kesini? setau aku, kita gak sedekat itu dan baru ketemu kemarin. jadi, gak mungkin kamu cuman mau jengukin aku." Beauty menatap selidik pada Ansell, mencoba menerka-nerka apakah jawaban yang akan diberikan sebuah kejujuran atau kebohongan.
__ADS_1
"Lo mau tolongin gue gak??"tanya Ansell.
Tolong? seorang Ansell minta tolong padanya? pada seorang gadis yang menjadi bahan bullyan anak-anak hampir satu sekolahan?! dia tidak gila kan? batin Beauty.
"Ajarin gue materi bab dua." lanjutnya.
Beauty menganga, ia tak menyangka jika Ansell kerumahnya hanya untuk belajar. yang pernah Beauty dengar, Ansell adalah laki-laki tampan tanpa otak. Rumor yang beredar, Ansell lumayan bodoh entah karena sering membolos atau karena malas mendengarkan. sepertinya, keduanya. dan sekarang, Ansell ke rumahnya hanya untuk belajar. Ingat! belajar! iya, hanya untuk belajar! B E L A J A R.
"Pelajaran sekolah?" tanya Beauty ragu-ragu.
"Iyalah pelajaran. Ya masa novel." jawab Ansell.
"Pelajaran apa?" tanya Beauty lagi.
"Pelajaran Pak Gundul." jawab Ansell.
"Namanya Pak Gio, guru matematika minat. Bukan Pak Gundul, Ansell!" protes Beauty.
Walaupun banyak yang membenci Pak Gio karena sikapnya yang menyebalkan dan cara mengajarnya yang tak bisa dipahami, tetapi Beauty cukup menyukai pelajarannya. Bagi Beauty, semakin susah pelajarannya maka Beauty akan merasa tertantang untuk mengerjakannya. yah, hukum ini hanya berlaku untung satu banding seribu murid di Indonesia.
Akhirnya, Beauty memutuskan untuk menuruti kemauan Ansell. hingga tak terasa, sudah setengah hari mereka belajar bersama sambil sesekali bercanda. ternyata, jalan pikirnya dengan Ansell searah. dan selera humor mereka berdua sama-sama rendahnya.
***
Sudah satu jam lamanya Anya mondar-mandir tak karuan. Ia berkali-kali menghela nafas kasar seakan beban hidupnya begitu berat. padahal, masalahnya hanya satu. darimana Ansell mengetahui perihal Cia? jika seperti ini, semuanya akan gagal. Rencana Anya untuk mendapatkan Ansell dan memanfaatkan pria itu akan gagal begitu saja.Ansell sudah mendapatkan gold card akan dirinya. tapi, Anya belum menemukannya.
"Cia laper." seorang anak kecil berusia 2 tahun mendekati Anya dengan wajah lucunya yang cemberut. Ia menggapai ujung dress ibunya dengan susah payah karena sang ibu tak melamun sehingga tak mendengar apa kemauannya. Hingga akhirnya, Anya tersadar bahwa gadis kecil itu sedang kelaparan. Anya tersenyum simpul, lalu berjongkok dan menyetarakan tingginya dengan gadis kecil tersebut.
"Cia mau makan apa?" tanya Anya sembari mengelus rambut panjang berwarna hitam milik anak kecil tersebut.
"Cia mau makan ayam." jawab gadis kecil bernama Cia itu dengan kegirangan.
__ADS_1
"Oke, biar mamah suruh Bi Yuni masakin ayam goreng buat Cia yah." kata Anya sembari mengangkat Cia kedalam gendongannya.
***